NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:678
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Cahaya di Sumbu Pendek

Malam semakin larut dan hawa dingin mulai menggigit melalui celah-celah kain pangsi serta kaos biru pudar yang dikenakan Dika. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip seolah sekarat, sisa-sisa minyak samin di atas meja kayu telah mendingin, meninggalkan lapisan putih tipis di pinggiran piring seng. Dika menegakkan punggungnya perlahan, sebuah usaha yang menuntut bayaran harga diri yang luar biasa tinggi. Setiap milimeter gerakan tulang lumbar belakangnya memicu letupan rasa linu yang menusuk, seolah ada sebilah jarum es yang ditancapkan paksa di antara sela-sela sendinya.

"Kita harus bergerak, Lina," ucap Dika. Suaranya diusahakan tetap berat, bergaung rendah dengan intonasi purba yang tenang, seakan-akan ia adalah seorang pertapa suci yang baru saja menyelesaikan meditasi agung di puncak gunung sunyi, bukan seorang pemuda yang sedang menahan encok parah akibat salah urat.

Lina merapikan tas kain kumalnya yang kini terasa lebih berat oleh bundelan uang tunai milik Johan. Ia berdiri, menatap Dika dengan sepasang mata yang menyipit curiga. "Lo beneran nggak apa-apa, Penguasa Langit? Langkah kaki lo barusan kayak pragawati yang salah pakai hak tinggi. Kaku banget."

"Fisik fana ini hanyalah cangkang tipis yang membatasi keluasan jiwa," kilat Dika cepat, wajahnya dipasang sedatar mungkin, seumpama pahatan batu giok di kuil kuno yang tak tersentuh emosi duniawi.

Namun, di balik batok kepalanya, jeritan batin Dika sudah melengking melebihi lengkingan rem tronton macet. “Aduh, aduh, Gusti pangeran! Ini pinggang kenapa rasanya kayak mau copot dari engselnya?! Lin, tolong jangan banyak tanya dulu, gue beneran udah di ambang batas estetika ini! Kalau lo nggak mapah gue sekarang, dalam tiga hitungan gue bakal roboh dan bergulung di bawah meja kayak kucing kedinginan!”

Lina mendengus geli. Sisa getaran batin Dika yang bocor ke dalam kesadarannya membuat rasa simpati dan rasa gemas berbaur menjadi satu. Tanpa banyak bicara, gadis itu melangkah mendekat, menyusupkan bahunya di bawah ketiak kiri Dika, memapah separuh beban tubuh pemuda itu dengan cekatan. Aroma keringat tipis dan sisa debu gudang dari tubuh Lina menyeruak, terasa nyata dan membumi di tengah malam yang sunyi.

Mereka berjalan keluar dari tenda terpal biru yang bergoyang pelan dihantam angin malam. Langkah mereka tersendat-sendat di atas trotoar semen yang retak-retak oleh akar pohon peneduh kota. Di sudut sepi dekat sebaran pohon talas yang daun-daun lebarnya basah oleh embun malam, motor bebek tua milik Lina terparkir merana. Kendaraan besi tua berkarat itu tampak laksana rongsokan yang enggan mati, diselimuti bayang-bayang kegelapan ruko di belakangnya.

Lina meraba-raba saku celana jinsnya yang longgar. Sekali. Dua kali. Raut wajahnya mendadak berubah masai di bawah siraman cahaya bulan yang pucat.

"Dika... kunci motor gue nggak ada," bisik Lina, suaranya meninggi satu oktav karena panik. Ia mulai membalikkan tas kain kumalnya, mengaduk-aduk isinya hingga lembaran uang ratusan ribu sempat mengintip keluar. "Aduh, jangan bilang jatuh di gudang tua tadi? Kalau kita harus balik ke sana, bisa-bisa kita ketemu hantu pendekar minyak angin!"

Dika menghela napas panjang, sebuah kesalahan karena tarikan napas itu kembali memicu rasa perih di otot punggungnya. Ia memejamkan mata sejenak. Di balik selaput korneanya, Mata Takdir yang tersisa lima persen energi kembali berdenyut hangat. Pendar emas purba yang tipis membelah kegelapan monokrom malam. Dunia beralih rupa; jalinan realitas melambat, dan di antara rimbunnya batang pohon talas yang basah, seberkas benang merah tipis tampak meliuk, berujung pada sepotong besi kecil berkarat yang tergeletak di atas tanah becek.

Dika membuka matanya, lalu mengarahkan telunjuk kanannya ke dasar tumbuhan talas dengan keanggunan seorang jenderal yang menunjuk wilayah taklukan. "Di sana. Takdir tidak pernah menyembunyikan apa yang seharusnya ditemukan. Ia hanya menguji sejauh mana matamu mampu menembus kabut kefanaan."

“Padahal aslinya untung mata dewa gue belum mati total, kalau gak, kita beneran bakal ngegembel di pinggir jalan sampai subuh!” ratap batinnya yang kontras.

Lina buru-buru membungkuk, menyibak daun talas yang berair, dan benar saja, gantungan kunci berbentuk kepala kucing yang sudah kusam itu ada di sana. "Ketemu! Gila, lo beneran punya radar gaib ya, Dik?" Ucap Lina dengan binar lega yang jujur di matanya.

Namun, kegembiraan itu berumur sangat pendek. Tepat setelah Lina memasukkan kunci ke dalam slotnya dan menekan tombol starter, motor bebek tua itu hanya mengeluarkan suara batuk kering yang menyedihkan.

Creeek... krek... krek... silens.

Lina mencoba menggunakan engkol kaki, menghentakkan seluruh berat badannya di atas tuas besi beberapa kali. Klong! Klong! Mesin motor itu tetap bergeming, dingin, dan mati total laksana sebongkah batu kali. Bau bensin basi menyeruak tipis dari sela karburatornya yang merembes.

"Akinya mati total. Karbunya banjir," keluh Lina, bahunya merosot lemas. Ia menatap jalanan kota tua yang panjang, kosong, dan gulita. "Jarak ke kosan kita masih ada dua kilo lagi, Dika. Dan satu-satunya cara adalah..."

Lina menoleh ke arah Dika. Dika menoleh ke arah Lina. Keheningan malam mendadak terasa lebih berat daripada saat Ki Bersam melepaskan pukulan tapak kanannya.

"Tidak," ucap Dika tegas, dagunya terangkat tegak. "Seorang penguasa jalinan langit tidak akan pernah merendahkan martabatnya untuk menjadi tenaga penggerak bagi sebuah kereta besi fana yang cacat."

“TIDAAAK! Pinggang gue beneran bisa patah jadi dua kalau disuruh dorong ini rongsokan besi! Lin, tolong bilang kalau lo punya nomor telepon tukang ojek atau sejenisnya! Jangan paksa sisa sepuluh persen energi gue habis buat kerja fisik kasar begini!” batin Dika menjerit histeris, membentur dinding kesadarannya sendiri hingga menciptakan gaung komedi yang merana.

Lina hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kepasrahan sekaligus kelicikan yang manis. Ia meraih setang motor, memposisikan dirinya di sisi kiri. "Gue yang pegang setang dan jaga keseimbangan. Lo yang dorong dari belakang, Yang Mulia Kaisar Naga. Anggap saja ini bagian dari kultivasi pembersihan dosa bumi."

Maka, dimulailah perjalanan paling tidak ada wibawanya dalam sejarah para dewa yang turun ke bumi.

Di bawah langit malam yang pekat tanpa bintang, siluet kedua manusia itu bergerak lambat menyusuri tepian aspal. Dika menempelkan kedua telapak tangannya pada besi begel belakang motor yang dingin dan kasar. Setiap kali kakinya melangkah maju, mendorong beban besi seberat hampir seratus kilogram itu, otot pinggang belakangnya mengeluarkan protes keras berupa rasa ngilu yang panas. Wajahnya yang semula setenang telaga di atas awan, kini berkerut-kerut menahan linu, menciptakan ekspresi aneh antara angkuh dan menderita.

“Sialan... sialan beneran ini takdir bumi,” umpat suara hati Dika, berjalan seirama dengan detak langkah kakinya yang berat di atas aspal. “Di alam atas, gue cuma perlu mikirin bagaimana menyusun rasi bintang agar tidak tabrakan. Di sini, gue harus mikirin gimana caranya ini ban motor bebek nggak melindas tahi kucing di pinggir jalan. Mana ini sandal jepit gue udah tipis banget, setiap melangkah rasanya jempol gue langsung bergesekan sama kasarnya semen jalanan. Kalau tahu begini, mending tadi gue pura-pura pingsan bareng si aki-aki minyak tawon di dalam ban bekas!”

Lina yang berjalan di sampingnya sesekali menoleh ke belakang, memperhatikan napas Dika yang mulai memburu dan terdengar berat. Di tengah kesunyian malam yang hanya diisi oleh gesekan ban motor dengan aspal—sreeek, sreeek—gadis itu merasakan sebuah kehangatan yang aneh di dadanya. Pemuda di belakangnya ini baru saja menumbangkan seorang manajer korup dan pendekar bayaran dengan satu jentikan jari gaib yang mengerikan, namun sekarang, ia rela berjalan tertatih-tatih di kegelapan malam, mendorong motor tua demi bisa kembali ke sebuah kamar kos yang sempit dan bocor.

"Dika," panggil Lina lembut, suaranya memecah kesunyian malam laksana ketukan lonceng kecil. "Makasih ya buat yang di gudang tadi. Kalau nggak ada lo... mungkin gue udah berakhir di sel atau lebih buruk lagi."

Dika menghentikan dorongannya sejenak, berdiri tegak sembari memegang begel motor untuk menopang tubuhnya yang gemetar. Ia menatap punggung Lina yang diterpa angin malam, lalu mengalihkan pandangannya ke arah langit malam Jakarta yang mulai nampak di kejauhan—samar, kelabu, dan dipenuhi oleh polusi.

"Jangan berterima kasih pada sebuah keharusan, Lina," jawab Dika, suaranya kembali melembut, menyisakan sisa-sisa keagungan purba yang jujur dan tanpa kepalsuan. "Benang takdirmu telah terpaut dengan jalanku sejak hari pertama aku jatuh ke bumi yang bising ini. Melindungimu bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah maklumat yang telah tertulis di balik lembaran langit, jauh sebelum kota ini dibangun dari debu dan keserakahan."

Lina tertegun. Kalimat itu terasa begitu puitis dan berat, menyusup masuk ke dalam hatinya dan meninggalkan getaran halus yang membuat dadanya terasa sesak oleh rasa haru. Ia menunduk, menyembunyikan senyuman yang terbit di bibirnya di balik kegelapan malam.

Namun, momen syahdu itu hancur berantakan dalam waktu kurang dari satu detik.

“Aduuuh, tapi beneran deh, ini romantisnya disudahi dulu bisa gak? Pinggang gue beneran mau copot, Lin! Ini betis gue juga udah mulai kram karena dari tadi nahan beban dorongan. Buruan jalan lagi, gue udah bisa ngeliat tiang gapura kosan kita di ujung jalan itu! Gue mau langsung ketemu kasur busa tipis gue dan nempelin koyo cabai sebanyak lima lembar di punggung!”

Lina spontan meledak dalam tawa yang tak lagi bisa ia tahan. Suara tawanya yang renyah dan lepas menggema di jalanan malam yang sepi, mengusir segala kegetiran, lelah, dan ancaman badai takdir yang sedang mengintai mereka di hari esok. Di bawah lambaian daun-daun talas dan sisa angin malam, sang mantan dewa dan pendeta wanita pertamanya terus melangkah, menuntun sisa malam menuju tempat peristirahatan yang bersahaja.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!