Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10 Kehancuran yang Sempurna
"Loh, di mana Ayla? Kenapa dia tidak ikut makan bersama kita?" tanya Alena setelah menyadari keberadaan Ayla yang tak ada di sana, padahal semua orang sudah berkumpul.
"A-Ayla... dia sedang beristirahat di kamarnya," jawab Mama Tina sedikit gugup, karena menyadari keberadaan Reyhan yang ada di sana sebagai tamu mereka.
"Apakah dia sudah makan?" tanya Alena lagi.
"Alena, jangan banyak bertanya. Ayo segera makan. Soal Ayla, kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Kau tahu kan sekuat apa dia bertahan," ucap Adnan sambil menatap Alena sambil tersenyum.
"Kak Adnan benar. Sebaiknya kau pikirkan saja dirimu sendiri," sahut Reyhan menyetujui ucapan Adnan.
"Ya sudah, ayo kita makan," ucap Papa Bayron memecah keheningan dan mengalihkan topik pembicaraan.
Sementara itu, di dalam ruangan gelap itu...
Ayla memegangi perutnya yang terasa sangat lapar dan perih.
"Perutku sangat sakit karena lapar... aku sudah tidak makan sejak tadi pagi. Ruangan ini sangat gelap... kepalaku benar-benar pusing," gumam Ayla sambil menatap sekeliling ruangan yang gelap gulita. Hanya ada secercah cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah jendela kaca yang kecil.
Di saat yang bersamaan, keluarga dan juga kekasihnya sibuk bersenda gurau di meja makan sambil menikmati hidangan malam mereka dengan nikmat.
Ayla, yang tak sanggup lagi menahan rasa lapar yang menyiksa, akhirnya jatuh pingsan. Ia bukan hanya mengalami kelaparan, namun kondisinya juga belum pulih sepenuhnya dari demam yang dideritanya, ditambah lagi rasa lelah luar biasa akibat hukuman yang diberikan Adnan sejak pagi tadi.
Satu jam kemudian...
"Om, Tante, dan semuanya, terima kasih banyak atas jamuan makan malamnya. Terima kasih juga khusus untukmu, Alena. Aku pamit pulang dulu," ucap Reyhan sambil berdiri, bersiap meninggalkan rumah itu setelah mengobrol cukup lama bersama keluarga Gunawan.
"Jangan sungkan, ya. Sering-seringlah main ke sini," jawab Mama Tina dengan nada ramah.
"Reyhan, pikirkan baik-baik tawaranku tadi siang," ucap Adnan sambil menatap tajam ke arah pemuda itu.
"Tawaran apa?" tanya Bastian sambil mengerutkan kening, merasa penasaran dan tidak mengerti.
"Kak, sudahlah. Aku akan mengantarkan Reyhan sampai ke depan. Ayo," potong Alena cepat, lalu berjalan beriringan bersama Reyhan keluar ruangan.
"Tunggu sebentar! Apa ada hal yang tidak aku ketahui di sini?" tanya Bastian lagi, mulai merasa curiga.
Papa Bayron menatap bergantian ke arah Mama Tina dan Adnan. Wajah mereka tampak bingung, seolah ragu harus menjelaskan bagaimana rencana mereka menjodohkan Reyhan dengan Alena di hadapan Bastian.
"Kak, apa kau tidak melihat sendiri betapa dekatnya hubungan Reyhan dan Alena? Mereka berdua sangat serasi. Papa dan Mama berencana menjodohkan mereka saat pesta ulang tahun Alena nanti," jelas Adnan dengan nada datar, tanpa sedikit pun rasa bersalah mengingat nasib Ayla yang sedang menderita.
"Tunggu dulu... Kalian bilang ingin menjodohkan Alena dengan Reyhan? Itu tidak bisa dilakukan begitu saja! Bukankah Reyhan dan Ayla sudah berpacaran cukup lama dan saling mencintai?" bantah Bastian dengan tegas.
"Kak, apa kau ini bodoh? Bagaimana mungkin Ayla dikirim ke keluarga Aditama jika dia masih berhubungan dengan Reyhan? Lagipula, hanya Ayla yang tergila-gila pada Reyhan. Reyhan sendiri justru terlihat sangat nyaman dan bahagia bersama Alena. Dia bahkan rela seharian penuh menjaga Alena di rumah sakit. Kau juga pasti tidak berkeinginan memaksa Reyhan menikahi perempuan yang kasar dan menyusahkan seperti Ayla, kan?" ungkap Adnan dengan angkuh. Di setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, ia selalu saja merendahkan nama baik Ayla.
"Benarkah begitu? Apakah kalian sudah mendengar langsung dari mulut Reyhan sendiri bahwa dia sudah tidak ada hubungan lagi dengan Ayla?" tanya Bastian dengan nada khawatir.
"Sudahlah, tidak perlu berdebat soal ini. Keputusan sudah bulat: Ayla lah yang akan dikirim ke keluarga Aditama. Lagipula, mereka pasti akan jauh lebih senang mendapatkan Ayla yang berstatus anak kandung keluarga Gunawan. Coba bayangkan, jika Alena yang dikirim ke sana, hal itu pasti akan memicu kemarahan Tuan Hans karena dia hanyalah anak angkat!?" seru Mama Tina, membuat Bastian dan Adnan seketika terdiam dan tak mampu membantah lagi.
"Papamu benar. Papa sudah memutuskan, Alena dan Reyhan akan dijodohkan. Tidak ada pembantahan lagi. Ayo, semuanya masuk istirahat, hari sudah larut malam," ucap Papa Bayron mengakhiri pembicaraan itu, lalu membubarkan mereka semua.
Sementara itu, di luar rumah...
"Reyhan, terima kasih banyak untuk hari ini," ucap Alena sambil berdiri tepat di depan pintu mobil Reyhan yang terparkir di halaman.
"Kau ini benar-benar sungkan sekali. Dari tadi terus-menerus berterima kasih," jawab Reyhan sambil tersenyum, semakin mengagumi sifat lembut dan sopan santun gadis itu.
"Aku hanya merasa kau terlalu baik padaku," balas Alena pelan.
"Alena, kau itu memang sudah pantas menerima kebaikan dari semua orang karena kau memang gadis yang baik. Berbeda dengan orang lain..." ucap Reyhan, lalu bayangan wajah Ayla seketika terlintas di benaknya.
"Jangan bicara seperti itu. Bagaimanapun juga, kau dan Ayla sudah berpacaran selama dua tahun, kalian saling mencintai, apalagi kalian sudah saling kenal sejak masa SMA," ucap Alena, seolah-olah tidak senang jika ada orang yang menjelek-jelekkan Ayla.
"Hah... Alena, sepertinya aku akan mempertimbangkan tawaran keluargamu. Aku juga tidak mungkin terus menikmati hubungan dengan Ayla. Dia wanita yang kasar dan licik, aku tidak mau ikut terjerumus ke dalam masalahnya. Sekarang, sebaiknya kau masuk dan istirahatlah. Aku akan memberimu jawaban setelah aku benar-benar memutuskan hubungan dengannya," ucap Reyhan. Ia sempat menggenggam tangan Alena sejenak, lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Kau benar-benar akan melakukan itu? Lalu bagaimana dengan perasaan Ayla?" tanya Alena, sedikit meninggikan nada suaranya seolah kaget.
"Sudahlah, jangan terlalu memikirkan perasaan orang lain. Lebih baik fokuslah pada kebahagiaanmu sendiri. Aku pamit pulang dulu," ucap Reyhan, lalu segera melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah itu.
Alena melambaikan tangan dengan senyum yang mekar di bibirnya. Setelah mobil Reyhan tak lagi terlihat, ia pun berbalik dan berjalan kembali menuju kamarnya.
"Memikirkan perasaan siapa? Sejak kapan aku memikirkan perasaan orang lain selain diriku sendiri? Hahaha... Ayla, lihatlah nanti bagaimana aku mengambil satu per satu apa yang selama ini kau miliki, dan menjadikannya milikku sepenuhnya," gumam Alena sambil tertawa lepas di depan cermin. Wajahnya tampak sangat puas dan bangga dengan segala hal yang telah ia lakukan kepada Ayla.
Keesokan harinya...
Ayla perlahan membuka matanya. Ia baru tersadar dari pingsan yang berlangsung semalaman, dan kesadarannya kembali pulih karena cahaya masuk melalui pintu ruang kurungan yang terbuka.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya