GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Ujian Senjata
Sinar matahari pagi pada hari kedua seleksi militer bersinar lebih terik, seolah ikut memanaskan ketegangan yang kian memuncak di antara para pendaftar Tamtama yang tersisa. Dari lima ratus lebih pemuda yang bertarung melawan lumpur dan log kayu di hari pertama, kini hanya tersisa sekitar dua ratus orang yang dinyatakan layak untuk melanjutkan ke babak berikutnya. Kali ini, arena seleksi dipindahkan dari puncak bukit berbatu menuju ke pelataran dalam barak pelatihan Barat, sebuah lapangan luas beralaskan tanah liat kering yang dikelilingi oleh pagar pancang dari batangan pohon jati setinggi dua kali ukuran tubuh manusia.
Atmosfer di dalam pelataran ini terasa jauh lebih menekan dan menegangkan dibandingkan hari sebelumnya. Jika ujian pertama dirancang murni untuk menyaring kekuatan urat daging dan ketahanan raga dari titik terendah, maka hari kedua ini bertujuan untuk menguji dua hal yang menjadi penentu hidup dan mati seorang prajurit di tengah berkecamuknya medan perang: ketangkasan dalam menggunakan senjata standar kerajaan serta ketajaman insting dalam membaca pergerakan musuh dalam formasi kelompok.
"Hari ini, kalian tidak lagi bertarung melawan benda mati yang membosankan!" teriak seorang perwira penguji bertubuh tegap yang mengenakan zirah kulit lembu berlapis lempengan tembaga di dadanya. Ia berdiri di tengah pelataran sambil memegang sebilah pedang panjang yang masih tersarung di pinggangnya. "Di dalam pertempuran nyata di tanah seberang atau pedalaman, urat daging yang tebal tanpa adanya ketepatan arah tebas dan tusuk hanyalah seonggok daging berjalan yang sedang mengantre untuk dipotong oleh senjata musuh! Hari ini, kami akan melihat apakah kalian memang memiliki bakat untuk memegang senjata Majapahit, atau kalian hanya seekor kerbau yang hanya bisa memikul beban tanpa bisa membalas serangan!"
Di tepi lapangan, beberapa bintara militer telah menyiapkan ratusan bilah senjata latihan yang terbuat dari kayu jati pilihan yang ujungnya telah ditumpukan dan dilapisi kain tebal agar tidak menimbulkan luka robek yang mematikan. Ada gada kayu pendek yang berat, perisai anyaman bambu berlapis kulit, dan yang paling banyak adalah tombak kayu standar sepanjang satu setengah depa dengan ujung tumpul yang menyerupai bentuk mata tombak pamor murah.
Setiap peserta diwajibkan melangkah maju untuk mengambil sebilah tombak kayu latihan tersebut. Ketika giliran Mada tiba, ia mengulurkan tangan kanannya dengan gerakan yang sengaja dibuat agak kaku. Saat jemarinya yang panjang mencengkeram gagang tombak kayu yang kasar itu, ia langsung menakar bobot dan titik keseimbangan senjata tersebut. Bagi tangan Mada yang sudah terbiasa merasakan beratnya gada besi purba milik gurunya, tombak kayu latihan ini terasa sangat ringan, hampir tidak berbobot sama sekali. Namun, ia tetap memposisikan tubuh jangkungnya dengan agak membungkuk, memberikan kesan bahwa ia membutuhkan sedikit usaha untuk menyeimbangkan senjata tersebut di tangannya.
Sistem ujian ketangkasan senjata ini dibuat dengan cara pertarungan satu lawan satu di atas sepuluh lingkaran arena tanah yang masing-masing dibatasi oleh lilitan tali tampar besar. Peraturan yang diterapkan sangat sederhana namun menuntut fokus yang mutlak: siapa pun yang senjatanya terlepas dari genggaman, tubuhnya keluar dari batas tali lingkaran, atau menyerah kalah karena tidak mampu bangkit dalam sepuluh hitungan gong, maka detik itu juga ia dinyatakan gagal dan namanya dicoret dari daftar kelulusan.
Mada berjalan tenang menuju arena nomor empat setelah namanya dipanggil oleh bintara pencatat. Begitu ia melangkah melewati batas tali tampar, ia mendapati lawannya sudah berdiri tegak di sisi seberang dengan sikap tubuh yang sangat percaya diri. Lawan Mada kali ini adalah seorang pemuda bertubuh tegap dan berwajah garang bernama Ragajaya, yang berasal dari daerah pesisir utara. Berbeda dengan mayoritas pendaftar desa lainnya yang terlihat gugup dan memegang tombak dengan tangan bergetar, Ragajaya memancarkan aura yang cukup matang. Di sekitar pergelangan tangan dan sepasang lengannya yang kokoh, samar-samar terlihat pendaran riak hawa murni (Kanuragan Raga) aliran air yang berwarna kebiruan tipis. Tampaknya, ia adalah anak seorang mantan prajurit daerah atau murid sebuah padepokan lokal yang sudah mendapatkan latihan beladiri dasar sejak usia dini.
"Hei, anak gunung bertubuh besar!" seru Ragajaya sambil memutar tombak kayunya di udara dengan gerakan yang cukup cekatan, mencoba mengintimidasi mental Mada sebelum pertarungan dimulai. "Tubuhmu boleh saja jangkung dan besar seperti kerbau hutan, tapi di depan kecepatan tombak pesisirku, kamu hanya akan menjadi sasaran empuk yang bodoh. Lebih baik kamu menyerah sekarang sebelum tombak ini membuat lubang di perutmu!"
Mada tidak membalas provokasi tersebut dengan kata-kata ataupun pandangan mata yang menantang. Sebaliknya, ia justru menurunkan posisi tombak kayunya, memegangnya dengan dua tangan dalam posisi kuda-kuda yang terlihat sangat biasa, longgar, dan penuh dengan celah kosong di bagian dada. Ia menampilkan wajah polos seorang pemuda desa yang tampak bingung dan sedikit ketakutan menghadapi lawan yang terlihat terampil. Namun, di balik topeng keluguannya tersebut, mata sakral (Niti Sastra Level 2) milik Mada yang diaktifkan setipis rambut telah membaca seluruh peta aliran energi di dalam tubuh Ragajaya. Mada sudah mengetahui ke mana arah serangan pertama akan dilayangkan bahkan sebelum Ragajaya menggerakkan poros kakinya.
Gong!
Suara ketukan gong perunggu kecil berdentang, menandai dimulainya pertarungan di arena nomor empat.
Begitu suara gong meredam, Ragajaya langsung mengambil inisiatif serangan dengan sangat agresif. Ia menghentakkan kaki kanannya ke tanah liat kering, memanfaatkan dorongan hawa murni aliran airnya untuk melesat maju ke depan. Tombak kayunya bergerak dengan sangat cepat, meluncur lurus bagaikan ular yang keluar dari sarangnya, mengincar titik tengah tenggorokan Mada dengan teknik tusukan beruntun yang cukup rapi untuk ukuran seorang pemuda pendaftar baru.
Wus! Wus! Wus!
Ujung tombak tumpul Ragajaya menyambar udara dengan suara desingan yang nyaring. Menghadapi serangan yang bertubi-tubi itu, Mada sengaja tidak menggunakan teknik gerakan ghaib seperti Langkah Halimun ataupun meledakkan energi batin emas Khodam miliknya. Sesuai dengan wejangan mendiang Rama Sidacerma untuk selalu menyembunyikan lubang spiritual dari pandangan publik, Mada menampilkan gaya bertahan yang terlihat sangat kasar, canggung, dan seolah-olah ia hanya bisa selamat karena faktor keberuntungan murni.
Mada membiarkan dirinya terdesak mundur selangkah demi selangkah hingga tumit kaki belakangnya hampir menyentuh batas tali tampar arena. Tubuh jangkungnya bergerak memiring ke kiri dan ke kanan dengan gerakan yang tampak panik dan tidak seimbang, membiarkan ujung tombak Ragajaya lewat hanya beberapa jengkal dari permukaan kulit baju katun kasarnya. Di mata para penonton di pinggir lapangan, Mada terlihat seperti seorang pemuda malang yang sedang berada di ujung tanduk dan tinggal menunggu waktu untuk mendarat di tanah dengan tubuh penuh memar.
"Mati kamu, kerbau bodoh!" teriak Ragajaya yang merasa berada di atas angin. Ia menaikkan putaran energi kebiruannya, melepaskan tusukan ketujuh yang menjadi serangan pamungkasnya dengan mengerahkan seluruh tenaga ke arah ulu hati Mada.
Namun, di tengah luapan emosi Ragajaya yang menggebu-gebu, Mada tahu bahwa serangan itu adalah titik lemah terbesar lawannya. Karena terlalu bernafsu untuk segera mengakhiri pertarungan, kuda-kuda kaki Ragajaya menjadi terlalu maju ke depan, membuat titik keseimbangan tubuhnya goyah dan area lambung kirinya terbuka lebar tanpa perlindungan sama sekali.
Tepat ketika ujung tombak kayu Ragajaya tinggal berjarak satu jengkal dari dadanya, Mada melakukan satu gerakan memutar poros kaki kiri yang sangat tipis namun luar biasa presisi. Gerakan itu begitu efisien sehingga membuat tombak lawan meluncur bebas melewati ruang kosong di bawah ketiak kirinya. Pada detik yang sama, dengan memanfaatkan momentum dorongan tubuh Ragajaya sendiri, Mada memutar gagang tombak kayunya dan menghentakkan bagian pangkalnya yang keras tepat ke arah pergelangan tangan kanan Ragajaya yang sedang mencengkeram senjata.
Plak!
Sentakan dari gerakan Mada sebenarnya tidak dilapisi oleh hawa murni sedikit pun, namun karena kepadatan struktur otot alaminya yang luar biasa padat, dampak benturan itu terasa bagaikan hantaman sebatang pohon jati tumbang. Getaran hebat langsung menjalar ke saraf tangan Ragajaya, membuat seluruh jemarinya mendadak mati rasa seketika. Tombak kayu yang menjadi andalannya terlepas dari genggaman, melayang di udara sebelum akhirnya jatuh mencuat di atas tanah liat.
Ragajaya tertegun dengan mata terbelalak, tidak mengerti bagaimana senjatanya bisa direbut dalam satu gerakan sederhana. Namun, sebelum kesadarannya pulih sepenuhnya, ia merasakan sebuah tekanan angin yang dingin berhenti tepat satu jengkal di depan jakun tenggorokannya. Ketika ia melihat ke depan, ujung tombak tumpul milik Mada sudah berada di sana, dipegang dengan satu tangan oleh Mada yang masih mempertahankan wajah polos tanpa ekspresi, seolah-olah apa yang baru saja terjadi hanyalah sebuah ketidaksengajaan yang beruntung.
"Pertarungan selesai! Pemenang arena nomor empat, Mada dari Hutan Tarik!" teriak perwira penilai yang berdiri di tepi lingkaran tali sambil melambaikan selembar kain merah tanda kemenangan.
Ragajaya perlahan menurunkan kedua tangannya dengan wajah yang pucat pasi bercampur rasa malu yang mendalam. Ia memungut tombak kayunya yang jatuh lalu melangkah keluar lingkaran tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sementara itu, Mada menjura hormat ke arah perwira penilai dengan sikap yang sangat santun, lalu berjalan kembali ke barisan peserta belakang, membiarkan pundaknya kembali turun seolah-olah ia merasa sangat lega karena bisa memenangkan pertarungan melelahkan tersebut.
Di atas panggung kehormatan yang berada di sisi timur lapangan, Senopati Kudamerta kembali mencondongkan tubuh tegapnya ke depan. Sepasang mata elang milik jenderal sepuh itu mengunci fokusnya pada sosok Mada yang sedang berjalan tenang di antara kerumunan. Sebagai seorang ahli perang yang sudah menyaksikan ribuan bentuk ilmu beladiri di seluruh Nusantara, Senopati Kudamerta tidak bisa dibohongi oleh akting keluguannya Mada.
"Luar biasa..." bisik Senopati Kudamerta dengan suara yang sangat pelan, hampir tenggelam oleh sorak-sorai penonton. Jemari tangannya yang penuh kapalan akibat memegang pedang tampak mengetuk-ngetuk sandaran kursi jati setinggi bahunya. "Pemuda itu... cara dia memutar poros kaki kirinya saat menghindar tadi bukan sebuah gerakan refleks yang acak karena panik. Itu adalah teknik dasar pemindahan berat badan tingkat tinggi yang hanya diajarkan di lingkungan elit pengawal raja purba. Dia tahu persis kapan energi lawannya habis, dan dia memukul titik mati urat lawan dengan akurasi yang mutlak tanpa membuang tenaga satu jengkal pun. Siapa sebenarnya orang yang telah menempa anak desa ini di dalam Hutan Tarik?"
Ujian ketangkasan senjata perorangan itu berlangsung hingga menjelang tengah hari. Selepas matahari melewati puncak ubun-ubun kepala, para peserta yang tersisa dikumpulkan kembali untuk mengikuti babak ujian yang jauh lebih rumit: Siasat Palagan Kelompok. Kali ini, para bintara membagi para pendaftar menjadi tim-tim kecil yang masing-masing berisikan lima orang. Tugas mereka adalah melakukan simulasi taktis tempur: bagaimana cara menembus dan menghancurkan barisan pertahanan berlapis dari barisan perisai kayu besar yang dijaga oleh lima orang prajurit instruktur senior yang sudah berpengalaman.
Di sinilah kecerdasan strategi perang yang diajarkan oleh Rama Sidacerma mulai diterapkan oleh Mada dengan sangat rapi tanpa harus menonjolkan kekuatan fisiknya. Melalui pengundian acak, kelompok Mada diisi oleh empat orang pemuda desa yang bertubuh kecil, kurus, dan sudah tampak kelelahan serta putus asa karena harus menghadapi para instruktur senior bertubuh raksasa yang menjaga garis pertahanan dengan kokoh di ujung lapangan. Sementara itu, tim-tim lain yang diisi oleh pemuda-pemuda berotot besar dari kota kebanyakan gagal total karena mereka mencoba menembus pertahanan perisai tersebut dengan cara menerjang lurus ke depan, yang berakhir dengan tubuh mereka digencet dan dipukul mundur dengan mudah oleh dinding perisai kayu instruktur.
Saat timnya sedang berkumpul di balik barisan semak tiruan untuk menyusun rencana sebelum giliran mereka tiba, keempat pemuda desa itu tampak tertunduk lesu dengan tubuh gemetar menahan rasa takut akan kegagalan yang sudah di depan mata.
"Kita tidak akan pernah bisa menembus dinding perisai itu," bisik salah seorang anggota tim dengan suara yang hampir menangis. "Tubuh mereka terlalu besar, dan pertahanan mereka tidak memiliki celah sama sekali. Kita pasti akan gagal dan diusir dari sini."
Mada, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, perlahan menggeser duduknya mendekati keempat rekan satu timnya. Ia merendahkan posisi kepalanya, lalu berbicara dengan suara yang sangat rendah namun memiliki tekanan yang begitu padat dan penuh dengan keyakinan yang menenangkan batin.
"Dengarkan aku dengan saksama jika kalian semua masih ingin memakai seragam merah prajurit Majapahit," ucap Mada, membuat keempat pemuda itu mendongak, entah mengapa mereka merasa ditarik oleh kewibawaan tersembunyi yang memancar dari suara pemuda jangkung ini. "Kita tidak akan pernah bisa menang jika kita menerjang lurus seperti kelompok-kelompok bodoh sebelum kita. Kita akan menggunakan siasat jepitan lambung atau yang biasa disebut dengan istilah Supit Urang secara sederhana. Begitu gong berbunyi, dua orang dari kalian yang memiliki gerakan paling lincah harus berlari lurus ke depan, berpura-puralah melakukan serangan agresif di tengah lalu segera mundur dengan cepat seolah-olah kalian ketakutan dan kehilangan nyali."
Mada mengambil sebatang ranting kecil, lalu menggambar pola gerakan di atas tanah liat kering di hadapan mereka.
"Para instruktur itu adalah petarung yang jemawa. Begitu mereka melihat dua orang dari kita mundur dalam kondisi panik, insting mereka akan memaksa mereka untuk melangkah maju ke depan untuk mengejar dan menekan kita. Pada detik itulah formasi rapat dari dinding perisai kayu mereka akan terbuka dan menciptakan celah kosong di bagian samping. Begitu celah itu muncul, aku dan dua orang sisanya yang sudah bersembunyi di balik semak samping akan langsung melesat masuk dari arah lambung kiri dan kanan untuk memukul titik buta di belakang perisai mereka. Ingat, jangan ragu. Begitu aku bergerak, kalian harus langsung mengunci target kalian masing-masing."
Mendengar penjelasan taktis yang begitu rapi, terstruktur, dan sangat masuk akal tersebut, mata keempat pemuda desa itu yang awalnya redup kini kembali memancarkan binar harapan yang menyala. Rasa cemas dan ketakutan yang sempat mengunci urat-urat raga mereka seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa percaya diri yang besar setelah mendengarkan komando dari Mada yang terasa seperti perintah dari seorang panglima perang sejati.
Gong!
Gong tanda simulasi kelompok Mada dimulai berdentang dengan keras.
Siasat Supit Urang yang dirancang oleh Mada berjalan dengan tingkat keberhasilan yang sangat sempurna di lapangan. Dua pemuda desa yang bertindak sebagai umpan di bagian tengah berlari maju sambil berteriak kasar, memukulkan tombak kayu mereka ke perisai instruktur, lalu dengan cepat memutar tubuh mereka dan berlari mundur dengan wajah yang dibuat panik berantakan. Sesuai dengan prediksi matematis Mada, lima instruktur senior yang menjaga garis pertahanan langsung terpancing oleh mundurnya umpan tersebut. Mereka melangkah maju secara bersamaan untuk mengejar, membuat dinding perisai yang awalnya rapat menjadi renggang dan menciptakan celah buta selebar satu depa di bagian lambung samping.
Tepat pada momen yang krusial itu, Mada memberikan isyarat tangan yang halus kepada dua rekan di sampingnya. Dengan memanfaatkan kecepatan murni dari kepadatan otot kakinya tanpa menggunakan teknik ghaib, Mada melesat keluar dari balik semak lambung kanan dengan gerakan yang sangat cepat namun terlihat natural. Sebelum instruktur sayap kanan menyadari adanya bahaya dari samping, Mada sudah berada di titik butanya. Dengan satu ayunan gagang tombak kayunya yang terukur, Mada menyapu bagian belakang lutut dua prajurit penjaga perisai hingga mereka kehilangan keseimbangan dan terjungkal jatuh ke tanah liat.
Di sisi seberang, dua rekan Mada lainnya yang masuk dari lambung kiri berhasil menyelesaikan sisa instruktur yang sudah kehilangan formasi pertahanan mereka. Hanya dalam waktu tidak lebih dari dua puluh hitungan napas setelah gong dimulai, tim Mada yang dianggap paling lemah justru berhasil memenangkan simulasi taktis kelompok tersebut tanpa ada satu pun anggota mereka yang menerima cedera atau luka memar sedikit pun.
Sorak-sorai riuh rendah dan tepuk tangan penuh kekaguman langsung pecah dari arah para penonton dan perwira menengah di tepi lapangan luar. Namun, Gajah Mada tetap mempertahankan sandiwara raganya dengan sangat konsisten. Ia segera menurunkan tombak kayunya, menjatuhkan tubuhnya berlutut di tanah sambil mengatur napasnya agar terdengar terengah-engah dengan hebat, seolah-olah kemenangan besar timnya tadi hanyalah sebuah kebetulan yang beruntung dari kerja sama kelompok yang tanpa sengaja berhasil memanfaatkan kelengahan sesaat dari para instruktur senior. Namun, jauh di atas panggung kehormatan sutra kuning, Senopati Kudamerta sudah memantapkan satu keputusan besar di dalam hatinya. Pemuda bernama Mada ini memiliki kualitas yang terlalu besar untuk sekadar dijadikan prajurit Tamtama biasa pembawa barang logistik di garis belakang. Tempat yang layak untuk menempa bakat alamiahnya yang mengerikan itu adalah di dalam kompleks asrama pelatihan para ksatria pilihan kerajaan.