Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.
Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.
Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yessica & Zaki
Vito membuka pintu cafee, sehingga lonceng yang terpasang di atasnya berbunyi nyaring. Beberapa orang sedang duduk di dekat jendela sambil menikmati minuman dan makanan. Anggraini bersandar di meja kasir dan sedang mengobrol dengan Rowan, adik laki-lakinya.
Mereka berteman sejak sekolah dasar dan selalu beraktivitas bersama. Dahulu, banyak orang mengira keduanya akan menjalin hubungan asmara.
Namun, tiga tahun lalu Anggraini hamil dan sejak itu terus ia berusaha memperbaiki hubungannya dengan ayah dari anaknya. Pria itu jarang berada di sana, datang dan pergi sesuka hatinya tanpa kepastian. Sebaliknya, Rowan selalu mendampingi Anggraini dan anaknya dalam setiap situasi.
Vito yakin suatu hari nanti mereka akan bersatu, meskipun ia tidak terbiasa mencampuri urusan orang lain. Selama sepuluh tahun terakhir, pesanan Vito selalu sama, yaitu kopi hitam dan kue apel kayu manis.
Padahal sebenarnya ia tidak menyukai kue tersebut. Ia tidak menyukai rasa apel maupun kayu manis. Makanan itu adalah kesukaan Nowi.
Dahulu, ia selalu membelikannya untuk Nowi, baik saat perempuan itu sedang sedih, senang, maupun hanya untuk melihatnya tersenyum.
Sejak Nowi pergi, Vito terus memesan makanan yang sama. Tanpa disadari, hal itu telah menjadi kebiasaan yang sulit diubah. Tidak ada orang lain yang mengetahui alasan di balik kebiasaan itu.
Anggraini pergi ke bagian dapur untuk menyiapkan pesanan. Tak lama ia pun kembali dan menyerahkan pesanan yang telah disiapkan.
Vito mengambil barang-barangnya lalu berjalan keluar dari cafee. Anjing kecil itu kembali berlari ke arahnya dan menggigit ujung celana yang dipakainya. Vito menggerakkan kakinya agar gigitan itu terlepas, namun hewan itu malah semakin mengeratkan genggamannya.
Vito menyampaikan permintaan itu dengan nada terpaksa sambil tersenyum secara pura-pura. Akhirnya Bu Ninik mengangkat anjingnya, sehingga Vito dapat melanjutkan perjalanan menuju truknya.
Pabrik penyulingan minuman milik keluarganya memasok barang ke seluruh asia tenggara, dan seluruh kegiatan operasionalnya dijalankan dari lokasi tersebut.
Bangunan utamanya memiliki ukuran yang luas dan desain yang mewah, tidak terlihat seperti tempat produksi biasa. Bagian depan dipenuhi jendela berukuran tinggi serta pintu kaca besar yang menghubungkan ruangan dengan teras yang luas.
Di dalam, ruangan disusun dengan konsep terbuka yang luas. Terdapat dua tangga di sisi kanan dan kiri yang mengarah ke lantai atas, tempat ruang kerja seluruh karyawan berada.
Bagian langit-langit memperlihatkan struktur kokoh dan saluran pipa yang tersusun rapi. Terdapat cafetaria kecil di lantai dasar, tanaman hias yang diletakkan di berbagai sudut ruangan, serta foto-foto keluarga dari berbagai generasi yang terpajang di dinding. Semua hal itu mengingatkan Vito akan usaha keras keluarganya dalam membangun tempat tersebut.
Vito membuka pintu ruang kerjanya yang memiliki suasana yang sangat berbeda dibandingkan bagian lain gedung. Ia duduk di kursi, meletakkan makanan dan minumannya, kemudian menyalakan komputer. Jendela berukuran besar terpasang di kedua sisi ruangan. Satu sisi menghadap ke arah perbukitan, sedangkan sisi lain menghadap langsung ke lorong dan tangga, sehingga ia dapat melihat siapa saja yang datang tanpa perlu mengandalkan sistem pengawasan.
Vito meminum kopi dan memaksa dirinya menghabiskan kue itu sambil melakukan rutinitas paginya.
Memeriksa pesan masuk, kalender, surel, lalu menyusun rencana untuk hari itu.
Menjelang makan siang, Vito berkeliling memeriksa keadaan bersama Zaki sebelum menemui Rowan dan Jaylon untuk mengunjungi salah satu gudang penyimpanan Fermentasi Apel.
Ia menuruni tangga dengan cepat, setelah mendengar Zaki dan Yessica berdebat keras.
Berbelok ke lorong, ia melihat keduanya berdiri di hadapan dinding yang dipenuhi rak-rak berisi botol Apel. Vito bersandar pada tembok, menyilangkan kedua tangan, lalu diam-diam memperhatikan adiknya dilawan oleh perempuan yang penuh semangat itu.
Satu tangan Yessica bertolak pinggang, sedangkan tangan yang lain bergerak lincah saat menyampaikan pendapatnya dengan emosional.
Vito menyadari bahwa perilaku demikian seharusnya tidak terjadi di lingkungan kerja, namun ini adalah bisnis keluarga. Ia pun paham betul bahwa bekerja bersama Zaki memang sering kali menimbulkan kekesalan. Jika harus bertaruh, ia yakin segala kritikan yang dilontarkan Yessica memang layak diterima oleh Zaki.
"Kamu tuh beneran nggak masuk akal, bikin kerjaanku jadi susah banget, Zaki!" papar Yessica.
"Perlu aku ingetin kalau kamu kerja buat aku? Nggak bisa sembarangan ubah aturan gitu. Harus ajukan dulu, baru aku pertimbangkan. Jadi terima aja situasinya, cari solusi lain. Ini nggak bakal disetujui, ngerti?"
"Kamu aja yang keras kepala. Saudaramu sendiri yang bilang kita harus kerja sama, tapi kamu nggak mau dengerin. Kenapa sih segitunya?"
"Nggak perlu, dan kamu juga nggak perlu bikin ribet. Ini cuma buang waktu. Emangnya tugasmu itu apa?"
"Koordinator acara, beda dong. Tapi aku nggak heran kamu nggak ngerti. Justru kemampuan inilah yang bikin aku diterima kerja di sini, jadi suka atau nggak, kamu bakal terus kerja bareng aku!"
Wanita ini sungguh berani. Ia bahkan tidak takut menghadapi Zaki dan mampu membalas setiap ucapan dengan tegas. Hal itu adalah hal yang baik. Jika ingin bertahan bekerja bersama Zaki, memang dibutuhkan mental sekuat itu.
Merasa telah cukup memperhatikan, Vito pun mendekat ke arah mereka. "Hai Zaki, Yessica. Ada masalah? Mungkin aku bisa bantu selesaikan."
Yessica segera menoleh dan berusaha menyembunyikan kekesalannya sebaik mungkin. Sebaliknya, Zaki malah terlihat semakin tegang saat melihat kedatangan Vito.
Zaki adalah tipe orang yang suka berselisih paham mengenai apa saja, tanpa mau memilah mana yang penting dan mana yang tidak.
"Nggak ada masalah, aku udah urus. Cuma ada pegawai yang berani mengubah hal-hal penting tanpa izin aku," kata Zaki dengan nada datar.
"Oh, aku paham," jawab Vito santai.
Zaki menatap tajam, sedangkan Yessica segera menutupi tawa dengan pura pura batuk.
"Yessica, sebenarnya masalahnya apa?" tanya Vito lagi.
"Kita butuh tempat buat memulai dan mengakhiri kunjungan, juga area buat mencicipi Fermentasi dan berkumpul. Aku usul kita bangun bar kecil di sini."
Yessica menunjuk dinding di hadapannya, dan Vito langsung mengerti maksudnya. lokasi itu memang cocok serta memiliki banyak kelebihan.
"Dindingnya sudah dilengkapi rak, bagian depannya luas, dan lokasinya dekat pintu keluar serta teras. Dengan begitu, kita juga bisa menambah tempat duduk di luar."
Pemikiran itu masuk akal, idenya pun sangat bagus. Vito bingung mengapa Zaki menolaknya, itu memang karena saudaranya itu suka membuat segala hal menjadi sulit tanpa alasan yang jelas.
"Kamu sudah menyusun rincian rencananya belum?" tanya Vito.
"Tentu, aku sudah kirim akhir pekan lalu, tapi langsung ditolak mentah-mentah," jawab Yessica sambil membuat gerakan tanda kutip di udara lalu menatap Zaki.
"Kirim ke aku juga ya, nanti sore aku baca. Menurutku ide ini bagus dan bisa dijalankan. Kerja bagus, Yessica."
"Makasih, Vito. Senang deh setidaknya ada satu orang di sini yang masih pakai akal sehat."
"Kamu seriusan dukung dia?" tanya Zaki dengan nada tidak percaya, lalu mundur selangkah menjauh dari Yessica.