NovelToon NovelToon
Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.

Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.

Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Setelah semuanya terlepas, Shaka menatap benda-benda itu cukup lama di tangannya.

Cincin, kalung dan anting, benda-benda kecil yang selama ini seperti lambang kehidupan lamanya. Kehidupan yang penuh kekerasan, obat-obatan, mabuk mabukan, perkelahian, dan dosa yang bahkan sampai sekarang masih membuatnya takut mengingatnya.

Ustadz Ilyas lalu berkata pelan,

“Terkadang untuk menjadi seseorang yang baru, kita memang harus berani meninggalkan versi lama diri kita.”

Kalimat itu membuat Shaka mengangkat pandangannya perlahan. Tatapan lelaki muda itu terlihat jauh lebih tenang dibanding pertama kali datang ke pesantren. Tanpa banyak bicara lagi, ia berdiri pelan dari kursinya. Tak jauh dari teras musholla ada tong sampah besar dekat tempat wudhu.

Shaka berjalan ke sana perlahan. Langkahnya terasa berat namun juga ringan di saat bersamaan. Lalu sesampainya di depan tong sampah itu, ia membuka telapak tangannya.

Semua aksesoris itu terlihat diam di sana.

Shaka menatapnya untuk terakhir kali, kemudian...

Bruk.

Ia menjatuhkan semuanya ke dalam tong sampah. Suara logam kecil terdengar samar saat benda-benda itu jatuh ke dasar tong. Shaka terdiam. Angin sore kembali berembus pelan dan entah kenapa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Shaka merasa seperti baru saja melepaskan sesuatu yang selama ini mengikat dirinya. Ustadz Ilyas yang melihat itu perlahan tersenyum.

“Bagus.” Shaka menoleh pelan. Ustadz Ilyas berdiri lalu mendekati lelaki itu. “Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.”

Shaka menunduk sebentar.

“Iya ustadz...”

Tak lama kemudian—

“Allahu Akbar... Allahu Akbar...”

Suara adzan maghrib akhirnya berkumandang. Suara itu menggema lembut memenuhi seluruh area pesantren. Langit kini benar-benar berubah gelap kebiruan sementara lampu-lampu mulai menyala di beberapa sudut bangunan pondok. Para santri dan santriwati yang sejak tadi berada di asrama masing-masing mulai bergegas keluar. Ada yang berjalan cepat sambil membawa Al-Qur’an kecil dan ada yang merapikan pecinya sambil berlari kecil menuju musholla.

Suasana pondok kembali hidup menjelang shalat maghrib berjamaah. Sementara itu di kamar kecil asrama putra miliknya, Shaka baru saja selesai mandi dan membuat uap tipis masih memenuhi ruangan sempit itu. Rambutnya yang kini pendek tampak sedikit basah. Setelah mengambil wudhu, lelaki itu berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di dinding kamarnya. Dan untuk beberapa detik, ia hanya diam menatap dirinya sendiri.

Shaka hampir tidak mengenali wajah di depannya. Penampilannya benar-benar berubah. Rambut panjang berantakan itu sudah tidak ada.

Tak ada lagi anting di telinga, tak ada lagi kalung rantai di lehernya dan tak ada lagi cincin-cincin besi di tangannya. Kini ia mengenakan baju koko putih bersih yang tadi diberikan Ustadz Haidar dan sarung gelap melilit rapi di pinggangnya. Shaka menatap pantulan dirinya cukup lama, lalu perlahan sudut bibirnya terangkat kecil. Ia tersenyum.

Senyum kecil yang jarang sekali muncul di wajahnya selama bertahun-tahun. Dan senyum itu terlihat jauh lebih tulus dibanding apa pun yang pernah ia tunjukkan sebelumnya.

Shaka menghembuskan napas pelan. Kalau dipikir-pikir semua ini mungkin tidak akan pernah terjadi kalau bukan karena Ustadz Ilyas. Kalau lelaki itu tidak membimbingnya dengan sabar, mungkin sampai sekarang dirinya masih berpenampilan preman di jalanan dan membuat semua orang takut melihatnya. Shaka menatap dirinya lagi di cermin lalu tanpa sadar gumam kecil keluar dari bibirnya.

“Terima kasih sudah membuat saya berubah sampai sejauh ini, ustadz Ilyas.”

Beberapa menit kemudian Shaka keluar dari kamarnya. Di bahunya kini terpasang surban hitam sederhana pemberian Ustadz Ilyas tadi sebelum ia kembali ke kamar.

“Biar lebih rapi,” kata ustadz Ilyas tadi sambil tersenyum kecil.

Dan sekarang surban itu membuat penampilannya terlihat jauh lebih dewasa. Sementara itu di depan musholla— Ustadz Haidar, Ummi Hafizah, Hanindya, dan Ustadz Ilyas baru saja tiba. Lampu-lampu musholla mulai menyala terang sementara beberapa santri dan santriwati sudah memenuhi halaman. Namun tiba-tiba suara bisik-bisik mulai terdengar.

“Itu siapa?”

“Tunggu... itu kak Shaka bukan?”

“Hah serius?”

“Ya Allah beda banget...”

Hanindya yang sedang berdiri di samping ummi nya sedikit mengernyit bingung sampai akhirnya ia mengikuti arah pandangan para santriwati. Dan detik berikutnya Hanindya langsung terdiam. Shaka sedang berjalan menuju musholla. Namun lelaki itu benar-benar terlihat berbeda sekarang. Baju koko putih yang dikenakannya terlihat sangat pas di tubuh tinggi besarnya. Sarung gelap yang dipakainya membuat penampilannya terlihat jauh lebih rapi. Peci hitam menutupi rambutnya yang kini sudah dipangkas pendek.

Dan surban hitam yang menggantung di bahunya membuat dirinya terlihat tampan sekaligus berwibawa.

Tatapan matanya memang masih tajam namun kini tidak lagi semenakutkan sebelumnya. Justru ada ketenangan samar di sana. Hanindya benar-benar tidak sadar kalau dirinya sampai menatap Shaka cukup lama.

Dadanya mendadak berdegup aneh.

"Ya Allah... Ini benar-benar Shaka?" Batin Hanindya di dalam hatinya.

Di sampingnya, Ummi Hafizah bahkan sampai sedikit membelalakkan mata.

“MasyaAllah...”

Ustadz Haidar juga terlihat terkejut.

“Subhanallah.”

Sementara beberapa santriwati di dekat mereka mulai berbisik lebih heboh.

“Ya ampun ganteng banget...”

“Tadi siang serem sekarang malah beda banget.”

“Cocok banget pakai koko putih.”

Hanindya yang mendengar itu langsung menunduk cepat entah kenapa. Pipinya bahkan terasa sedikit hangat sementara Shaka yang berjalan mendekat mulai menyadari banyak orang memperhatikannya.

Dan anehnya, kali ini ia tidak merasa terganggu. Saat akhirnya sampai di depan mereka, Shaka langsung menunduk hormat sedikit.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab mereka hampir bersamaan.

Ustadz Haidar menatap Shaka dari atas sampai bawah dengan wajah kagum.

Lalu senyum perlahan muncul di wajah beliau.

“MasyaAllah...” gumamnya pelan. “Kamu berubah sekali nak.”

Shaka sedikit salah tingkah.

“Eh... iya ustadz.”

Ummi Hafizah ikut tersenyum bahagia melihatnya.

“Sekarang jauh lebih rapi.”

Shaka mengusap tengkuknya pelan karena gugup sementara Hanindya diam saja. Namun diam-diam matanya masih sesekali melirik Shaka dan semakin ia melihat lelaki itu

semakin sulit baginya percaya bahwa ini orang yang sama dengan lelaki berwajah sangar yang ia lihat tadi pagi. Ustadz Haidar lalu tertawa kecil.

“Siapa yang punya ide merapikan kamu begini, Shaka?”

Shaka langsung menoleh ke arah Ustadz Ilyas

yang berdiri tak jauh dari mereka.

“Ustadz Ilyas yang bantu saya ustadz.” jawab Shaka yang membuat semua mata langsung beralih ke Ustadz Ilyas. Lelaki muda itu hanya tersenyum kecil.

“Shaka sendiri yang punya niat berubah. Saya cuma bantu sedikit.” Namun Ustadz Haidar tetap tersenyum bahagia penuh rasa syukur.

“Terima kasih ustadz.”

Ustadz Ilyas menggeleng pelan.

“Tidak perlu berterima kasih kepada saya, Abi.”

Namun sebelum suasana kembali tenang, Shaka tiba-tiba ikut berkata pelan,

“Saya juga mau bilang terima kasih ustadz.”

Ustadz Ilyas menoleh sementara Shaka menatapnya sungguh-sungguh kali ini.

“Terima kasih karena udah bantu saya berpenampilan rapi seperti ini.”

1
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Ya Shaka jadi Pebinor yah udh perbaiki diri aja terus yah 💪💪
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Ada yang sama nggak sih, aku klw di tempat kaya gini terus ada info kaya gitu, org lain mah pada excited ya kaya dialog kaya gini. Tapi gw mah nggak ah bodo amat nggak ikut berisik gitu kaya hidup ku ya hidupku hidup org lain ya hidup orglain.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Udh kasep ikhlas aja yah.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Cing sabar kasep, ikhlas tekengeng emut Kanu teu penting, sok we perbaiki diri, seur belajar ngaosnanya insyaallah nu namina jodoh mah ku Gusti Oge di pendaken pami anjena tos leres dunia akhiratna 😌
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
untungnya ustadz Ilyas udh bicara, klw nggak pasti makin dalam itu hati.💙
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
uluh² 🤭 anu ker bungah pasti ker bunga² kiw kiw ah selamat ya tad Ilyas moga lancar sampai hari H.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
iya tad lebih cepat lebih baik.
Suhadi Mulyo
karena itulah tuhan sudah mengingatkan kita untuk mencintai sewajarnya saja.
Suhadi Mulyo
jangan membandingkan diri kamu dengan ustadz Ilyas, Shaka. kl jodoh kamu adalah Hanin, insyaallah tuhan akan menyatukan kalian di waktu yang tepat, namun kl bukan, maka kamu harus menerima semuanya dengan ikhlas.
Suhadi Mulyo
sekarang kamu akhirnya tahu Shaka, kl Hanin itu udah tunangan sama ustadz Ilyas.
Khumaira Nur Rahma
lanjut kak
Khumaira Nur Rahma
jadi ikut merasakan sakit hatinya shaka/Scowl/
Khumaira Nur Rahma
yang ikhlas ya shaka💪
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Mencintai seseorang yang bukan milik kita adalah pengalaman yang menyakitkan namun manusiawi, seringkali dipandang sebagai ujian keikhlasan, kedewasaan emosi, dan takdir.
Ini mengajarkan untuk mencintai tanpa harus memiliki, melepaskan keterikatan, serta memahami bahwa cinta sejati tidak menuntut balasan.
Cinta tak harus memiliki memang terdengar sangat pedih.
Bahkan jika dituangkan dalam sebuah lagu akan sangat menyayat hati.
Cinta memang harus diperjuangkan. Namun, ketika dia tidak bisa membalas dan menerima, kita harus terima dengan lapang dada.
Mencintai seseorang itu memang hak kita, namun memiliki seseorang yang sudah menjadi milik orang lain itu bukan hak kita, jangan pernah takut untuk melepas sesuatu yang belum menjadi milikmu karena Tuhan pasti akan menggantinya dengan sosok yang lebih baik...😅😂🤣
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬: Betuulllll itu Thor...👍
Karena apapun yang kita rasakan hanya bisa kita simpan sendirian. Sedihnya, sakitnya, bahagianya, tak bisa kita tunjukkan...😰
total 2 replies
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Kata-kata mencintai orang yang bukan milik kita sering kali digunakan untuk mengutarakan kesedihan seseorang karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
Mencintai orang yang bukan milik kita sering memberikan cerita sedih sehingga dibutuhkan hiburan.
Orang yang sedang mengalami kesedihan karena hal tersebut membutuhkan penguat karena cinta yang tidak terbalaskan.
Kekuatan bisa diperoleh dari dukungan orang terdekat atau dengan kata-kata mencintai orang yang bukan milik kita...😨😰
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Tenang Shaka terik napas pelan² saja, lalu keluarkan dari belakang 🤣🙏maaf author komen ku asbun.
Putri_a_s
meskipun bakalan patah hati, tapi yang semangat ya Shaka, perempuan diluar sana masih banyak kok.
Yuni Avita
dilema banget bab kali ini, di satu sisi udah cocok banget Hanin sama ustadz Ilyas, disisi lain juga dukung Shaka sama hanin🤭
Suhadi Mulyo
kira kira Shaka bakal menyerah nggak ya sama perasaannya ke hanin
Khumaira Nur Rahma
wah bakalan patah hati nih Shaka /Brokenheart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!