Perhatian!!!
Harap bijak dalam membaca.Terima kasih 🙏 🫶
Elian sang Ice Prime Ministry selalu bersitegang
dengan Lyra the Iron Rose, CEO De La Vega Corporate yang menangani cyber security dan peralatan militer. Namun, siapa sangka keduanya memiliki hubungan terlarang yang sangat panas dan romantis dan penuh tantangan. Dimulai dari perjodohan dengan orang lain yang dilakukan oleh keluarga dan partai mereka, sehingga mereka memiliki misi untuk membatalkan perjodohan. Selain itu pengkhianatan yang dilakukan keluarga mereka sendiri tidak kalah peliknya.
Apak Elian dan Lyra bisa bersatu dan memiliki hidup normal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan Bayang-Bayang
Aethelion terjaga dalam kecemasan yang sunyi. Sementara publik masih berpesta pora merayakan kejatuhan Count Julian yang kini mendekam di sel isolasi militer bawah tanah. Sebuah perburuan yang jauh lebih gelap sedang berlangsung di balik dinding-dinding beton markas intelijen Sektor 4. Elian Theron Valerius tidak lagi bermain sesuai aturan protokol negara. Ia telah mengaktifkan "Unit Shadow", kelompok operasi hitam yang tidak tercatat dalam anggaran negara, hanya untuk satu tujuan tunggal: menemukan siapa yang berani membidik lensa kamera ke arah rahasia terdalamnya.
Di gedung pusat De la Vega, Lyra Selene harus menjalani harinya dengan sandiwara yang melelahkan. Ia tampil di depan media dengan wajah yang tampak tegar, memainkan peran sebagai wanita bangsawan yang dikhianati oleh calon tunangannya dengan martabat yang tak tergoyahkan. Namun, setiap kali pintu kantornya tertutup rapat dan lampu indikator privasi menyala merah, ia berubah menjadi arsitek kehancuran. Ia tidak menunggu nasib, ia sedang memetakan setiap kemungkinan celah yang bisa digunakan musuhnya untuk menyebarkan foto terkutuk itu.
Gudang Sektor 4: Gema Kebenaran
Malam itu, hujan turun dengan lebat, menyamarkan limusin hitam yang merapat ke sebuah dermaga pribadi yang terbengkalai. Bau garam laut bercampur dengan aroma karat dan oli bekas menyambut Lyra saat ia melangkah keluar dari mobil. Elian menunggunya di dalam sebuah gudang tua yang telah diubah menjadi pusat komando sementara. Cahaya lampu neon yang berkedip memberikan nuansa distopia pada barisan monitor canggih yang kontras dengan dinding bata yang rapuh.
Di tengah ruangan, seorang pria terikat di kursi baja. Ia tampak hancur, napasnya tersengal di balik penutup kepala yang baru saja dibuka. Bau keringat dingin ketakutan tercium pekat.
"Dia adalah asisten fotografer gala malam itu," suara Elian membelah kesunyian, dingin dan tajam seperti pisau bedah. Pria itu berdiri di area bayangan, jas hitamnya tersampir di kursi, memperlihatkan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. "Dia mencoba menjual salinan aslinya kepada pihak ketiga. Unitku mencegatnya tepat sebelum transaksi terjadi di perbatasan."
Lyra melangkah maju, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di atas lantai semen yang retak, menciptakan irama yang mengintimidasi. Ia menatap pria yang gemetar itu dengan tatapan kosong, seolah-olah pria itu bukan lagi manusia, melainkan sekadar hambatan teknis yang harus disingkirkan.
"Siapa pihak ketiganya?" tanya Lyra, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang mampu membuat bulu kuduk berdiri.
Pria itu menggeleng ketakutan, bibirnya pecah. "Aku... aku tidak tahu namanya. Kami hanya berkomunikasi lewat frekuensi gelap."
Elian melangkah keluar dari bayang-bayang, mendekati Lyra. Ia tidak menyentuh Lyra dengan gairah fisik, melainkan dengan kehadiran yang protektif. Mereka berdiri berdampingan, dua penguasa Aethelion yang kini berbagi beban yang sama. "Dia berbohong, Lyra. Orang sekecil dia tidak akan berani melakukan ini tanpa jaminan perlindungan dari seseorang yang sangat kuat di dalam lingkaran dalam."
Elian memberi isyarat pada interogator Unit Shadow. Dalam hitungan detik, ruangan itu dipenuhi dengan tekanan psikologis yang berat. Elian dan Lyra tidak perlu melakukan kekerasan fisik; kehadiran mereka saja sudah cukup untuk menghancurkan mental pria malang itu. Mereka menunggu dalam diam, membiarkan kesunyian dan deru hujan di luar sana menjadi alat penyiksa alami.
Pengkhianatan di Dalam Darah
Setelah dua jam yang menyiksa, pria itu akhirnya ambruk secara mental. Dengan suara parau yang hampir tak terdengar, ia menyebutkan sebuah nama yang membuat atmosfer di ruangan itu membeku seketika.
"Mateo... Mateo Valerius yang membayarku."
Keheningan yang mematikan jatuh di ruangan itu. Lyra merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak. Mateo. Saudara sepupu Elian sendiri. Pria yang selama ini berdiri tepat di belakang Elian dalam setiap pidato kenegaraan, tangan kanan yang mengelola jadwal dan rahasia politik terkecil sang Perdana Menteri. Pengkhianatan itu tidak datang dari musuh luar seperti keluarga De la Vega atau oposisi pemerintah, melainkan dari dalam darah Valerius sendiri.
Elian tidak meledak dalam amarah. Ia justru menjadi sangat tenang, sebuah ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada amukan apa pun. Ia memberi isyarat agar pengawalnya membawa tawanan itu pergi, meninggalkan ia dan Lyra berdua saja di dalam ruangan mandor gudang yang pengap dan berdebu.
"Mateo menginginkan kursiku," suara Elian terdengar seperti gesekan pisau di atas batu marmer. "Dia tahu aku tidak akan pernah melepaskanmu, Lyra. Dia menyadari bahwa kau adalah satu-satunya kelemahanku, dan dia menggunakan itu sebagai senjata untuk menghancurkan legitimasiku tepat sebelum pemilihan besar."
Lyra menghampiri Elian, meletakkan tangannya di atas meja besi yang dingin, menatap Elian dengan tatapan yang tajam. "Jika foto itu jatuh ke tangan dewan partai melalui Mateo, tidak akan ada jalan kembali bagi kita. Dia tidak ingin uang, Elian. Dia ingin pembunuhan karakter. Dia ingin kau diasingkan dan aku dipenjara atas tuduhan konspirasi dengan pejabat negara."
Ketegangan di antara mereka bukan lagi tentang hasrat, melainkan tentang kelangsungan hidup. Adrenalin yang terpacu membuat indra mereka menjadi sangat tajam. Dalam ruangan sempit itu, mereka mulai bekerja seperti mesin yang terlumasi dengan baik.
"Kita tidak bisa hanya membungkamnya," ujar Lyra, matanya berkilat dengan kecerdasan yang mematikan. "Mateo adalah pria yang rapi. Dia pasti memiliki salinan digital di server cadangan yang tidak bisa kita akses dengan cara biasa. Kita harus menghancurkan infrastruktur informasinya secara total."
Operasi Pembersihan Digital
Elian mengangguk, menyetujui insting predator Lyra. "Instruksikan tim IT rahasiamu di De la Vega. Aku ingin semua jejak digital Mateo setiap email, setiap transaksi bank terselubung, setiap komunikasi dengan sindikat Utara, dihapus atau dimanipulasi sebelum matahari terbit. Kita tidak hanya akan menjatuhkannya, kita akan membuatnya seolah-olah dia tidak pernah ada dalam sejarah politik Aethelion."
Lyra segera mengeluarkan perangkat enkripsinya, jemarinya bergerak cepat di atas layar. "Aku akan menyusup ke server cadangan kabinet menggunakan protokol backdoor dari Project Xylos. Aku akan menanamkan virus yang akan memicu penghapusan otomatis jika ada upaya untuk mengunggah file foto itu ke jaringan publik."
Elian berdiri di belakangnya, mengamati aliran kode yang muncul di layar monitor. "Dan aku akan memastikan militer melakukan penggerebekan di kediaman pribadinya subuh nanti dengan tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi. Kita akan menggunakan bukti keterlibatan Julian yang 'tidak sengaja' ditemukan di brankas Mateo."
Kerja sama mereka malam itu adalah simfoni dari dua kekuatan besar yang bersatu. Tidak ada ruang untuk keraguan. Di dalam gudang yang dingin itu, mereka menyatukan otoritas politik Elian dan kejeniusan teknologi Lyra untuk menciptakan perisai yang tak tertembus.
Ketegangan mental yang mereka lalui justru memperkuat ikatan di antara mereka. Mereka saling memandang, menyadari bahwa di dunia yang penuh dengan pengkhianatan ini, mereka hanya bisa mempercayai satu sama lain, rival yang paling mengerti cara kerja pikiran masing-masing.
"Kau yakin bisa melakukan ini dalam tiga jam?" tanya Elian, suaranya mengandung nada hormat yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
Lyra menoleh, sebuah senyum dingin dan percaya diri menghiasi bibirnya. "Aku adalah seorang De la Vega, Elian. Kami tidak membuat kesalahan dalam hal penghancuran sistem. Pada saat matahari terbit, Mateo Valerius hanya akan menjadi sebuah nama yang terlupakan dalam catatan sejarah kriminal."
Fajar yang Menghakimi
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur Aethelion, cahaya abu-abu menembus jendela gudang yang berdebu. Lyra menutup perangkatnya dengan satu gerakan tegas. Pekerjaan selesai. Semua salinan digital foto tersebut telah dilacak dan dimusnahkan di dalam jaringan, sementara bukti palsu yang memberatkan Mateo telah tertanam dengan sempurna di dalam sistemnya.
Elian merapikan kemejanya, wajahnya kembali menjadi topeng es yang tak tertembus, sosok Perdana Menteri yang siap menghakimi pengkhianat. Ia menatap Lyra, melihat wanita itu tetap berdiri tegak meski kelelahan mulai membayangi matanya.
"Elian," panggil Lyra saat Elian hendak melangkah keluar. "Jangan beri dia kesempatan untuk bicara di depan pengadilan. Mateo tahu terlalu banyak."
Elian berhenti sejenak, menatap pintu gudang yang tertutup. "Dia tidak akan punya lidah untuk bicara di duniaku, Lyra. Aku akan memastikan dia dipindahkan ke fasilitas rahasia di Sektor Selatan sebelum media sempat mencium keberadaannya."
Lyra mengangguk puas. Ia kemudian melirik pakaiannya yang sedikit kotor karena debu gudang, lalu menatap Elian dengan nada memerintah yang menjadi ciri khasnya. "Sekarang, ambilkan kendaraan yang layak dan pakaian baru untukku. Aku harus berada di kantor sebelum ayahku curiga mengapa aku tidak pulang semalam."
Elian menatapnya sejenak, sebuah seringai tipis yang hampir tidak terlihat muncul di wajahnya, sebuah pengakuan atas kekuatan wanita di hadapannya. Ia segera memberi isyarat pada asistennya di luar melalui perangkat komunikasinya.
Malam itu, perburuan penyihir mereka telah berakhir, namun perang yang sesungguhnya melawan bayang-bayang baru saja dimulai. Mateo Valerius baru saja menandatangani surat kematiannya sendiri, sementara Elian dan Lyra berdiri di atas reruntuhan pengkhianatan itu, lebih kuat dan lebih berbahaya dari sebelumnya. Mereka bukan lagi sekadar kekasih rahasia; mereka adalah penguasa tunggal yang tidak segan membakar siapa pun yang berani mengusik aliansi gelap mereka.
lanjutkan kak