Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Pagi itu terasa berbeda.
Bukan karena angin, bukan karena cahaya matahari—melainkan karena tatapan Purus.
Lebih tajam.
Lebih fokus.
Grachius yang sedang bermain dengan sepotong kayu di depan gubuk langsung berhenti.
“…kenapa melihatku begitu?”
Purus tidak menjawab.
Ia hanya berjalan mendekat.
“Berdiri.”
Grachius mengedip.
“Hah?”
“Berdiri.”
Kali ini lebih tegas.
Grachius langsung bangkit, sedikit gugup.
“Ada apa?”
Purus mengambil ranting kayu panjang dari tanah, lalu melemparkannya ke arah Grachius.
Refleks, Grachius menangkapnya.
“Pegang itu.”
Grachius melihat kayu di tangannya.
“…mau main?”
Purus menggeleng pelan.
“Kita mulai latihan.”
Grachius langsung bersinar.
“Latihan baru?!”
“Ya.”
Mereka berdiri saling berhadapan.
Tanah di bawah mereka rata, cukup luas untuk bergerak.
Hutan di sekeliling mereka sunyi, seolah ikut memperhatikan.
“Ilmu ini,” kata Purus, “bernama Ten'i Ryū.”
Grachius memiringkan kepala.
“Artinya apa?”
“Aliran Langit.”
Grachius tersenyum.
“Keren.”
Purus mengangkat rantingnya.
“Fokus.”
Serangan pertama datang tanpa aba-aba.
Swish!
Grachius kaget, hampir tidak sempat bereaksi. Ia mengangkat kayunya secara asal—
Tak!
Benturan terdengar.
Tangannya bergetar.
“Pelan sedikit!” protesnya.
“Musuh tidak akan pelan.”
Serangan kedua datang.
Lebih cepat.
Grachius mencoba menghindar—
terlambat.
Tap!
Pundaknya kena.
“Ah!”
Ia mundur beberapa langkah.
Wajahnya langsung serius.
“Ten'i Ryū bukan tentang kekuatan,” kata Purus.
“Bukan juga tentang kecepatan.”
Ia melangkah maju perlahan.
“Lalu apa?”
“Keselarasan.”
Grachius mengernyit.
“Keselarasan apa?”
Purus tidak langsung menjawab.
Ia mengayunkan kayunya lagi—
kali ini lebih lambat.
“Rasakan.”
Grachius menatap gerakan itu.
Tidak terburu-buru.
Tidak kasar.
Seperti… mengalir.
Ia mengangkat kayunya.
Dan—
Tak.
Ia berhasil menahan.
Tidak goyah.
Tidak panik.
Purus menghentikan serangannya.
“Bagus.”
Grachius tersenyum lebar.
“Aku bisa!”
“Sekali.”
Senyumnya langsung turun.
“…benarjuga.”
Hari itu berlalu dengan latihan.
Jatuh.
Bangkit.
Jatuh lagi.
Dan bangkit lagi.
Tangan Grachius mulai pegal.
Kakinya gemetar.
Napasnya tidak teratur.
“Ternyata melelahkan…” gumamnya.
Purus berdiri tenang seperti biasa.
“Karena kau melawan gerakan.”
Grachius mengerutkan kening.
“Bukankah itu gunanya?”
“Bukan melawan,” jawab Purus. “Mengikuti.”
Sore harinya—
Grachius duduk sendiri.
Bersila.
Mata tertutup.
Napas perlahan.
Ia mencoba mengingat apa yang ia rasakan saat berhasil menahan serangan tadi.
Bukan hanya gerakan…
Tapi juga… perasaan itu.
Tenang.
Mengalir.
Seperti saat ia merasakan energi dalam dirinya.
Seperti saat ia memahami Fatum.
“…oh…”
Ia membuka matanya sedikit.
“Ini… sama…”
Hari-hari berikutnya mulai berubah.
Pagi:
Grachius bermain, berlari di hutan, melompat di atas batu, kadang jatuh dan tertawa sendiri.
Siang:
Ia membantu Purus—
mengangkat kayu, mengambil air, membersihkan sekitar gubuk.
Sore:
Latihan Ten'i Ryū.
Malam:
Meditasi.
Mengendalikan energi.
Memahami Fatum.
Setiap hari.
Berulang.
Namun tidak pernah benar-benar sama.
Suatu sore, setelah latihan—
Grachius terjatuh lagi.
Punggungnya menyentuh tanah.
Napasnya terengah.
“Aku kalah lagi…”
Purus berdiri di atasnya.
“Ya.”
“Padahal aku sudah berusaha…”
“Ya.”
Grachius menatap langit.
Beberapa detik.
Lalu ia tersenyum kecil.
“…tapi aku lebih lama bertahan hari ini.”
Purus terdiam sejenak.
“Ya.”
Grachius bangkit perlahan.
Meski tubuhnya lelah—
matanya tidak.
Ada sesuatu di sana.
Sesuatu yang mulai tumbuh.
Purus menatapnya.
Dalam diam.
Ia bisa merasakan energi dalam Grachius.
Tidak lagi liar.
Tidak lagi goyah seperti dulu.
Mulai stabil.
Mulai… terbentuk.
“Itulah sebabnya…” gumamnya pelan.
Grachius menoleh.
“Hah?”
Purus tidak melanjutkan.
Namun dalam pikirannya, ia menyelesaikan kalimat itu.
Itulah sebabnya aku mulai mengajarkanmu Ten'i Ryū.
Malam itu—
Grachius bermeditasi lebih lama dari biasanya.
Tanpa disuruh.
Tanpa mengeluh.
Ia duduk diam.
Napasnya tenang.
Energi dalam dirinya mengalir lebih halus.
Lebih dalam.
Di luar gubuk—
Purus menatap langit.
Matanya sedikit menyipit.
Seolah melihat sesuatu yang belum terjadi.
“Masih jauh…” katanya pelan.
Angin berhembus.
Membawa suara hutan.
Dan di antara semua itu—
seorang anak kecil terus berjalan.
Pelan.
Pasti.
Menuju jalan…
yang bahkan langit pun mulai waspadai.