Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Jarak yang Tidak Lagi Sama
Elora tidak banyak bicara setelah percakapan itu berakhir. Bukan karena ia tidak punya kata-kata, tapi karena semua yang ingin ia ucapkan terasa seperti tidak akan cukup untuk menjelaskan apa yang baru saja terjadi di antara mereka. Arshaka sudah kembali ke sikapnya yang tenang, seperti tidak ada yang benar-benar berubah, tapi Elora tidak bisa lagi melihatnya dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang tertinggal di udara kamar itu, sesuatu yang tidak terlihat tapi cukup berat untuk terus ia rasakan bahkan setelah pria itu tidak lagi berdiri terlalu dekat dengannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak kontrak itu dimulai, Elora merasa batas yang mereka sepakati tidak lagi terlihat jelas.
Hari itu mereka tetap menjalani jadwal yang sudah ditentukan, meskipun suasana di antara mereka tidak lagi sama. Arshaka tidak membatalkan semuanya seperti kemarin, tapi cara dia mengatur segalanya terasa lebih hati-hati, lebih terkontrol, seolah ada sesuatu yang sedang ia jaga tanpa mengatakannya secara langsung. Elora mengikuti tanpa banyak protes, bukan karena setuju, tapi karena ia sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika biasa.
Di setiap tempat yang mereka datangi, dunia tetap sama—kamera, tatapan, bisikan, dan spekulasi yang tidak pernah berhenti tumbuh. Tapi ada perbedaan kecil yang Elora mulai sadari. Arshaka tidak lagi hanya “berperan” di depan publik. Pria itu mulai terlalu konsisten, terlalu stabil, seolah peran itu bukan lagi sesuatu yang ia pakai sementara, tapi sesuatu yang mulai melekat tanpa ia sadari.
Dan itu membuat Elora semakin sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya bagian dari kesepakatan mereka.
Di dalam mobil setelah salah satu jadwal meeting, Elora akhirnya bersandar di kursinya, menatap keluar jendela dengan mata yang sedikit lelah. Arshaka duduk di sebelahnya seperti biasa, tapi kali ini tidak ada percakapan langsung di antara mereka. Hanya keheningan yang terasa berbeda dari sebelumnya—tidak kosong, tapi juga tidak nyaman.
“Aku bisa handle sendiri beberapa hal,” kata Elora akhirnya, tanpa menoleh.
Arshaka tidak langsung menjawab. Mobil tetap bergerak, suara mesin menjadi latar yang stabil di antara mereka.
“Contohnya?” tanyanya kemudian.
Elora menoleh sedikit. “Interview yang kamu batalkan kemarin. Itu sebenarnya penting buat aku.”
Arshaka mengalihkan pandangan ke jalan. “Dan kalau itu memperburuk situasi?”
Elora menghela napas pelan. “Tidak semua hal harus selalu kamu yang putuskan.”
Ada jeda singkat.
“Bukan soal siapa yang memutuskan,” jawab Arshaka akhirnya. “Tapi apa yang terjadi setelahnya.”
Elora menatapnya cukup lama, lalu kembali menatap ke depan. “Kedengarannya seperti alasan.”
Sore menjelang ketika mereka sampai di hotel, tapi Elora tidak langsung masuk ke kamarnya. Ia berdiri di dekat lobi, membiarkan Arshaka berbicara sebentar dengan seseorang dari timnya. Untuk pertama kalinya, Elora memperhatikan cara orang-orang di sekitar mereka melihat Arshaka—bukan hanya sebagai CEO, tapi sebagai seseorang yang kehadirannya selalu membuat ruangan terasa lebih teratur, lebih terkendali.
Dan entah kenapa, itu justru membuat Elora merasa lebih tidak nyaman dari sebelumnya.
“Kenapa kamu selalu tahu apa yang harus dilakukan?” suara Elora tiba-tiba keluar begitu saja ketika Arshaka kembali mendekat.
Arshaka menatapnya. “Aku tidak selalu tahu.”
Elora mengangkat alis sedikit. “Kelihatannya seperti itu.”
Arshaka tidak menjawab langsung, hanya berjalan berdampingan dengannya menuju lift. “Kalau aku ragu di depan orang lain,” katanya akhirnya, “aku kehilangan kendali atas semuanya.”
Elora menatapnya sekilas. “Termasuk aku?”
Langkah Arshaka tidak berhenti, tapi ada jeda kecil di wajahnya sebelum ia menjawab.
“Termasuk situasi ini.”
Di dalam lift, keheningan kembali turun, tapi kali ini Elora tidak lagi merasa itu sekadar kebiasaan di antara mereka. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang mulai mengisi ruang yang dulu kosong. Cermin di lift memantulkan mereka berdiri berdampingan, terlalu dekat untuk dua orang yang awalnya hanya terikat kontrak.
Elora memperhatikan refleksi itu lebih lama dari biasanya.
“Kamu sadar nggak,” katanya pelan, “kita mulai terbiasa sama ini.”
Arshaka menoleh sedikit. “Maksudmu?”
“Kayak…” Elora berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. “Kayak semua ini bukan lagi sesuatu yang kita lakukan, tapi sesuatu yang kita jalani.”
Arshaka tidak langsung menjawab.
Dan untuk pertama kalinya, Elora melihat sesuatu yang sangat kecil di ekspresinya—bukan ketidakpedulian, tapi kesadaran.
Malamnya, Elora tidak bisa tidur.
Bukan karena lelah, tapi karena pikirannya tidak berhenti kembali ke percakapan kecil di lift tadi. Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya yang masih terus menampilkan berita tentang mereka. Semakin lama, semakin sulit baginya untuk melihat mana yang benar-benar direncanakan dan mana yang mulai terjadi tanpa mereka sadari.
Pintu kamar diketuk pelan.
Elora sudah tahu siapa sebelum membukanya.
Arshaka berdiri di sana seperti biasa, tapi kali ini tidak langsung masuk.
“Ada sesuatu yang harus kamu tahu,” katanya pelan.
Elora menatapnya. “Tentang apa lagi?”
Arshaka tidak langsung menjawab. Ada jeda singkat yang tidak biasa.
“Besok kita akan muncul di acara besar,” katanya akhirnya. “Dan mereka ingin kita terlihat lebih… nyata.”
Elora mengerutkan kening. “Maksudnya?”
Arshaka menatapnya langsung. “Lebih dari sekarang.”
Dan untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Karena Elora tiba-tiba menyadari sesuatu yang tidak ingin ia pikirkan terlalu jauh.
Kalau ini terus naik seperti ini…
batas antara kontrak dan kenyataan mungkin bukan lagi sesuatu yang bisa mereka jaga.
Tapi sesuatu yang akan hilang dengan sendirinya.
⸻
Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌
See you di bab selanjutnya...