THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: BAYANGAN DI LORONG GELAP
Sepuluh tahun yang lalu, Neo-Solara belum sebersih dan seterang sekarang.
Saat itu, kubah raksasa masih dalam tahap perbaikan pasca-perang besar. Sektor-sektor bawah, tempat matahari buatan belum terpasang sempurna, tenggelam dalam keabadian senja yang kelabu. Di sanalah Bimo kecil hidup. Atau lebih tepatnya, bertahan hidup.
Namanya waktu itu bukan "Bimo si Chef" atau "Bimo si Raksasa Pelindung". Dia hanya "Si Gemuk", sebutan ejekan dari para preman gang yang lebih tua dan lebih kuat. Tubuhnya memang besar untuk anak seusianya, tapi itu bukan karena otot. Itu karena pembengkakan akibat kurang gizi dicampur dengan genetik yang unik. Tulangnya rapuh, tapi lemaknya menumpuk sebagai cadangan energi di masa paceklik.
Malam itu hujan turun deras. Bukan hujan air yang menyegarkan, melainkan hujan asam encer yang bercampur debu logam dari langit-langit kubah yang bocor. Lorong-lorong sempit di Sektor 9 berubah menjadi sungai lumpur hitam yang berbau busuk.
Bimo kecil, berusia sekitar delapan tahun, meringkuk di sudut gang buntu di belakang tumpukan kotak besi berkarat. Perutnya berbunyi nyaring, suara gemuruh yang menyakitkan seolah ada binatang buas yang menggerogoti organ dalamnya dari dalam. Sudah dua hari dia tidak makan apa-apa selain sisa kulit buah sintetis yang dibuang orang lewat.
"Dasar Si Gemuk... sembunyi lagi lo!" teriak suara kasar dari ujung gang.
Tiga sosok remaja preman muncul, membawa tongkat pipa besi dan pisau lipat tumpul. Wajah mereka keras, mata mereka lapar akan kekuasaan karena mereka tidak punya makanan.
"Ayo keluar! Kita cuma mau 'pinjem' jatah makan lo!" ejek pemimpin mereka, seorang cowok kurus kering dengan bekas luka di pipi. Padahal mereka tahu, Bimo tidak punya jatah makan.
Bimo mencoba membuat dirinya sekecil mungkin, memeluk lututnya yang gemetar. "Aku nggak punya apa-apa... sumpah..."
"Bohong! Lo pasti nyimpen sesuatu di balik baju itu!"
Salah satu preman menendang tumpukan kotak tempat Bimo bersembunyi. Kotak itu roboh, menimpa kaki kecil Bimo.
"Aduh!" jerit Bimo kesakitan.
Mereka menyeretnya keluar ke tengah genangan air hujan.
"Kasih sini apa pun yang lo punya!"
"Aku nggak punya!" tangis Bimo, air matanya bercampur air hujan kotor di wajahnya yang penuh lumpur.
Brak!
Sebuah pukulan telak mendarat di perutnya. Bimo terbatuk-batuk, rasanya seperti paru-parunya hancur. Preman itu memukul lagi, kali ini di punggungnya.
"Biarin dia rasa sakit! Biar dia tau siapa bos di gang ini!"
Bimo pasrah. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menunggu pukulan berikutnya datang. Dia merasa sangat sendirian. Dunia ini jahat. Tidak ada yang peduli pada anak gemuk yang tidak berguna. Jika dia mati malam ini, mungkin tidak ada yang akan menyadari sampai tubuhnya mulai membusuk besok pagi.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki berat terdengar mendekat, berbeda dari langkah ringan para preman itu.
"Hei! Apa yang kalian lakukan?"
Suara itu tua, serak, tapi berwibawa.
Para preman menoleh. Seorang pria tua berdiri di sana, mengenakan apron putih yang sudah kusam dan topi koki yang miring. Dia memegang payung besar berwarna merah pudar yang melindungi sebuah gerobak dorong kecil berisi panci-panci dan kompor portabel sederhana. Asap putih mengepul dari cerobong kecil gerobak itu, membawa aroma yang aneh bagi Bimo saat itu: aroma bawang goreng, kaldu ayam, dan mie tepung.
"Ini urusan kami, Pak Tua! Minggir atau ikut dipukul!" ancam si pemimpin preman, mengacungkan pipanya.
Pria tua itu tidak mundur. Malah, dia melangkah maju, menempatkan dirinya di antara para preman dan Bimo yang tergeletak.
"Tidak ada yang boleh memukul anak kecil di depan dapur saya," kata pria tua itu tenang. Matanya tajam di balik kacamata tebalnya yang retak. "Pergi. Sekarang."
"Mati lu!"
Salah satu preman menerjang, ayunan pipa besi mengarah ke kepala pria tua itu. Tapi dengan gerakan surprisingly cepat untuk seseorang seusianya, pria tua itu menepis tangan preman itu dengan spatula besi besarnya. Clang! Suara logam beradu menggema.
"Saya bilang pergi!" bentaknya, suaranya menggelegar seperti guruh. Ada aura menakutkan dari pria kecil keriput itu, seolah dia pernah menghadapi hal-hal jauh lebih buruk daripada tiga anak preman kelaparan.
Para preman itu ragu. Mereka saling pandang, lalu meludah jijik.
"Hmph! Sialan! Lain kali kita habisi si Gemuk!"
Mereka lari menghilang ke dalam kegelapan lorong, meninggalkan Bimo yang masih terisak-isak di lumpur.
Pria tua itu segera membuang payungnya dan berjongkok di samping Bimo. Tangan-tangannya yang kasar tapi hangat menyentuh bahu anak itu.
"Nak, kamu nggak apa-apa? Sakit di mana?"
Bimo mendongak, melihat wajah keriput penuh kerutan namun memancarkan kebaikan yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Air matanya mengalir deras. "Sakit... perut saya sakit... dan mereka jahat..."
"Sstt, sudah, sudah. Mereka sudah pergi. Kamu aman sekarang," bisik pria tua itu menenangkan. Dia membantu Bimo berdiri, lalu menuntunnya masuk ke bawah tenda kecil di samping gerobaknya yang terlindung dari hujan.
"Duduk sini. Tunggu sebentar ya."
Pria tua itu kembali ke kompornya. Dengan cekatan, dia mengambil sebuah mangkuk tanah liat, memasukkan segenggam mie kering, sedikit irisan daging tipis, sayuran layu yang masih layak makan, dan menyiramnya dengan kuah kaldu panas yang mendidih dari panci besar. Dalam hitungan menit, sebuah mangkuk mie hangat tersaji di depan Bimo. Uapnya menari-nari, mengusir dingin yang menusuk tulang.
"Makanlah, Nak. Pelan-pelan saja," kata pria tua itu sambil tersenyum. Senyum yang tulus, tanpa ejekan, tanpa rasa kasihan yang merendahkan. Hanya kemanusiaan murni.
Bimo menatap mangkuk itu ragu. "Ini... buat saya? Nggak bayar?"
"Gratis," jawab pria tua itu lembut. "Nama saya Pak Harun. Dan di dapur saya, tidak ada anak yang boleh tidur dengan perut kosong."
Bimo menyendok mie itu dengan tangan gemetar. Suapan pertama masuk ke mulutnya.
Rasanya... luar biasa.
Hangat. Gurih. Manis. Asin. Semua rasa bercampur menjadi satu ledakan emosi di lidahnya. Air mata Bimo jatuh lagi, kali ini menetes ke dalam kuah mie. Bukan karena sedih, tapi karena lega. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasakan apa arti "diperhatikan". Seseorang peduli apakah dia lapar atau tidak. Seseorang rela membagi makanan terakhirnya demi senyum anak asing.
"Enak?" tanya Pak Harun sambil mengelus kepala Bimo yang basah.
Bimo hanya bisa mengangguk kuat-kuat, mulutnya penuh. "Enak... enak banget, Pak..."
Sejak malam itu, Bimo kecil tidak lagi pergi. Dia menjadi asisten sukarela Pak Harun. Setiap sore, dia membantu mengangkat panci, mengiris sayuran (meski sering terluka karena pisau tumpul), membersihkan meja, dan melayani pelanggan gang yang kebanyakan adalah pekerja kasar dan pemulung.
Di situlah Pak Harun mengajarinya.
"Bimo, ingat ini," kata Pak Harun suatu malam saat mereka duduk lelah di belakang gerobak, menikmati sisa kuah bersama. "Memasak itu bukan sekadar mencampur bumbu. Memasak itu cara kita bicara saat kata-kata nggak cukup."
"Cara bicara, Pak?" tanya Bimo polos.
"Iya. Kalau kamu kasih uang pada orang lapar, mereka akan makan lalu lupa. Tapi kalau kamu masakkan mereka makanan dengan hati, mereka akan merasa hangat di sini," Pak Harun menunjuk dada kiri Bimo, tepat di atas jantungnya. "Mereka akan merasa dicintai. Mereka akan merasa punya rumah. Makanan adalah bahasa cinta universal, Bimo. Selama ada orang yang mau makan masakanmu, kamu tidak akan pernah benar-benar sendirian."
Bimo mengangguk pelan, menyimpan setiap kata itu dalam-dalam di hatinya yang kecil. "Aku mau bisa masak kayak Pak Harun. Aku mau bikin semua orang ngerasa hangat."
Pak Harun tertawa renyah. "Bagus. Suatu hari nanti, kamu akan punya restoran besar. Lebih besar dari gerobak tua ini. Dan semua orang akan datang bukan karena lapar, tapi karena rindu kehangatanmu."
Hari-hari berlalu dengan bahagia bagi Bimo kecil. Dia punya tujuan. Dia punya keluarga baru. Tapi takdir kadang kejam.
Enam bulan kemudian, musim dingin buatan datang lebih awal. Suhu di Sektor 9 turun drastis. Pak Harun, yang sudah tua dan rapuh, jatuh sakit. Batuknya semakin parah, napasnya sesak, tapi dia tetap memaksa memasak untuk Bimo dan beberapa anak jalanan lain yang bergantung padanya.
"Pak, istirahat dulu," pinta Bimo cemas, melihat tubuh ringkih itu terguncang batuk hebat.
"Nggak bisa, Bim. Mereka butuh makan," jawab Pak Harun lemah, tangannya gemetar memegang sendok.
Suatu malam, Pak Harun tidak bangun dari tempat tidurnya di dalam gerobak.
Bimo menggoyangkan bahunya pelan. "Pak? Bangun, Pak. Mie-nya udah matang nih..."
Tidak ada jawaban. Tubuh itu dingin. Mata itu tertutup selamanya.
Dokter keliling yang lewat hanya menggeleng. "Dia kelelahan, Nak. Jantungnya sudah terlalu lemah. Dia memberikan semuanya untuk orang lain sampai tidak ada sisa untuk dirinya sendiri."
Bimo duduk terpaku di samping jenazah pria yang paling dia cintai. Hujan kembali turun di luar, mengetuk-nutup atap gerobak dengan suara menyedihkan. Dia menatap mangkuk mie yang masih mengepul di atas meja, siap disajikan untuk Pak Harun yang sudah tidak akan pernah memakannya lagi.
Air matanya tumpah ruah. Tapi kali ini, dia tidak hanya menangis karena kehilangan. Dia menangis karena janji.
Aku bakal jadi koki hebat, Pak, batin Bimo sambil menggenggam tangan dingin itu erat-erat. Aku janji. Aku bakal buka restoran besar. Aku bakal kasih makan ribuan orang. Aku bakal pastikan nggak ada lagi anak yang kelaparan dan sendirian kayak aku dulu.
Pemakaman Pak Harun sederhana. Hanya Bimo dan beberapa anak jalanan yang hadir. Tidak ada keluarga, tidak ada kerabat. Pak Harun meninggal sendirian, tapi dia meninggalkan warisan terbesar pada satu anak yatim piatu: keyakinan bahwa makanan bisa menyelamatkan jiwa.
Setelah itu, Bimo terus hidup di jalanan, tapi dia berubah. Dia tidak lagi menjadi korban. Dia mulai memasak untuk teman-teman gangnya menggunakan sisa-sisa bahan makanan yang dia kumpulkan. Dan benar saja, seperti kata Pak Harun, orang-orang mulai mendekatinya. Bukan karena takut, tapi karena nyaman. Karena hangat.
Beberapa tahun kemudian, saat program rekrutmen militer membuka kesempatan bagi anak-anak jalanan untuk mendapat pendidikan dan makanan teratur, Bimo mendaftar. Bukan karena ingin jadi prajurit pembunuh. Tapi karena dia butuh sumber daya. Dia butuh akses ke bahan makanan berkualitas. Dia butuh kekuatan untuk melindungi dapurnya suatu hari nanti.
Dan kini, sepuluh tahun kemudian, di dapur markas Squadron Aurora yang terang benderang, Bimo dewasa menatap panci supnya yang habis dilahap oleh teman-temannya. Wajah Raka, Kai, dan Elara yang bersinar karena kenyang dan bahagia adalah bukti bahwa janji itu sedang dia tepati sedikit demi sedikit.
Bim, lo nggak perlu masak buat kami supaya kami mau berteman sama lo. Kata-kata Raka tadi malam terngiang-ngiang.
Bimo tersenyum, air mata haru menggenang di pelupuk matanya.
Raka, kalian memang udah temenin aku apa adanya. Tapi biarin aku tetap masak. Karena ini satu-satunya cara aku bilang terima kasih pada dunia yang udah kasih aku kalian. Dan ini caraku mengenang Pak Harun.
Dia mencuci piring-piring kotor itu dengan telaten, bersiul pelan lagu lama yang sering dinyanyikan Pak Harun di gerobak reyotnya. Di luar jendela markas, badai mungkin sedang berkumpul, musuh mungkin sedang mengasah senjata. Tapi di dapur kecil ini, cinta masih berkuasa. Dan selama Bimo masih bisa memasak, harapan tidak akan pernah mati.
Bersambung...