NovelToon NovelToon
Dalang Di Balik Pembunuhan

Dalang Di Balik Pembunuhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dian umar

Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Kini mereka sudah sampai di rumah dinas. Namun tidak ada satu pun orang yang mau membangunkan pria itu. Mereka hanya duduk sambil menunggu Joy bangun sendiri.

"Sudah sampai?" Tanya Joy dengan posisi matanya yang tertutup.

"Hehehe... Iya." Jawab Jenny cengengesan.

Joy segera membuka matanya, yang ia dapati adalah wajah Jenny yang terlihat manis. Ia kemudian bangkit, lalu meregangkan ototnya.

"Aku merasa tertidur sangat lama, padahal jarak rumah sakit dan rumah dinas terbilang dekat." Ucap Joy bingung. Ia merasa sangat segar, seperti sedang tertidur sangat lama.

"Perasaanmu saja itu!" Teriak Alfian sambil tertawa kecil.

Jenny memapah tubuh Joy hingga ke ruang tamu. Sebenarnya Joy sudah menolaknya, namun ia tetap bersikeras. Akhirnya Joy mengalah dan membiarkan Jenny membantunya berjalan ke dalam rumah.

Jenny mendudukkan tubuh Joy ke sofa. Setelahnya, dia duduk di samping Joy dengan cara melempar tubuhnya hingga menimbulkan gelombang pada sofa empuk itu.

"Jenny, hati-hati." Peringat Kayla saat melihat Jenny yang terlihat sedikit keterlaluan.

"Maafkan aku Joy." Ucap Jenny sembari menatap wajah Joy dengan tatapan yang merasa bersalah.

"Mau langsung tidur di kamar? Aku tidak keberatan jika harus cosplay jadi bantalmu." Tanya Jenny santai seolah itu adalah hal yang biasa.

"Apakah boleh?" Tanya Joy hati-hati.

Sebenarnya dia sangat menginginkannya, tapi dia tidak berani mengungkapkannya secara langsung, hanya bisa menunggu ditawarkan.

Setelah merasakan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, membuatnya candu dan ingin merasakannya lagi.

Namun... Ia merasa tidak enak, apalagi gengsinya sangat tinggi. Mau taruh dimana kepribadiannya yang dingin dan anti manja itu?

Jenny sudah menawarkan diri secara langsung, membuatnya tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Jadi harga dirinya belum sepenuhnya merendah.

Tuhan... Terimakasih, kau telah menghadirkannya di hidupku. Aku tahu...Walaupun ujian yang kau berikan sangat berat, namun kau juga memberikan penawarnya. Batin Joy, seraya menatap Jenny yang sudah bangkit dari sofa.

"Yaudah ayok!" Teriak Jenny dengan suara yang nyaring dan menggelegar.

"Eh...Iya..." Jawab Joy terbata-bata.

Joy berjalan mengikuti Jenny dari belakang. Ia terlihat seperti anak ayam yang sedang mengikuti induknya.

Klik!

Pintu berwarna putih itu terbuka, kedua insan yang berbeda jenis kelamin langsung memasuki kamar secara bersamaan.

Jenny menaiki Kasur dengan cepat. Ia tidur telentang seraya menepuk-nepuk dadanya, memberikan kode agar Joy membaringkan kepalanya disitu.

Joy terperangah, jantungnya berdebar-debar, matanya tak berkedip. Ia tidak menyangka akan ada hari dimana dia bisa merasakan ketenangan yang sedalam ini.

Berbaring di pangkuan jenny saja sudah membuatnya tentram dan damai. Apalagi berbaring di dadanya seraya memeluk sosok itu dengan erat dan lembut. Kalau posisinya seperti itu, mungkin akan sangat sulit membangunkannya.

"Ha?" Joy tidak bisa berkata-kata lagi. Hatinya diliputi rasa senang. Mulutnya kaku, tak ada kata-kata yang mampu mendefinisikan kebahagiaannya saat ini.

"Nggak usah, Ha! Ho! Ha Ho! Cepat kesini!" Teriak Jenny kesal. Ia memperagakan sikap Joy yang tadi dengan mengganti suasana dan emosi.

Kalau tadi Joy mengatakannya karena merasa bahagia, bingung, tidak menyangka... Nah, kalo Jenny mengatakannya karena ia sangat kesal dan emosi.

Joy Segera naik ke atas kasur. Dengan cepat ia membaringkan kepalanya di dada wanita ini. Perlahan ia menyelipkan tangan ke pinggang jenny, lalu memeluknya dengan sangat lembut.

"Gimana? Nyaman?" Tanya Jenny dengan suara yang sangat lembut selembut sutra.

"Sangat nyaman, Makasih." Ucap Joy sembari menutup matanya secara perlahan.

"Aku tidak tahu masalahmu apa, tapi aku akan jadi orang pertama yang akan memelukmu. Aku akan selalu berada di sisimu, aku akan jadi penopang hidupmu."Bisik Jenny kepada Joy dengan lembut dan serius. Seolah apa dia katakan itu bukan sebagai penghibur semata, melainkan janjinya yang setia.

Joy semakin mengeratkan pelukannya, ia seakan takut terpisah dengan sosok ini. Ini benar-benar moment yang paling indah, momen yang paling bermakna.

Dia tidak tahu masalahmu apa? Tapi dia berjanji akan selalu di dekatku. Dia nggak tahun bebanku... Tapi dia berjanji akan menjadi penopang tubuhku saat aku lemah. Terimakasih Jenny. Batin Joy penuh syukur.

Air matanya menetes, namun hanya beberapa tetesan. Jenny yang merasakan bajunya basah, segera membelai kepala Joy dengan lembut.

"Nangis aja! Kamu layak mengeluh. Orang kuat bukan orang yang tidak pernah terlihat lemah, tapi orang yang menjadikan kelemahannya sebagai kekuatan." Ucapnya dengan tenang dan serius.

Cup!

Jenny mengangkat kepala Joy dengan kedua tangannya, lalu mengecup dahi pria ini dengan sangat lembut.

"Kamu adalah pria terhebat dan terkuat yang pernah kukenal." Ucapnya sembari tersenyum manis.

...............

Sebelum menjalankan misi yang berat, mereka berempat akan pergi liburan. Hal ini selalu mereka lakukan kala sedang menyelidiki misi yang besar dan berbahaya.

Tadinya mereka menyuruh Joy untuk tinggal di rumah saja. Karena kondisinya saat ini sedang sakit. Namun... Pria itu bersikukuh dengan pendiriannya. Ia ingin ikut serta dan tak ingin di tinggal di rumah sendiri.

Memang ada pengawal yang akan menjaganya. Namun ia merasakan kesepian kalau tidak ada mereka. Menurutnya, rumah tanpa mereka bertiga tidak bisa disebut sebagai rumah.

Akhirnya mereka bertiga menyerah. Mereka akhirnya mengajak Joy ikut liburan. Kasian juga kalo menolak ya kan?

Alfian mengajak mereka ke sebuah pantai yang ada pulaunya. Pantainya sangat indah dan menawan. Namun... sangat sepi dari pengunjung.

"Kenapa nggak ke tempat yang rame?" Tanya Kayla bingung. Menurutnya pergi ke tempat yang sepi pengunjung itu sangat tidak seru.

"Tempatnya indah. Kalian pasti akan sangat menyukainya nanti." Jawab Alfian santai. Seolah ia sudah sangat tahu mengenai pantai itu.

Pantai itu namanya pantai Segitiga. Pantai itu dinamakan pantai segitiga karena pulau yang ada di pantai tersebut berbentuk segi tiga.

Pantai ini terlihat aneh, karena tak memiliki pengunjung seperti pantai yang lainya. Padahal... Pantai ini sangat indah dari pantai-pantai yang banyak pengunjungnya.

"Disana sangat berbahaya!" Peringat Joy dengan tegas dan datar.

"Anggap saja kita sedang bekerja sambil liburan. Tentu seru kan?" Jawab Alfian sembari tersenyum kecil. Peringatan Joy barusan seakan hanya angin lewat baginya.

"Kamu tahu tempat itu?" Tangan Alfian dingin, ia menatap Joy dengan tajam melalui cermin.

Alfian tahu itu bukan tempat yang sembarangan. Hanya orang yang pernah terlihat di dalamnya yang tahu persis tempat itu.

Dia tahu tempat itu karena dia pernah menjadi sandera yang hampir saja dibawa ke pulau segitiga.

Apakah Joy juga pernah mengalami hal yang sama dengannya? Atau ada suatu rahasia besar yang sengaja disembunyikan.

Dari awal Alfian memang sedikit curiga dengan Joy, apalagi informasi tentangnya itu seperti sengaja dikunci. Alfian pernah berusaha menyelidiki latar belakangnya Joy, namun ia tidak menemukan apa-apa.

Ayahnya yang sangat hebat juga tidak bisa mendapatkan infomasinya. Infomasi mengenai Joy itu seperti sudah disegel berkali-kali, sehingga sangat sulit untuk ditembus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!