Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Keputusan Ketua Sekte
Suasana di dalam ruangan langsung menegang, seolah udara menjadi lebih berat dari sebelumnya. Perubahan pada Long Chen tidak luput dari perhatian mereka, dan apa yang baru saja ia ucapkan meninggalkan kesan yang tidak ringan.
Han Li segera melangkah mendekat dan memegang bahu Long Chen dengan erat, mencoba menahannya agar tidak tenggelam lebih jauh dalam emosinya. “Chen… tenang,” ujarnya dengan suara yang berusaha stabil, meski jelas ia sendiri ikut terpengaruh oleh tekanan yang ada.
Ye Fan menatapnya dengan penuh kekhawatiran, alisnya berkerut saat melihat perubahan itu. “Jangan terburu-buru, kita pasti akan menemukan orang itu. Jadi kau harus bersabar, oke?” katanya, berusaha menenangkan sekaligus mengingatkan agar Long Chen tidak mengambil keputusan gegabah.
Namun Xiao Yan tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya berdiri di tempatnya, matanya tertuju pada Long Chen dengan tatapan yang dalam dan tajam, seolah mencoba memahami sesuatu yang tersembunyi di balik perubahan tersebut.
Lin Feng melangkah satu langkah ke depan, auranya tetap tenang namun kini terasa lebih tegas, seolah kata-kata yang akan ia ucapkan bukan sekadar penghiburan, melainkan janji yang memiliki bobot.
“Kami tidak akan tinggal diam,” ucapnya dengan suara mantap.
Tatapannya lurus pada Long Chen, tanpa menghindar sedikit pun. “Kami juga sedang mencari kebenarannya, dan jika memang benar ini ulah Sekte Darah Merah, maka mereka akan membayar atas apa yang telah mereka lakukan.”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi kata-katanya untuk benar-benar sampai.
“Kau tidak sendiri.”
Nada suaranya tidak keras, namun cukup dalam untuk menembus emosi yang sedang bergejolak di dalam diri Long Chen.
Di sisi lain, jauh dari ruang perawatan para murid baru, sebuah aula besar di dalam Sekte Pedang Langit berdiri megah di puncak gunung yang diselimuti awan. Pilar-pilar tinggi menjulang menopang langit-langit luas yang dipenuhi ukiran kuno, sementara lantai batu giok memantulkan cahaya lembut dari obor spiritual yang menyala tanpa asap.
Di tengah aula, suasana terasa khidmat dan berat.
Ketua sekte duduk di singgasana utama, posisinya lebih tinggi dari yang lain, memancarkan wibawa yang menekan tanpa perlu menunjukkan kekuatan secara langsung. Tatapannya tenang, namun dalam, seolah mampu melihat hingga ke inti permasalahan yang sedang mereka hadapi.
Di hadapannya, tujuh pemimpin divisi berdiri sejajar.
Masing-masing membawa aura yang berbeda, namun semuanya kuat dan terlatih, menunjukkan posisi mereka sebagai pilar utama sekte. Tidak ada satu pun yang berbicara sembarangan, karena semua menyadari bahwa pertemuan ini bukanlah hal kecil.
“Desa Daun Maple telah dihancurkan,” suara Ketua Sekte bergema di seluruh aula, dalam dan penuh tekanan, membuat setiap orang yang hadir merasakan beratnya kabar tersebut. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, memastikan tidak ada satu pun yang mengabaikan makna dari kata-katanya.
“Pelakunya dipastikan berasal dari aliran iblis, namun dari sekte mana, kita masih belum memiliki kepastian,” lanjutnya dengan nada yang tetap tenang, meski jelas menyimpan kemarahan yang terpendam.
Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada kenyataan pahit itu untuk meresap.
“Seluruh penduduk desa telah tewas,” ucapnya, suaranya kini lebih berat dari sebelumnya.
Suasana aula langsung berubah semakin sunyi.
“Hanya empat anak… yang selamat.”
Shen Yuan, pemimpin Divisi Pedang Angin, menundukkan kepalanya dengan ekspresi berat, jelas menyimpan penyesalan yang sulit disembunyikan. “Kita terlambat untuk datang,” ucapnya pelan, suaranya dipenuhi rasa bersalah. Ia mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya sebelum melanjutkan, “Jika saja kita lebih cepat… mungkin semua ini tidak akan terjadi.”
Suasana di aula semakin menegang, namun sebelum keheningan itu bertahan lama, suara lain terdengar.
Wei Wuxian, pemimpin Divisi Pedang Bayangan, melangkah sedikit maju. Tatapannya dingin dan tajam, tanpa sedikit pun emosi yang terlihat di wajahnya. “Penyesalan tidak akan mengubah apa pun, adik junior Shen Yuan,” ucapnya datar, setiap katanya terdengar tegas tanpa memberi ruang untuk bantahan.
Meng Wu, pemimpin Divisi Pedang Petir, melangkah maju dari barisan, auranya tegas seperti kilat yang siap menyambar. Tatapannya lurus ke arah Ketua Sekte saat ia bertanya dengan nada serius, “Lalu bagaimana dengan keempat anak itu, apakah kita akan menempa mereka?”
Ketua Sekte membalas tatapan itu dengan tajam, tanpa sedikit pun keraguan. “Ya,” jawabnya singkat namun penuh keputusan.
Ruangan terasa semakin sunyi saat ia melanjutkan, “Mereka akan ditempa.”
Namun belum berhenti di sana, nada suaranya menjadi lebih dalam.
“Dan… dipisahkan.”
Tatapan para pemimpin divisi langsung berubah, sebagian menunjukkan keterkejutan, sebagian lainnya mulai memahami arah keputusan tersebut.
Ketua Sekte tidak memberi waktu untuk bertanya, ia langsung menjelaskan dengan tenang namun tegas, “Mereka akan ditempatkan di divisi yang berbeda, agar masing-masing berkembang dengan jalannya sendiri.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih berat, “Tanpa bergantung satu sama lain.”
Shan Que, pemimpin Divisi Pedang Es, mengangguk pelan, ekspresinya tetap tenang seperti permukaan es yang tak tergoyahkan. “Aku setuju,” ucapnya singkat, namun penuh keyakinan. “Latar belakang mereka bukan hanya beban, tetapi juga bisa menjadi sumber dorongan yang kuat. Jika diarahkan dengan benar, itu akan mempercepat perkembangan mereka.”
Di sisi lain, Bai He, pemimpin Divisi Pedang Gunung, melangkah sedikit maju. Sikapnya tegap seperti gunung yang kokoh, namun pertanyaannya menunjukkan kehati-hatian. “Apakah kami akan diberi hak untuk memilih murid masing-masing, atau keputusan ini akan ditentukan oleh Tetua Agung?” tanyanya dengan nada formal.
Ketua Sekte menatapnya sejenak sebelum menggeleng pelan.
“Aku yang akan menentukannya,” jawabnya tegas.
Lan Wangji , pemimpin Divisi Pedang Ruang, tersenyum tipis, matanya menyipit seolah sudah melihat potensi yang menarik dari keempat anak tersebut. “Aku bersedia menerima salah satu dari mereka,” ucapnya santai, namun jelas menunjukkan ketertarikan yang serius.
Di sampingnya, Qin Tian, pemimpin Divisi Pedang Matahari, mengangguk pelan. Auranya hangat namun kuat, seperti matahari yang menyinari sekaligus membakar. “Aku juga,” katanya dengan nada mantap. “Sama seperti kakak senior Mo Fan, aku juga bersedia karena aku ingin melihat sejauh mana mereka bisa berkembang jika salah satu dari mereka berada di divisi pedang matahari.”
Sementara itu, di sudut lain Sekte Pedang Langit yang tenang, empat anak kecil yang baru saja kehilangan segalanya masih belum sepenuhnya memahami apa yang akan terjadi pada hidup mereka selanjutnya. Luka di hati mereka masih terbuka, kenangan pahit masih segar, dan rasa kehilangan itu belum sempat mereka cerna sepenuhnya.
Mereka tidak menyadari bahwa keputusan telah dibuat.
Bahwa jalan yang selama ini mereka lalui bersama… akan segera berpisah.
Bahwa langkah mereka ke depan tidak lagi berdampingan seperti sebelumnya.
Dan tanpa mereka ketahui, takdir mereka mulai bergerak.
Masing-masing akan ditempa dalam jalan yang berbeda, dalam ujian yang tidak sama, di bawah ajaran yang akan membentuk mereka menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat… atau menghancurkan mereka sepenuhnya.
End Chapter 10