Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.
Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.
Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.
Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.
Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...
Maka pertanyaannya kini adalah...
Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengorbanan Dan Rasa Bersalah Chandra
BUGH..
Suara keras memecah keheningan gudang tua itu. Sebuah kursi usang yang sudah lapuk langsung hancur berkeping-keping saat punggung Tamma menabraknya dengan kekuatan penuh. Darah segar mulai menetes dari sudut bibirnya yang pecah, membaur dengan keringat yang membasahi wajah. Luka memar mulai menjalar di seluruh bagian tubuhnya. Sudah puluhan pukulan dia terima, nyaris membuat kesadarannya melayang perlahan.
Lima orang yang berdiri mengelilinginya masih belum puas. Berkorban memang tidak mudah, pikir Tamma.
Tapi setidaknya dengan begini, Judika selamat. Dia itu tidak tahu apa-apa. Baru saja bergabung dan tidak perlu terlibat dalam dendam yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini.
"Yaak, Tamma Okamy! Masih belum mau menyerah?!" teriakan Jodha menggema di seluruh ruangan. Bercampur dengan bau apek dan kayu lapuk yang menyengat hidung.
Tamma hanya menatap kosong ke depan. Bahkan untuk membuka mulut pun terasa sakit luar biasa. Wajahnya sudah bengkak parah. Nyaris tidak dikenali lagi.
Jodha melangkah mendekat, mencengkram rambut Tamma dengan kasar lalu menariknya hingga kepala pemuda itu terangkat paksa. Wajah mereka kini berhadapan sangat dekat.
"Ini akibatnya kalau berani melawan kami."
PLAK..
Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi Tamma membuat penglihatannya berkunang-kunang. Dengan sisa tenaga yang ada, Tamma perlahan mengangkat tangannya, mencengkram pergelangan tangan Jodha yang masih memegang rambutnya.
"Pukul saja sepuas hatimu, kak!" Tamma tersenyum miring. Senyum yang penuh ejekan meski tubuhnya terasa mau hancur. "Aku tidak akan pernah menyerah."
BUGH..
Cengkraman di kepalanya lepas, tapi kali ini tinju Jodha menghantam keras tepat di ulu hatinya. Rasa nyeri luar biasa langsung menjalar ke seluruh tubuh membuat Tamma terbatuk-batuk hebat, darah segar kembali keluar dari mulutnya.
"DIAM!" Jodha berteriak histeris. Wajahnya sudah merah padam dipenuhi amarah.
"Kau lakukan semua ini cuma karena iri, bukan?" Tamma masih berusaha bicara, suaranya parau dan terputus-putus.
CIH..
Jodha meludah ke lantai, lalu tertawa sinis yang terdengar menyeramkan. "Iri? Untuk apa aku iri pada sampah sepertimu? Kalian dan klub Harmoni itu cuma omong kosong. Tidak punya kemampuan apa-apa. Jangan sok hebat, Tamma!"
"Memang benar, kami masih kalah jauh dibanding klub Harfa soal kemampuan."
Tamma mengangkat kepalanya perlahan. Sorot matanya tiba-tiba menjadi tajam dan penuh keyakinan. Sama sekali tidak menunjukkan tanda takut.
"Tapi satu hal yang tidak akan pernah kalian miliki. Kami selalu bermain dengan jujur dan sportif."
Senyum sinis masih terukir di bibir Tamma meski kondisi tubuhnya mengenaskan.
"Pernyataan yang sangat bagus, Tamma!"
Suara yang tidak asing itu tiba-tiba terdengar dari arah pintu membuat semua orang seketika menoleh.
Pintu gudang yang tadinya tertutup rapat terbuka perlahan, membiarkan cahaya matahari masuk menerangi ruangan yang tadinya gelap gulita.
Berdiri di ambang pintu adalah Chandra, diikuti oleh Bima dan Kevin.
Chandra menyunggingkan senyum lebar khasnya, namun kali ini senyum itu terasa dingin dan menekan.
"Kak Chandra?" batin Tamma terkejut.
"Sialan, kenapa mereka datang juga?!" batin Tamma lagi.
Yakin sepenuhnya bahwa kehadiran mereka hanya akan memperumit keadaan.
Ketiganya melangkah masuk, melewati Jodha dan anak buahnya. Tanpa menoleh sedikit pun, Chandra langsung menghampiri Tamma yang tergeletak lemah.
Kevin segera menopang tubuh Tamma, melilitkan lengan pemuda itu di bahunya agar bisa berdiri tegak.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kevin, nada suaranya datar tapi terlihat jelas kekhawatiran di matanya.
Tamma masih tertegun. Kevin? Orang yang selama ini seolah tidak peduli dengan siapapun. Bahkan saat melihat mereka dipukuli dulu hanya diam dan menonton dari jauh tanpa berbuat apa-apa. Sekarang dia malah bertindak seolah pahlawan?
"Mana mungkin dia baik-baik saja. Lihat saja wajahnya sudah seperti apa!" seru Chandra, lalu berbalik menatap tajam ke arah Jodha dan rombongannya. Tatapan itu menusuk langsung, penuh amarah yang tertahan.
Jodha berdesis, langkahnya mendekat sedikit. "Kalian pikir kalian berada di pihak siapa, Chandra? Mereka itu lawan kita! Kenapa malah membela mereka?!"
Raut wajah Chandra berubah. Rahangnya mengeras menahan segala emosi yang siap meledak kapan saja.
"Mereka memang lawan kita, Jodha. Tapi ingat satu hal. Kita bersaing di atas panggung, di atas musik, bukan dengan tinju dan kekerasan!"
Jodha terdiam sejenak. Ekspresinya sulit dibaca.
"Kami sudah cukup membiarkanmu berbuat sesuka hati. Tapi ini sudah keterlaluan."
Kali ini suara Bima yang terdengar atar, tapi setiap kata yang keluar penuh dengan penekanan berat.
"Jadi sekarang kalian malah menyalahkanku, begitu? Cih! Jangan sok suci. Bukankah kau juga pernah berkelahi dulu, Chandra?!"
DEG..
Kata-kata itu seperti palu godam yang menghantam tepat di kepala dan hati Chandra. Tubuhnya sedikit terguncang, matanya membesar. Dia tidak menyangka kalau masa lalu itu masih diangkat-angkat lagi.
Suasana seketika membeku. Bahkan Bima yang biasanya pandai membalas perkataan orang lain pun kini terdiam. Tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kenapa diam? Baru sadar kalau kalian sama kotornya denganku hah?! Jawab!"
Braakk..
Sebuah kursi lain jadi korban kemarahan Jodha, hancur berkeping-keping saat ditendang dengan kekuatan penuh. Dia mengambil salah satu kaki kursi yang masih utuh, kayu kasar yang tajam dan keras.
Jodha kemudian melangkah melewati Chandra, berhenti tepat di hadapan Tamma dan Kevin. Tangannya terangkat tinggi, siap diayunkan menghantam wajah Tamma sekali lagi.
Gedebug..
Suara benturan keras terdengar jelas. Namun bukan wajah Tamma yang kena, melainkan bahu Chandra.
Chandra tiba-tiba melompat maju, berdiri tepat di depan mereka. Kemudian menahan pukulan itu menggunakan tubuhnya sendiri. Kayu kasar itu menghantam bahunya dengan keras, meninggalkan bekas biru memar yang langsung terlihat jelas.
"Chandra!"
Kevin dan Bima berteriak bersamaan.
Chandra menahan sakitnya. Tubuhnya sedikit gemetar tapi posisinya tidak bergeser sedikit pun.
"Kak Chandra? Kenapa kau..." Tamma menatap bingung. Matanya tak berkedip melihat kejadian barusan.
Chandra melindunginya? Kenapa?
"Apa yang kau lakukan, bodoh?!" bentak Kevin, kali ini suaranya dipenuhi campuran kekesalan dan kekhawatiran yang meledak-ledak.
Chandra hanya tersenyum miris. Napasnya terasa berat karena rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh.
"Kalau dengan begini aku bisa menebus kesalahan yang dulu pernah aku buat."
Chandra menoleh sebentar ke arah Tamma. Senyumnya masih ada meski terlihat menyakitkan.
"Aku rela dipukul berkali-kali lipat lagi."
Chandra kembali menatap tajam ke arah Jodha.
Bima menggigit bibirnya hingga terasa perih, menahan amarah yang sudah hampir tidak tertahankan lagi. Dia tahu persis apa yang dipikirkan sahabatnya ini. Chandra selalu merasa bersalah, selalu merasa bahwa kejadian dua tahun lalu adalah kesalahannya. Padahal semua orang tahu itu bukan kehendaknya. Tapi kenapa harus sampai mengorbankan dirinya seperti ini?
Bugh..
Sekali lagi kayu itu menghantam tubuh Chandra, tepat di bahu sebelah kanan.
Jodha sudah benar-benar hilang kendali, amarahnya membabi buta. Dia mengayunkan kayu itu ke segala arah, matanya merah menyala.
Chandra meringis kesakitan. Tangannya erat memegang bagian yang terluka, tapi tetap tidak mau mundur selangkah pun.
Melihat situasi makin tidak terkendali. Chandra tiba-tiba melompat maju. Kemudian dia mendorong tubuh Jodha hingga terjatuh ke dinding. Kedua tubuh itu terpental dan berguling ke lantai. Meskipun sedang terluka parah. Kekuatan fisik Chandra tetap jauh di atas Jodha.
"Kalian pergi dari sini, sekarang juga!" teriak Chanyeol sambil masih menahan gerakan Jodha yang terus meronta.
Empat orang anak buah Jodha saling berpandangan. Akkhirnya memilih mundur. Mereka hanya disuruh untuk mengawasi dan membuntuti. Tidak sampai harus terlibat pertarungan mati-matian seperti ini. Mereka berlari keluar, meninggalkan pemimpin mereka sendirian.
"Kau bawa dia pergi dulu, aku bantu Chandra!" perintah Bima pada Kevin yang langsung menuruti dan membawa Tamma keluar dari ruangan itu.
Bima segera menghampiri. Merebut kayu dari genggaman Jodha dengan paksa. Saat itu, gerakan Jodga sudah terkunci sempurna oleh Chandra yang menindih tubuhnya dari belakang. Tangan dan kakinya mengikat pergerakan Jodha hingga tidak bisa bergerak sedikit pun.
"Jangan pernah berani mendekati mereka lagi. Mengerti?"
Suara berat Chandra bergema, dingin dan menakutkan. Berbeda jauh dari sikap ramahnya sehari-hari.
Jodha hanya menggerutu tidak jelas. Napasnya memburu karena kelelahan dan amarah yang tak tersalurkan.
"Kalau kau berani sekali lagi, aku bunuh kau!"
BRUUKK..
Tubuh Chandra tiba-tiba terlemas. Jatuh menimpa tubuh Jodha sebelum akhirnya terguling ke samping.
Pandangannya perlahan mengabur. Kepalanya berdenyut hebat. Suara di telinganya berubah menjadi dengungan samar.
Semua bayangan di matanya perlahan memudar. Berubah menjadi gelap pekat. Hingga akhirnya, kesadaran itu lenyap sama sekali.