Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.
Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.
Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 3: "PULAU YANG HILANG" part 3
Sinar matahari sore sudah mulai memerah, menyelimuti Pulau Kelapa dengan warna jingga yang samar dan sedikit menyeramkan. Pulau kecil yang penuh dengan pohon kelapa dan pasir putih tampak berbeda dari siang hari—bayangan panjang dari setiap pohon menjulang seperti tangan yang menghantam ke arah langit yang mulai gelap, sementara angin yang sebelumnya lembut kini berhembus dengan suara seperti bisikan yang tidak bisa dipahami. Udara terasa lebih dingin, campuran dengan aroma garam laut yang pekat dan sedikit bau tanah basah yang tidak biasa.
Jay dan Rara sedang duduk di teras rumah Pak Narto, menikmati sisa-sisa air kelapa muda yang masih hangat, ketika mereka melihat lelaki tua itu keluar dari dalam rumah dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat tegang, dengan alis yang mengerut dan mata yang terus mengamati arah lautan yang semakin gelap. Pak Narto datang menyambut mereka dengan wajah khawatir:
PAK NARTO: "Setiap kali malam bulan purnama, pulau ini akan penuh dengan cahaya dan ada banyak makhluk yang datang dari laut. Mereka tidak jahat tapi saya takut mereka akan membawa bahaya ke daratan."
Suaranya terdengar gemetar sedikit, seolah merespons sesuatu yang sudah dia rasakan jauh sebelum itu muncul. Jay melihat ke arah lautan—permukaan air yang tadinya tenang kini mulai bergerak dengan cara yang aneh, seperti ada sesuatu yang besar sedang bergerak di bawahnya. Cahaya samar mulai muncul dari dasar laut, membentuk pola-pola yang kompleks dan sedikit mengganggu mata jika dilihat terlalu lama.
"Apa yang mereka inginkan?" tanya Rara dengan suara rendah, tangannya secara tidak sengaja menggenggam buku tua yang selalu dibawa Jay. Udara di sekitar pulau kini terasa semakin berat, dengan getaran energi yang kuat namun tidak stabil mengalir di udara.
Pak Narto: (menggeleng perlahan.) "Saya tidak pernah bisa berkomunikasi dengan mereka dengan jelas. Hanya melihat bentuk mereka yang muncul dari dalam laut setiap bulan purnama—beberapa dengan wajah yang menyerupai manusia tapi dengan mata yang tidak memiliki iris, yang lain dengan tubuh yang seperti ikan namun bisa berjalan di darat. Mereka selalu berdiri di bibir pantai dan menatap ke arah tengah pulau, seolah mencari sesuatu."
Tanpa berkata apa-apa, Jay jalan ke tengah pulau dan menemukan sumur kecil yang sama seperti di rumahnya di Desa Wening. Sumur itu terletak tepat di bawah tiga pohon kelapa yang tumbuh berdekatan, dengan batu bata yang mengelilinginya tampak sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Daun-daun kelapa yang jatuh di sekitar sumur tampak seperti ditarik ke arah lubang sumur oleh daya tarik yang tidak kelihatan, sementara tanah di sekitarnya sedikit bergelombang seperti air yang sedang mendidih.
Saat dia mendekat, sumur mengeluarkan cahaya warna-warni dan dia bisa melihat banyak dimensi yang berbeda di dalamnya—ada dimensi yang penuh dengan air, dimensi yang hanya ada makhluk kecil, bahkan dimensi yang menyerupai dunia masa depan. Cahaya itu tidak seperti warna-warni yang biasa dilihat—setiap warna memiliki bentuk sendiri, seperti ular yang bergerak dan bergelantungan di udara, dengan suara seperti dering bel yang terlalu tinggi untuk didengar oleh telinga manusia namun bisa dirasakan di dalam kepala.
Jay meraih buku tua yang selalu ada di tasnya, membukanya dengan tangan yang sedikit gemetar dan ekspresi wajah yang terlihat lesu. Dia menguap lebar sebelum melihat halaman-halaman yang biasanya kosong—kini mulai muncul tulisan-tulisan dengan huruf yang tidak dikenal, seolah merespons cahaya dari sumur. Mata Jay melotot sebentar, kemudian dia menghela nafas panjang dengan nada yang menunjukkan bahwa dia sudah cukup capek. JAY: (membuka buku tua) "Wah... ternyata pulau ini adalah pusat koneksi antar semua dimensi ya. Bukan cuma dua atau tiga, tapi banyak banget!" Suaranya terdengar pelan dan kurang bersemangat, seolah dia sudah bosan menghadapi kejutan-kejutan baru yang terus muncul. Dia menyandar tubuhnya ke salah satu batu yang mengelilingi sumur, masih terus menatap tulisan di buku dengan tatapan yang sudah mulai mengantuk.
Rara yang mengikuti langkahnya berdiri di belakangnya, matanya melebar melihat pemandangan di dalam sumur. Beberapa makhluk kecil dengan tubuh seperti cahaya mulai muncul dari dalam sumur, terbang di sekitar mereka dengan kecepatan yang cepat dan membuat suara seperti bisikan yang menyeramkan. RARA: "Ini adalah bukti bahwa skala cerita kita bukan hanya multi-universal tapi benar-benar tak terbatas. Aturan dunia dibuat untuk menjaga semua dimensi ini agar tidak saling bertabrakan."
Tiba-tiba, suara dering yang semakin keras terdengar dari seluruh penjuru pulau. Cahaya dari lautan semakin terang, membentuk jalan cahaya yang menghubungkan bibir pantai ke arah sumur di tengah pulau. Makhluk dari berbagai dimensi mulai muncul—mereka punya bentuk yang sangat beragam tapi semuanya ingin berkomunikasi dengan manusia. Beberapa berdiri dengan tinggi lebih dari lima meter, dengan kulit yang seperti sisik ikan yang berkilauan dengan warna-warni aneh. Yang lain memiliki bentuk yang lebih kecil, seperti rombongan semut raksasa dengan mata yang hanya terdiri dari satu titik cahaya merah menyala. Ada juga yang tidak memiliki bentuk fisik sama sekali—hanya kumpulan kabut hitam yang bergerak dan mengeluarkan suara seperti tangisan bayi yang terdengar dari jauh.
Mereka bergerak perlahan ke arah sumur, langkah-langkahnya tidak membuat suara apa pun meskipun beberapa dari mereka memiliki kaki yang besar dan berat. Ketika mereka sampai di sekitar sumur, salah satu makhluk dengan wajah manusia namun dengan telinga yang panjang seperti kelinci mengangkat tangannya—dari telapak tangannya muncul cahaya biru yang membentuk pola tulisan di udara. Tulisan itu kemudian berubah menjadi suara yang terdengar di dalam pikiran Jay dan Rara: Kita ingin tahu bagaimana kehidupan di dunia manusia dan ingin berbagi cerita dari dimensi mereka.
Suara itu terdengar seperti seribu orang yang berbicara sekaligus, membuat kepala Jay dan Rara merasa sedikit pusing. Pak Narto yang datang mengikuti mereka berdiri di kejauhan, tangannya menggenggam tongkat kayu yang selalu dia bawa sebagai perlindungan. Mata makhluk-makhluk itu bergerak dari sumur ke arah Jay, seolah melihat sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya.
Tanpa berpikir dua kali, Jay melangkah ke depan dengan tangan yang masih memegang buku tua. Cahaya dari buku itu mulai menyala dengan warna emas, menyeimbangkan cahaya warna-warni dari sumur. JAY: "Kalau cuma berbagi cerita aja kan gak ribet? Kita bisa buat acara kumpul-kumpul setiap bulan purnama aja. Saya bawa snack, kalian bawa cerita dan snack dari dimensi masing-masing. Gak perlu mengambil tubuh atau melanggar aturankan?"
Saat kata-katanya keluar, salah satu makhluk yang berbentuk seperti ular besar dengan kulit berwarna hijau menyala mengangkat kepalanya. Dari mulutnya yang lebar muncul kabut putih yang membentuk gambar-gambar di udara—gambar dari dimensinya yang penuh dengan hutan raksasa yang tumbuh di atas permukaan air, di mana makhluk-makhluknya hidup dengan cara yang sama sekali berbeda dari manusia. Gambar itu kemudian berubah menjadi cerita tentang bagaimana mereka harus bertarung melawan kekosongan yang ingin menghancurkan dimensi mereka, cerita yang membuat dada semua orang yang melihatnya terasa sesak dan penuh dengan rasa takut.
Jay yang tadinya melihat dengan ekspresi serius sedikit mengangkat alisnya ketika gambar hutan raksasa muncul, kemudian dia mengeluarkan suara sedikit terkejut tapi tetap dengan nada yang khasnya. JAY: "Njir dimensimu hutan bagus deh eh lo lagi war ya kalo ke mau ke sini jangan lupa bawa bibit buah dari sana atau bawa buahnya 100 kontainer hmm emang kamu tau apa itu kontainer intinya bawa aja sampe 1 rumah aja" Suaranya sedikit memecah ketegangan yang terbentuk, meskipun matanya masih menunjukkan bahwa dia paham betapa seriusnya cerita yang disampaikan oleh makhluk itu.
Makhluk lain yang berbentuk seperti bola cahaya kuning kemudian mengambil giliran. Ceritanya jauh lebih menyeramkan—dimensinya adalah dunia yang sudah hancur karena aturan alam semesta yang rusak, di mana makhluk-makhluk yang tersisa terpaksa hidup dalam kegelapan abadi dan harus makan energi dari makhluk lain untuk bertahan hidup. Gambar dari dunia itu muncul di udara—pemandangan kota-kota yang hancur dengan bentuk-bentuk aneh yang berkeliaran di jalanan kosong, dengan mata yang menyala seperti bara api.
Jay mengerutkan kening melihat pemandangan hancur itu, lalu mengoceh dengan nada bercanda sambil menggosok perutnya yang mulai keroncongan: "Hmm di dimensi mu pasti gk ada jualan lpj gas melon atau minyak tanah kalau mau masak gk perlu beli gas apalgi kalau mau bikin acara bakar-bakar sosis jadi untuk yang di mensi hutan minimal mampir ke dimensi bola cahaya kasih ikan lalu saling barter makanan saling untung kan" Dia bahkan mengangkat tangan seperti sedang mengusulkan ide hebat, meskipun wajahnya masih menunjukkan rasa prihatin yang tidak bisa disembunyikan.
Setelah selesai bercanda, ekspresi wajah Jay perlahan berubah. Jay merasa kulitnya merinding mendengar cerita itu—lucunya acara barter yang dia usulkan tadi tiba-tiba terasa sangat jauh dari kenyataan yang mereka hadapi. Dia melihat ke arah Rara, yang wajahnya juga sudah memucat karena ketakutan—mata gadis itu masih terpaku pada gambar kota hancur yang belum hilang sepenuhnya di udara. Sementara itu, Pak Narto berdiri lebih dekat, tongkat kayu di tangannya mulai menyala dengan cahaya merah samar sebagai bentuk perlindungan—bahkan lelaki tua yang sudah tinggal di pulau selama puluhan tahun pun tampak tidak bisa mengabaikan rasa ancaman yang menguat seiring dengan setiap cerita yang disampaikan oleh makhluk-makhluk dari dimensi lain. Udara yang tadinya sedikit rileks karena lelucon Jay kini kembali menjadi berat dan penuh dengan ketegangan.
"Lalu apa yang kalian inginkan dari kita?" tanya Rara dengan suara yang sedikit bergetar.
Makhluk dengan wajah manusia dan telinga kelinci itu kembali mengangkat tangannya. Cahaya biru dari tangannya semakin terang, dan suara yang terdengar di dalam pikiran mereka kini menjadi lebih jelas dan penuh dengan kesedihan: Kita tidak bisa lagi menjaga aturan dimensi kita sendiri. Kekosongan yang telah menghancurkan dunia masa depan mulai menyebar ke semua dimensi yang terhubung ke pusat ini. Kita datang ke sini bukan hanya untuk berbagi cerita—kita datang untuk meminta bantuan. Karena dunia manusia adalah satu-satunya dimensi yang masih memiliki harapan untuk menghentikan kekosongan itu.
Cahaya dari sumur semakin terang, membuat seluruh pulau terlihat seperti terkena kilat terus-menerus. Makhluk-makhluk dari berbagai dimensi mulai bergerak lebih dekat, dan Jay bisa melihat bahwa beberapa dari mereka memiliki luka di tubuhnya—luka yang tidak seperti luka biasa, melainkan lubang hitam yang mengeluarkan kabut pekat dan menyerap cahaya di sekitarnya.
Buku tua di tangan Jay mulai bergetar dengan kuat, dan halaman-halamannya bergerak dengan sendirinya hingga berhenti di satu halaman yang penuh dengan gambar simbol yang kompleks. Gambar itu menunjukkan bagaimana semua dimensi terhubung ke Pulau Kelapa, dengan sebuah titik hitam di tengah yang semakin membesar dan mulai menyebar ke semua arah.
"Kita harus melakukan sesuatu sebelum terlambat," bisik Jay kepada Rara dan Pak Narto. "Jika kekosongan itu bisa menyebar seperti ini, maka tidak hanya dimensi mereka yang akan hancur—dunia kita juga akan ikut terkena dampaknya."
Malam bulan purnama semakin larut, dan bulan yang penuh mulai muncul dari balik awan dengan cahaya yang terlalu terang dan sedikit menyilaukan mata. Makhluk-makhluk dari berbagai dimensi berbaris di sekitar sumur, menatap ke arah Jay dengan harapan dan ketakutan yang sama kuatnya. Di dalam sumur, cahaya warna-warni kini mulai berganti menjadi warna hitam pekat di beberapa bagian, seolah menandakan bahwa kekosongan sudah mulai menyebar ke pusat koneksi antar dimensi ini. Semua yang mereka ketahui tentang dunia dan alam semesta kini berada di ambang kehancuran, dan satu-satunya harapan adalah mereka bisa menemukan cara untuk menghentikan kekosongan sebelum ia terlalu terlambat.