Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Tukang Nasi Goreng Pagi Buta dan Gosip Panas di Sekolah
Pagi di kawasan perumahan Tirta Kencana biasanya diawali dengan kicauan burung dan suara sapu lidi dari tukang kebersihan komplek. Namun, bagi Nayla Hilyatul, pagi ini terasa sedikit... absurd.
Gadis itu berdiri di teras rumahnya sambil menenteng tas ransel, mematung menatap sebuah gerobak kayu yang terparkir dengan sangat mencolok tepat di bawah pohon mangga di seberang jalan gang rumahnya. Spanduk kuning mentereng membentang di kaca gerobak itu: Nasi Goreng Spesial Anti Begal.
Yang membuat adegan itu semakin tidak masuk akal adalah jam di pergelangan tangan Nayla yang baru menunjukkan pukul enam pagi kurang sepuluh menit. Siapa manusia waras yang berjualan nasi goreng gerobakan di jam segini? Apalagi penjualnya adalah seorang cowok berbadan bongsor, memakai kaus hitam ketat yang mencetak otot lengannya, dipadukan dengan celemek merah motif polkadot dan topi kupluk yang diturunkan sampai hampir menutupi mata. Cowok itu memegang spatula besi layaknya memegang pedang samurai.
Nayla menahan tawa yang nyaris meledak. Ia melangkah keluar pagar, mengunci pintunya, lalu berjalan menghampiri gerobak tersebut.
"Bang, nasi gorengnya satu dong, pedesnya level dewa ya," goda Nayla sambil melipat tangan di depan dada.
Cowok bongsor itu—yang Nayla kenali sebagai Bagas, salah satu tangan kanan Rama yang badannya paling besar—langsung tersentak kaget. Spatula di tangannya nyaris terlempar. Ia buru-buru membetulkan kupluknya dan tersenyum kikuk, wajah garangnya seketika berubah seperti anak TK yang ketahuan mencuri permen.
"Eh... anu, Neng Nayla. Nasi gorengnya belum mateng. Berasnya masih keras," jawab Bagas ngawur, garuk-garuk kepala yang tidak gatal. "Lagian Neng nggak usah beli deh, nanti sakit perut. Ini gerobak minjem punya mang-mang yang lagi tidur di pos ronda depan."
Nayla akhirnya tak bisa menahan tawanya. "Gila ya bos lo itu. Gue kira dia bercanda pas bilang mau nyuruh anak buahnya nyamar jadi tukang nasi goreng semalaman di depan rumah gue. Lo nggak tidur dari semalam, Gas?"
"Tidur bentar ganti-gantian sama si Cakra di warung ujung jalan, Neng. Aman terkendali," Bagas membusungkan dadanya bangga. "Perintah Bos Rama itu harga mati buat The Ghost. Kalau kata Bos jagain rumah Neng Nayla sampai pagi, ya kita jagain biarpun harus cosplay jadi tukang jualan. Nyawa kita taruhannya kalau sampai ada lalat Kobra Besi yang berani mampir ke blok ini."
Mendengar loyalitas yang begitu buta namun tulus itu, hati Nayla menghangat. Rama benar-benar menepati janjinya. Di balik sikap sok dingin dan galaknya, cowok berjaket kulit itu memiliki cara melindunginya yang sangat berlebihan namun membuat Nayla merasa menjadi orang paling aman di seluruh Yogyakerto.
"Makasih ya, Gas. Bilangin juga ke Cakra," ucap Nayla tulus.
Tepat saat itu, sebuah sedan hitam mewah merayap pelan memasuki gang dan berhenti tepat di depan Nayla. Kaca penumpang belakang terbuka perlahan, menampilkan sosok cowok jangkung dengan seragam putih abu-abu yang disetrika licin, rambut klimis, dan kacamata minus berbingkai hitam. Rama Arsya Anta dalam mode anak teladan.
"Udah selesai ngobrol sama tukang nasi gorengnya?" sindir Rama dari dalam mobil, menatap Bagas dengan tatapan peringatan agar cowok bongsor itu tidak kelepasan memanggilnya 'Bos' di depan umum, karena siapa tahu ada tetangga Nayla yang mendengarkan.
Bagas langsung paham kode itu. "Eh, iya Den. Mari, Neng, silakan berangkat. Hati-hati di jalan!"
Nayla menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku bos dan anak buah yang sama-sama absurd itu. Ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam kabin yang sejuk. Begitu mobil melaju meninggalkan area Tirta Kencana, Nayla langsung menyenderkan punggungnya dan menatap Rama dengan senyum jahil.
"Lo bener-bener niat banget ya, Babu. Anak buah lo yang badannya kayak preman pasar disuruh pakai celemek polkadot. Gue rasa geng motor lo bentar lagi alih profesi jadi paguyuban pedagang kaki lima," ledek Nayla.
Rama mendengus, membuang muka ke arah jendela. Namun, ujung telinganya yang memerah tidak bisa menipu penglihatan Nayla. "Itu strategi pengintaian terbaik. Nggak ada yang bakal curiga sama tukang nasi goreng. Lo harusnya bersyukur rumah lo aman."
"Iya deh, makasih banyak, Tuan Muda Preman," Nayla tersenyum manis. Ia menatap lekat profil samping Rama. Ingatan tentang pelukan di tengah hujan kemarin sore kembali berputar di kepalanya. Pelukan erat yang membuat seluruh kewarasannya nyaris menguap.
"Ngomong-ngomong soal kemarin..." Nayla sengaja memelankan suaranya, memancing reaksi cowok di sebelahnya. "Siapa ya yang kemarin sore meluk-meluk anak orang di pinggir jalan sampai basah kuyup? Katanya gengsi, tapi meluknya erat banget kayak takut gue hilang diculik alien."
Skakmat. Rama langsung terbatuk keras. Wajahnya yang biasa kaku dan datar kini memerah sempurna dari leher hingga dahi. Ia menoleh menatap Nayla dengan tatapan horor campur salah tingkah yang luar biasa parah.
"I-itu refleks! Refleks kedinginan!" bantah Rama cepat, nadanya sedikit lebih tinggi dari biasanya. "Lagian hujan-hujan, otak gue sedikit konslet. Jangan kegeeran lo."
"Oh, refleks ya? Refleks kok nyium bau stroberi dari jilbab gue?" goda Nayla lagi, tak berniat melepaskan mangsanya. Tawa renyahnya memenuhi kabin mobil, membuat Pak Maman yang sedang mengemudi di depan ikut tersenyum diam-diam melihat kelakuan majikan mudanya yang ternyata bisa salah tingkah juga.
Rama memejamkan mata, memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut. Berdebat dengan Nayla adalah olahraga mental yang jauh lebih menguras tenaga dibandingkan balapan di lintasan bypass Bukit Selatan. "Diam lo, atau gue turunin di pinggir jalan raya sekarang juga biar lo jalan kaki sampai gerbang sekolah."
"Coba aja kalau berani," tantang Nayla sambil menjulurkan lidahnya.
Begitu sedan hitam itu berhenti di jarak yang aman sebelum gerbang utama SMA Taruna Citra, Nayla turun lebih dulu dan berjalan kaki seperti biasa. Rama masuk tak lama kemudian. Sesuai kesepakatan protektif yang dibuat secara sepihak oleh Rama, cowok itu tidak membiarkan Nayla sendirian sedetik pun.
Begitu bel masuk berbunyi dan murid-murid kelas XII IPA 1 duduk manis di bangku masing-masing, sebuah kehebohan pecah. Wali kelas mereka, Bu Ningsih, masuk dengan wajah serius sambil membawa papan jalan berisi pengumuman.
"Anak-anak, sebelum pelajaran dimulai, Ibu mau menyampaikan informasi penting," suara Bu Ningsih menggema, membuat seisi kelas hening. "Terkait pemilihan Ketua OSIS bulan depan, teman kalian, Raka, secara resmi mengundurkan diri dari bursa pencalonan. Alasannya karena masalah kesehatan yang tidak memungkinkan dia memikul beban tugas yang berat. Jadi, fokuskan dukungan kalian pada kandidat yang lain."
Gumaman kaget dan bisik-bisik seketika meledak. Dika, yang duduk di sebelah Rama, sampai menjatuhkan pulpennya.
"Anjir! Beneran mundur dia!" bisik Dika heboh, mengguncang bahu Rama. "Lo denger nggak, Ram? Raka mundur! Gila, padahal dia udah kampanye sampai ke kelas sepuluh. Pasti ada skandal nih di belakangnya."
Rama hanya merespons dengan wajah sedatar tembok. Ia menopang dagu, matanya melirik ke arah bangku Raka yang berada di barisan seberang. Cowok sok jagoan yang biasanya duduk dengan dada membusung itu kini menunduk dalam-dalam, wajahnya pucat pasi, dan tak berani mengangkat kepalanya sedikit pun. Raka benar-benar menepati janjinya karena diancam video kamera tersembunyi yang kini tersimpan aman di cloud milik Nayla.
Saat Rama mengalihkan pandangannya ke arah deretan bangku depan, matanya bersirobok dengan mata Nayla. Gadis berjilbab ungu itu menoleh ke belakang, menatap Rama, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan gaya cool yang sangat menyebalkan tapi berhasil membuat dada Rama berdesir hangat. Skakmat yang sempurna untuk sang pengkhianat OSIS.
Jam istirahat pertama, kantin sekolah dipenuhi oleh ratusan murid yang kelaparan. Sesuai instruksi mutlak, Rama berjalan mengekor tepat di belakang Nayla, menjaga jarak aman agar tidak terlihat terlalu mencurigakan, tapi cukup dekat untuk menerjang siapa pun yang berani mendekati gadis itu.
Mereka membeli camilan dan minuman, lalu menyingkir dari keramaian kantin menuju tempat perlindungan favorit mereka: gazebo kayu di taman belakang sekolah.
Begitu duduk, Nayla langsung membuka bungkus rotinya. "Tuh kan, apa gue bilang. Pakai otak kadang jauh lebih mematikan daripada pakai otot dan kunci inggris. Si Raka sekarang kayak ayam sayur."
Rama menyandarkan punggungnya, menenggak air mineralnya perlahan. "Satu parasit beres. Tapi ini belum selesai, Nay. Raka cuma kroco. Tora pasti udah tahu kalau pionnya di sekolah gagal total. Gudang suku cadangnya juga udah gue bakar habis semalam. Dia nggak bakal diam aja."
Raut wajah Nayla berubah sedikit tegang, meski ia berusaha menyembunyikannya dengan mengunyah roti. "Lo bakar gudang mereka? Sendirian?"
"Bawa pasukan, tenang aja," jawab Rama cepat, tak ingin membuat gadis itu panik lagi. "Tapi masalahnya, informasi dari intel yang gue hajar kemarin sore bilang kalau Tora lagi ngumpulin aliansi. Dia manggil geng-geng kecil dari pinggiran Yogyakerto buat gabung sama Kobra Besi. Dia mau main keroyokan."
"Pengecut," desis Nayla sebal. "Terus strategi lo apa, Bos? Nggak mungkin kan lo ladenin mereka semua pakai tawuran massal? Nanti ujung-ujungnya polisi turun tangan, dan identitas lo bisa kebongkar beneran ke nyokap bokap lo."
Rama terdiam, jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan ritme teratur. Otaknya berputar mengalkulasi segala probabilitas. Gadis ini benar. Kalau terjadi perang terbuka antargeng dalam skala besar, pihak berwajib pasti akan ikut campur. Ayahnya, yang memiliki banyak koneksi di kepolisian, pasti akan mengetahui rahasia tergelapnya. Kalau itu terjadi, bukan hanya motornya yang disita, hidupnya akan dikurung di dalam sangkar emas tanpa celah untuk melarikan diri selamanya.
"Gue bakal tantang Tora satu lawan satu," ucap Rama pelan, namun keputusannya terdengar sudah bulat tak tergoyahkan.
Mata Nayla melebar seketika. "Lo gila?! Tora itu mainnya kotor, Ram! Lo sendiri yang bilang dia bawa senjata tajam dan suka sabotase mesin. Kalau lo nantang dia satu lawan satu, itu namanya setor nyawa!"
"Itu satu-satunya cara buat nyelesain masalah ini tanpa narik perhatian polisi, Nay," Rama mencondongkan tubuhnya, menatap Nayla lekat-lekat. "Di dunia aspal, ada hukum yang nggak tertulis. Kalau pemimpin nantang duel resmi di sirkuit netral, semua pasukan harus mundur. Yang kalah harus ngelepasin wilayahnya dan pergi. Kalau gue bisa numbangin Tora di depan mata anak buahnya sendiri dan di depan geng aliansinya, Kobra Besi bakal bubar dengan sendirinya karena kehilangan pamor."
"Dan kalau lo yang kalah?" suara Nayla bergetar, tanpa sadar tangannya meremas ujung meja kayu. Ketakutan yang berusaha ia tutupi akhirnya merembes keluar.
Rama menatap sorot mata bulat yang kini memancarkan kecemasan mendalam itu. Ia merasakan ada dorongan kuat untuk merengkuh gadis itu lagi, untuk meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, mereka sedang berada di lingkungan sekolah.
Rama mengulurkan tangannya di atas meja, menyentuh pelan ujung jari Nayla. Sebuah sentuhan singkat yang cukup untuk mentransfer keyakinannya.
"Gue nggak akan kalah," ucap Rama, suaranya sangat rendah dan mantap. "Dulu, gue mungkin bertarung cuma buat nyari adrenalin dan pelarian dari bokap gue. Kalau gue jatuh, nggak ada ruginya. Tapi sekarang..."
Rama menjeda kalimatnya. Matanya mengunci pandangan Nayla, tak membiarkan gadis itu memalingkan wajah sedikit pun.
"...sekarang gue punya alasan buat tetap hidup dan pulang utuh. Gue harus ngetik naskah drama kita sampai selesai. Dan gue... gue nggak bakal biarin cecunguk macam Tora ngerebut senyum majikan gue."
Wajah Nayla memanas hebat layaknya kepiting rebus. Jantungnya berdetak dalam ritme yang sepenuhnya berantakan. Kata-kata gombalan yang pernah ia tulis di naskah dramanya dulu terasa sangat murahan dibandingkan dengan pengakuan jujur dan tak terpoles dari sang Hantu Wana Asri di depannya ini. Rama Arsya Anta memang tidak pandai merangkai puisi cinta, tapi cara cowok itu mempertaruhkan nyawanya membuat Nayla sadar bahwa ia telah jatuh terlalu dalam pada preman berkedok anak teladan ini.
"Dasar babu bucin," gumam Nayla pelan, memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyumnya yang sudah merekah tak terkendali.
Rama hanya terkekeh pelan. Ia menarik kembali tangannya, menyandarkan punggungnya dengan santai. Badai besar bersama Tora memang sedang menanti di ujung jalan, gelap dan mengancam. Namun, dengan keberadaan gadis cerewet berjilbab ungu ini di sisinya, Rama merasa siap melibas apa pun yang akan menghantam lintasannya. Kehidupan gandanya kini bukan lagi sebuah kutukan yang menyiksa, melainkan sebuah pelindung untuk menjaga satu-satunya orang yang benar-benar memahaminya.