Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(REVISI) BAB 10
Pagi itu Aegis Corp terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Setiap lorong penuh dengan orang yang berjalan cepat membawa tas dan dokumen, suara langkah kaki bergema di lantai granit yang mengkilap.
Kim Ae Ra keluar dari lift dengan map kerja di satu tangan dan tas di tangan lain, mata melihat sekeliling dengan tatapan yang lebih waspada dari biasanya. Udara pagi yang biasanya segar kini terasa berat, seperti ada lapisan tipis yang menyelimuti setiap sudut ruangan.
Sejak pintu lift terbuka di lantai eksekutif, suasana sudah berbeda, lebih banyak gerakan, lebih banyak suara bisikan yang terdengar di antara staf yang bergerak dari satu meja ke meja lain. Layar monitor di setiap meja menyala dengan cahaya biru dan hijau, menampilkan grafik dan angka yang terus berubah setiap detik.
Ia berjalan menuju mejanya yang terletak tepat di luar ruang CEO. Meja itu sudah terlihat rapi dengan alat tulis dan tablet yang siap digunakan. Namun sebelum ia duduk, Yoo Min Ji muncul dengan membawa tumpukan kertas putih tebal.
“Sekretaris Kim, ada dokumen tambahan yang harus segera Anda periksa sebelum rapat sore,” katanya dengan nada yang jelas namun sedikit tergesa-gesa.
Ae Ra menerima berkas itu dengan tangan yang stabil, meskipun hatinya sedikit berdebar melihat ketegangan yang terpancar dari wajah Min Ji. Ia membuka salah satu lembar dengan hati-hati, mata membaca setiap baris dengan seksama.
Di tengah kalimat-kalimat tentang proyek dan angka, ada nama yang muncul berulang—“Haesung”. Setiap kali nama itu terbaca, ia merasakan getaran kecil yang membuatnya lebih fokus pada setiap detail yang ada.
Setelah meneliti setiap poin penting, ia mulai mengatur kembali dokumen dengan urutan yang logis. Tangan kirinya menyusun setiap lembar dengan hati-hati, memastikan tidak ada satu lembar pun yang terbalik atau terlipat salah. Ketika selesai menyusun, ia menarik nafas lega sebelum berdiri dan mengeluarkan botol air mineral dari dalam tas untuk sedikit menghilangkan rasa haus yang mulai muncul.
Namun sebelum ia bisa membuka tutup botol, suara langkah kaki kuat terdengar dari arah pintu ruang CEO. Hyun Jae Hyuk muncul dengan jasnya sudah terpakai, matanya melihat langsung ke arah mejanya yang kini sudah rapi dengan semua dokumen yang disusun rapi.
“Sudah siap semua?” katanya dengan nada yang tegas namun sedikit rileks.
“Sudah siap, Pak. Semua dokumen sudah tersusun dan peserta sudah dihubungi,” jawab Ae Ra dengan sopan, sambil menoleh ke arah pintu yang mulai ramai dengan staf yang bergerak keluar untuk makan siang.
Ia mengangguk dengan puas sebelum masuk kembali ke dalam ruangannya, menyisakan suasana yang lebih tenang namun tetap penuh dengan kesungguhan untuk menyelesaikan hari ini dengan baik.
Setelah beberapa saat, jam menunjukkan pukul sebelas lewat. Beberapa staf mulai keluar dari ruangan dengan membawa tas dan sapu tangan, menyapa Ae Ra dengan senyum hangat sebelum pergi meninggalkan gedung. Ia sendiri baru mulai membersihkan mejanya dari alat tulis dan kertas yang sudah tidak terpakai lagi, menyusun kembali semua dokumen penting ke dalam map yang disiapkan khusus untuk hari esok.
Namun ketika ia hendak menutup tas kerja, pesan masuk ke ponselnya dengan suara yang sudah sangat akrab.
Bo Ram:
Besok ada waktu datang ke toserba ? Aku punya makanan baru yang harus kamu coba!
Seo Jun:
Hujan mungkin masih turun nanti. Jangan lupa bawa payung.
Ae Ra tersenyum hangat membaca kedua pesan itu sebelum menjawab dengan cepat. Namun ketika ia hendak memasukkan jari ke dalam tas untuk mengambil dompetnya, suara langkah kaki kuat terdengar dari arah pintu ruang CEO yang kini terbuka lebar. Hyun Jae Hyuk muncul dengan jasnya sudah terpakai, matanya melihat ke arah Ae Ra yang sedang menyimpan ponselnya ke dalam tas.
“Siap pulang?” katanya dengan nada yang jelas namun lembut.
“Sudah siap, Pak. Semua dokumen sudah tersusun dan dikirimkan ke masing-masing divisi,” jawab Ae Ra dengan sopan sambil mengambil tasnya yang sudah siap untuk dibawa pulang.
Ia mengangguk sebelum masuk kembali ke dalam ruangannya, menyisakan suasana yang lebih tenang di sekitar meja Ae Ra. Ia menghela nafas lega sebelum mengikuti langkah keluar dari ruangan yang kini mulai sepi, meninggalkan beberapa staf yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Udara sore yang segar menyambutnya ketika keluar dari gedung, membawa kesegaran yang membuat langkahnya menjadi lebih ringan menuju jalan menuju halte bus. Lampu jalan mulai menyala dengan cahaya kuning keemasan yang menerangi jalanan yang mulai ramai dengan orang yang pulang kerja. Setiap langkahnya semakin mantap menuju arah toko kecil yang sudah begitu akrab baginya.
Suara bel pintu toko yang khas menyambutnya ketika membukanya dengan perlahan.
“Ada lagi yang baru nih!” suara ceria Bo Ram langsung terdengar bersama dengan senyum lebarnya yang penuh semangat. Ia muncul dengan membawa mangkuk kecil berisi makanan baru yang belum pernah Ae Ra lihat sebelumnya.
“Kamu datang tepat waktu! Aku baru saja menyusun ini,” ujarnya dengan antusias sebelum menempatkannya di atas meja kecil yang ada di sudut toko.
Ae Ra tersenyum melihat keseriusan Bo Ram yang kini sudah sangat akrab baginya. Ia duduk di kursi kayu yang sudah begitu nyaman, menerima mangkuk makanan yang diberikan dengan tangan yang stabil. Namun ketika ia hendak menikmatinya, suara langkah kaki yang dikenal datang dari arah belakang rak barang. Seo Jun muncul dengan membawa secangkir minuman hangat yang sudah siap diberikan.
“Minum dulu sebelum dingin,” katanya dengan nada yang tenang namun penuh dengan perhatian yang membuat rasa hangat muncul dalam hati Ae Ra.
Ia menerima dengan senyum hangat sebelum kembali menikmati makanan yang ada di depannya, sambil mendengarkan cerita dari Bo Ram tentang pelanggan yang datang dengan berbagai keluhan lucu. Suasana hangat dan penuh dengan kedekatan yang membuatnya merasa bahwa semua kesulitan yang ada seolah lenyap begitu saja.
Namun jauh di luar sana, sebuah mobil berhenti sebentar di depan toko itu sebelum melaju lagi. Di dalamnya, mata seorang pria melihat ke arah jendela toko dengan tatapan yang mendalam dan penuh dengan pemikiran yang dalam. Ia melihat bagaimana Ae Ra tertawa bersama kedua orang di sana, suasana yang berbeda dari yang ada di dunia yang ia tempati setiap hari. Ia menghela nafas sebelum melaju lagi meninggalkan jalan yang semakin gelap dengan cahaya yang mulai menyala terang.
Di dalam toko, Ae Ra tidak menyadari bahwa ada pandangan yang mengawasinya dari jauh. Ia hanya menikmati kedekatan yang ada dengan kedua orang yang selalu ada untuknya setiap saat. Suasana di dalam toko kecil itu terasa begitu hangat dan penuh dengan kedekatan yang membuatnya merasa bahwa semua beban yang ada kini lenyap baginya.
Namun jauh di dalam hati Ae Ra menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang berubah, bahwa dunia yang ada di sekitarnya mulai menyatu dengan cara yang tidak bisa ia bayangkan sebelumnya.
Ia menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil kini akan memiliki dampak yang lebih besar dari yang pernah ia duga sebelum ini. Dan bahwa kini ada tiga jalur yang mulai saling menyilang dalam hidupnya, jalur yang membawa ia pada pilihan yang tidak bisa dihindari lagi.