NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Kontrak Pertama Dari Sekte Iblis Hitam

Gulungan itu dibuka di atas meja kamar. Tulisannya rapi dengan tinta yang sedikit lebih pekat dari tinta biasa, dan Huang Shen membacanya sekali, dari atas ke bawah, tanpa ekspresi.

Target: Kepala Desa Batu Merah di selatan, empat jam jalan kaki dari Kota Yunan. Namanya Fang Qiu. Selama tiga tahun terakhir, dia merampas tanah penduduk dengan dalih utang, lalu menjual mereka yang tidak bisa membayar ke tambang batu di pegunungan selatan. Sudah lebih dari dua puluh jiwa. Tidak ada yang berani melapor lantaran Fang Qiu punya hubungan baik dengan pejabat distrik.

Tanpa pikir panjang, Huang Shen menggulung kertasnya kembali.

Di luar, kebetulan Yue Xin sedang berdiri di dekat jendela koridor. Sementara Xiao Feng duduk di lantai, bersandar pada dinding dengan mata setengah terpejam, tapi telinganya jelas masih terjaga.

Huang Shen membuka pintu. “Aku pergi.”

Yue Xin tidak bertanya ke mana. Sedangkan Xiao Feng bangkit berdiri dan menggeliat sebelum menyipitkan mata ke pemuda yang sama sekali tidak layak disebut “muda” karena auranya yang begitu mengintimidasi.

Jalan ke selatan melewati persawahan yang mulai kering dan hutan jati yang daunnya berguguran. Huang Shen berjalan di depan dengan langkah yang tidak tergesa-gesa. Sebelum dua pasang langkah memaksanya berhenti.

“Kalian tidak perlu ikut,” tandas Huang Shen tanpa berbalik.

“Aku tidak ikut kok,” seloroh Yue Xin. “Aku hanya kebetulan lewat ke arah yang sama.”

“Aku juga kebetulan lewat,” kelakar Xiao Feng, suaranya lebih hidup dari orang yang baru saja setengah tidur. “Sungguh kebetulan sekali.”

Huang Shen tidak merespons. Tidak ada gunanya pula selain membuang-membuang waktu. Dia melanjutkan perjalanan, dan dua pasang langkah itu mengikuti dengan jarak yang sudah menjadi kebiasaan.

Adapun perjalanan empat jam itu berlalu tanpa percakapan berarti.

Desa Batu Merah kecil, sawahnya sudah lama ditinggalkan, beberapa rumah dengan pintu yang tertutup di siang hari, menandakan betapa sunyinya desa itu.

Adapun rumah Fang Qiu ada di ujung jalan desa, ukurannya tiga kali lebih besar dari rumah lain. Pagar kayunya baru, catnya belum pudar, dan dari dalam tercium bau masakan yang begitu memikat indra penciuman.

Huang Shen pun masuk dari sisi belakang.

Manakala dia melewati jendela samping, dia bisa melihat ke dalam, bagaimana Fang Qiu duduk di kepala meja. Usianya sekitar lima puluh tahun dengan perut yang menunjukkan dia tidak pernah kekurangan makanan. Istrinya mengangkat sup, dan dua anak yang masih balita duduk di sisi kiri dan kanan, menunggu makanan di siapkan.

Orang gila mana yang rela menggangu keharmonisan sebuah rumah tangga selain Huang Shen? Kaisar Darah membuka pintu belakang seperti membuka pintu kamarnya sendiri.

Tidak ada perlawanan berarti karena Fang Qiu bahkan tidak sempat berdiri. Pukulan Huang Shen mendarat tepat di titik yang menembus organ vitalnya, begitu cepat dan tanpa suara berlebih, hingga tubuh Fang Qiu ambruk ke lantai.

Istrinya sampai menjerit-jerit dibuatnya sembari memeluk kedua anaknya.

Tatkala darah mulai meresap ke lantai kayu, Gerbang di dalam dada Huang Shen menyala. Bukan terang benderang, akan tetapi menyala hangat yang menyerap, seperti biasa, seperti semua misi sebelumnya. Entah sudah berapa kali Huang Shen mendobrak masuk tanpa permisi.

Tapi rasanya kali ini ada yang berbeda.

Di antara warna merah yang terserap, Huang Shen melihat wajah itu.

Bocah itu tersenyum dari balik pagar bambu. Matanya terlalu besar untuk wajahnya. Tangannya melambai.

Huang Shen terpaksa berhenti meski tangannya masih terangkat. Gerbang itu pun masih menyerap. Tapi seluruh tubuhnya berhenti bergerak untuk tiga detik yang terasa jauh lebih panjang dari itu.

Istrinya masih menjerit. Anak-anak itu masih duduk membeku. Huang Shen berdiri di tengah ruangan dengan tangan yang tidak bergetar, sebelum dia keluar dari pintu yang sama.

Yue Xin yang menunggu di balik pagar bersama Xiao Feng pun segera bangkit.

“Kau baik-baik saja?” kata Yue Xin.

Huang Shen berjalan melewatinya. “Pergilah.”

Tapi Yue Xin sudah melihat tiga detik itu dari jendela samping. Huang Shen tahu dia melihatnya.

Mereka bertiga meninggalkan desa dengan langkah yang sama seperti datang, tapi dalam keadaan yang berbeda.

Perjalanan pulang berlangsung dalam kebisuan yang berbeda dari biasanya. Bahkan Xiao Feng tidak bercerita, dan hanya berjalan di belakang dengan ekspresi yang lebih serius dari yang pernah Huang Shen lihat di wajahnya.

Mereka kembali ke penginapan manakala langit sudah jingga. Tidak ada yang makan malam bersama malam itu. Masing-masing masuk ke kamarnya sendiri.

Huang Shen belum tidur tatkala suara langkah berhenti di depan pintunya. Dia tidak perlu membuka pintu untuk tahu siapa.

Pintu itu pun terbuka dari luar. Utusan Sekte Iblis Hitam berdiri di ambang dengan jubah hitamnya yang sama, lambang naga di dadanya memantul cahaya lentera koridor. Senyum tipisnya bukan senyuman yang hangat.

“Selamat,” tutur utusan itu. “Sekarang kau resmi menjadi mitra kami. Kontrak pertamamu selesai dengan baik.”

“Fang Qiu memang bukan target yang sulit,” lanjut utusan itu. “Tapi ini awalan yang baik. Kami punya banyak pekerjaan untukmu ke depannya.” Matanya bergeser ke sisi kiri, melewati dinding kamar Yue Xin, kemudian ke sisi kanan, ke arah kamar Xiao Feng. Gerakan itu lambat dan disengaja. “Tapi ingat. Kami tidak suka orang asing yang ikut campur dalam urusan mitra kami.”

Huang Shen berdiri di ambang pintu bagian dalam kamarnya. Tidak melangkah maju ataupun mundur.

Sampai utusan itu berbalik pergi.

1
lily
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
lily: makasih Thor
total 2 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!