Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Licik
Kereta Permaisuri dan Putri Aster melaju perlahan melewati alun-alun Imperial Agartha. Tirai sutra bergoyang lembut mengikuti gerakan roda.
“Aku tak sabar mencoba gaun dan perhiasan ini,” ujar Putri Aster sambil mengelus kotak beludru di pangkuannya. Senyum puas menghiasi bibirnya. “Terima kasih atas hadiah ini, Ibunda. Aku sangat bahagia.”
Erivana tersenyum, penuh kebanggaan yang nyaris berlebihan. “Tentu saja, Putriku. Kau adalah satu-satunya putri di Imperial Agartha. Apa pun yang kau inginkan, akan kau dapatkan dengan mudah.”
“Apakah kau sudah mendengar tentang pangeran kembar itu?” Suara rakyat di luar menembus dengan jelas
“Berhenti!” perintah Erivana tiba-tiba.
Pengemudi menarik kendali dengan sigap. Kereta berhenti di tepi alun-alun. Erivana membuka tirai kereta, menatap rakyat yang berkumpul tak jauh dari sana. Mereka berbisik dan membicarakan sesuatu dengan wajah antusias.
“Ya, semua orang sudah mengetahuinya,” kata seorang rakyat tanpa sadar berada dalam jangkauan pendengaran permaisuri. “Pangeran Aurelian dan Pangeran Leonardo.”
“Nenekku seorang peramal,” sahut yang lain dengan penuh keyakinan. “Ia mengatakan Pangeran Aurelian adalah simbol kejayaan masa depan negeri ini.”
Urat di pelipis Erivana menegang. Tangannya mencengkeram kain tirai hingga berkerut.
“Rakyat tak tahu diuntung,” desisnya, suaranya rendah namun penuh racun.
Putri Aster mencondongkan tubuh, menatap wajah ibundanya yang mengeras. “Benar, Ibunda. Mereka terlalu lancang. Sebaiknya diberi pelajaran agar tahu diri.”
Erivana menurunkan tirai perlahan. Matanya berkilat dingin. Ia memberi isyarat singkat pada pengawal pribadinya yang berkuda di samping kereta.
“Catat wajah-wajah itu,” perintahnya pelan. “Naikkan pajak mereka dua kali lipat.”
Pengawal menunduk hormat tanpa bertanya. “Dilaksanakan, Yang Mulia.”
Putri Aster tertawa kecil, puas dengan hukuman untuk rakyat jelata itu.
Kereta kembali bergerak meninggalkan alun-alun, sementara benih kebencian dan ketakutan semakin membara di hati permaisuri.
Erivana melangkah cepat menuju kediaman singa. Para pengawal segera menunduk hormat.
“Yang Mulia Permaisuri Agartha memasuki ruangan.” ujar mereka serempak, membuka jalan.
Tanpa menoleh, Erivana melanjutkan langkahnya hingga tiba di kediaman Kaisar Alexius. Pintu didorongnya terbuka sedikit lebih keras dari biasanya.
“Yang Mulia,” katanya tergesa.
Alexius, yang sejak tadi menunduk di atas peta-peta perang dan laporan persenjataan, mengangkat kepala. Gurat lelah jelas terpahat di wajahnya.
“Ada apa, Permaisuri?” tanyanya singkat.
Erivana melangkah masuk lalu duduk di hadapannya.
“Hamba ingin membicarakan hal yang sangat penting, Yang Mulia.”
“Katakanlah,” jawab Alexius, nadanya masih tertahan oleh beban pikirannya.
Erivana menatap suaminya lurus. “Hamba khawatir… mengenai masa depan Putra Mahkota.”
Kening Alexius mengernyit. “Pangeran Evan tidak sakit. Ia juga tidak membuat kesalahan. Apa yang sebenarnya kau khawatirkan, Permaisuri?”
“Pangeran Aurelian,” jawab Erivana tanpa ragu. “Rakyat mulai mengelu-elukan namanya di alun-alun. Mereka menyebutnya sebagai tanda kejayaan Agartha.”
Alexius terdiam sejenak. “Lalu?” katanya dingin.
“Yang Mulia,” suara Erivana meninggi sedikit, “apa Yang Mulia tidak memikirkan nasib Putra Mahkota? Posisi Evan sebagai kaisar masa depan bisa terancam.”
Brak!
Tangan Alexius menghantam meja. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras.
“Tidak sepantasnya kau berpikir seperti itu, Permaisuri!” suaranya menggelegar, memenuhi ruangan. “Apa kau paham apa yang kau katakan ini?”
Erivana tersentak, segera menunduk. “Mohon ampuni hamba, Yang Mulia. Hamba hanya seorang ibu yang khawatir akan masa depan putra mahkota.”
Alexius berdiri tegak, menatap Erivana dengan sorot tajam.
“Kaisar ini tidak ingin mendengar kalimat seperti itu lagi. Tahta ini adalah milik Kakakku, Lexus. Jika ia mengkehendakinya kembali, kaisar ini akan melepaskannya dengan sukarela tanpa syarat.”
Mata Erivana membola, bibirnya memucat.
Alexius menangkap perubahan itu. “Jangan coba-coba membuat masalah lagi, Permaisuri.” katanya dingin, jauh lebih berbahaya dari teriakannya tadi. “Jika kau melakukannya, aku tidak akan segan memberi hukuman berat sesuai peraturan tertulis Agartha bahkan jika itu menyakitkan.”
Alexius melangkah pergi meninggalkan ruangan.
“Yang Mulia…” panggil Erivana tercekat.
Namun Kaisar Alexius mengabaikan panggilannya.
Erivana duduk membeku di ruangan sunyi itu, jemarinya mencengkeram gaunnya erat. Kecemasan di dadanya kini berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih berbahaya, dan jauh dari kata reda.
“Ini tidak bisa dibiarkan,” desisnya lirih, namun sarat ancaman.
Ia bangkit berdiri. Gaun permaisuri menyapu lantai saat ia melangkah keluar dari kediaman singa, meninggalkan ruangan yang baru saja menjadi saksi peringatannya.
“Panggil Pangeran Evan dan Putri Aster ke kediamanku!” perintah Erivana pada pelayan pribadinya tanpa menoleh.
“Baik, Yang Mulia.” jawab pelayan itu cepat. Ia menunduk lebih dalam, lalu berbalik dan pergi dengan langkah tergesa.
Erivana berdiri sejenak, menatap lorong istana yang panjang dan sunyi. Tidak ada seorang pun yang boleh mengambil kedudukanku dan juga anak-anakku.
Pangeran Evan memasuki kediaman permaisuri Erivana. Langkahnya terukur, namun ada kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya.
“Salam kepada Permaisuri Agartha,” ucapnya menunduk. “Semoga Yang Mulia selalu diberkahi dengan umur panjang.”
“Duduklah,” kata Erivana singkat.
Pangeran Evan menurut, duduk berhadapan dengan ibundanya. Ruangan itu sunyi, seolah dinding-dindingnya ikut menahan napas.
Erivana mengangkat tangan, menyibakkan jubahnya perlahan. Dari balik lipatan kain kerajaan itu, sebuah belati yang dibungkus kain muncul.
“Ambillah,” katanya.
Pangeran Evan menerima gulungan kain itu dengan tangan gemetar.
“Untuk apa ini, Ibunda?” tanyanya pelan, kebingungan bercampur firasat buruk.
“Gunakan untuk menyingkirkan penghalangmu menuju tahta.” jawab Erivana tanpa ragu.
Evan menatap belati itu dengan wajah membeku.
“Racun di ujung bilah ini,” lanjut Erivana dingin, “akan menghabisi korbannya dalam sekejap.”
Wajah Pangeran Evan pucat seketika.
“I-Ibunda…” suaranya bergetar. “Itu… itu pembunuhan.”
“Jangan membantah, Pangeran!” potong Erivana tajam. “Atau kau ingin menjadi pangeran terbuang, hidup di bawah bayang-bayang orang lain selamanya?”
Napas Evan memberat, “Bagaimana jika Ayahanda mengetahui hal ini, Ibunda? Ayahanda akan murka.”
“Tidak akan ada yang tahu,” balas Erivana. “Selain kau dan aku.”
Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya merendah.
“Pergilah, Pangeran. Bersikaplah seperti biasa. Seorang calon kaisar tidak boleh ragu.”
Pangeran Evan menggenggam belati itu, lalu menyelipkannya ke balik pakaiannya. Tanpa berkata apa pun lagi, ia bangkit dan meninggalkan kediaman permaisuri.
“Pangeran Evan.”
Suara itu menghentikannya di lorong istana.
Anastasia berdiri di sana, anggun dalam kesederhanaannya. Tatapannya lembut, namun tajam seperti selalu.
“Bibi jarang melihatmu belakangan ini.” katanya sambil melangkah mendekat.
Ketika Anastasia melihat wajahnya lebih dekat, alisnya berkerut.
“Kau tampak pucat.”
Tanpa ragu, ia menyentuh pipi dan kening Evan seperti seorang ibu yang memahami kegelisahan.
“Apa kau sakit?” tanyanya lirih.
Pangeran Evan tersentak. Tubuhnya mundur selangkah, seolah sentuhan itu membakar nuraninya.
“Tidak apa-apa,” katanya cepat.
Ia menunduk singkat, lalu berbalik dan pergi dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Anastasia berdiri sendiri di lorong panjang itu.
Anastasia menatap punggungnya hingga menghilang. Instingnya mengatakan... ada sesuatu yang tidak beres.
kedua bocil yg entah anak siapa.
apa bocil dari kakak atau adik Kaisar???
Di tunggu bab berikutnya kak Author