Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.
Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.
Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.
Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.
Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Qi An Menggugat Takdir
Ujung pedang Qi An menekan kulit leher Yao Tian.
Setetes darah jatuh.
Tanah di bawahnya berdesis ketika racun hitam ikut menetes dari bilah. Yao Tian tidak menghindar. Ia bahkan tidak mengangkat tangan. Bagi Qi An, sikap itu bukan penyesalan. Itu penghinaan. Seolah pria itu yakin dirinya terlalu penting untuk dibunuh.
"Angkat pedangmu," kata Qi An.
Yao Tian menatapnya. "Tidak."
"Angkat."
"Kalau aku melawan, kau akan punya alasan membunuhku. Kalau aku tidak melawan, kau tetap ingin membunuhku. Aku memilih tidak membuat pekerjaanmu terlihat lebih terhormat."
Mata Qi An menggelap. "Kau banyak bicara untuk seseorang yang lehernya bisa putus sebelum kalimat berikutnya."
Song Xiaolian memeluk tubuh Lin Xiurong dari samping. "Yang Mulia, jangan berdiri dulu. Api Phoenix Anda kacau."
Lin Xiurong mendorong tangannya pelan. "Aku pernah mengalami yang lebih buruk dari keluar dari sumur pemarah."
"Itu bukan ukuran kesehatan."
"Itu ukuran hidup di Alam Bawah."
"Yang Mulia."
Nada Song Xiaolian membuat Lin Xiurong menoleh. Pelayan lembut itu jarang memakai suara seperti itu, suara yang tidak membantah tetapi juga tidak tunduk. Lin Xiurong akhirnya berhenti memaksa berdiri. Ia tetap berlutut satu kaki, telapak tangan menekan dada, mata tertuju pada Qi An.
"Turunkan pedangmu."
Qi An tidak bergerak.
Song Xiaolian menahan napas. Hantu Hitam yang berdiri di belakang mereka ikut membeku. Tidak ada yang terbiasa melihat Qi An mengabaikan perintah Lin Xiurong, bahkan untuk satu detik.
"Qi An," suara Lin Xiurong menjadi lebih dingin.
"Maaf, Yang Mulia." Qi An tidak menoleh. "Untuk titah ini, izinkan hamba tuli."
Yao Tian menutup mata sebentar.
Lin Xiurong berdiri. Api merah menyambar di sekitar tubuhnya, membuat Song Xiaolian mundur setengah langkah. Namun Qi An masih tidak menurunkan pedang.
"Kau ingin memberontak?" tanya Lin Xiurong.
Qi An tertawa pendek. "Kalau melindungi Yang Mulia disebut memberontak, maka sejak hari pertama hamba memang pemberontak paling setia di Alam Bawah."
"Aku tidak meminta dilindungi dengan cara membunuh orang yang masih kubutuhkan."
"Yang Mulia membutuhkannya untuk apa? Untuk ditusuk lagi? Untuk ditinggalkan lagi? Untuk menemukan ruangan lain tempat masa lalu membuat Anda berdarah dan ia berdiri meminta maaf?"
Yao Tian membuka mata.
Qi An menekan pedangnya sedikit lebih dalam. "Diam. Aku belum memberimu izin bernapas."
Yao Tian tidak menjawab.
Lin Xiurong melangkah mendekat. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk mengira ia lemah.
"Kau marah padanya atau padaku?" tanyanya.
Qi An akhirnya menoleh. Di wajahnya ada sesuatu yang jarang terlihat: takut. Bukan takut mati. Bukan takut dihukum. Takut kehilangan seseorang yang sudah ia jadikan pusat hidupnya.
"Aku marah kepada takdir," katanya. "Aku marah karena takdir selalu datang menagih pada tubuh Yang Mulia. Aku marah karena setiap kebenaran harus dibayar dengan darah Anda. Aku marah karena orang-orang yang menyakiti Anda selalu punya alasan besar, sementara Anda hanya diminta bertahan."
Lin Xiurong diam.
Qi An melanjutkan, suaranya pecah tetapi tetap tajam. "Dulu Mo Yan memfitnah Anda. Surga menghapus catatan Anda. Yao Tian menusuk Anda. Lalu ribuan tahun kemudian, sumur tua berkata kebenaran harus dibayar dengan kematian lagi. Kenapa? Kenapa selalu Anda? Kalau takdir butuh korban, biar kali ini aku yang memilih korbannya."
Pedangnya bergerak.
Lin Xiurong mengangkat tangan.
Api Phoenix menyambar bilah pedang Qi An, bukan untuk membakar, melainkan menahannya. Racun hitam mendesis, tetapi tidak menang melawan api merah.
"Jangan jadikan kesetiaanmu pisau yang memutuskan jalanku," kata Lin Xiurong pelan.
Qi An menatapnya seperti anak kecil yang baru dimarahi setelah menunggu terlalu lama di depan rumah kosong. "Aku hanya tidak ingin Yang Mulia sendirian di jalan itu."
"Aku tidak sendirian."
"Anda selalu berkata begitu. Tapi saat mati, siapa yang bersama Anda?"
Pertanyaan itu membuat Song Xiaolian menangis tanpa suara.
Lin Xiurong memejamkan mata sebentar. Saat membukanya, amarahnya berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang, lebih berbahaya, sekaligus lebih manusiawi.
"Saat pertama aku mati, tidak ada. Saat kedua aku mati, dia melihat. Kau melihat air berubah merah. Song Xiaolian menunggu. Hantu Hitam menjaga. Kali ini berbeda, Qi An. Jangan samakan semua luka hanya karena darahnya tampak sama."
Qi An tidak menjawab.
Yao Tian akhirnya berkata, "Kau boleh membenciku."
Qi An langsung menoleh. "Aku tidak membutuhkan izin."
"Aku tahu. Kau juga boleh mencoba membunuhku lagi setelah semua ini selesai."
"Murah hati sekali."
"Tapi jangan lakukan sekarang," kata Yao Tian. "Bukan karena aku takut mati. Karena Lin Xiurong benar. Mo Yan masih memegang terlalu banyak benang. Kalau aku mati sekarang, sebagian bukti ikut hilang. Kau akan memberi Mo Yan hadiah atas nama kesetiaanmu."
Qi An membeku.
Itu pukulan yang tepat. Ia tidak takut bersalah. Ia takut berguna bagi musuh.
Song Xiaolian cepat menyambung, "Qi An, dengarkan aku. Aku juga membenci apa yang terjadi pada Yang Mulia. Aku juga ingin dunia membayar. Tapi kita tidak bisa membayar luka dengan cara yang membuat Mo Yan tersenyum."
Qi An menatapnya kesal. "Kau selalu memilih kata-kata saat aku memilih pedang."
"Karena kalau semua orang memilih pedang, siapa yang akan menyapu darahnya nanti?"
Hantu Hitam yang sejak tadi diam bergumam, "Biasanya aku."
Semua orang menoleh.
Hantu Hitam mengangkat kedua tangan. "Apa? Aku hanya menjawab pertanyaan."
Ketegangan retak sedikit. Sangat kecil, tapi cukup untuk membuat Qi An menarik napas.
Akhirnya ia menurunkan pedang.
Yao Tian tetap diam. Darah di lehernya mengalir sampai kerah putihnya. Lin Xiurong melihatnya, lalu melemparkan sapu tangan merah.
"Tekan lukanya. Jangan kotori jalan."
Yao Tian menangkapnya. "Terima kasih."
"Itu bukan kebaikan. Sapu tangan itu sudah lama ingin kubakar."
"Aku akan menganggapnya kehormatan."
"Jangan terlalu percaya diri."
Qi An mendengus. "Bahkan nyaris mati pun masih sempat menggoda."
"Aku tidak menggoda," kata Yao Tian.
"Lebih buruk. Kau melakukannya tanpa sadar."
Lin Xiurong menatap Qi An dengan satu alis terangkat. "Kau sudah selesai menggugat takdir?"
"Belum," jawab Qi An jujur. "Tapi untuk sementara, aku menggugatnya dari samping Yang Mulia, bukan dari leher pria itu."
"Kemajuan kecil."
"Jangan berharap banyak."
Song Xiaolian menghela napas lega, lalu memeriksa lengan Lin Xiurong. "Yang Mulia membawa sesuatu dari sumur?"
Lin Xiurong membuka telapak tangannya.
Di sana ada serpihan cahaya kecil, seperti potongan huruf yang dibuat dari darah dan api. Nama-nama saksi masa lalu berputar di dalamnya. Setiap nama muncul sebentar lalu tenggelam lagi, seolah takut terlalu lama terlihat.
Yao Tian berlutut di sampingnya. "Itu bukti."
"Belum cukup," kata Lin Xiurong. "Mo Yan akan berkata aku membuatnya. Surga akan berkata ini sihir iblis. Para dewa akan meminta sidang, lalu menunda sampai semua saksi mati lagi."
Qi An menyeka pedangnya. "Kalau begitu kita bunuh Mo Yan. Bukti bisa menyusul."
Song Xiaolian memijat pelipis. "Kau baru saja berjanji tidak memberi Mo Yan hadiah."
"Itu bukan hadiah. Itu layanan pemakaman."
Qi An menyarungkan pedang, tetapi gerakannya keras, seperti ia sedang memaksa seekor binatang buas kembali ke kandang.
"Aku tidak memaafkanmu," katanya kepada Yao Tian.
"Aku tidak meminta itu."
"Bagus. Kalau suatu hari kau meminta, aku akan membuatmu menyesal pernah punya mulut."
Yao Tian menekan sapu tangan merah di lehernya. "Aku akan mengingatnya."
"Jangan hanya mengingat ancaman. Ingat alasan di baliknya." Qi An menunjuk Lin Xiurong tanpa menoleh. "Dia bukan ujian moralmu. Bukan kesempatan keduamu. Bukan jalan untuk membuat dirimu merasa lebih baik. Dia rajaku. Kalau kau ingin berdiri di dekatnya, berdirilah sebagai orang yang berguna, bukan sebagai luka yang terus minta dimengerti."
Kalimat itu membuat Song Xiaolian diam. Bahkan Lin Xiurong tidak langsung memotong.
Yao Tian menunduk kepada Qi An. Bukan terlalu rendah, bukan dramatis. Cukup untuk mengakui bahwa kata-kata itu pantas diterima.
"Aku akan menjadi berguna," katanya.
Qi An mendecak. "Mulai dari tidak berdarah di tempat yang baru saja kubersihkan."
"Kau membersihkan tempat ini?"
"Secara emosional."
Song Xiaolian tidak tahan lagi dan tertawa pelan. Tawa itu tidak menghapus luka, tetapi membuat semua orang ingat bahwa mereka masih hidup di antara sekian banyak kematian.
Lin Xiurong memandang mereka bertiga: Qi An dengan amarah yang masih menyala, Song Xiaolian dengan air mata yang masih ia sembunyikan, dan Yao Tian dengan luka kecil di leher yang tidak sebanding dengan semua luka yang pernah ia buat. Untuk sesaat, ia merasa aneh. Dulu ia selalu berpikir rumah adalah tempat yang hilang di belakangnya. Sekarang rumah justru berdiri dalam bentuk orang-orang yang terus berisik saat ia ingin diam.
"Kalian merepotkan," katanya.
Song Xiaolian tersenyum. "Itu tanda kami masih hidup."
Qi An menambahkan, "Dan tanda Yang Mulia belum berhasil mengusir kami."
Yao Tian tidak ikut bicara, tetapi matanya berkata ia ingin tinggal dalam lingkaran itu meskipun belum berhak. Lin Xiurong melihatnya, lalu sengaja tidak mengusirnya. Itu belum pengampunan. Tetapi bagi Yao Tian, tidak diusir sudah cukup untuk membuatnya berdiri lebih tegak.
Sebelum perdebatan berlanjut, permukaan Sumur Janji bergetar. Air merah yang tadi tenang membentuk satu lingkaran baru. Dari dalamnya naik asap hitam, lalu berubah menjadi gagak kecil bermata merah.
Gagak itu hinggap di bibir sumur dan memiringkan kepala.
Suara Mo Yan keluar dari paruhnya.
"Menyentuh sekali. Kesetiaan, penyesalan, perempuan yang terluka tetapi tetap cantik saat marah. Kalian hampir membuatku bertepuk tangan."
Qi An mengangkat pedang lagi. "Akhirnya ada makhluk yang boleh kubunuh tanpa rapat."
Lin Xiurong menatap gagak itu. Senyumnya muncul, tipis dan dingin.
"Biar dia bicara," katanya. "Orang sombong biasanya membawa peta menuju lehernya sendiri."
Gagak itu tertawa dengan suara Mo Yan.
"Benar sekali, Xiurong. Kali ini aku memang membawa undangan."