Alceena Brox Riccardo (26 tahun), seorang diva papan atas Hollywood, mendapati dunianya runtuh saat kekasihnya mengirimkan undangan pernikahan tanpa kata putus.
Terluka dan menolak terlihat malang oleh paparazzi, ego Alceena memberontak.
Di sebuah bar eksklusif di Los Angeles, dia meluapkan amarahnya dan secara impulsif mengajak seorang pria asing yang dikiranya gigolo untuk menjadi pria simpanannya.
Pria itu adalah Xander Hayes-Stone (25 tahun), seorang pemuda kaya asal Chicago yang juga sedang melarikan diri dari pengkhianatan cinta.
Malam di penthouse mewah Alceena menjadi awal dari ikatan kontrak yang rumit di antara mereka.
Berawal dari pelampiasan dendam dan ego badai dua manusia yang patah hati, hubungan tanpa status ini perlahan menyeret mereka ke dalam pusaran, rahasia masa lalu, dan takdir baru yang tak terduga di bawah gemerlapnya kota Los Angeles.
~~~~~~
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Malam semakin larut mendekap kota Los Angeles, membawa ketenangan semu yang perlahan menyelimuti lantai teratas penthouse mewah Alceena.
Setelah melewati seharian penuh dengan emosi yang naik turun—mulai dari pertengkaran hebat di pagi hari, kecemburuan yang meledak di lokasi syuting, hingga ketegangan tak kasat mata yang terus mengalir ke dalam—atmosfer di dalam apartemen luas itu mendadak berubah menjadi teramat hangat dan domestik.
Selesai makan malam dengan menu steik wagyu sederhana yang dipesan Xander dari restoran bintang lima terdekat, keduanya kini berada di area ruang tengah.
Alceena duduk bersandar di atas sofa beludru kelabu yang empuk, meluruskan kedua kakinya yang masih terasa sedikit pegal setelah seharian berdiri memakai sepatu hak tinggi di bawah sorotan lampu set syuting.
Sementara itu, Xander duduk tidak jauh di sampingnya. Pria raksasa itu kini telah menukar kemeja hitam ketatnya yang seharian dikancingkan rapat oleh Alceena dengan kaus oblong hitam santai, menampilkan lekuk otot bahu bidangnya yang kokoh namun terlihat jauh lebih santai.
Di bawah pendar lampu kristal yang temaram dan alunan musik jazz klasik yang berputar pelan dari sistem suara ruangan, interaksi di antara mereka berdua malam ini terasa begitu aneh.
Hubungan mereka mengalir dengan sangat alami, seolah-olah meleburkan batas kontrak gila yang mereka sepakati kemarin.
Di satu sisi, mereka bisa mengobrol santai layaknya sepasang teman lama yang saling melempar ejekan kecil mengenai betapa histerisnya tawa Shireen siang tadi di ruang rias.
Namun di sisi lain, perhatian-perhatian kecil yang ditunjukkan Xander—seperti saat pria itu dengan patuh menuangkan teh chamomile hangat ke cangkir Alceena tanpa diminta—membuat mereka tampak laksana sepasang suami istri yang telah hidup bersama bertahun-tahun di dalam rumah yang tenang.
Xander meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kaca, lalu meraba saku celana panjangnya.
Dia mengeluarkan sebuah benda tipis berwarna hitam pekat dengan aksen platinum di sisinya—sebuah kartu kredit no limit eksklusif keluaran bank Swiss terkemuka, sebuah simbol kekayaan mutlak yang hanya dipegang oleh segelintir orang di dunia bawah maupun atas dari dinasti Stone.
Pria itu mengulurkan tangan besarnya, menempatkan kartu hitam tanpa batas tersebut di atas meja kaca, tepat di depan jangkauan jemari Alceena.
Sepasang mata heterochromia-nya menatap sang diva dengan ketulusan yang teramat dalam dan pasrah.
"Belanja sepuasmu, Alceena. Kartu ini... milikmu," ucap Xander, suara baritonnya terdengar begitu rendah dan bergetar halus oleh keinginan murni untuk menyerahkan segala aspek hidupnya kepada wanita di depannya.
"Gunakan untuk membeli apa saja yang kau inginkan untuk perjalanan kita ke Chicago minggu depan, atau untuk keperluan apa pun yang kau butuhkan di Los Angeles ini. Aku ingin kau kembali memegangnya."
Alceena melirik kartu hitam berkilau itu dari balik bulu mata lentiknya.
Dia mempertahankan ekspresi wajahnya yang datar dan angkuh, menyembunyikan getaran aneh yang kembali menggelitik batinnya melihat kemurahan hati pria Stone ini.
Sebagai seorang aktris papan atas Hollywood yang berpenghasilan jutaan dolar per film, Alceena jelas tidak kekurangan uang sepeser pun.
Dia memiliki tabungan yang lebih dari cukup untuk membeli satu blok perumahan mewah di Beverly Hills jika dia mau.
Alceena mengulurkan jemarinya yang dihiasi cat kuku merah menyala, mengambil kartu itu dengan gerakan anggun, lalu memasukkannya ke dalam saku jubah tidur sutra kelabu yang sedang dikenakannya.
"Aku akan menyimpannya," jawab Alceena pendek, suaranya terdengar dingin namun tidak lagi menolak dengan kasar seperti kemarin.
Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mendongak menatap Xander dengan seulas senyuman miring yang meremehkan.
"Tapi jangan berharap aku akan menggunakannya untuk membeli tas atau perhiasan mahal, Xander. Aku tidak membutuhkan uangmu untuk memuaskan hasrat belanjaku. Simpanan sepertimu harus tahu bahwa majikanmu ini jauh lebih kaya dari apa yang kau bayangkan."
Mendengar penolakan halus yang dibalut keangkuhan diva itu, Xander justru terkekeh rendah.
Suara kekehannya yang berat terdengar teramat seksi di tengah keheningan malam ruang tengah.
Pria itu menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Alceena bisa mencium kembali aroma maskulin khas kayu gaharu yang menguar dari kulit leher Xander yang kini bebas dari jeratan kancing kemeja.
Xander menopang dagunya dengan satu tangan di atas sandaran sofa, menatap Alceena dengan tatapan gila yang dipenuhi oleh kilatan posesif dan nakal yang teramat intens.
"Aku tahu kau wanita kaya, Ceena," bisik Xander dengan nada suara yang merendah hingga menyerupai desahan parau di dekat telinga Alceena.
"Tapi bagaimana kalau kau menggunakan kartu itu untuk membeli beberapa lingerie baru saja, hm?"
Deg.
Mata Alceena seketika melebar mendengar saran gila yang meluncur begitu saja dari bibir pria Stone tersebut.
Wajah cantiknya yang semula tenang mendadak terasa disengat oleh rasa hangat yang merayap cepat ke kedua pipinya.
"Apa kau bilang?!" sentak Alceena, dia memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Xander, menatap pria itu dengan pandangan tidak percaya. "Kau... berani sekali kau membahas hal menjijikkan seperti itu sepagi... maksudku semalam ini, Xander?!"
Xander tidak mundur satu senti pun. Sebaliknya, senyuman nakal di sudut bibirnya semakin melebar, menonjolkan lesung pipit tipis di wajah tampannya yang berwajah keras.
"Kenapa tidak? Aku serius, Ceena," lanjut Xander, suaranya melembut namun terdengar begitu mendikte.
"Saat aku mengambilkan jubah tidurmu di walk-in closet sore tadi... aku tidak sengaja melihat isi laci pakaian dalammu. Aku melihat koleksi lingerie sutra warna marun dan hitam milikmu... hanya ada dua potong yang tersisa di lemarimu yang seluas lapangan itu. Sebagian besar lainnya hanya gaun tidur satin biasa yang terlalu tertutup."
Xander memajukan wajahnya hingga ujung hidungnya hampir bersentuhan dengan pelipis Alceena, membuat napas hangatnya berembus di kulit sensitif wanita itu.
"Dan mengingat bagaimana intensitas pergumulan kita dua malam hingga siang tadi... aku rasa dua potong lingerie seksi itu tidak akan cukup untuk menemaniku sepanjang minggu depan sebelum kita berangkat ke Chicago. Jadi, belilah beberapa koleksi warna baru dengan kartu itu, Sayang. Aku ingin melihat warna putih atau hijau zamrud melekat di tubuh mulusmu saat kau melayaniku sebagai simpananmu di rumah ini."
Mendengar detail pengamatan yang teramat mesum namun diucapkan dengan wajah tanpa dosa dan nada perintah yang posesif dari Xander, Alceena merasa seluruh darah di tubuhnya mendadak mendidih gila.
Ingatan tentang bagaimana Xander mengoyak dan melucuti lingerie hitamnya semalam dengan beringas langsung berputar tanpa ampun di dalam kepalanya, membuat rahimnya mendadak berdenyut aneh oleh sisa gairah yang belum sepenuhnya padam.
Wajah Alceena benar-benar meledak menjadi merah padam yang teramat kontras dengan jubah tidur kelabunya.
Dia merasa teramat malu sekaligus kesal karena privasi lacinya telah dibongkar oleh pria gila ini, namun di saat yang sama, ada rasa puas yang aneh mendominasi hatinya mendengar bagaimana Xander begitu mendambakan tubuhnya dalam balutan pakaian kurang bahan tersebut.
Alceena mengangkat tangannya, lalu memukul dada bidang Xander dengan kepalan tangan rampingnya dengan cukup keras, meskipun pukulan itu sama sekali tidak membuat pria berotot itu bergeser.
"Kau benar-benar pria gila yang mesum, Xander Hayes-Stone!" maki Alceena dengan suara yang gemetar menahan malu yang teramat sangat pekat.
"Keluar dari pikiranku dan matikan otakmu itu! Siapa yang sudi membelikan barang-barang kurang waras seperti itu untukmu, hah?! Dan berhenti memanggilku 'Sayang' sebelum aku benar-benar memotong lidahmu!"
Xander hanya tertawa senang, suara tawanya yang lepas menggema indah, merayakan kemenangan kecilnya atas ekspresi menggemaskan dari sang diva yang kini tampak kehilangan seluruh keangkuhan Riccardonya di bawah kekuasaan godaan ranjangnya.
Pria itu menangkap pergelangan tangan Alceena yang baru saja memukul dadanya, lalu menundukkan kepalanya untuk memberikan kecupan hangat di punggung tangan mulus wanita itu, mengunci malam mereka dalam pusaran rasa yang semakin menjebak.