Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: RIASAN BARU DI SEPOTONG KAIN
Pagi setelah malam di mana Dafa meletakkan kartu kredit hitam tanpa limit di atas meja nakasnya, Nazya terbangun dengan perasaan yang campur aduk. Sinar matahari pagi yang hangat mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamarnya. Nazya perlahan mendudukkan diri di tepi ranjang, menatap kartu tipis mengilat yang masih tergeletak bisu di atas buku catatan kecilnya. Kata-kata Dafa semalam yang bernada perintah mutlak sebagai seorang suami terus berdengung di kepalanya, seolah meruntuhkan semua keyakinan lama yang ia pegang selama ini.
Dengan gerakan ragu, Nazya meraih kartu itu. Rasanya begitu ringan, namun beban emosional yang ada di dalamnya terasa sangat berat. Bagi Nazya, menerima uang dari seorang pria adalah hal yang menakutkan, namun ketegasan Dafa yang tidak menerima penolakan membuatnya tidak punya pilihan lain.
"Nazya, anakku. Kamu sudah bangun?" suara Pak Handoko memecah lamunan Nazya dari arah pintu kamar yang terbuka sedikit. Pria tua itu melangkah masuk dengan senyum lega. "Dafa sudah berangkat ke kantor sekitar satu jam yang lalu. Dia berpesan pada pelayan agar tidak ada yang mengganggu tidurmu."
Nazya mengangguk pelan, menyembunyikan kartu hitam itu di balik jemarinya. "Iya, Ayah. Nazya sudah bangun."
"Bagaimana dengan kakimu pagi ini? Apakah masih terasa sangat nyeri?" Pak Handoko berjalan mendekat, menatap gips tebal yang masih membungkus kaki kanan putrinya.
"Hanya sedikit berdenyut, Ayah. Masih bisa Nazya tahan," jawab Nazya tulus. Rasa sakit fisiknya sebenarnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan badai kecemasan yang terus berputar di dalam kepalanya.
Setelah ayahnya keluar untuk sarapan di meja makan, Nazya memutuskan untuk mengambil sebuah langkah berani. Menggunakan ponsel tuanya, ia membuka aplikasi belanja daring. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memasukkan nomor kartu kredit hitam milik Dafa sebagai metode pembayaran untuk membeli beberapa gulung benang sulam berkualitas tinggi, jarum rajut baru, serta beberapa meter kain katun premium yang selama ini hanya bisa ia lihat di keranjang belanjaan tanpa pernah mampu membelinya.
Ketika notifikasi transaksi berhasil muncul di layar ponselnya tanpa ada hambatan, Nazya spontan menahan napasnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia setengah berprasangka bahwa beberapa menit kemudian Dafa akan meneleponnya dari kantor, membentaknya karena telah berani membelanjakan uang ratusan ribu rupiah untuk barang-barang yang dianggap tidak penting. Nazya meremas ponselnya, menunggu dengan cemas selama hampir satu jam di atas ranjang.
Namun, hingga waktu beranjak siang, ponselnya tetap sunyi. Tidak ada telepon kemarahan, tidak ada pesan makian. Yang ada justru kedatangan sebuah mobil kurir logistik beberapa jam kemudian yang mengantarkan sekotak besar bahan-bahan jahitannya yang berkualitas tinggi. Ketika Nazya membuka kotak itu di atas kasurnya, melihat warna-warni benang baru yang begitu indah, air mata kebahagiaan kecil tanpa sadar menetes di pipinya. Pria itu benar-benar menepati ucapannya; di rumah ini, ia tidak perlu menjadi pengemis hanya untuk sekadar bertahan hidup dan berkarya.
Sore harinya, Dafa Mahardika melangkah memasuki rumah mewah miliknya dengan langkah kaki yang sedikit santai. Rapat dewan komisaris yang melelahkan seharian ini tidak mampu menghilangkan rasa penasarannya tentang bagaimana reaksi istrinya setelah menerima Black Card darinya semalam. Begitu melewati koridor lantai bawah, pandangan mata Dafa langsung tertuju pada pintu kamar Nazya yang terbuka setengah.
Dafa berjalan mendekat tanpa menimbulkan suara bising di atas lantai marmer. Dari balik celah pintu, ia melihat sebuah pemandangan yang seketika membuat sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang jarang terlihat.
Nazya sedang duduk di atas kursi rodanya di dekat jendela, menghadap ke arah taman belakang yang mulai temaram oleh semburat senja. Wanita muda itu tampak begitu fokus, jemari lentiknya bergerak dengan sangat terampil dan lincah menembus sepotong kain katun putih menggunakan jarum sulam. Di atas pangkuannya, berserakan benang-benang berwarna pastel yang baru dibelinya tadi pagi. Wajah polosnya yang biasa tampak pias dan ketakutan, kini memancarkan binar kedamaian dan konsentrasi yang sangat cantik di bawah sapuan cahaya keemasan matahari terbenam.
Dafa mengetuk pintu kayu kamar dengan perlahan, membuat Nazya tersentak kecil dan langsung menghentikan gerakan tangannya.
"Boleh aku masuk?" tanya Dafa, suara baritonnya mengalun rendah.
Nazya buru-buru merapikan kain-kain di pangkuannya, ada rona merah tipis yang mendadak muncul di kedua pipinya karena malu tertangkap basah. "I-iya, Mas Dafa. Silakan masuk."
Dafa melangkah masuk, mengabaikan jasnya yang kini sudah ia sampirkan di lengan kiri, menyisakan kemeja biru muda yang melekat pas di tubuh tegapnya. Pria itu berjalan mendekati kursi roda Nazya, lalu melirik ke arah hasil sulaman di tangan istrinya. Di atas kain katun putih itu, Nazya sedang membentuk sebuah pola bunga mawar kecil yang sangat rapi dan detail dengan gradasi warna merah muda dan daun hijau.
"Ini sangat indah," puji Dafa tulus, matanya menatap lekat hasil karya tangan Nazya sebelum beralih menatap sepasang mata jernih istrinya. "Jadi, barang-barang ini yang kamu beli menggunakan kartu dariku tadi pagi?"
Mendengar pertanyaan itu, tubuh Nazya sempat menegang sesaat. Ketakutan lamanya kembali mencuat, khawatir jika pujian Dafa hanya sarkasme sebelum memprotes pengeluarannya. "Maaf, Mas... Nazya lancang menggunakan kartu Mas Dafa tanpa izin tertulis terlebih dahulu. Nazya hanya membeli beberapa benang dan kain untuk menyelesaikan pesanan jahitan masker tetangga. Kalau... kalau Mas Dafa keberatan, Nazya bisa—"
"Nazya, potong kalimatmu," sela Dafa dengan nada tegas namun tidak ada kemarahan di dalamnya. Ia berlutut di samping kursi roda Nazya, membuat wanita itu terpaksa menatap lurus ke dalam sepasang mata elangnya yang dalam. "Sudah kubilang semalam, kartu itu milikmu. Mau kamu gunakan untuk membeli benang seharga ratusan ribu atau membeli butik kain seharga miliaran rupiah pun, aku tidak akan pernah keberatan. Itu adalah hakmu sebagai istriku."
Dafa mengulurkan tangannya, dengan sangat hati-hati dan perlahan agar tidak mengejutkan Nazya, ia mengambil sejumput kain mawar sulaman dari jemari istrinya. "Lagipula, melihatmu bisa tersenyum dan sibuk dengan hal yang kamu sukai di rumah ini, itu jauh lebih berharga dibandingkan angka-angka di dalam rekeningku. Jangan pernah meminta maaf lagi untuk hal seperti ini, mengerti?"
Nazya terpaku di tempat duduknya. Jarak mereka yang begitu dekat membuat ia bisa merasakan ketulusan murni yang memancar dari aura dominan Dafa. Kalimat pria ini tidak pernah manis, selalu terdengar seperti perintah bisnis yang mutlak, namun anehnya, setiap kata yang keluar justru menjadi perisai yang melindungi harga dirinya yang selama ini hancur. Sudut hati Nazya yang membeku selama dua tahun terakhir, kini terasa seperti dialiri oleh air hangat yang perlahan meretakkan lapisan es traumanya.
"Terima kasih... Mas Dafa," bisik Nazya, suaranya terdengar jauh lebih tenang dan tidak bergetar seperti biasanya.
Dafa tersenyum tipis, mengembalikan kain sulaman itu ke tangan Nazya. "Mami Kinanti besok pagi akan datang lagi ke sini. Beliau bilang ingin mengajakmu melihat-lihat katalog dekorasi rumah untuk mengisi beberapa sudut ruangan yang kosong. Bersiaplah."
Nazya mengangguk patuh. Kepergian Dafa dari kamarnya malam itu tidak lagi menyisakan ketakutan mencekam di dada Nazya, melainkan sebuah teka-teki baru tentang bagaimana seorang pria berkuasa seperti Dafa bisa memiliki sisi selembut ini pada seorang janda cacat seperti dirinya.