Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama di Rumah Sendiri
Setelah beristirahat sepanjang malam untuk memulihkan tenaga yang terkuras selama perjalanan sebulan penuh, hari berikutnya di kediaman keluarga Duan terasa lebih tenang dan hangat. Matahari pagi menyinari halaman luas, membawa suasana baru yang seolah menyambut kembalinya sang putri yang telah lama dinanti.
Di kamar utama yang dihuni Nyonya Tua Duan, suasana terasa hangat dan penuh kasih sayang. Yanfei duduk rapat di sisi tempat tidur neneknya, menatap wanita tua itu dengan pandangan lembut namun penuh perhatian. Melihat neneknya berusaha duduk lebih tegak, ia segera mengulurkan tangan untuk menopang bahu tua itu.
“Nenek, jangan memaksakan diri. Tubuh nenek belum sepenuhnya pulih, beristirahatlah perlahan,” ucap Yanfei dengan nada lembut namun tegas.
Nyonya Tua hanya tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya yang keriput namun masih hangat untuk menepuk punggung tangan cucunya itu. “Fei Fei, nenek baik-baik saja. Mendengar kau sudah pulang, rasanya tenaga ini kembali datang dengan sendirinya. Penyakit apa pun rasanya tak berani mendekat lagi.”
Memang benar, keluarga Duan dikenal memiliki keturunan yang tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan keluarga bangsawan lain seukuran mereka. Putri sulung keluarga telah menikah dan tinggal bersama suaminya di kediaman Mentri Gao, sedangkan putri kedua mengikuti suaminya yang ditugaskan ke wilayah Jiangnan dan jarang kembali ke ibu kota.
Saat ini, di kediaman utama hanya ada tiga pemuda yang masih bersekolah di akademi kerajaan, serta empat anak kecil yang masih di bawah umur. Oleh sebab itu, kedatangan Yanfei kembali ke rumah membawa kebahagiaan tersendiri bagi semua orang, terutama bagi Nyonya Tua yang sudah lama merindukan kehadiran cucu perempuannya.
Melihat wajah Yanfei yang kini tampak lebih dewasa namun tetap membawa ketenangan, hati Nyonya Tua terasa sangat lega. Kabar kembalinya cucunya itu memang sudah tersebar ke seluruh penjuru kediaman, dan tanpa disadari hal itu membuat semangat hidup wanita tua itu kembali bangkit.
“Nenek, duduklah lebih pelan agar tidak terasa pusing,” pesan Yanfei sambil memberi isyarat halus pada Li Xia yang berdiri di sudut ruangan.
Li Xia segera melangkah maju dengan membawa cangkir porselen berisi sup tonik yang masih mengepul hangat. Yanfei menerimanya dengan hati-hati, lalu menyuapkan sup itu perlahan ke bibir neneknya dengan penuh kelembutan.
Setelah menghabiskan isinya, Nyonya Tua menghela napas lega sambil tersenyum puas. “Anak baik, sejak kau menyuapi nenek tadi, rasanya tubuh ini terasa jauh lebih ringan dan segar. Supnya juga terasa lebih nikmat dari biasanya. Kau memang pandai sekali merawat wanita tua ini.”
Yanfei tersenyum lembut, matanya bersinar hangat. “Itu sudah menjadi kewajiban dan kebahagiaan Fei Fei, Nenek. Selama ini Fei Fei tak bisa berada di sisi nenek, jadi sekarang biarkan Fei Fei melunasi semuanya sedikit demi sedikit.”
“Benar-benar cucu yang baik hati,” puji Nyonya Tua sambil terus menepuk tangan cucunya. “Datanglah lebih sering ke sini ya, temani nenek mengobrol sebentar saja. Di rumah sebesar ini, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tak ada yang punya waktu lama untuk duduk mendengarkan celotehan wanita tua sepertiku.”
Yanfei hanya mengangguk setuju, senyumnya tak pernah luntur dari wajahnya. Ia merasa damai bisa kembali duduk di tempat ini, di sisi orang yang sangat menyayanginya sejak kecil.
Belum sempat percakapan mereka berlanjut lebih jauh, suara langkah kaki riang terdengar dari luar pintu. Seorang pelayan senior yang selalu melayani Nyonya Tua masuk dengan senyum menghormat.
“Nyonya, Tuan Muda Kelima dan Nona Keenam baru saja tiba dan ingin menjenguk Nyonya,” lapornya dengan sopan.
Wajah Nyonya Tua seketika berseri-seri mendengar kabar itu. “Ah, cucu-cucu kecilku! Suruh mereka masuk segera.”
Ia lalu menoleh ke arah Yanfei, “Fei Fei, bantulah nenek berdiri sebentar. Nenek ingin melihat mereka dengan jelas.”
“Baiklah, Nenek. Melangkahlah pelan-pelan saja,” ujar Yanfei sambil memapah tubuh neneknya dengan hati-hati, menuntunnya menuju kursi malas yang lebih nyaman di teras dalam ruangan.
Tak lama kemudian, dua sosok kecil yang mengenakan pakaian rapi dan berwarna cerah melangkah masuk dengan riang. Gadis kecil berusia tujuh tahun segera mendekat sambil membungkuk sopan. “Nenek! Fu Fu datang menyapa Nenek!”
Di belakangnya, seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun mengikuti dengan gerakan lincah namun tetap sopan. “A Mao juga datang menyapa Nenek!”
Kedua anak kecil yang menggemaskan itu membuat senyum lebar tak pernah lepas dari wajah tua Nyonya Duan. Ia memanggil mereka mendekat. “A Fu, A Mao, kemarilah duduk lebih dekat dengan Nenek.”
Mereka pun duduk di sisi kiri dan kanan neneknya, menatap segala sesuatu di sekitar dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Tak lama kemudian, Fu Fu menoleh ke arah Yanfei yang duduk diam dengan senyum lembut, lalu memiringkan kepalanya dengan tatapan bingung.
“Nenek, dia siapa? Mengapa Fu Fu belum pernah melihatnya sebelumnya?” tanya gadis kecil itu polos. Ia hanya tahu bahwa di kediaman ini ada dirinya dan dua gadis lainnya, jadi kehadiran sosok asing yang terlihat anggun itu membuatnya penasaran.
Nyonya Tua tertawa kecil mendengar pertanyaan itu, lalu mengelus kepala Fu Fu dengan lembut. “Lihatlah, saat kau masih sangat kecil, kau dulu sangat manja dan suka mengikuti kakak perempuan ini ke mana-mana. Tapi setelah dia pergi cukup lama, kau malah mulai melupakannya.”
Mendengar penjelasan itu, A Mao yang masih muda namun cerdas ikut bertanya, “Nenek, apakah dia Kakak Sepupu Ketiga yang baru saja pulang itu?”
Anak laki-laki itu memang masih sangat muda, baru menginjak usia lima tahun. Saat Yanfei meninggalkan rumah tujuh tahun lalu, ia bahkan belum lahir ke dunia, sedangkan Fu Fu masih berusia sangat muda sehingga ingatannya samar-samar saja.
“Wah, cucu pintar sekali! Benar sekali dugaannya,” puji Nyonya Tua bangga. “Dia adalah Kakak Sepupu Ketiga kalian, Duan Yanfei. Mulai sekarang kalian harus menghormatinya dan jangan membuatnya kesulitan, mengerti?”
“Baiklah Nenek!” jawab keduanya serempak dengan semangat.
“Fu Fu adalah anak yang baik, bahkan pamanmu baru saja memuji sikap dan kerajinanmu kemarin,” tambah Nyonya Tua sambil tersenyum melihat tingkah cucunya.
Kedua anak ini adalah keturunan dari cabang keluarga yang berbeda. Fu Fu adalah putri dari Paman Ketiga, sedangkan A Mao adalah putra sulung Paman Pertama. Sedangkan ayah Yanfei sendiri adalah Tuan Muda Kedua keluarga Duan. Meskipun bukan kepala keluarga, ia memiliki prestasi yang cemerlang sehingga diangkat menjadi mentri kepercayaan Kaisar.
Hubungan di dalam keluarga Duan dikenal sangat harmonis. Antara mertua dan menantu saling menghormati, serta kasih sayang antar saudara sangat terlihat jelas. Tuan Muda Pertama memiliki empat putra dan dua putri yang sudah menikah, sedangkan ayah Yanfei hanya dikaruniai dua putra dan Yanfei sebagai putri bungsunya. Paman Ketiga memiliki tiga putra dan satu putri, sementara Paman Keempat dan Kelima masing-masing memiliki tiga putra.
Yang membuat keluarga ini istimewa adalah prinsip yang dipegang teguh oleh semua laki-laki di sana: “Membawa selir masuk ke dalam kediaman sama saja dengan membawa sumber perselisihan dan masalah ke dalam rumah.” Oleh sebab itu, mereka lebih memilih menjauhi hal-hal yang bisa memicu pertengkaran, sehingga suasana rumah selalu terasa damai dan tertib meski cukup ramai.
“Benar sekali, A Mao juga mendapat pujian lho,” sambung Nyonya Tua sambil menatap cucu laki-lakinya. “Bukan hanya itu, saat pamanmu yang bertugas ke Jiangnan selesai dan pulang nanti, dia sudah berjanji akan membawa hadiah khusus untuk A Mao.”
Mendengar itu, wajah A Mao berseri-seri penuh kegembiraan. “Benarkah? Paman sungguh baik hati!”
“Paman juga berjanji akan membawa hadiah untuk Fu Fu juga!” seru gadis kecil itu tak mau kalah.
“Baiklah, baiklah,” Nyonya Tua tertawa lepas melihat keriuhan itu. “Paman kalian sangat menyayangi kalian semua, tak ada yang dilupakan. A Mao, A Fu