SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.
Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: RAPAT MEJA BUNDAR (VERSI MC'DONALD)
Senin Malam, Pukul 23.00 WIB
Depan Gerbang Rumah Lia (Kawasan Pondok Indah)
Motor RX King butut Ilham Mahendra berhenti di depan gerbang besi setinggi empat meter yang dijaga dua pos satpam. Rumah Lia lebih mirip kedutaan besar daripada rumah tinggal.
Ilham mematikan mesin. Suasana hening, cuma ada suara jangkrik dan napas mereka berdua.
Lia turun dari boncengan. Dia masih memakai jaket denim Ilham yang kebesaran, menutupi dress mahalnya yang kotor kena asap.
"Udah sampe," kata Ilham kaku, membuka helm full face-nya. "Gede banget rumah lo. Lo tinggal sama satu kelurahan?"
Lia mendengus pelan, merapikan rambutnya yang lepek. "Garing lo. Makasih udah nganter."
Lia melepas jaket denim itu, hendak mengembalikannya. Tapi pas dia mau ngasih, dia sadar di balik jaket itu cuma ada dress tanpa lengan, dan angin malam lagi jahat-jahatnya. Lia menggigil sedikit.
Ilham melihat itu. Dia menahan tangan Lia yang memegang jaket.
"Pake aja dulu," kata Ilham, memalingkan muka (biar nggak ketahuan kalau pipinya merah). "Di luar dingin. Lo abis kena syok. Nanti masuk angin, repot."
"Tapi ini bau apek," protes Lia, meski tangannya menarik jaket itu kembali ke bahunya. "Bau bensin campur keringet."
"Itu namanya pheromone jantan, Neng," Ilham nyengir tengil. "Mahal tuh. Nggak dijual di Sephora."
Lia memutar bola matanya, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. Sangat sedikit.
"Dasar Botak," gumam Lia. "Yaudah. Gue balikin besok. Jangan geer lo. Gue pake karena terpaksa."
"Iya, iya. Sana masuk. Mandi air anget, terus tidur. Jangan mimpiin gue, nanti lo naksir," goda Ilham.
"Idih. Najis," Lia berbalik badan, memencet bel interkom.
Gerbang otomatis terbuka. Lia berjalan masuk tanpa menoleh lagi. Tapi Ilham menunggu di sana sampai Lia benar-benar masuk ke dalam rumah dan pintu tertutup rapat.
Baru setelah itu, Ilham menyalakan motornya.
"Cantik juga kalau lagi nggak ngomel," gumam Ilham pelan, lalu tancap gas pulang dengan hati yang entah kenapa... berbunga-bunga (dikit).
Selasa Siang, Pukul 14.00 WIB
McDonald's Simpang Lima (Zona Netral)
Siang ini, pelanggan McD Simpang Lima dikejutkan oleh pemandangan aneh.
Di pojok ruangan yang sudah di-booking (oleh Aqeela), dua meja panjang digabungkan.
Di sisi kiri meja: Geng Royals. Wangi, rapi, glowing, makan Chicken Muffin pake garpu pisau.
Di sisi kanan meja: Geng Vanguards. Kumel, bau matahari, botak-botak, makan PaNas 2 pake tangan telanjang.
Suasana tegang. Kayak pertemuan dua mafia beda alam.
Roseanna Vallerian duduk di tengah, berhadapan langsung dengan Fattah Maverick.
"Jadi," buka Roseanna sambil mengelap meja dengan tisu basah antiseptik (padahal udah bersih). "Kita sepakat ini jebakan."
"Jelas," Fattah mencelupkan kentang goreng ke es krim McFlurry (kebiasaan anehnya). "Pertanyaannya: Siapa? Dan kenapa?"
Naura meletakkan tabletnya di tengah meja. Oliver meletakkan laptop bututnya di sebelah tablet Naura.
"Gue sama Oliver udah sinkronisasi data semalem," kata Naura serius. "Kita nemu pola."
Oliver membetulkan kacamatanya.
"Kejadian 1: Teror Aqeela. Pelaku pake jaket Vanguards. Tapi di CCTV, logonya madep kiri. Logo asli Vanguards madep kanan."
"Tuh kan!" seru Harry sambil ngunyah burger. "Gue bilang juga apa! Itu barang KW Pasar Senen! Benangnya pasti brudul!"
"Kejadian 2: Bom Molotov di bengkel," lanjut Oliver. "Surat ancaman pake kertas HVS murah dan parfum refill. Analisis kimia membuktikan itu bukan parfum Roseanna, tapi parfum laundry kiloan aroma 'Sakura'."
"Parfum laundry?" Raisa mendengus jijik. "Rose nggak pernah nyentuh barang gituan. Baju dia di-laundry di Paris."
"Oke, sombongnya dikurangin dikit, Neng," celetuk Mohan yang sedang menghabiskan paket ayam ketiganya.
Roseanna menatap Fattah. "Jadi, pelakunya tau detail tentang kita. Tau logo Vanguards, tau parfum gue, tapi eksekusinya kasar."
"Ada satu nama yang muncul di radar gue," kata Fattah. Dia mengeluarkan sebuah foto kusam dari saku celananya.
Foto seorang cowok dengan tato ular di leher.
"Kairos. Ketua Black Cobra. Geng dari SMK Kalingga," kata Fattah.
Anak-anak Royals mengernyit.
"Kalingga?" tanya Aqeela polos. "Itu nama jenis mangga ya?"
"Bukan, Neng Cantik," Harry menghela napas sabar. "Itu sekolah musuh bebuyutan semua orang. Isinya kriminal muda. Kairos ini... dia pernah gue liat nongkrong di deket sekolah kalian minggu lalu."
"Ngapain dia nongkrong di sekolah cewek?" tanya Raisa curiga.
"Nyari mangsa," jawab Fattah dingin. "Atau... nyari celah. Dia tau kita lagi perang dingin. Dia manfaatin itu buat ngadu domba. Kalau Pertiwi sama Rajawali ancur, Kalingga bakal nguasain wilayah Jakarta Selatan. Jalur narkoba, jalur malak, semuanya."
Wajah Roseanna memucat. "Narkoba? Di wilayah sekolah gue?"
"Mereka nggak main bersih kayak kita, Rose," kata Fattah serius. "Mereka mafia beneran."
Suasana meja mendadak hening dan mencekam.
Tiba-tiba, Lia (yang duduk di sebelah Ilham karena kursinya cuma sisa di situ) bersuara.
"Jaket," kata Lia sambil ngaduk Cola.
"Hah?" Ilham nengok. "Jaket gue? Masih di lo kan?"
"Bukan jaket lo, Botak," Lia memutar bola mata. "Maksud gue... jaket pelaku yang nyerang Aqeela. Kalau itu jaket KW, pasti ada yang jual atau bikin. Kita cari pembuatnya."
"Cerdas," puji Fattah. "Oliver, lo bisa lacak konveksi di sekitar sini yang nerima orderan satuan?"
"Bisa, Bos. Tapi butuh waktu."
"Gue bisa percepat," potong Aqeela. Dia mengangkat tangan kanannya yang penuh cincin berlian. "Gue kenal semua pemilik konveksi di Jaksel. Papah punya saham di sana. Gue bisa minta data pesanan jaket model Vanguards dalam seminggu terakhir."
Anak-anak Rajawali melongo. The Power of Orang Dalem.
"Gila..." bisik Harry. "Neng Aqeela, angkat aku jadi anak angkatmu dong."
"Jangan, Har. Nanti kamu dijual lagi," canda Aqeela.
Ilham menyenggol lengan Lia pelan. "Ide lo boleh juga."
"Gue emang pinter," jawab Lia angkuh. "Nggak kayak lo, taunya cuma otot."
"Yee, songong," Ilham mengambil kentang goreng dari nampan Lia. "Minta satu. Pajak duduk sebelah orang ganteng."
"Ganteng dari Hongkong? Pala lo licin kayak bola bekel," cibir Lia, tapi dia membiarkan Ilham mengambil kentangnya. (Sebuah kemajuan besar dalam hubungan diplomatik mereka).
Roseanna berdiri. Dia mengulurkan tangan ke arah Fattah.
"Oke. Kita sepakat. Musuh kita Kalingga," kata Roseanna tegas. "Gencatan senjata resmi dimulai. Sampe Kairos ketangkep."
Fattah berdiri, membersihkan tangannya yang berminyak ke celana (Roseanna meringis liatnya), lalu menjabat tangan Roseanna.
"Sepakat, Tuan Putri. Tapi abis ini... lo yang bayar makanannya ya. Dompet gue ketinggalan di... masa lalu."
Roseanna menghela napas panjang, tapi dia tersenyum tipis. "Dasar gembel. Yaudah, pesen apa aja yang kalian mau. Aqeela yang bayar."
"YESS!! NAMBAH AYAM LIMA!!" teriak Mohan bahagia.
Harry langsung lari ke kasir. "Mbak! Paket Happy Meal sepuluh biji! Mainannya yang Power Rangers ya!"
Aqeela cuma ketawa-ketawa sambil ngeluarin Black Card.
Di tengah tawa dan kunyahan ayam goreng itu, sebuah aliansi terkuat di Jakarta Selatan resmi terbentuk. Savage Royalty (Gabungan Royals dan Vanguards) lahir di atas meja penuh saus sambal.
Tapi mereka tidak sadar, di luar kaca jendela McD, sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap sedang mengawasi mereka.
Di dalam mobil itu, Kairos sedang menghisap rokok, menatap keakraban Roseanna dan Fattah dengan tatapan membunuh.
"Wah... tikus-tikusnya udah bersatu," gumam Kairos. "Bagus. Sekalian gue bakar satu kandang."
Kairos mengambil HP-nya.
"Halo? Julian," sapa Kairos lewat telepon.
Di seberang sana, suara Julian A
dhitya (Tunangan Roseanna) terdengar dingin.
"Gimana? Rencana adu domba lo gagal?"
"Gagal total. Mereka malah collab," jawab Kairos. "Tapi tenang, Bos. Gue punya Rencana B."
"Apa itu?"
"Pecah belah dari dalem," Kairos menyeringai. "Gue denger, si Ilham naksir temennya Roseanna. Dan si Fattah... kayaknya mulai ada rasa sama tunangan lo."
Hening di seberang telepon. Aura membunuh Julian terasa bahkan lewat sinyal seluler.
"Hancurkan Fattah," perintah Julian. "Bikin dia menderita. Gue nggak peduli caranya."
"Siap, Bos. Transferannya jangan lupa."
Kairos menutup telepon.
Perang baru saja naik level. Bukan lagi soal wilayah, tapi soal hati dan pengkhianatan.