Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Sebuah Tawaran
Layar komputer yang sudah berjam-jam menyala itu akhirnya mati juga. Kulirik jam di tangan, jam menunjuk pukul 21.00 malam. Rasa kantuk begitu kentara. Seluruh otot-otot tubuhku nyaris kaku. Aku menggeliat, memastikan bunyi *krek* itu terdengar di telinga.
Suara ketikan keyboard setiap pegawai di kantor, satu persatu menghilang. Semua sudah tampak sepi. Hanya sisa aku dan beberapa yang kini sudah berlalu menuju ruangan CEO. Mungkin sedang meminta tanda tangan untuk berkas-berkas yang telah diselesaikan.
"Lin! Duluan, ya. Gue dijemput Rey. Besok, kita pulang bareng. Oke!" Suara itu ... milik Kayla. Ia adalah temanku satu-satunya di kantor ini. Tak ada yang benar-benar mau berteman denganku selainnya.
Aku mengangguk singkat. Kemudian melambaikan tangan ke arahnya yang kini turut membalas lambaian tanganku.
"Hati-hati di jalan, ya. Jangan pacaran dulu! Langsung pulang!" ucapku dengan nada sedikit berteriak.
"Sok ngatur deh, lu! Makanya, cari pacar! Noh!" Ia menunjuk ke arah salah satu rekan kerjaku yang kini sedang fokus di depan layar komputer. Lantas, aku menggeleng dengan cepat. Jujur saja, aku kehilangan minat untuk jatuh cinta. Tak tahu esok.
Tiba-tiba ... mataku mendadak buram. Sudah tiga tahun lamanya bekerja di depan layar monitor. Sehingga menuntutku untuk harus mengeluarkan uang demi sebuah kacamata untuk kestabilan penglihatanku. Banyak yang menyuruhku menabung untuk masa depan. Tapi ... apa itu menabung. Aku tak mengenalnya karena ekonomi keluarga yang selalu menjerit.
Beginilah nasib menjadi karyawan loyal. Demi naik jabatan, aku rela melakukan apa pun asal bos senang. Semua berawal dari Ibu yang terus mendesakku untuk bekerja lebih giat lagi agar kebutuhan ekonomi terpenuhi. Ya, nyatanya memang terpenuhi. Tapi, hanya untuk sesuap nasi. Sementara kehidupan keras di Kota Jakarta, selalu menjadi momok bagiku.
Aku Adelin. Adelin Azzura. Aku seorang anak dari tiga bersaudara. Satu adikku wafat karena sakit saat ia masih berusia balita. Kini, tinggal aku dan satu adik laki-laki yang kecanduan narkoba.
Bagiku, hidup bagai belati tajam dua sisi yang selalu menancap di manapun aku berdiri. Sehingga hal itu mampu membuatku terkadang rapuh dan patah dalam satu waktu. Hidupku penuh dengan dera. Walau tetap kujalani dengan sisa napas yang kuharap terus memiliki jiwa yang waras. Karena jika aku tak lagi waras, maka ... siapa yang akan menafkahi Ibu?
Aku Adelin. Hidup dari keluarga sederhana yang jauh dari kemewahan. Tak banyak yang memujiku cantik. Tapi, lekuk tubuh yang tak mudah kusembunyikan, cukup menggoda iman lelaki. Walau aku sudah membalutnya dengan baju yang longgar dan jilbab yang, ya tak begitu menjulur ke dada. Tapi semestinya, itu mengurangi tatapan kaum Adam bukan? Sudahlah, terkadang aku lebih peduli uang daripada lelaki.
Detik jam terus berputar, saat aku membereskan segala perkakasku di meja kerja. Tiba-tiba ... seseorang menepuk pundakku.
"Adelin! Pulang bareng, yuk!" Dimas—seorang pria idaman di kantor, yang tadi ditunjuk Kayla untuk menjadi pacarku, kini mencoba merayuku. Entah mengapa aku kurang begitu tertarik dengannya.
Aku membalas dengan menggelengkan kepala. Sesekali menepis rasa tak nyaman itu dengan senyuman di sudut bibir yang hanya terangkat sedikit. Bagai tak ikhlas dalam menebarnya.
"Aku ada kegiatan setelah ini. Duluan saja!" jawabku dengan nada tegas, tanpa sama sekali mengalihkan pandangan ke arahnya. Mataku sibuk menatap layar monitor sedari tadi.
"Biar aku antar!" Dimas memaksa. Tatapannya itu, membuatku semakin risi. Seolah ada mantra gelap di matanya.
Kualihkan pandanganku pada tumpukan berkas di atas meja kantor. "Ha ... ini. Ada banyak yang mau dikerjakan. Silakan duluan!"
"Ho, okay." Dimas berlalu. Meninggalkanku seorang diri di kantor yang mulai sepi karyawan. Ya, hanya ada aku dan CCTV di ruangan ini. Bersama beberapa office boy yang lalu lalang membersihkan area kerja.
"Pak Thomas ada di mana?" tanyaku pada seorang office boy yang berada di meja sebelah.
"Ada di ruangan, Mbak," jawabnya lembut seraya menunjuk dengan jempolnya ke arah ruangan Pak Thomas. CEO galak yang begitu dramatik.
Kulangkahkan kaki menuju ruangan tersebut. Ruangan yang mulai redup, hanya sisa lampu kuning temaram di meja kerjanya.
Tok ... tok ... tok ....
Aku berdiri di balik pintu. Menanti izin darinya untuk masuk.
"Masuk!" Seorang pria paruh baya, bersuara bariton menyahut dari dalam. Kulangkahkan kaki, membuka pintu perlahan.
"Permisi, Pak." Aku menebar senyuman. Kemudian menaruh berkas-berkas yang dari tadi kukerjakan ke meja kerjanya. "Ini, Pak. Saya izin minta tanda tangan Bapak."
Pak Thomas menatapku dengan tatapan berbeda. Bukan. Ini bukan tatapan tajam lagi galak. Melainkan tatapan penuh maksud. Bulu romaku spontan bergidik. Aku tersenyum canggung padanya. Senyuman yang tanpa kusadari, telah meracuni hatinya.
Ia membalas senyumanku. Namun, seperti memiliki makna lain di balik senyumannya. "Kamu, sudah berapa lama kerja?"
"Tiga tahun, Pak," jawabku tegas dan dengan yakin. Aku berdiri sembari memerhatikan pena yang mulai menandatangani berkas-berkas tersebut.
"Ah! Sudah," jawabnya singkat. Ia lantas menaruh pena itu di atas meja. Kemudian, ia memerintahkan sesuatu yang berada di luar nalarku.
"Kalau kamu tidak keberatan, bisa berputar?" suaranya datar, tapi tatapannya membuatku bertanya-tanya.
"Berputar!" perintahnya sekali lagi. Entah mengapa, aku dengan polos mengikuti perintahnya. Di sela aku berputar, tiba-tiba ia berkata ....
"Stop!"
Aku spontan berhenti. Kepalaku pusing hingga sempoyongan. Cukup lama ia membiarkanku dalam kondisi berputar.
"Ada apa ya, Pak?" tanyaku penasaran. Sesekali memegang sisi kepalaku yang terasa pusing.
Dia berdiri, lalu mendekat. Langkah kakinya bagai instrumen film horor layar lebar. Kemudian ia bersuara dengan tegas, dan berwibawa.
"Kamu, ingin naik jabatan?" Aku mendengar dengan jelas tawaran itu. Terdiam cukup lama. Seolah menelaah isi pertanyaan tersebut.
"Iya, Pak," jawabku setelah ratusan detik berlalu.
"Baik, saya akui kinerja kamu bagus. Tapi, kamu tahu kan? Naik jabatan butuh waktu yang lama?"
Dahiku mengerut. Dengan kepala sedikit miring ke kanan, dan mata yang menyipit seolah ribuan tanya melekat di kepala.
"Maksudnya, Pak?"
"Ya, saya punya cara instan untuk itu." Ia berjalan mengelilingiku. Tiba-tiba ia berhenti tepat di hadapanku.
"A ... apa, Pak?" tanyaku penasaran. Binar mataku tak bisa menolak. Semua angan mengenai jabatan, uang, juga kemenangan dunia mulai menyentuh ingatan.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi WA masuk ke ponselku. Aku membukanya segera, di sela menanti jawaban Pak Thomas.
"Nak, bisakah Ibu minta lagi seratus? Buat kebutuhan beli beras." Mataku memanas, seolah perih membaca isi pesan itu. Ibu, ia tengah berjuang hidup saat ini. Harapan itu, ada padaku.
Pak Thomas tersenyum. Senyuman yang menurutku memiliki arti. Tiba-tiba ia berbisik lembut di telingaku ...
"Temani saya malam ini."
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?