Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Alyssa yang sedang duduk di kamar tiba-tiba menoleh saat ponselnya berdering.
Layar ponsel memperlihatkan panggilan tanpa nama.
Tidak ada kontak.
Tidak ada nomor yang dikenali.
Alis Alyssa sedikit berkerut.
Namun setelah beberapa detik, ia tetap mengangkat panggilan itu.
“Hallo…” sahutnya pelan.
Di seberang sana, suara pria terdengar rendah dan tenang.
“Nona Liu,” ucap pria itu langsung. “Besok adalah hari ketiga. Bagaimana dengan janjimu?”
Tubuh Alyssa langsung menegang. Ia mengenali suara itu.
“Tuan Lucien?” tanyanya pelan.
“Benar,” jawab Lucien singkat.
“Aku berharap besok kau dan Darius sudah bercerai.”
Nada bicaranya datar. Jelas mengandung tekanan yang tidak bisa diabaikan.
Alyssa menggenggam ponselnya sedikit lebih erat.
“Tuan… apa yang aku janjikan padamu akan aku tepati,” jawabnya tenang. “Tapi berikan aku sedikit waktu lagi.”
Matanya perlahan menyipit.
“Aku akan menceraikannya,” lanjutnya pelan, “tapi bukan dengan tangan kosong.”
Di sisi lain sambungan, Lucien tampak tidak terkejut sedikit pun. Seolah ia memang sudah menduga jawaban itu.
“Asistenku sudah tiba di luar rumahmu,” ucap Lucien akhirnya.
“Turun. Kita akan bertemu.”
Deg.
Wajah Alyssa langsung berubah.
“Kenapa asistenmu datang ke sini?” tanyanya cepat, nada suaranya mulai khawatir. “Bagaimana kalau suamiku melihatnya?”
Lucien tertawa kecil.
Pendek.
Dingin.
“Dia yang berselingkuh,” jawabnya tenang. “Bukan kau yang salah.”
Kalimat itu membuat Alyssa terdiam.
“Aku sedang menunggumu,” lanjut Lucien sebelum sambungan telepon terputus.
Tut.
Alyssa menatap layar ponselnya beberapa detik.
Tatapannya perlahan berubah rumit.
Lalu…
Ia bangkit dari duduknya.
Beberapa saat kemudian…
Pintu mansion terbuka perlahan.
Alyssa keluar seorang diri.
Di kejauhan, sebuah mobil hitam mewah sudah terparkir rapi di depan gerbang.
Mesin mobil masih menyala.
Aura dingin langsung terasa hanya dari melihatnya.
Saat Alyssa mendekat, seorang pria berpakaian hitam segera turun dari kursi depan.
Ia membungkuk hormat sebelum membuka pintu belakang mobil.
“Nona Liu,” ucap pria itu sopan. “Tuan sedang menunggu Anda.”
Alyssa menatap bagian dalam mobil sejenak.
Gelap.
Sulit melihat dengan jelas.
“Baiklah,” jawab Alyssa pelan.
Ia kemudian masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup perlahan.
Klik.
Dan mobil itu pun mulai bergerak meninggalkan mansion
Sosok Lucien Fan duduk bersandar dengan tatapan tajam yang sulit ditebak.
Pria itu masih sama seperti sebelumnya.
Dingin.
Menekan.
Dan berbahaya.
Tatapannya perlahan jatuh pada Alyssa.
“Kau terlihat lebih tenang dibanding tiga hari lalu,” ucap Lucien pelan.
Alyssa tersenyum tipis.
“Karena sekarang…” jawabnya perlahan, “…aku sudah tidak berniat mempertahankan pernikahan itu lagi.”
“Perlu bantuanku?” tanya Lucien pelan.
Alyssa duduk tegak di sampingnya. Tatapannya lurus ke depan, tenang namun penuh sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Aku akan menyelesaikannya sendiri,” jawab Alyssa tanpa ragu.
Lucien tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh perlahan ke arah wanita itu.
Tatapannya tajam.
Dalam.
Membuat suasana di dalam mobil mendadak terasa sempit.
“Kalau dia menolak bercerai…” ucap Lucien pelan sambil sedikit mendekat, “apakah kau akan menerimanya lagi?”
Jarak mereka begitu dekat.
Alyssa bisa merasakan tekanan dari sorot mata pria itu.
Beberapa detik—
Keduanya saling menatap tanpa bicara.
Namun tidak ada keraguan di mata Alyssa.
“Tidak akan,” jawabnya akhirnya.
Nada suaranya tenang.
“Tidak ada maaf untuk seorang pengkhianat.”
Lucien terus menatapnya beberapa saat, seolah memastikan jawaban itu bukan sekadar emosi sesaat.
Lalu…
Sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Aku percaya ucapanmu,” katanya rendah. “Kalau butuh bantuanku… beritahu saja.”
Tiba-tiba—
Ponsel Alyssa kembali berdering.
Layar menampilkan nama yang langsung membuat matanya sedikit dingin.
Jean.
Ibu mertuanya.
Alyssa mengangkat panggilan itu.
“Hallo, Ma.”
Di seberang sana, suara Jean langsung terdengar—tajam dan penuh ketidaksabaran.
“Alyssa, besok datang ke rumah,” ucap Jean tanpa basa-basi. “Kakek ingin bertemu denganmu dan Darius.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada enggan.
“Selain itu, paman Darius sudah pulang. Jadi sebagai menantu… kau harus hadir.”
Alyssa tersenyum tipis.
“Baik,” jawabnya singkat.
“Kalau bukan karena permintaan Kakek Darius, aku tidak akan memintamu datang,” sindirnya dingin.
Tatapan Alyssa perlahan berubah.
“Tenang saja,” jawab Alyssa tenang. “Kalau bukan karena Kakek… aku juga tidak ingin pulang.”
Deg.
Suasana di ujung telepon langsung berubah.
“Apa maksudmu?” tanya Jean dengan nada kesal.
Tanpa menjawab lagi. Alyssa langsung memutus panggilan itu.
Tut.
Keheningan memenuhi mobil beberapa saat.
Lucien yang sejak tadi duduk diam jelas mendengar seluruh percakapan mereka.
Ia menyandarkan tubuhnya perlahan, lalu menatap keluar jendela sebelum akhirnya berkata,
“Sepertinya… mertuamu tidak pernah benar-benar menerimamu.”
Alyssa menunduk sebentar, lalu tersenyum tipis penuh ironi.
“Dia hanya peduli pada anaknya,” jawab Alyssa pelan.“Aku hanyalah orang asing bagi mereka.”
Lucien menoleh kembali padanya.
Tatapannya kali ini lebih dalam.
“Tenang saja,” ucapnya perlahan. “Situasinya akan segera berbalik.”
Alyssa mengerutkan alis tipis.
“Jean dan Darius…” lanjut Lucien dingin, “tidak akan bisa berkutik di hadapanmu.”
Deg.
Alyssa langsung menoleh ke arah pria itu.
Sorot matanya dipenuhi kebingungan.
“Apa maksudmu?” tanyanya pelan.
ayooooo