"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara dibalik rak buku
Setelah perawat kembali dan memastikan kondisi kaki Baskara sudah jauh lebih baik, mereka pun bersiap menuju Gedung Perpustakaan Pusat. Namun, begitu mendekati area perpustakaan yang mulai ramai oleh mahasiswa baru, suasana yang tadinya santai di dalam mobil dan klinik seketika berubah.
Baskara memarkirkan mobil sportnya di area parkir khusus dosen agar tidak terlalu mencolok. Sebelum turun, ia menoleh ke arah Lara yang tampak kembali gugup.
"Lara," panggil Baskara. "Masuklah lebih dulu lewat pintu samping. Saya akan lewat pintu utama setelah ini. Kita harus kembali ke 'peran' masing-masing agar kamu tidak tidak merasa terganggu oleh omongan orang lain."
Lara mengangguk patuh. "Iya, Kak. Terima kasih untuk yang tadi."
Lara segera turun dan berjalan cepat menuju pintu samping perpustakaan, bergabung dengan kerumunan maba kelompoknya yang tampak sedang asyik mendengarkan penjelasan dari panitia lain. Tak lama kemudian, pintu utama perpustakaan terbuka lebar. Baskara masuk dengan langkah yang dibuat tetap tegak—meski sebenarnya masih sedikit nyeri—memberikan kesan wibawa yang tak tergoyahkan.
Randy yang melihat kehadiran Baskara langsung menghampiri. "Woi, Bos! Akhirnya muncul juga. Gimana kakinya? Dan... asisten medis lo mana?" bisik Randy sambil celingukan.
Baskara hanya melirik dingin. "Fokus ke materi, Ran. Semua lancar, kan?"
Sementara itu, dari balik rak buku besar kategori manajemen, Lara mencuri pandang ke arah depan. Ia melihat Baskara yang sedang berdiri di podium, memberikan instruksi dengan wajah datar dan tegas—sangat berbeda dengan pria yang tadi bercanda dengannya soal dosen makroekonomi.
Lara tersenyum tipis di balik buku panduan PKKMB-nya. Ia merasa memiliki sebuah rahasia kecil yang hanya diketahui olehnya dan sang Ketua Panitia. Namun, kedekatan mereka ternyata tidak sepenuhnya luput dari perhatian. Salah satu teman satu kelompok Lara menyenggol lengannya.
"Ra, tadi bukannya kamu disuruh ke klinik? Kok baliknya barengan sama jam datangnya Kak Baskara? Mana wajahmu merah banget lagi," bisik temannya itu penuh selidik.
Lara tersentak. "Eh? Enggak, itu... tadi antreannya lama!" jawab Lara cepat, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
Suasana di dalam perpustakaan yang tadinya riuh rendah dengan bisikan mahasiswa langsung senyap saat Baskara melangkah ke depan podium. Meskipun kakinya masih terasa sedikit berdenyut, ia berdiri dengan tegak, memancarkan aura pemimpin yang membuat semua mata tertuju padanya.
Baskara mengetuk mikrofon pelan, memastikan perhatian seluruh mahasiswa baru terpusat padanya. Di barisan kelompok 3, Lara menahan napas, menatap seniornya itu dengan perasaan yang campur aduk antara kagum dan gugup.
"Perhatian semuanya," suara Baskara menggema berat dan berwibawa di antara rak-rak buku tinggi. "Saya punya pengumuman penting terkait agenda PKKMB besok. Besok bukan hari biasa, karena bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kampus yang ke-50."
Gumam antusias mulai terdengar dari bangku peserta. Baskara melanjutkan, "Karena ini adalah tahun emas, pihak rektorat meminta seluruh mahasiswa baru untuk ikut serta dalam perayaan besar. Tidak ada materi di dalam kelas. Besok akan diadakan festival budaya, panggung seni, dan puncaknya adalah Gala Dinner di malam hari."
Randy yang berdiri di samping podium bersorak kecil, memicu tepuk tangan meriah dari para mahasiswa. Namun, mata Baskara tidak berpindah dari satu titik di barisan tengah—tempat Lara duduk.
"Tapi ada satu syarat," lanjut Baskara, membuat suasana kembali hening. "Setiap kelompok wajib mengirimkan satu perwakilan untuk mendampingi panitia inti dalam prosesi pembukaan. Dan karena kelompok 3 adalah kelompok dengan laporan administrasi paling rapi..." Baskara menjeda kalimatnya, senyum tipis yang sangat samar muncul di wajahnya.
"Lara Wijaya, sebagai ketua kelompok 3, kamu saya tugaskan untuk mendampingi saya di podium kehormatan besok."
Lara hampir menjatuhkan pulpennya. Seluruh mata di ruangan itu kini beralih menatapnya. Ada yang menatap iri, ada yang kagum, dan ada yang mulai berbisik-bisik. Lara hanya bisa menunduk dengan wajah yang kini merah padam, menyadari bahwa "persembunyiannya" baru saja dihancurkan secara resmi oleh Baskara di depan semua orang.
Baskara menutup pengumuman dengan nada final, "Persiapkan diri kalian. Besok bukan hanya tentang kampus, tapi tentang bagaimana kalian menunjukkan kualitas diri di acara besar. Sekian."