Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Makam Kuno (bagian akhir)
Meski telah sepakat untuk bekerja sama, keduanya tetap tidak saling memercayai. Yang satu adalah penghuni yang di balut keangkuhan surgawi, sedangkan yang satunya lagi adalah penghuni neraka yang penuh dengan tipu daya kelam.
Dua makhluk dengan asal-usul yang bertolak belakang, dipertemukan oleh tujuan yang berbeda, namun terikat oleh satu kebutuhan mendesak yang sama 'kebebasan.'
"Ingat, iblis," geram Jiu Xiao sambil melangkah maju, membiarkan jubah perangnya berkibar tertiup angin yang entah datang dari mana. "jika kamu hanya menggunakanku untuk kepentinganmu..."
Belum habis kata-kata Jiu Xiao, Zhao Yun telah memotongnya dengan tawa hambar yang seolah meremehkan sang Dewa perang.
"Hahahaha... Pantas saja para dewa menyebutmu 'si kepala besi', Jiu Xiao, " ejek Zhao Yun. Matanya berkilat jenaka namun dingin. "pikirkanlah dengan logika surgawimu itu, jika aku menipumu sekarang, bukankah itu hanya akan mempersulit jalanku untuk kembali ke neraka? Aku tidak sebodoh itu untuk mencari masalah dengan para Dewa."
Jiu Xiao terdiam sejenak, menimbang-nimbang kejujuran di balik kata-kata sang iblis.
"Baiklah..." jawab Jiu Xiao akhirnya. Suaranya berat, penuh dengan kecurigaan yang belum padam. "Aku akan memegang kata-katamu. Tapi... Aku harus menyandera temanmu sebagai jaminan."
Selesai berucap, Jiu Xiao mengangkat tangannya ke udara. Seketika, guntur meledak di dalam aula dan kilatan petir membentuk sebuah sangkar petir raksasa yang langsung mengurung Mo Yan. Jeruji-jeruji itu berderik tajam, siap menghanguskan siapa pun yang mencoba menyentuhnya dari dalam maupun luar.
Mo Yan terkesiap, ia mundur hingga punggungnya menempel pada jeruji petir yang dingin namun menyengat. "Zhao Yun ! Apa-apaan ini?!" serunya panik.
Zhao Yun melirik ke arah Mo Yan dengan ekspresi yang sulit di baca. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya sebuah tatapan datar yang justru membuat suasana semakin mencekam. Ia kembali menatap Jiu Xiao.
"Kau sangat berhati-hati, Jendral. Sikap yang bagus untuk seseorang yang sering di khianati." ucap Zhao Yun tenang, sama sekali tidak terlihat keberatan rekan perjalanannya di jadikan sandera.
"Mo Yan, tenanglah," lanjut Zhao Yun tanpa menoleh. "Tetaplah di dalam sana. Anggap saja itu perlindungan gratis dari Dewa perang agar kau tidak terinjak oleh Taotie Zhen nanti."
Jiu Xiao mendengus, merasa sedikit puas karena berhasil memegang kendali atas sesuatu. "Sekarang, iblis, tunjukkan jalanmu. Bagaimana cara memancing makhluk rakus itu keluar dari persembunyiannya?"
"Jangan terburu-buru. rencana ini membutuhkan ketelitian dan waktu yang tidak sebentar. Ini bukan perkara yang selesai dalam sehari," kata Zhao Yun, suaranya tenang namun menekan.
"Pertama, aku harus memastikan sejauh mana hubungan gadis ini dengan Taotie Zhen. Kedua, aku harus melacak tempat persembunyian makhluk rakus itu yang misterius. Dan yang terakhir...aku akan menyusun jebakan sempurna untuk menyeretnya masuk ke makam ini, dan masalah selesai."
"Baiklah, kita sepakat," kata Jiu Xiao dengan nada suara yang mulai merendah, sisa-sisa amarahnya kini meredup menjadi kepasrahan yang dingin. Ia kemudian berbalik, langkahnya terdengar berat di atas lantai batu saat ia menuju kursi besar yang tampak seperti singgasana kuno di ujung aula.
"Pergilah..." ucapnya singkat tanpa menoleh sedikit pun.
Zhao Yun menghampiri Mo Yan yang masih terkurung di dalam penjara petir. Ia menatap rekannya itu dengan tatapan datar, namun ada kilat keyakinan di matanya. "Tenanglah, aku tidak akan lama," bisiknya cukup pelan agar hanya Mo Yan yang mendengarnya.
"Apa rencanamu?" tanya Mo Yan, suaranya bergetar hebat matanya menatap jeruji petir di sekelilingnya dengan ngeri, seolah ia sudah bisa merasakan nasib sial yang akan menimpanya di dalam makam terkutuk ini. "Kau tidak akan benar-benar akan meninggalkanku bersama dengan Dewa gila itu, kan?"
Zhao Yun tidak menjawab dengan kata-kata yang menenangkan. Ia justru mengulurkan tangan, ujung jarinya berhenti hanya seujung kuku dari jeruji petir yang berderik.
"Mo Yan, meski temperamennya buruk, ia tidak akan berani melukaimu. Dewa sombong seperti dia akan sangat merasa malu jika para dewa di khayangan tahu dia menggunakan iblis dari kalangan bawah sebagai pelampiasan amarahnya. Baginya, martabat adalah segalanya."
Zhao Yun menatap mata Mo Yan yang ketakutan dengan sorot dingin. "Gunakan waktumu di sini untuk tetap hidup. Itu satu-satunya tugasmu."
...****************...