Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
REGENERASI JIWA
Suasana di dalam ruang operasi berubah menjadi kekacauan yang terkendali. Suara beeping dari monitor jantung Clarissa terdengar cepat dan tidak beraturan, memekakkan telinga setiap orang yang ada di sana. Sel-sel baru dari Paman Rendra, yang seharusnya menjadi penyelamat, justru dianggap sebagai ancaman oleh sisa-sisa sistem imun Clarissa yang sedang sekarat.
"Tekanan darah 70/40 dan terus turun!" teriak seorang perawat.
"Dosis kedua epinefrin, sekarang!" perintah dr. Kusuma, keringat bercucuran di dahinya meski ruangan itu sangat dingin.
Di ambang kesadarannya, Clarissa merasa seperti sedang tenggelam di lautan yang gelap dan sangat dingin. Ia ingin menyerah. Rasa sakit di dadanya seperti dihimpit beton raksasa. Mungkin ini saatnya, pikirnya. Mungkin ini hukuman terakhir untuk semua kesombonganku.
Namun, di tengah kegelapan itu, ia mendengar suara-suara yang menariknya kembali. Suara Bastian yang memanggilnya dengan isak tangis, suara Adrian yang membisikkan janji tentang masa depan, dan satu suara yang paling mengejutkannya: suara Pak Gunawan yang sedang berdoa dengan suara gemetar di luar pintu.
"Clarissa, jangan menyerah!" suara dr. Kusuma seolah datang dari dimensi lain.
Di luar, Pak Gunawan luruh ke lantai. Pria yang selama ini hanya mengandalkan logika dan kekuatan uang itu kini bersimpuh, memohon pada Tuhan dengan kerendahan hati yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Bastian duduk di samping ayahnya, memegang pundak pria itu. "Pa, Clarissa kuat. Dia sudah bertahan sejauh ini."
Tiba-tiba, pintu ruang operasi terbuka. Dr. Kusuma keluar dengan wajah yang kuyu namun ada binar lega di matanya. "Krisis terlewati. Tubuhnya mulai menerima transplantasi itu. Sekarang, kita memasuki masa paling kritis: pemulihan total."
Pak Gunawan menangis sesenggukan, sementara Bastian memeluk ayahnya dengan erat. Kebencian bertahun-tahun seolah luruh bersama air mata mereka di koridor rumah sakit malam itu.
Dua minggu berlalu. Clarissa masih di ruang isolasi, namun wajahnya mulai menunjukkan warna kehidupan. Pipi yang tadinya kempot kini mulai berisi, meski kepalanya kini benar-benar plontos tanpa sehelai rambut pun.
Sore itu, melalui interkom dan kaca pembatas, Clarissa melihat sosok yang tidak ia duga akan datang sendirian: Maya.
"Hai, Clar," sapa Maya lembut.
Clarissa menempelkan tangannya ke kaca, matanya berkaca-kaca. "May... kenapa lo masih mau datang? Setelah semua yang gue lakuin... gue nyiram lo, gue hina lo..."
Maya tersenyum, menyentuh kaca di posisi yang sama dengan tangan Clarissa. "Karena aku tahu Clarissa yang asli itu bukan yang di kampus. Clarissa yang asli adalah orang yang sekarang sedang berjuang untuk hidup. Aku sudah maafkan semuanya, Clar. Sungguh."
"Terima kasih, May," isak Clarissa. "Gue janji, kalau gue keluar dari sini, gue bakal jadi orang pertama yang bela lo kalau ada yang berani macam-macam."
Di kamar sebelah, Paman Rendra masih dalam masa pemulihan setelah pengambilan sumsum tulang belakangnya. Pak Gunawan masuk ke kamar adiknya itu dengan langkah ragu.
"Rendra," panggil Pak Gunawan.
Rendra menoleh, tersenyum lemah. "Gimana ponakanku? Dia baik-baik saja?"
Pak Gunawan duduk di kursi samping tempat tidur. "Dia membaik. Terima kasih, Rendra. Dan... maafkan aku. Selama ini aku mengusirmu, menghinamu, padahal kamulah yang menyelamatkan putriku."
"Sudahlah, Kak. Kita keluarga. Uang bisa dicari, tapi saudara cuma satu," jawab Rendra tulus. Pak Gunawan menggenggam tangan adiknya, meruntuhkan ego Mahendra yang selama ini menjauhkan mereka.
Malam harinya, Adrian datang membawa kejutan. Ia tidak diperbolehkan masuk, tapi ia berdiri di taman rumah sakit yang bisa terlihat dari jendela kamar Clarissa. Ia membawa sebuah lampu sorot kecil dan sebuah papan besar.
Di papan itu tertulis: "CAN'T WAIT TO SEE THE NEW QUEEN. GET WELL SOON, CLAR!"
Clarissa yang melihat itu dari tempat tidurnya tertawa kecil di tengah air matanya. Ia menyadari bahwa ia tidak butuh geng The Diamonds yang palsu, atau pujian karena kecantikannya yang fana. Ia hanya butuh orang-orang yang tulus mencintainya apa adanya.
Ia mengambil ponselnya yang sudah lama tidak ia sentuh, lalu mengetik pesan singkat untuk Adrian:
"Gue botak, Dri. Lo beneran masih mau lihat gue?"
Detik berikutnya, balasan masuk:
"Mahkota lo bukan di rambut lagi, Clar. Tapi di hati lo. Dan gue rasa, itu jauh lebih cantik."
Clarissa memeluk ponselnya, menatap langit malam dari balik jendela rumah sakit. Malam yang dulu ia takuti karena dianggap membawa maut, kini terasa seperti awal dari fajar yang baru. Ia tahu perjuangannya masih panjang, kemoterapi lanjutan masih menanti, namun ia tidak lagi takut.
Sang Ratu telah lahir kembali. Kali ini, ia tidak memerintah dengan ketakutan, melainkan dengan harapan.