Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Saat Aku Kehilangan Namaku
Lin Qingyan tidak tidur semalaman.
Mobil membawa mereka ke sebuah penthouse rahasia di pusat kota menjelang dini hari. Tempat itu berada di lantai tertinggi gedung pribadi milik Gu Beichen, dijaga lebih ketat daripada bank nasional, dan memiliki pemandangan kota yang indah.
Sayangnya, pemandangan tidak membantu saat identitasmu baru saja dihancurkan.
Ia mondar-mandir di ruang tamu sejak pukul tiga pagi.
Kadang duduk.
Lalu berdiri lagi.
Kadang menatap jendela.
Lalu ingin melempar diri dari jendela secara dramatis, tapi sadar lantainya terlalu tinggi.
Di dapur terbuka, Beichen duduk santai sambil membaca laporan di tablet dan minum kopi seolah malam tadi hanya acara barbeque.
Qingyan berhenti berjalan.
“Kau psikopat.”
Ia tidak mengangkat kepala.
“Selamat pagi juga.”
“Ini belum pagi.”
“Bagiku sudah.”
“Aku baru tahu mungkin aku anak eksperimen, diburu orang asing, dan punya ibu yang bukan ibuku.”
“Mm.”
“Mm?!”
Ia akhirnya menatapnya.
“Kau mau kopi?”
Qingyan menatap kosong beberapa detik.
Lalu mengambil bantal sofa dan melempar ke arahnya.
Beichen menangkap tanpa melihat.
“Refleksmu meningkat.”
---
Pukul tujuh pagi, Qingyan menyerah dan duduk di seberang meja dapur.
“Sekarang bicara.”
Beichen meletakkan tablet.
“Kau yakin?”
“Tidak. Tapi aku lebih benci tidak tahu.”
Ia mengangguk pelan.
“Nama Lin Qingyan kemungkinan bukan nama lahirmu.”
“Aku sudah curiga dari judul pembicaraan ini.”
“Dua puluh lima tahun lalu, keluarga Qin menjalankan proyek rahasia melalui jaringan medis swasta.”
“Keluarga Qin ini siapa?”
“Dulu salah satu keluarga paling berpengaruh di bidang farmasi dan bioteknologi. Kaya, pintar, dan moralnya fleksibel.”
“Kenapa selalu orang kaya yang jahat?”
“Karena orang miskin sibuk bertahan hidup.”
Qingyan memijat pelipis.
“Lanjut.”
“Mereka ingin menciptakan generasi penerus dengan kemampuan biologis di atas normal.”
“Manusia super?”
“Versi membosankan dari istilah itu, ya.”
“Dan aku salah satunya?”
“Mungkin satu-satunya yang berhasil.”
Sunyi turun perlahan.
Qingyan menatap meja marmer di depannya.
Semua masa kecilnya terasa seperti rumah yang tiba-tiba diketahui dibangun di atas pasir.
---
“Apa maksud berhasil?” tanyanya pelan.
Beichen menjawab tanpa dramatis.
“Kecerdasan tinggi. Adaptasi cepat. Daya tahan tubuh lebih baik. Respons stres tinggi.”
Qingyan mengangkat alis.
“Itu terdengar seperti deskripsi pekerja kantoran.”
“Kau lupa keras kepala.”
“Itu bawaan lingkungan.”
Ia terdiam lagi.
“Kalau begitu kenapa dibuang?”
“Tidak dibuang.”
Beichen menatapnya lurus.
“Kau diculik.”
Jantung Qingyan berdegup keras.
“Nenek Lan?”
“Mungkin.”
“Jadi wanita yang membesarkanku bukan ibuku... tapi penyelamatku?”
“Mungkin.”
“Kau sering sekali bilang mungkin.”
“Karena aku tidak menjual kepastian palsu.”
Menyebalkan.
Dan tetap masuk akal.
---
Han datang tepat pukul delapan membawa map tebal dan sarapan.
“Tuan.”
“Nyonya.”
Qingyan menatap nampan makanan.
“Aku tak lapar.”
Han menaruhnya tetap di meja.
“Orang krisis identitas tetap butuh kalori.”
Ia mulai menyukai pria ini secara tidak sehat.
Han menyerahkan map pada Beichen.
“Kami cek nama Dr. Elena Qin.”
Qingyan menegang.
Beichen membuka map lalu mendorongnya ke arah Qingyan.
Di dalam ada foto wanita muda berambut hitam dengan wajah tegas dan mata tajam.
Qingyan membeku.
Ia seperti melihat versi dirinya yang lebih dewasa.
Atau dirinya adalah versi muda wanita itu.
“Kapan foto ini diambil?” bisiknya.
“Dua puluh enam tahun lalu,” jawab Han.
“Status?”
“Hilang dalam kebakaran fasilitas penelitian.”
Qingyan menatap foto itu lama.
Entah kenapa dadanya sesak.
Ia tidak pernah mengenal wanita ini.
Tapi wajah itu terasa dekat secara brutal.
---
“Ada satu hal lagi,” kata Han.
“Nah, tentu saja ada,” gumam Qingyan.
Han melanjutkan.
“Fasilitas tempat kebakaran itu... sebagian sahamnya dimiliki keluarga Gu.”
Qingyan perlahan mengangkat kepala.
Ruangan mendadak sangat sunyi.
Ia menatap Beichen.
“Keluargamu?”
“Bisnis lama ayahku.”
“Kau tahu ini sejak awal?”
“Tidak semua.”
“Tapi sebagian?”
Beichen diam dua detik terlalu lama.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
Qingyan berdiri mendadak.
“Kau membawaku ke rumahmu, menyuruhku percaya padamu, lalu menyimpan fakta bahwa keluargamu terlibat?”
“Terlibat bisnis. Bukan operasi.”
“Kau tetap tahu!”
“Aku baru menghubungkan detailnya tadi malam.”
“Aku tidak peduli!”
Ia mendorong kursi ke belakang.
Suara keras memantul di ruangan.
Han perlahan mundur dua langkah. Insting bertahan hidup.
---
Qingyan berjalan ke jendela, punggungnya menghadap mereka.
Ia marah.
Pada keluarga Lin.
Pada keluarga Qin.
Pada Gu Beichen.
Pada dirinya sendiri karena mulai merasa aman di dekat pria itu.
“Berapa banyak lagi yang kau sembunyikan?” tanyanya lirih.
Beichen berdiri dan berjalan mendekat.
“Cukup banyak.”
“Setidaknya jujur.”
“Aku selalu jujur kalau ditanya benar.”
Ia berhenti beberapa langkah di belakangnya.
“Aku tidak tahu siapa dirimu waktu pertama bertemu.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku tahu satu hal.”
“Apa?”
“Kau target.”
Ia menoleh tajam.
“Romantis sekali.”
“Itu sebabnya kau tak boleh sendiri.”
---
Qingyan hendak membalas saat lift pribadi berbunyi.
Han menegang.
“Tidak ada jadwal tamu.”
Dua penjaga bergerak ke posisi.
Pintu lift terbuka.
Madam Gu keluar dengan gaun krem elegan dan ekspresi yang sama seperti hakim yang sedang kecewa pada umat manusia.
Di belakangnya dua pelayan membawa kotak teh.
Qingyan berkedip.
“Ibumu bisa masuk penthouse rahasia?”
Beichen datar.
“Aku menyesal memberinya akses lima tahun lalu.”
Madam Gu menatap sekeliling.
“Tempat ini tetap terasa dingin.”
“Selamat pagi, Ibu,” kata Beichen.
“Tidak.”
Ia menoleh pada Qingyan.
“Aku datang untuk melihat apakah kau kabur.”
Qingyan menyilangkan tangan.
“Belum sempat.”
“Bagus.”
Madam Gu duduk tanpa diundang karena memang tak butuh undangan.
Pelayan menyiapkan teh.
“Aku juga datang membawa kabar buruk.”
Han berbisik sangat kecil, “Tentu saja.”
---
Madam Gu menyesap teh.
“Keluarga Shen memutus kerja sama dengan grup kita.”
Beichen tak bereaksi.
“Baik.”
“Mereka menggandeng keluarga Qin.”
Kini Beichen menoleh.
Madam Gu meletakkan cangkir.
“Dan mereka mengumumkan pencarian publik terhadap seorang wanita bernama Lin Qingyan, dengan hadiah besar bagi pemberi informasi.”
Qingyan menatap kosong.
“Aku punya harga sekarang?”
Han melihat ponsel.
“Sudah viral.”
Ia menunjukkan layar.
Foto dirinya turun dari mobil bersama Beichen, foto di gerbang mansion semalam, bahkan foto lama saat bekerja di kantor kecil.
Di bawahnya tertulis:
DICARI: SAKSI KASUS KEBARAKAN FASILITAS QIN
“Bagus,” kata Qingyan datar. “Sekarang aku kriminal misterius.”
Madam Gu menatapnya.
“Kau lebih menarik daripada kukira.”
---
Beichen mengambil ponsel Han.
“Turunkan semua konten.”
“Sudah mulai, Tuan.”
“Beli media kalau perlu.”
“Sedang dilakukan.”
Qingyan menatap keduanya.
“Kalian menyelesaikan masalah seperti penjahat kaya.”
“Efisien,” jawab Beichen.
Madam Gu memandang Qingyan lebih lama.
“Aku tak suka drama. Tapi kalau keluarga Qin bergerak, artinya mereka takut.”
“Takut pada apa?” tanya Qingyan.
Madam Gu menjawab pelan.
“Takut pada apa yang kau ingat.”
Qingyan merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya.
“Aku tak ingat apa-apa.”
“Ingatan bisa dibangunkan.”
Beichen langsung berkata tegas.
“Tidak.”
Madam Gu menoleh.
“Kau tak bisa melindunginya dari semuanya.”
“Aku bisa mencoba.”
“Ayahmu juga pernah berkata begitu.”
Ruangan hening lagi.
Nama ayah yang sudah meninggal membawa sesuatu yang lebih berat dari pertengkaran biasa.
---
Ponsel Qingyan bergetar.
Nomor tak dikenal.
Semua mata tertuju padanya.
Ia mengangkat perlahan.
“Halo?”
Beberapa detik hanya suara napas.
Lalu suara wanita tua yang gemetar terdengar.
“Qing... Yan?”
Qingyan membeku.
Suara itu...
mustahil.
“Nenek Lan?”
Tangis kecil terdengar di seberang.
“Mereka menemukanku... jangan percaya siapa pun... terutama keluarga Gu—”
Sambungan terputus.
Qingyan menoleh perlahan ke Beichen.
Tatapannya berubah.
Bukan takut.
Bukan marah.
Tapi curiga.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertemu...
ia mundur satu langkah darinya.
BERSAMBUNG