NovelToon NovelToon
Gadis Manja Vs Pria Urakan

Gadis Manja Vs Pria Urakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy / Romantis / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:694
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.

Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.

Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.

Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.

Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.

Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.

Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9. aku rela berbagi ranjang

Ini adalah untuk yang kedua kalinya Maya berkunjung dan menginjakkan kakinya di kos khusus laki-laki. Sedangkan yang pertama adalah saat ia masih berpacaran dengan Andrew.

Maka dari itu Maya memiliki trauma tersendiri, karena di sanalah Andrew mengajaknya untuk melakukan hal tabu dan menjijikkan. Tentu saja Maya menolaknya mentah-mentah. Dan saat itulah wujud asli Andrew terlihat. Kasar dan perlahan membuat Maya selalu ketus jika berhadapan dengan laki-laki, khususnya pada Chris.

Maya akhirnya memilih duduk di sofa panjang paling ujung, yang posisinya paling dekat dengan pintu. Dalam pandangan Maya, kos ini terlihat seperti rumah biasa berlantai dua. Memiliki ruang tamu, ruang tengah, dapur, dan beberapa ruangan yang ia tebak adalah kamar tidur.

Lalu kemudian tatapan Maya terhenti di depan sebuah meja kerja kecil di sudut salah satu kamar kos yang tak jauh darinya duduk. Di atasnya, berdiri sebuah miniatur rumah yang tampak seperti replika atau semacam rancangan desain sederhana. Terbuat dari papan kayu, lengkap dengan atap merah bata, jendela besar di bagian depan, dan pekarangan mungil dengan tanaman buatan yang tertata rapi.

Maya menatapnya, takjub. Ia merasa begitu familiar dari bentuk rumah itu. Dan saat ingatan itu menyentuh kesadarannya, matanya sedikit membesar.

“Ini… rumah impian yang pernah aku ceritain dulu?” gumamnya nyaris tak terdengar.

Ia ingat jelas, beberapa bulan lalu saat mereka duduk di bangku taman kampus, ia dengan antusias menceritakan bayangan rumah impiannya pada Chris. Rumah kecil dengan atap merah, jendela besar tempat sinar pagi bisa masuk, dan taman kecil yang bisa ia tanami bunga. Ia tak menyangka Chris benar-benar mengingat semua detail itu, apalagi sampai membuatkan bentuk nyatanya.

Tapi, benarkah..?

Entahlah..

Jantung Maya berdetak pelan. Ada sesuatu yang hangat merambat dalam dadanya, bercampur rasa heran dan haru. Ia memandangi replika itu lama, seolah tak percaya seorang seperti Chris yang sering membuatnya kesal, blak-blakan, dan kadang menyebalkan, ternyata menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan rapi.

“Dia… beneran dengerin aku waktu itu?,” pikir Maya.

Maya kembali mengalihkan perhatiannya pada Chris, dan lelaki itu ternyata telah menatapnya lama dalam diam. Mereka duduk bersebrangan, saling menatap, tetapi Maya tidak berani menatap lebih lama dari yang telah Chris lakukan.

"Apa kamu marah sama aku?" tanya Chris memecah keheningan. "Sorry kalau kemarin malam aku udah paksa kamu buat ikutan camping," lanjut Chris sambil memijat tengkuknya.

Maya memainkan tali tas slempangnya yang ada di pangkuannya, bingung harus menjawab apa.

"Kok, kamu diem?" tanya Chris lagi.

Maya menatap Chris dengan raut muka cemberut bercampur masam. "Aku lapar."

"A- apa kamu bilang?" Chris tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.

"Ish! Aku lapar! Aku belum makan siang, dan ini sudah hampir sore! Aku juga haus! Haus, Chris!"

Maya memang lapar dan haus. Cuaca Yogyakarta akhir-akhir ini memang terasa menyengat. Matahari seolah tak kenal ampun menyiram kota dengan panasnya sejak pagi hingga sore menjelang. Udara kering, ditambah angin yang tak lagi sejuk, membuat siapa pun mudah gerah hanya dengan berdiri beberapa menit di luar ruangan.

Maya pun menyesuaikan diri. Ia lebih sering memilih pakaian yang sedikit terbuka tanpa lengan atau berbahan tipis namun tetap sopan dan tak berlebihan. Seperti hari ini, Maya memilih untuk memakai pakaian yang terbuka di bahu off shoulder.

Bukan karena ingin tampil mencolok, tapi murni demi kenyamanan. Ia tahu benar batasannya, dan bagaimana caranya berpakaian tanpa melanggar nilai-nilai yang ia pegang.

Biasanya, ia mengenakan blus ringan berwarna terang yang membiarkan kulitnya ‘bernapas’ di tengah cuaca yang menyiksa. Dipadukan dengan rok selutut atau celana kain longgar, Maya tetap terlihat anggun tanpa harus menahan rasa gerah. Maya juga selalu mengenakan dress rumahan saat di rumah, dan penampilannya yang sederhana itulah yang menjadikan Maya terlihat lebih cantik dan enak dipandang.

Chris mengusap wajahnya kasar. Disaat ia ingin berusaha bicara serius, bisa-bisanya Maya bersikap sebaliknya.

"Kamu mau ke mana?" Maya bertanya saat Chris berdiri dan meraih kunci mobilnya, hendak pergi.

"Kamu bilang kamu lapar kan? Aku mau pergi beli makanan buat kamu."

"Ya udah. Aku ikut," seru Maya seraya ikut berdiri dan berlari di belakang Chris.

"Kamu tunggu di sini," kata Chris dengan tegas. "Aku nggak akan lama."

"Ish.. kenapa nggak sekalian anterin aku pulang ke rumah aja, sih?"

Chris menatap Maya dengan raut wajah serius. "Aku belum selesai bicara sama kamu, Maya. Jadi selama itu pula, aku nggak akan biarkan kamu pulang."

"Tapi aku nggak suka di tinggal sendirian di sini!" ucap Maya sambil menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal.

"Kamu bisa melihat-lihat ruangan ini. Bebas mau ngapain aja di sini. Kamar ku ada di sana. Kalau kamu mau, kamu bisa tidur sepuasnya di sana. Aku rela berbagi ranjang denganmu." Chris menunjuk sebuah pintu yang berada di dekat tangga.

Maya semakin cemberut dan kesal, lantaran suara Chris kembali terdengar seperti biasanya. Nada geli dan senyum menggoda khas laki-laki itu.

"Ish.. nggak mau!" Maya mencubit lengan Chris, dan pemuda itu hanya tertawa melihat tingkah Maya.

Chris menghela napas, lalu mendekat dan menatapnya lebih lembut agar membuat Maya tenang. “Aku bilang, di sini aja. Nggak bakal lama kok. Lagian, kos lagi sepi. Teman-teman pada kuliah, biasanya pulangnya sore. Jadi kamu nggak usah takut.”

Maya hanya bisa mendecak pelan. "Jangan lama-lama! Kalau kamu lama, aku tinggal pulang!"

"Oke."

Tanpa Maya sadari, Chris meraih tas Maya yang tergeletak di bawah sofa, lalu membawanya pergi.

......................

Sepuluh menit...

Lima belas menit...

Tiga puluh menit...

Hampir empat puluh menit Chris pergi...

Waktu terasa berjalan lambat saat Maya duduk sendirian di ruang tamu kosan Chris. Sudah lebih dari setengah jam sejak Chris pergi membeli makanan, dan belum ada tanda-tanda dia akan kembali. Maya menatap jam dinding untuk kesekian kali, lalu membuang napas panjang penuh kesal.

Udara siang yang panas, ditambah kipas angin yang hanya berputar malas-malasan di sudut ruangan, membuat suasana semakin tak nyaman. Maya duduk bersandar di sofa, memainkan ujung rambutnya, lalu merebahkan kepalanya di bantal yang entah milik siapa dengan ragu-ragu, tentu saja.

"Ngapain juga tadi nurut disuruh nunggu di sini?" gerutunya pelan.

Ia sudah bersiap untuk membuka-buka galeri foto, scroll media sosial sampai bosan, demi membunuh waktu, tetapi Maya baru sadar kalau tasnya telah lenyap tanpa jejak.

Sesekali Maya berdiri dan berjalan bolak-balik di ruangan itu, menatap pintu seperti berharap Chris akan tiba-tiba muncul dan minta maaf karena kelamaan. Tapi yang datang hanyalah suara burung dari luar jendela dan bunyi kipas angin yang makin nyaring. Kesabaran Maya mulai tipis.

“Apa jangan-jangan dia malah nongkrong sama temennya dulu?” pikirnya curiga.

Dengan wajah masam, Maya menjatuhkan diri lagi ke sofa, kali ini dengan gerakan dramatis penuh kekesalan. Sendirian di kos cowok, dengan suasana yang terlalu hening dan waktu yang berjalan seolah mengejek, membuat Maya merasa seperti orang paling bodoh sedunia.

Maya yang sejak tadi duduk gelisah di ujung sofa sontak menegakkan tubuhnya begitu mendengar suara mobil berhenti di depan kos. Matanya langsung berbinar, dan tanpa sadar, senyum tipis muncul di wajahnya.

“Finally,” gumamnya dengan napas lega.

Ia bangkit, berjalan cepat ke arah jendela, dan mengintip dari celah tirai. Tapi seketika, senyumnya luntur. Yang turun dari mobil bukan Chris, melainkan seorang pria asing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!