NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Tamparan keras itu mendarat di pipi Arini pelakunya bukan Dian ataupun Alex, tapi Afandi yang kini begitu murka saat tau tentang apa yang sebenarnya terjadi selama ini.

"Apa-apaan ini, saya laporkan kamu ke polisi!"ujar Nina yang kini membawa ibunya kedalam dekapannya.

"Lapor saja sana lapor, biar sekalian terungkap bagaimana paman Hasan bisa meninggal dunia tanpa sebab yang jelas!"ujar Afandi yang begitu yakin tentang apa yang terjadi saat ini adalah hal yang tidak wajar.

"Kamu tidak bisa sembarangan menuduh ya, semua itu murni kecelakaan ayah ingin menolong ku yang hampir tertabrak..."ucap Nina.

"Lalu bagaimana bisa orang tertabrak tanpa luka sedikit pun, bahkan kalau terbentur keras sudah pasti akan ada luka memar"ucap Dito yang kini semakin membuat mereka terpojok dan berjalan mundur perlahan.

"Jadi dugaan saya benar, kalian membunuh ayah?!"ujar Dian yang kini terduduk lemas ke lantai dan tangisnya kembali pecah.

"Tidak bukan kami, bukan"ucap mereka secara bersamaan.

"Bagaimana bisa kalian sekejam itu?!! Kurang apa ayahku pada kalian!! ayah!!! Hiks... Hiks... Ayah!!" tangis Dian semakin histeris dan Alex pun membawa nya kedalam dekapannya.

"Saya sudah lapor polisi, mungkin besok makam bapak akan digali untuk proses otopsi"ucap Alex yang kini membuat Dian menatap lekat kearah Alex dengan air mata bercucuran.

"Ayah," lirih Dian yang akhirnya jatuh tidak sadarkan diri lagi.

Sementara Nina dan Arini diamankan pak RT di kantor polisi untuk diperiksa atas laporan Alex dengan bukti rekaman suara yang kini sudah berada di tangan polisi.

Dan keesokan harinya mereka pun kembali ke pemakaman dimana pihak polisi dari tim forensik dibantu warga membongkar makam milik pak Hasan.

Saat jenazah dinaikkan bau wangi pun tercium semerbak wangi dari jasad pak Hasan. Semua orang pun memuji, semua itu karena kebaikan almarhum semasa hidupnya.

"Dian pun terus menangis sesenggukan sambil membaca ayat suci untuk ayahnya itu. Selamat proses otopsi berlangsung selama itu pula warga terus mendoakan almarhum.

"Dian, bibi tau ini sangat menyakitkan, tapi semoga kamu bisa tambah dan ikhlas. Karena apapun jalannya itu sudah takdir dari yang maha kuasa. Dan semoga pak Hasan mendapatkan keadilan jika memang benar terbukti bahwa kematian nya tidak wajar"ucap wanita paruh baya yang kini memeluk erat Dian sebagai rasa bela sungkawa nya.

"Iya bi, tapi Dian tetap tidak habis pikir kenapa mereka tega sama ayah, ayah kurang apa selama ini, bahkan saya pun ikut bekerja keras untuk membantu ayah menghidupi mereka berdua, hiks... hiks"ucap Dian sambil terisak dalam tangisnya.

Sementara ke-enam pria dengan usia berbeda-beda yang kini terus menjadi garda terdepan untuk Dian pun sibuk membantu proses otopsi meskipun mereka tidak memegang atau melihat proses tersebut, tapi ada banyak hal kecil yang mereka lakukan untuk berjalanya proses tersebut.

Dan kini, Dian pun ditemui oleh pihak kepolisian, Dian terlihat berbicara serius sebelum akhirnya mereka pun kembali fokus mengawal proses tersebut.

Tim dokter forensik telah melakukan proses otopsi yang berjalan kurang lebih lima jam tersebut, hingga jenazah kembali dikebumikan setelah mereka mengambil sampel dari beberapa yang diperlukan untuk diuji laboratorium agar diketahui penyebab pastinya.

Dian masih terduduk lemas di samping makam sang ayah dengan mata bengkak karena terus menangis.

Alex yang melihat itu pun sungguh tidak tega, dia pun berbisik lirih dan menggendong Dian ala bridal style menuju ke rumah.

Jarak pemakaman dan rumah itu memang tidak terlalu jauh, tapi posisi Alex saat ini menggendong Dian.

"Tuan turunkan saya, anda baru sembuh, jadi jangan sampai terjadi masalah pada anda"ucap Dian.

"Saya laki-laki Dian, saya mampu menggendong mu . Jadi sebaiknya jangan banyak bergerak"ucap Alex yang kini terlihat menatap lurus kedepan.

Tepat saat mereka tiba di rumah dimana kini sebagian orang tengah berkerumun dan berkelompok, sebagian nya lagi menatap kearah mereka sambil berbisik-bisik.

"Honey,"panggil seseorang dari dalam rumah yang diikuti oleh seorang pria sepuh dengan kursi roda yang menjadi alat bantu berjalan.

"Ternyata benar apa yang dikatakan oleh sum... Cucuku kau masih hidup"ucap pria itu sambil berlinang air mata.

Seketika itu Dian turun dari gendongan Alex disambut Afandi yang sejak tadi menemani mereka dengan Dito.

"Diandra, dia adalah tuan besar Tama pemilik gudang padi waktu itu. Dan ternyata dia adalah kakek dari tuan Alex"ucap Dito yang kini membuat Dian shock.

"Silahkan masuk, kita bicara didalam"ucap Dian yang kini mengusap air matanya yang masih saja menetes.

"Terimakasih nak,"ucap pria lanjut usia itu.

Mereka sudah berada di ruang tamu, yang kini terlihat kosong melompong karena sofa usang itu telah disingkirkan.

Alex duduk di samping kursi roda yang diduduki oleh tuan Tama." Silahkan diminum tuan, maaf seadanya beginilah keadaan disini"ucap Dian yang kini menyuguhkan air putih didalam gelas dan beberapa kunker yang entah berasal dari mana.

"Tidak apa-apa nak, tidak usah repot-repot. Langsung saja maksud kedatangan kami kemari untuk menjemput anggota keluarga kami yang sudah hampir empat bulan ini menghilang. Kami sudah melakukan berbagai upaya untuk menemukan nya. Dia adalah cucu saya satu-satunya pewaris perusahaan milik kami. Gideon Alexander Tama dan ini istrinya Anggun."ucap pria lanjut usia tersebut.

"Grandpa disini saya yang salah, setelah mereka menyelamatkan saya yang hampir mati karena meregang nyawa saat itu. Saya mengaku hilang ingatan. Dian dan almarhum ayahnya sudah terlalu baik terhadap saya dan baru dua hari ini pak Hasan ayah Dian meninggal dunia. Jadi saya mohon ijin untuk menemani nya melewati duka ini"ucap Alex yang juga to the point.

"Grandpa tidak keberatan untuk itu Alex tapi disini ada istri kamu yang tengah mengandung buah hati kalian berdua. Dan jangan khawatir grandpa sudah menyiapkan ganti rugi sekaligus rasa terimakasih grandpa pada mereka,"ucap nya sambil memberikan isyarat pada asisten pribadinya untuk mengambil koper berisi uang tersebut.

"Semoga itu cukup untuk mengganti rugi, dan juga untuk ungkapkan terimakasih atas pertolongan mu dan keluarga pada suami saya."ucap Anggun yang kini menyodorkan uang satu koper tersebut.

"Apa-apaan ini grandpa, Dian dan ayahnya bukan orang seperti itu"ucap Alex yang kini merasa tidak enak hati pada Dian.

"Saya bisa maklum dengan ini tuan, saya pun berterimakasih untuk maksud baik anda tapi maaf saya tidak bisa menerima ini. Saya dan ayah saya ikhlas membantu tuan Alex jadi tolong simpan saja uang ini. dan untuk anda tuan Alex, sudah saatnya anda kembali pada keluarga anda semoga kejadian buruk itu tidak terulang lagi, saya juga mohon maaf jika selama ini anda tidak bisa hidup dengan nyaman dan layak seperti di tempat anda"ucap Dian.

"Di, kamu bicara apa, ini masih suasana duka?"ucap Alex yang tidak terima dengan sikap Dian saat ini.

"Yang berduka disini adalah saya tuan, kasihan istri anda yang sedang hamil muda saat ini, dia sedang sangat membutuhkan anda saya tidak apa-apa ada mereka yang akan menemani saya."ucap Dian yang kini menatap kearah tuan Tama.

" Tuan besar, saya mohon maaf jika selama ini saya tidak pernah tau tentang anda dan darimana asal tuan Alex, saya baru tau tentang itu sepulangnya saya setelah mengantar padi ke tempat anda itupun dijalan saat kami akan kembali, tapi tidak usah khawatir tuan Alex tidak pernah bekerja keras seperti saya disini, kecuali dia ikut berjualan buah-buahan bersama ayah saya"ucap Dian jujur.

"Apah?! Kamu jadi pedagang buah honey!"ucap Anggun yang seakan menganggap itu sebagai aib.

"Anggun memangnya kenapa jika saya berdagang buah, toh saya tidak memikul tidak juga mengangkut beban. Mereka memperlakukan saya seperti seorang raja yang tidak boleh berpanas-panasan ataupun bekerja keras seperti yang Dian lakukan selama ini. Saya justru hidup dari hasil kerja keras mereka terutama Dian yang selalu membelikan saya pakaian dan makanan enak dari hasil nguli nya. Saya belum sempat berterimakasih kepada pak Hasan dan juga Dian, dan saat ini dia sedang berkabung saya harap kalian berdua bisa memberikan saya waktu lagi untuk menemani dia disini."ucap Alex.

"Jangan bilang kamu jatuh cinta sama dia honey? Kamu tidak pernah se peduli ini terhadap orang lain apalagi orang asing yang tidak ada hubungannya dengan mu"ucap Anggun.

"Maaf nyonya tolong jangan salah faham. Saya dan tuan Alex tidak ada hubungan apapun, anda boleh tanya orang-orang atau cari tahu sekarang juga. Selain saat saya mengangkut padi tuan besar, saya tidak pernah bepergian bersama tuan Alex, bahkan kami hanya akan bertemu saat sarapan pagi karena saya selalu berangkat pagi pulang larut malam, selebihnya pun kami hanya bertegur sapa sebelum saya pergi istirahat jadi anda tidak perlu takut mereka saksinya. Dan tadi dia menggendong saya karena dia merasa iba pada saya"ucap Dian yang berusaha untuk menjelaskan semuanya agar tidak salah faham.

"Dian tidak perlu repot-repot menjelaskan, tuhan tau segalanya dan waktu yang akan membuktikan"potong Afandi yang kini membuat tuan Tama menghela nafas.

"Dian maafkan istri saya"ucap Alex yang kini menatap lekat wajah Dian.

"Ah tidak apa-apa tuan saya bisa maklum. Jadi tuan sebaiknya anda ikut pulang bersama mereka. Jangan khawatir setelah ini saya akan baik-baik saja"ucap Dian yang kini membuat Alex mengeleng pelan.

Jika harus memilih antara keluarga dan Dian, Alex lebih memilih Dian saat ini. Entah kenapa hatinya benar-benar tidak ingin pergi meninggalkan Dian sendirian.

"Ayo honey kita bereskan barang-barang mu. Kasihan grandpa sudah terlalu lama duduk di kursi roda"ucap Anggun yang kini ditahan oleh Alex.

"Kamu duluan saja sama grandpa ke mobil, saya harus pamit pada mereka semua terlebih dahulu"ucap Alex yang kini dibalas anggukan kepala oleh tuan Tama.

Sementara Dian bangkit dari duduknya dan langsung bergegas menuju kamar Alex, dia akan membantu Alex berkemas dan memastikan bahwa barang-barang pemberian nya tidak dibawa oleh nya. Karena sudah pasti seluruh keluarganya akan menganggap itu sebagai penghinaan.

"Di sedang apa?"ucap Alex yang kini menghampiri Dian yang tengah mengambil baju-baju Alex yang selama ini dia gunakan.

"Ini tuan saya hanya ingin anda tidak salah ambil, pakaian bekas disini saya pisahkan agar anda tidak salah bawa nantinya"ucap Dian yang kini hendak membawa pergi baju-baju itu tapi Alex langsung menghadang langkahnya.

"Letakkan kembali baju-baju itu Diandra, saya akan membawa semuanya saat ini"ucap Alex.

"Tidak tuan ini adalah sebuah penghinaan bagi anda jika anda menggunakan pakaian murahan seperti ini,"ucap Dian yang tetap kekeuh membawa tumpukan pakaian itu dalam dekapan nya.

"Diandra saya tidak habis pikir dengan pikiran mu saat ini. saya tidak pernah membeda-bedakan status sosial apalagi soal pakaian, dan ini sangat istimewa bagi saya karena ini adalah hadiah darimu hasil kerja keras mu"ucap pria tampan itu.

"Tidak tuan tolong jangan hinakan diri anda dengan pakaian murahan seperti ini, saya akan membakar nya nanti"ucap Dian yang akhirnya membuat Alex murka.

"Diandra, apa kamu ingin menghapus jejak ku dengan membakar baju-baju ini? Sebegitu tak berartinya aku dimatamu hingga kamu ingin menyingkirkan jejak ku"ucap Alex.

"Anda salah faham tuan, saya malu dengan apa yang selama ini saya berikan kepada anda. Anda seorang pangeran yang tidak pernah hidup dalam kesederhanaan seperti ini. Saya minta maaf"ucap Dian yang kini bercucuran air mata.

Alex pun langsung membingkai wajah cantik itu."Diandra jika saya harus jujur saya memilih untuk tetap disini bersama mu. Tapi seperti yang kamu tau mereka tidak pernah bisa dibantah itulah kenapa saya terpaksa meninggalkan mu disini sendirian"ucap pria yang hampir mencium bibir Dian jika saja Dian tidak langsung berpaling.

"Di saya mencintaimu, saya sungguh-sungguh jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis cantik yang ternyata begitu mengagumkan"ucap Alex.

Dian hanya menggeleng pelan kemudian berusaha menjauh dan tetap membawa baju-baju itu jika saja Alex tidak merebut nya.

"Diandra, saya bilang letakkan semua itu disana."ujar Alex.

" Tidak tuan, sebaiknya bereskan saja baranangsiang anda saya permisi dulu"ucap Dian.

"Diandra!!* bentak Alex yang kini membuat Diandra mematung di tempatnya dengan derai air mata yang semakin deras.

"Maafkan saya Diandra, tapi saya tidak ingin kehilangan kenangan manis dan cinta dari seorang gadis pekerja keras seperti mu"ucap Alex yang kini membawa Dian kedalam dekapannya.

Namun tidak sampai beberapa detik, Dian langsung melepaskan diri dari pelukan Alex.

"Maaf tuan, sebaiknya anda segera berkemas, istri dan kakek anda pasti sudah tidak sabar menunggu anda"ucap Dian.

"Diandra ikutlah dengan saya, kita bisa tinggal bersama disana, minimal kamu tidak akan pernah kesepian setelah ini"ucap Alex yang kini menatap lekat wajah cantik dengan mata sembab itu.

"Tidak tuan, tempat saya disini.

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!