Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan
"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEDITASI DALAM MEMORI SANG AYAH
Malam di Desa Qinghe terasa begitu sunyi, namun atmosfernya seberat timah. Di dalam sisa-sisa Aula Leluhur yang atapnya telah hancur, Mu Chen sibuk dengan tungku alkemi portabelnya. Keringat bercucuran di pelipisnya saat ia memasukkan sisa sari Bunga Hati Langit yang dikombinasikan dengan kristal energi dari sisa Naga Tulang Langit.
"Han-er, ini adalah Pil Langit Tanpa Batas," ucap Mu Chen sambil menyodorkan sebuah pil berwarna biru bening yang berdenyut dengan cahaya keemasan.
"Pil ini diciptakan khusus untuk praktisi tingkat Pondasi Dasar sepertimu agar bisa melompati gerbang menuju tingkat Inti Emas. Tapi ingat, energinya sangat liar. Jika kau tidak bisa menjinakkan kehampaan di dalam dirimu, pil ini akan meledakkan meridianmu hingga kau menjadi debu."
Fang Han menerima pil itu. Ia menatap wajah Mu Chen yang cemas, lalu menatap Paman Zhou yang duduk di sudut ruangan dengan mata penuh harapan.
"Aku tidak punya pilihan lain, Mu Chen. Jika aku tetap di tingkat Pondasi Dasar, aku hanya akan menjadi semut di bawah kaki para tetua sekte itu. Aku harus melampaui batas ini sekarang juga."
Fang Han menelan pil itu dalam sekali gerak. Seketika, tubuhnya menegang. Suhu di dalam aula itu turun drastis hingga embun membeku di dinding, namun kulit Fang Han justru memerah seperti besi yang baru keluar dari pembakaran.
Begitu Fang Han memejamkan mata, kesadarannya tersedot ke dalam pusaran abu-abu yang tak berujung. Ia tidak lagi berada di gubuknya. Ia berdiri di atas lautan awan hitam, dan di depannya berdiri sesosok pria gagah dengan jubah putih yang melambai tertiup angin dimensi.
Pria itu berbalik. Wajahnya sangat mirip dengan Fang Han, namun dengan aura yang jauh lebih agung.
"Selamat datang, putraku," ucap pria itu. "Aku adalah Fang Tian, ayahmu. Fragmen jiwaku tersimpan di dalam teknik Nirwana ini, menunggu hari di mana keturunanku mampu membuka segel pertama."
Fang Han terpaku. "Ayah... jadi ini benar-benar warisan kita?"
Fang Tian mengangguk, namun wajahnya menjadi serius. "Nirwana Sunya bukan sekadar teknik bela diri. Ia adalah manifestasi dari 'Ketiadaan Mutlak'. Zuo Tian dan Sekte Matahari Langit menginginkannya karena mereka pikir itu adalah sumber kekuatan tanpa batas. Mereka tidak tahu bahwa untuk menguasainya, kau harus rela kehilangan egomu."
Tiba-tiba, memori mengerikan mengalir masuk ke otak Fang Han. Ia melihat malam pembantaian itu. Ia melihat ayahnya bertarung melawan puluhan tetua sekte sambil menggendong bayi—dirinya sendiri.
"Lihatlah teknik ini, Han-er. Nirwana Sunya Tahap Ketiga: Penghapusan Realitas. Ayahmu menggunakan ini untuk melindungimu, namun harganya adalah seluruh kultivasi dan nyawaku. Kau harus menguasainya bukan untuk membalas dendam, tapi untuk memastikan kehampaan ini tidak jatuh ke tangan mereka yang haus kekuasaan."
Di dalam visi tersebut, Fang Han dipaksa berlatih selama ribuan tahun secara mental. Ia merasakan tubuhnya hancur dan terbentuk kembali berkali-kali. Ia belajar bahwa kehampaan bukan berarti 'kosong', melainkan 'wadah bagi segalanya'.
"Ingatlah, putraku... saat kau mencapai tingkat Inti Emas, pedang Sunya Long akan menjadi bagian dari jiwamu. Jangan biarkan dia mengendalikanmu. Kaulah yang harus menjadi tuan atas ketiadaan itu."
Cahaya keemasan dari pil Mu Chen tiba-tiba menyatu dengan memori Fang Tian. Di dunia nyata, tubuh Fang Han mulai melayang. Sebuah pusaran energi abu-abu raksasa terbentuk di atas gubuk, menarik seluruh energi Qi dari alam sekitar Desa Qinghe.
Tepat saat matahari mulai mengintip dari balik cakrawala, suara guntur yang memecah langit mengguncang Desa Qinghe. Ribuan murid Sekte Matahari Langit telah mengepung desa tersebut. Namun kali ini, mereka dipimpin oleh seorang pria tua yang duduk di atas tandu terbang yang ditarik oleh empat burung phoenix api.
Pria tua itu adalah Tetua Agung Mo Yun, seorang praktisi tingkat Jiwa Nascent (Nascent Soul) tahap menengah. Auranya begitu kuat hingga rumah-rumah penduduk yang dilewatinya seketika retak dan hancur.
Liu Yan berdiri di samping tandu itu dengan wajah yang penuh perban. "Itu tempatnya, Tetua Agung! Di gubuk tua itulah si bajingan Fang Han bersembunyi dengan pedang pusaka itu!"
Tetua Mo Yun membuka matanya yang bersinar seperti matahari kecil. Ia mendengus menghina ke arah gubuk Fang Han.
"Hmph! Hanya seorang bocah tingkat Pondasi Dasar? Kau benar-benar memalukan, Liu Yan. Bagaimana bisa murid jenius tingkat Inti Emas tahap awal sepertimu dikalahkan oleh semut yang bahkan belum bisa membentuk Inti Jiwa?"
Liu Yan menunduk malu. "Dia... dia memiliki teknik aneh, Tetua. Dan pedang itu... dia sangat berbahaya."
Tetua Mo Yun tertawa sombong, suaranya menggelegar membuat penduduk desa yang bersembunyi muntah darah.
"Di depan tingkat Jiwa Nascent-ku yang agung, semua teknik rendah itu hanyalah mainan anak-anak! Aku telah bermeditasi selama delapan ratus tahun, memurnikan api matahari hingga ke tingkat puncak. Tingkat kultivasiku adalah hukum di wilayah ini! Siapa pun yang berada di bawah tingkatku hanyalah debu yang menunggu untuk disapu!"
Ia melambaikan tangannya, dan sebuah cakram api raksasa meluncur ke arah gubuk Fang Han.
"Bocah malang! Keluar dan serahkan kepalamu! Tingkat kultivasimu yang menjijikkan itu tidak pantas untuk menghirup udara yang sama denganku!" teriak Mo Yun.
Tepat sebelum cakram api itu menghantam gubuk, sebuah tangan yang diselimuti cahaya abu-abu gelap keluar dari balik reruntuhan dan menangkap cakram api tersebut dengan telapak tangan kosong.
Bzzztt!
Cakram api tingkat Jiwa Nascent itu mendadak padam, menguap menjadi asap hitam tanpa sisa.
Fang Han melangkah keluar dari debu reruntuhan. Rambutnya kini sepenuhnya abu-abu panjang, dan matanya memancarkan ketenangan yang mengerikan. Auranya telah berubah drastis. Ia tidak lagi berada di tingkat Pondasi Dasar.
"Apa?! Dia... dia berhasil menembus ke tingkat Inti Emas dalam semalam?!" teriak Liu Yan tidak percaya.
Tetua Mo Yun menyipitkan matanya, namun kesombongannya tidak luntur sedikit pun.
"Oh? Jadi kau berhasil membentuk Inti Emas? Lumayan untuk seekor serangga desa. Tapi tetap saja, Inti Emas tahap awal hanyalah sampah di mataku! Kau pikir dengan naik satu tingkat, kau bisa mengimbangi keberadaan agung tingkat Jiwa Nascent seperti aku?!"
Mo Yun berdiri dari tandunya, melayang di udara dengan api yang membara di bawah kakinya.
"Dengar, bocah! Perbedaan antara Inti Emas dan Jiwa Nascent adalah perbedaan antara bumi dan langit! Kau baru saja belajar merangkak, sementara aku sudah terbang di antara bintang-bintang! Kultivasimu yang rendah itu tidak akan bisa menahan satu pun jentikan jariku!"
Fang Han menatap Mo Yun dengan datar. Ia menarik Sunya Long dari punggungnya. Pedang itu kini tidak lagi bergetar liar, melainkan mengeluarkan dengungan yang sangat stabil dan dalam.
"