Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Tangan gemuk Kartini terus bergerak memijat betis dan kaki Arga tahu titik mana yang sekiranya membuat urat-uratnya rileks. Ia begitu fokus merawat suami kontraknya itu hingga tidak menyadari keberadaan orang lain.
Di ambang pintu, ibu kandung Arga sudah berdiri cukup lama. Wanita paruh baya itu menyandarkan tubuhnya di kusen pintu, kedua tangannya ia lipat di depan dada. Matanya tak lepas menatap ke tempat tidur, mengamati menantunya yang menyuapi dan memijat anak laki-lakinya.
Senyum tipis terukir di bibir Bu Hana, memandangi tubuh Kartini tidak merasa terbebani walau gemuk demi mengurus Arga. Padahal ia perhatikan Arga selalu ketus dan cuek, tapi Kartini tidak ambil hati, tetap merawat Arga dengan sabar dan lembut. Ia ingat sebelum pernikahan, bagaimana Arga menolak perjodohan itu dengan keras, tapi kini terlihat begitu tenang dan nyaman dirawat oleh istrinya.
"Anakku... akhirnya kamu menemukan wanita yang tulus seperti Kartini daripada Nadine," gumam Bu Hana.
Ketika Kartini menutup tubuh Arga dengan selimut kemudian membawa nampan melewati jalan itu, bu Hana cepat-cepat bersembunyi. Begitu Kartini keluar dari kamar, ia mendekati Arga.
"Arga..." sapa bu Hana lembut lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Ibu... Tumben," ujar Arga, biasanya ibunya itu selalu sibuk di butik hingga jarang sekali datang ke rumah ini.
"Kakek tadi telepon Ayahmu katanya kamu sakit, makanya Ibu cepat-cepat kemari," Ibu Hana mengusap kepala putranya sudah tidak panas seperti yang kakek katakan.
"Syukurlah Ar, kamu sudah lebih baik, ini berkat Kartini yang ikhlas sekali merawatmu kan," bu Hana memuji Kartini. "Kamu harus bersyukur Arga, karena mempunyai istri seperti Kartini, coba Nadine yang menjadi istrimu menurut Ibu kalian tidak cocok."
"Jangan suka membanding-bandingkan, Bu," Arga tidak suka mendengarnya, padahal baru malam tadi ia bertengkar dengan Nadine, tapi tidak lantas membuat hati Arga membenci kekasihnya.
"Ya sudah... kamu sekarang istirahat," pungkas Hana lalu meninggalkan Arga.
"Tini..." Hana menghampiri Kartini yang sedang mencuci mangkuk bekas Arga sarapan.
"Eh, Nyonya," Kartini cepat-cepat mencuci tangan dan salim tangan mertuanya sopan.
"Loh, kamu kok memanggil saya seperti itu, saya ini mertuamu loh."
"Baik Ibu," Kartini minder menatap wanita yang penampilannya selalu rapi dan cantik itu.
"Terima kasih ya, kamu sudah merawat Arga dengan baik," bu Hana menepuk pelan pundak Kartini.
"Mas Arga itu kan majikan saya Bu... Emmm maksud saya suami," Kartini segera meralat ketika ia salah ucap.
Bu Hana mengangguk, pagi itu mereka pun sarapan bersama.
Tiga hari berlalu demam Arga sudah turun, tubuhnya kembali fit bahkan sudah ke kantor seperti biasa. Meski begitu, Bu Hana masih di rumah itu.
"Masak apa Tini? Aromanya sedap sekali?" Bu Hana yang sedang di kamar pun segera keluar ketika bau masakan Kartini membuatnya lapar.
"Masak biasa saja, Bu," Kartini sebenarnya menyiapkan makan siang karena karena ada mertua, biasa ia masak sore sebelum Arga pulang.
"Oh, kalau gitu sebaiknya kamu antar makan siang untuk Arga ya," titah bu Hana, selama beberapa hari tinggal di rumah ini ia tahu Arga lahap sekali ketika makan masakan Kartini.
"Baik, Bu," Kartini menjawab cepat walau sebenarnya malas datang ke kantor. Bukan apa-apa, jika di sana nanti bertemu Nadine urusannya akan panjang, tapi tentu saja Kartini tidak berani mengatakan kepada mertuanya jika Arga masih berhubungan dengan Nadine karena bisa-bisa rahasia besar ini akan terbongkar.
Kartini pun melanjutkan menyiapkan menu spesial, setelah selesai menyiapkan bekal untuk Arga.
Tepat pukul dua belas siang, Kartini berangkat menuju kantor Arga. Motor besar melaju memasuki area gedung pencakar langit yang megah itu. Banyak karyawan yang melirik ke arahnya saat ia berjalan menuju lift.
Tidak seperti hari sebelumnya, kali ini Kartini mengenakan pakaian yang rapi, tubuhnya yang berisi justru terlihat anggun dan percaya diri.
Saat lift terbuka di lantai utama perusahaan, Kartini berjalan menuju ruangan khusus sang CEO.
Tiba di ruangan Arga, Kartini bertemu Sita dan menyapa dengan sopan.
"Mbak Kartini ada perlu apa?" Sita tampak khawatir ketika Kartini hendak masuk ruangan.
"Saya disuruh Ibu Hana mengantar makan siang untuk Arga," Kartini tersenyum.
'Oh, tapi..." Sita belum melanjutkan ucapanya Kartini mendorong pintu ruangan CEO tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ia ingin memberikan kejutan sekaligus menuruti perintah ibu mertuanya.
Namun, matanya membelalak melihat di hadapannya, Arga sedang duduk di kursi kebesarannya. Dan di pangkuan pria itu, duduk manis seorang wanita dengan tubuh ramping, dan berpakaian seksi.
Nadine.
Wanita itu sedang melingkarkan kedua tangannya ke leher Arga, wajah mereka sangat dekat bahkan tengah berciuman begitu mesra hingga tidak sadar dengan kehadiran Kartini.
Jantung Kartini serasa mau lepas. Dadanya sesak, rasanya ingin muntah melihat pemandangan itu. Meskipun ia tahu statusnya hanya istri kontrak, tapi melihat kenyataan itu terjadi tepat di depan matanya, rasanya begitu memalukan dan menjijikkan.
Pantas saja tempo hari Arga menciumnya rakus, ternyata adegan seperti ini sudah biasa bagi Arga.
Kartini masih terpaku di ambang pintu, entah mau lanjut atau kembali pulang? Lalu ia akan menjawab apa ketika mertuanya nanti bertanya? Dada Kartini penuh dengan pertanyaan.
"Kartini?!" Arga terkejut setengah mati. Ia sontak mendorong tubuh Nadine perlahan agar turun dari pangkuannya, wajahnya berubah merah dan panik.
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau