ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Jejak Darah di Ngarai Putus Asa dan Para Pengamat Siluman
Matahari Ridokan perlahan bergeser ke arah barat, memanggang bumi dengan sinar keemasannya yang menyengat. Jarak sepuluh kilometer dari gerbang Kerajaan Valeria menuju Ngarai Putus Asa bukanlah perjalanan yang singkat bagi petualang biasa. Normalnya, mereka akan menyewa kereta kuda atau menunggangi Gryph-horse. Namun, Ajil memilih berjalan kaki.
Setiap langkah sepatu bot tempurnya meninggalkan jejak dangkal di atas tanah berdebu. Pemandangan hijau dari padang rumput Valeria perlahan memudar, digantikan oleh lanskap tandus berbatu merah yang tajam. Angin kemarau berhembus kencang, membawa partikel pasir kasar yang menggores kulit. Namun, Setelan Malam Abadi Kelas SS yang dikenakan Ajil bekerja dengan sempurna. Medan gaya tak kasat mata dari kain hitam pekat itu menolak setiap butir debu dan pasir, menjaga suhu tubuh Ajil tetap sejuk di tengah cuaca yang mulai mendidih. Ujung jaket trench coat-nya berkibar pelan, menciptakan siluet dewa maut yang sedang menapaki jalan menuju neraka.
Sambil berjalan, Ajil membuka Cincin Ruang Tak Terbatasnya. Ia mengeluarkan sepotong roti gandum keras sisa semalam dan sebuah kantung air kulit. Ia menggigit roti itu.
Rasanya hambar dan seret di tenggorokan, sangat kontras dengan masakan mendiang Ami—istrinya tercinta—yang selalu bisa menyulap bahan sisa menjadi hidangan yang lezat. Mengingat senyuman Ami saat memasak di dapur kecil mereka yang bocor, membuat rahang Ajil mengeras. Ia menelan paksa roti itu bersama air putih, mengubah rasa rindu yang mencekik menjadi bahan bakar amarahnya.
Tiba-tiba, layar hologram biru di sudut matanya berkedip, lalu berubah menjadi warna kuning peringatan.
[SISTEM: Peringatan Pengintaian. 3 Entitas mengikuti Anda sejak keluar dari perbatasan kota.]
[Entitas Darat 1: Level 110. Jarak 500 meter di belakang.]
[Entitas Darat 2: Level 105. Jarak 500 meter di belakang.]
[Entitas Udara: Level Tidak Teridentifikasi. Jarak 800 meter di atas tebing kanan.]
Ajil tidak menghentikan langkahnya. Matanya tetap menatap lurus ke depan, ke arah retakan raksasa di bumi yang mulai terlihat di ujung cakrawala. Ia tahu persis siapa mereka. Dua pecundang berzirah dari Guild yang baru saja ia buat berlutut, dan si telinga runcing arogan yang sudah mengikutinya sejak dari Hutan Terlarang.
"Biarkan saja para badut itu menonton," batin Ajil sedingin es. Ia tidak akan membuang tenaganya untuk mengusir mereka. Selama mereka tidak mengayunkan pedang ke arahnya, mereka hanyalah angin lalu.
Di belakang sana, bersembunyi di balik bongkahan batu merah raksasa, Rino dan Richard tengah mengatur napas. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahi mereka. Zirah merah Rino yang berat kini terasa seperti beban kutukan, sementara Richard mencengkeram tombak esnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat sisa-sisa tekanan gravitasi di Guild tadi.
"Kenapa kita mengikutinya, Rino? Kau gila?!" desis Richard dengan suara tertahan, menepis debu dari sisik naga air di zirahnya. "Pria itu monster! Kau merasakan auranya tadi! Paru-paruku hampir pecah hanya karena dia bernapas!"
Rino mengertakkan giginya, wajahnya merah padam antara rasa malu dan penasaran yang membakar harga dirinya. "Justru karena itu, Richard! Pria berjaket hitam itu hanya memiliki Kelas F di sistem Guild. Kristalnya meledak karena anomali! Aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana bajingan itu bertarung. Apakah dia benar-benar dewa kematian, atau auranya tadi hanyalah trik sihir ilusi tingkat tinggi dari artefak yang disembunyikannya."
Jauh di atas mereka, melompat dengan anggun di sepanjang tebing curam yang mengapit jalan menuju ngarai, Erina tersenyum sinis. Mata zamrudnya yang tajam setajam elang roh dengan mudah mengunci sosok Ajil. Angin ngarai memainkan rambut perak kebiruannya.
"Dua serangga itu masih berani mengikutinya. Mereka tidak tahu sedang berjalan di belakang naga purba yang sedang murka," batin sang High Elf. Tangannya dengan lembut mengelus busur emas di punggungnya. "Tunjukkan padaku, Algojo. Tunjukkan tarian kematianmu."
Satu jam kemudian, Ajil tiba di bibir Ngarai Putus Asa.
Tempat itu dinamakan demikian karena medannya yang berbentuk cekungan curam sedalam seratus meter, dipenuhi pilar-pilar batu tajam dan gua-gua gelap. Bau belerang, karat besi, dan daging busuk menguar kental dari dasar ngarai. Di sanalah Kawanan Orc Besi mendirikan kamp mereka.
Ajil berdiri di tepi tebing, memandang ke bawah. Melalui penglihatan sistemnya yang diperkuat, ia bisa melihat sekitar empat puluh monster bertubuh hijau gelap yang sangat besar. Tingginya mencapai dua setengah meter, otot-otot mereka menonjol mengerikan. Yang membuat mereka disebut Orc Besi adalah lempengan-lempengan baja kasar yang dipaku hidup-hidup ke dalam daging bahu, dada, dan punggung mereka, menyatu dengan kulit tebal mereka. Mereka membawa gada raksasa bertabur paku berkarat dan kapak bermata ganda yang kotor oleh darah petualang malang.
[SISTEM: Target Ditemukan. Kawanan Orc Besi (Level 35 - 45). Jumlah: 42 Entitas. Status: Bermusuhan.]
Ajil tidak mencari jalan turun yang aman. Ia tidak berniat mengendap-endap.
Dengan wajah tanpa riak emosi sedikit pun, Ajil melangkah maju, menjatuhkan dirinya dari tepi tebing setinggi seratus meter.
Di tempat persembunyian mereka, Rino terperanjat hingga nyaris menjatuhkan pedangnya. "Gila! Dia bunuh diri?! Tinggi tebing itu seratus meter tanpa sihir levitasi!"
Namun, saat Ajil hampir menghantam dasar ngarai yang berbatu tajam, aliran energi bermanifestasi. Aura hijau pekat meledak dari telapak kakinya, menciptakan tolakan gravitasi yang meredam kecepatannya hingga nol. Ia mendarat dengan suara BUMM yang pelan namun membuat tanah bergetar, tepat di tengah-tengah kamp Orc Besi. Debu belerang berhamburan.
Seluruh kegiatan di kamp itu terhenti seketika. Empat puluh dua pasang mata merah darah menoleh serempak ke arah pria berjaket hitam yang berdiri tegak di tengah kepulan debu.
Seekor Orc Besi Level 40 yang sedang mengunyah tulang lengan manusia membuang makanannya. Monster itu meraung marah, mengangkat gada pakunya, dan menerjang ke arah Ajil dengan langkah yang membuat tanah berdebum.
Ajil perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang kosong menatap raksasa hijau yang berlari ke arahnya. Ia tidak memanggil Pedang Petir Hijau Abadinya. Terlalu berlebihan untuk sampah seperti ini. Ia hanya mengepalkan tangan kanannya.
"Ketakutan sejati bukanlah melihat kematian di depan mata," gumam Ajil pelan, suaranya sedingin es abadi, "melainkan menyadari bahwa tidak ada lagi yang tersisa untuk dilindungi di belakangmu. Dan kalian... menghalangi jalan pulangku."
CRASHH!!
Saat gada paku raksasa itu diayunkan turun untuk menghancurkan kepala Ajil, pria itu melesat ke depan. Kecepatannya memecah penghalang suara. Dalam sepersekian detik, Ajil telah berada tepat di depan dada sang Orc, menghindari ayunan gada sepenuhnya.
Tangan kanannya yang mengepal diayunkan ke atas. Tinju Petir Ungu.
BLAAARRR!!
Pukulan Ajil menghantam pelat baja yang dipaku di dada Orc tersebut. Suara ledakan ozon memekakkan telinga terdengar hingga ke tepi tebing. Pelat baja tebal itu bukan hanya penyok, tapi hancur berkeping-keping menjadi debu besi. Tinju Ajil terus melaju, menembus tulang rusuk sang Orc, menghancurkan jantungnya, dan menembus hingga keluar dari punggung monster itu bersama kilatan petir ungu yang liar.
Darah hijau kental dan potongan organ dalam menyembur ke belakang bagai air mancur, namun Setelan Malam Abadi Ajil menolak setiap tetes kotoran itu.
Orc Level 40 itu bahkan tidak sempat menjerit sebelum tubuh raksasanya ambruk dengan dada berlubang sebesar kepala manusia.
[SISTEM: Orc Besi Lv.40 terbunuh. EXP +4000]
Melihat rekan mereka mati dalam satu pukulan, sisa empat puluh satu Orc Besi lainnya tidak merasa takut. Insting buas mereka justru mendidih. Mereka meraung bersahutan, mengayunkan senjata berat mereka, dan mengepung Ajil dari segala arah.
Pertumpahan darah yang epik pun dimulai.
Ajil bukanlah seorang seniman bela diri elegan. Gaya bertarungnya adalah manifestasi dari keputusasaan dan kemurkaan yang murni. Brutal, efisien, dan mematikan.
Seekor Orc mengayunkan kapak ganda dari arah kiri. Ajil menangkap bilah kapak itu dengan tangan kosongnya yang terbungkus mana. Suara logam berderit terdengar saat Ajil meremukkan baja murni itu dengan jari-jarinya. Lalu, dengan sebuah tendangan memutar yang diiringi kilatan petir ungu di ujung sepatu botnya, Ajil memenggal kepala Orc tersebut. Kepala raksasa itu terpental tinggi ke udara.
Tiga Orc menyerang dari belakang. Ajil bahkan tidak menoleh. Ia menghentakkan kakinya ke tanah. Aura Gravitasi Jiwa diaktifkan dalam radius tiga meter. Ketiga Orc itu seketika tertelungkup ke tanah, tulang-tulang mereka patah berderak-derak akibat tekanan ratusan kali lipat. Ajil berbalik, dan dengan wajah tanpa ekspresi, menginjak kepala ketiga monster itu satu per satu layaknya memecahkan buah melon yang busuk. Darah dan otak berceceran.
Kilatan petir ungu menyambar-nyambar tak terkendali di dasar ngarai. Setiap kali tinju Ajil mendarat, akan ada ledakan. Tubuh-tubuh raksasa seberat ratusan kilogram terlempar ke dinding ngarai, menabrak pilar batu hingga runtuh. Erangan kesakitan monster bercampur dengan suara gemuruh petir.
Di atas tebing, Rino dan Richard merangkak mendekati ujung jurang, mengintip pertarungan di bawah sana. Mulut mereka terbuka lebar, pupil mata mereka mengecil.
"Dewa-dewa Ridokan..." bisik Richard, suaranya bergetar hebat. Tombak es di tangannya terasa seperti mainan kayu yang memalukan. "Dia... dia membantai kawanan Orc Besi Kelas B... tanpa senjata? Hanya dengan tinjunya?!"
Rino menelan ludah paksa. Harga dirinya yang angkuh kini hancur berkeping-keping menjadi debu. Pria di bawah sana—pria yang tadi ia suruh pulang minum susu hangat—sedang merobek rahang seekor Orc Level 45 menjadi dua bagian hanya dengan menariknya menggunakan kedua belah tangannya.
"Kita telah menghina monster... Richard, kita telah mencari gara-gara dengan entitas yang bisa meratakan seluruh Valeria jika dia mau," gumam Rino dengan wajah sepucat mayat.
Sementara itu, di puncak pilar batu tertinggi di ngarai tersebut, Erina berdiri dengan mata zamrud yang bergetar karena euforia. Pipinya merona merah. Ia melihat bagaimana Ajil melompat ke udara, menghindari ayunan lima gada sekaligus, lalu mendarat dengan sebuah hentakan keras yang mengirimkan gelombang kejut petir ungu, menghanguskan kelima Orc itu dalam sekejap.
"Indah... Sangat brutal namun begitu indah," batin Erina, meremas ujung jubahnya. "Kekuatannya absolut. Dan wajah itu... bahkan saat dia bermandikan darah musuhnya, matanya tetap menyiratkan duka yang sama. Pria macam apa kau ini? Berapa banyak luka yang kau sembunyikan di balik jaket hitammu itu?"
Di dasar ngarai, pertarungan itu bahkan tidak memakan waktu lebih dari lima menit.
Ajil berdiri di tengah-tengah lautan mayat hijau dan darah yang menggenang. Orc Besi terakhir yang merupakan Pemimpin Kawanan (Level 45), terkapar di kakinya dengan dada yang hangus terbakar oleh tombak Amukan Petir Abadi. Asap berbau daging terbakar dan ozon mengepul memenuhi udara.
[SISTEM: Misi Guild (Kelas B) Selesai. Seluruh target berhasil dieksekusi.]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 30.]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 35.]
[Menyerap drop material: 42x Inti Besi Orc, 10x Kristal Sihir Menengah.]
Dengan gerakan pikiran, Ajil memasukkan semua material berharga dan bukti misi ke dalam Cincin Ruangnya. Napasnya tetap stabil, seolah ia baru saja selesai berjalan-jalan santai di taman. Setelan Malam Abadi-nya tetap bersih sempurna, menyerap cahaya di tengah tempat yang kini berubah menjadi kuburan massal.
Ajil mendongak ke atas tebing. Ia menatap lurus ke tempat Rino dan Richard bersembunyi. Meskipun jarak mereka ratusan meter dan terhalang bebatuan, kedua petualang A-Class itu merasa seolah mata hitam Ajil menembus langsung ke dalam jiwa mereka, menjerat jantung mereka dengan hawa dingin yang mematikan.
Rino dan Richard refleks menarik diri mundur, bersembunyi dengan napas terengah-engah, tak berani mengeluarkan suara sekecil apa pun.
Lalu, pandangan Ajil bergeser ke arah pilar batu tinggi di sisi lainnya. Ia tahu High Elf itu ada di sana, mengamatinya. Ajil membuang muka. Ia tidak peduli pada kekaguman peri itu maupun ketakutan dua petualang bodoh itu.
Ia membalikkan badan, melangkah perlahan keluar dari dasar Ngarai Putus Asa, meninggalkan jejak darah yang bukan miliknya, siap untuk kembali ke Guild Valeria dan menuntut informasi tentang Prasasti Dimensi yang ia butuhkan untuk pulang ke pelukan Arzan dan Dara.