NovelToon NovelToon
ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cinta Seiring Waktu / Romansa pedesaan
Popularitas:113.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.

Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.

Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.

Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nitip doa : 09

Kamal mengulas senyum, menoleh sebentar ke samping, bertemu tatap singkat dengan gadis berhijab putih. Kemudian dia menjawab santai seraya memandang sang fajar mulai menyingsing.

“Ketika sepasang insan menikah, yang banyak mengalami perubahan hidup itu si wanita. Mereka bertaruh nyawa melahirkan buah hati. Belum lagi berkutat dengan rutinitas keseharian, pisah rumah dengan orang tua, apalagi jika sudah memiliki anak … waktu mereka tersita banyak teruntuk keluarga, dunia sebelumnya luas semakin sempit. Jadi, memberikan pilihan sesuai pernikahan impiannya, Abang rasa tak lah sepadan bila dibandingkan perjuangan, pengorbanan seorang istri yang nantinya bergelar ibu.”

Dua pasang mata menatap dengan sorot kagum bercampur sesuatu lebih dalam dari itu. Salah satu dari mereka langsung menunduk.

Sedangkan Intan Rasyid memalingkan wajah, hatinya seperti dicubit. Merasa gagal, malu, belum bisa mengatakan ‘iya’ kepada pemuda sudah beberapa kali mengajaknya menikah.

“Sudah pukul delapan, ayo balek!” Ikram mengajak putri, dan calon menantu serta keponakannya pulang kerumah, menikmati sarapan pagi.

Intan menarik kakinya dari dalam air, dia berdiri lalu berlari kecil mendekati sang ayah, memeluk lengannya.

"Kak Intan Kebiasaan, suka betul mencuri garis start.” Sabiya mencebik, padahal tadi dia sudah siap-siap berlari ke ayahnya, tapi keduluan sang kakak.

Lanira, dan lainnya terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Hal biasa melihat pemandangan kakak beradik berebutan memeluk ayah mereka.

Intan mengeratkan pelukan pada lengan ayahnya, mengejek Sabiya. Mereka berjalan santai pulang ke rumah, sesekali terdengar suara tawa kecil.

***

“Bunda, oh bunda ….” Sendok dipukulkan ke atas piring kosong, Anggara merebut perhatian ibunya.

Hemmm ….

Bukan bunda Selina yang menanggapi melainkan papa Kafka melipat koran bacaan pagi. “Kalau mau sesi curhat, nanti dulu. Papa sudah lapar.”

Lirikan sengit dibalas pelototan mata sang kakak kembaran yang mengacungkan sendok garpu. Nyali Anggara Pangestu langsung ciut, dia mencebik, menaruh rasa hormat tinggi ke Adisty, terlebih karena seorang wanita.

“Ini lagi, pengantin sudah jamuran masih terus nempel macam lem setan,” sindirnya pada pasangan baru saja duduk di kursi meja makan.

“Jomblo mana boleh angek (iri).” Sahira menuang jus jeruk ke gelasnya, meneguk sedikit, lalu dihabiskan pria berpakaian santai – kaos biru muda berkerah, celana selutut. Thariq Alamsyah.

"Aku bukan jomblo ya, bentar lagi ganti status jadi suami orang,” balasnya sengit.

Bunda Selina menggelengkan kepala, baru saja selesai mengupas kulit telur ayam kampung rebus, menaruhnya di atas piring Anggara. “Baru tiga hari yang lalu rumah ini didatangi seorang wanita, dia mengaku hamil anakmu. Sampai bunda hampir pingsan mendengarnya.”

Mata Anggara berbinar, dia tersenyum congkak. “Pasti Bunda banggakan, berarti putra tampanmu ini subur, bisa membuahi.”

“Astaghfirullah.” Ibu dari dua orang anak itu mengelus dada. “Nak, dia perempuan kesembilan yang minta pertanggung jawabanmu!”

“Belum juga selusin, Bun _ akhh!” Anggara memekik terkejut, kursinya terbalik dan dia terjatuh.

Adisty lah sang pelaku, menyeringai keji kepada sang adik hanya berani menggerutu. “Jika tambah satu lagi, maka siap-siap kau kupaksa menikahi salah satu dari mereka.”

“Tanggung jawab bagaimana pula? Aku dan mereka tak ngapa-ngapain, paling fatal ya icip tipis-tipis, tapi nggak sampai raba-raba. Kait bra dan kain segitiga nya juga tidak bergeser maupun terbuka, terus lewat mana air bibit unggul ku masuk?”

Angga menepuk-nepuk bokong montoknya yang terasa kebas. Mengangkat kursi dan duduk kembali, mengambil telur berusaha menelan tanpa dikunyah dulu.

Bunda Selina kembali beristighfar, menyodorkan air putih. “Nak, bisa tidak sehari saja kamu absen buat Bunda jantungan?”

Rasa kesat pada tenggorokan karena kuning telur, didorong oleh air putih. Anggara menggeleng sampai rambut gondrongnya bergoyang. “Jangan, Bun. Sayang nanti pahala bunda berkurang, karena istighfarnya istirahat sejenak.”

Tiga orang pelayan menaruh hidangan tumis bihun, salad sayur, dan pancake disiram madu murni.

Setelah ayah Kafka diambilkan tumis bihun campur telur dadar oleh bunda Selina, giliran Thariq Alamsyah menyendok salad sayur untuk sang istri.

Pria minim ekspresi itu tengah melancarkan aksi membujuk agar Sahira mau kembali ke hunian mereka.

Anggara berulang kali berdecak, matanya sampai perih melihat layar ponsel diletakkan pada atas meja, samping piringnya.

‘Kemana dia? Apa sedang sarapan dengan pria sok keren itu? Dasar tak peka, tak tahu apa dia, aku menanti kabarnya,’ gerutunya kesal.

Tidak ada yang mengganggu si bungsu, mereka paham jika melakukan hal tersebut sama saja dengan mengundang masalah.

Keluarga Pangestu menikmati sarapan dalam diam, hanya terdengar dentingan alat makan.

Lima belas menit berlalu, piring kotor sudah diangkat, dan anggota keluarga tengah menikmati segelas jus.

“Bunda ….” panggil Anggara, terlebih dahulu melirik ponsel baru menatap sayang ibunya. “Katanya doa ibu itu mujarab dan menembus langit ketujuh kan, Bun?”

Semua pasang mata memusatkan perhatian ke Anggara.

“Iya.” Bunda Selina mengangguk ragu, bukan meragukan tentang kekuatan doa, melainkan menyangsikan putranya sendiri.

“Kalau gitu pas betul. Aku mau nitip doa, boleh kan, Bun?” Tangan ibunya digenggam, pipi dikecup sayang.

“Doa apa, Nak?” papa Kafka penasaran, tidak juga belajar dari sebelum-sebelumnya.

“Doa suci, keinginan dari lubuk hati terdalam. Bundaku tersayang … tolong rayu yang maha kuasa, pinta dengan sungguh-sungguh, supaya bersedia memutuskan tali pertunangan sepasang anak manusia. Biar aku bisa merebut si wanita, nanti langsung kujadikan istri. Mau ya, Bun?” Anggara memeluk lengan ibunya yang masih berusaha mencerna.

Lainnya terdiam, ekspresi mereka mengatakan hal sama – Anggara kurang setengah ons.

“Kamu mau jadi pe _ apa itu namanya, yang merebut kekasih orang lain?” Bunda Selina menatap putri dan keponakannya.

“Bukan pebinor, Bun. Kan dia belum jadi binik orang, masih calon,” protes Anggara.

“Sama saja, Angga! Tak baik merusak hubungan orang lain,” tolak sang ibu.

“Dia bukan orang lain, Bun. Kalau nanti jadi istriku ya berarti menantu bunda, masuk dalam keluarga kita. Kata papa – sesama anggota keluarga wajib membantu, melindungi, dan diperbolehkan menggunakan kekuasaan,” keukeuh si bungsu.

“Kekuasaan itu untuk melindungi keluarga, saudara, bukan mencari perkara merebut calon istri orang, Anggara Pangestu!” suaranya di oktaf paling rendah. Papa Kafka berusaha sesabar mungkin.

“Nah, papa benar. Untuk sementara memang masih orang luar, ketika kata sah papa dan para saksi gaungkan, maka dia jadi anggota keluarga Pangestu. Kan pas tu.” Kursi didorong kuat, dia berlari kencang menghindari lemparan serbet makan sang ibu.

“Astaghfirullah. Astaghfirullah.” Bunda Selina menepuk-nepuk dadanya. “Anakmu, Pa!”

“Kalau berulah pasti teriak anak papa, coba sebaliknya – pintarnya anak bunda,” cebik pria menghela napas panjang.

“Thariq,” Adisty menyela pembicaraan orang tuanya, kalau dibiarkan bisa sampai siang hari.

Thariq Alamsyah berhenti menarik serabut buah jeruk untuk istrinya. Ia mendongak menatap kakak ipar. “Ya?”

“Tolong cari informasi tentang keluarga Rasyid. Sepertinya mereka orang kesehatan,” terka Adisty.

“Baik, nanti jika sudah berhasil, saya beri kabar,” ia menyanggupi.

***

Tiga hari sudah berlalu, Intan sudah kembali bertugas di puskesmas desa perkebunan.

Raut bu bidan cantik terlihat murung, pulang ke kampung halaman bukan meringankan perasaan, malah menambah beban.

“Bu bidan, main yuk ….”

.

.

Bersambung.

1
Nuryanto Yanto
duh deg deg kan gimana ya kelanjutannya
Betri Betmawati
pasti Anggara itu udh kyk jelangkung aja dia
moon
kok Lanira panggil Intan kakak?
apa tidak terbalik?
secara Lanira putrinya Wahyuni, kakak dari ibunya Intan (Mutia)
Cublik: Mereka menyesuaikan umur, Kak. soalnya lebih tua Intan 3 tahun.
Nggak mau mengikuti lewat garis keturunan 😁
total 1 replies
Pudji Widy
ayah cepetdat
Watiningsih
tak menyangka lanira punya sikap licik begitu, kalau Kamal punya sikap tak patut wajar karena gen dari ayah kandungnya yg jahat, tapi lanira... tidak menyangka. Kamal & lanira bersiaplah kamu menghadapi keluarga besar Nugraha & sidiq
Elie Noerhasanah Iskandar
crazy up thor🤭🙏
Cublik: Udah 3 bab hari ini, Kak 🥰
total 1 replies
saqa_ghaliza
blm pernah seemosi ini baca novel... 👍👍👍
Cublik: Terima kasih, Kak 🥰
total 1 replies
sutiasih kasih
lanjut lgi k cublik....
serasa kurang mlu tiap baca 🤣🤣
Nana Colen
seperti nya aku telat ni ngasih bintang karena karyamu tetap selalu luar biasa 😍😍😍😍
mmh nengmuti
hayo kita demo aja ke tempat hunian ayah tua biar d lemparin batu sekalian 2org setan itu👊👊👊
Yuliana Tunru
bagus semua sdh tqu walaupun b biar kelarrr semua kamal agar otak cerdasmu jalan jgn jd pengecut ..kùmpulkan kkga ..good intan 👍👍 tak sabar nunggu up x lg terbayang2 gmn keis x dan.hancur lah kau kamal laki2 pecundang
mmh nengmuti
dedek bner sm s lanira,itu kk s lanira org lmbut lah adik nya lembut tp kaya setan
Afri Nilawati
syediiih kalii
Jetri
pingin jingkrak² aku bacanya,,
legaaaaa meskipun belum tuntas kecewaku,,
setidaknya keluarga besar sudah otw ke hunian ayah tua
★·ᴄᴀsᴘᴇʀ·★
cekek rame² lanira & kamal/Panic//Panic//Panic/
Cublik: Heh 😁
total 1 replies
★·ᴄᴀsᴘᴇʀ·★
mati kwe tamat riwayatmu
★·ᴄᴀsᴘᴇʀ·★
mamposss kao tendang burung Kamal yang tak seberapa itu tan
★·ᴄᴀsᴘᴇʀ·★
mampossss kaoo
★·ᴄᴀsᴘᴇʀ·★
dasar lonteee/Panic//Panic//Panic/
FiaNasa
bagus intan biar semua tahu &;segera berakhir drama pertunangan ini,,soalnya aq ingin kau fokus dlm stress mu menghadapi sibiang kerok tulang palak itu🤣🤣🤣🤣jadi aq bisa ngakak melupakan tagihan² hutang²ku😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!