Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.
Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.
Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.
Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.
Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.
Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?
Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 : Jejak Yang Seharusnya Tidak Ada
Asap masih menggantung di langit malam ketika Ferisu berdiri di tepi balkon istana.
Api di distrik timur telah mengecil, namun warna jingganya masih memantul di dinding batu putih. Udara membawa bau kayu terbakar dan gandum hangus—bau yang terlalu akrab bagi seseorang yang pernah memimpin perang besar.
Di bawah sana, kota belum benar-benar tenang. Teriakan masih terdengar samar.
Noa berdiri di sampingnya, jubahnya tertiup angin malam.
“Eliza sudah memastikan api tak akan menyebar,” katanya pelan.
Ferisu tidak menjawab. Tatapannya tetap ke arah asap yang membubung seperti luka terbuka.
Beberapa langkah di belakang mereka, Anor berdiri dengan postur kaku. Ia menghirup udara perlahan. Wajahnya menegang.
“Itu bukan kristal biasa.”
Noa menoleh cepat.
“Maksudmu?”
Anor memejamkan mata. Alisnya berkerut seperti seseorang yang mencoba mengingat mimpi yang hampir hilang.
“Aromanya berbeda.”
Ferisu akhirnya menoleh.
“Berbeda bagaimana?”
Anor membuka mata emasnya. Pantulan api membuatnya tampak lebih terang dari biasanya.
“Kristal peledak Zenobia terasa… tajam. Keras.”
Ia menatap ke arah distrik.
“Yang ini… terasa dalam.”
Sunyi turun di antara mereka.
Ferisu memutar tubuh sepenuhnya.
“Kita ke lokasi.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Distrik Timur — Beberapa Saat Kemudian
Bangunan pusat distribusi bantuan itu hampir rata dengan tanah. Balok-balok kayu hangus bertumpuk, dan batu bata retak masih mengeluarkan asap tipis.
Warga berdiri menjauh, beberapa berbisik, beberapa menatap kesatria Asterism dengan mata penuh curiga.
Ferisu berjalan melewati mereka tanpa ekspresi. Langkahnya stabil. Tidak tergesa. Tidak lambat.
Noa mengikuti dari sisi kanan, sementara Anor berjalan di belakang, matanya bergerak cepat menyapu sekitar.
Eliza berdiri di atas sisa dinding setengah runtuh, rambut peraknya memantulkan cahaya api yang tersisa.
“Di sini,” katanya pelan.
Ferisu berhenti di dekat pusat ledakan. Tanah di sana lebih cekung, seperti ditekan dari dalam.
Noa berlutut dan membentuk lingkaran analisis kecil. Cahaya biru menyebar tipis di atas puing.
Beberapa detik kemudian, serpihan kristal kecil terangkat ke udara.
Warnanya tidak merah. Melainkan ungu gelap. Berdenyut sangat pelan.
Anor membeku.
“Itu.”
Ferisu menatapnya.
“Kau yakin?”
Anor mengangguk perlahan.
“Itu yang sama.”
Noa mengerutkan alis.
“Struktur mananya terdistorsi… tapi inti energinya tidak cocok dengan teknik Zenobia.”
Ferisu menyentuh udara di sekitar serpihan itu dengan ujung jarinya. Lapisan sihir transparan terbentuk, menahan resonansi agar tidak menyebar.
“Eliza.”
Gadis itu turun ringan dari dinding dan berdiri di sampingnya.
Ia memejamkan mata.
Beberapa helai rambutnya terangkat, seperti ditarik arus yang tak terlihat.
“Ada jejak roh,” ucapnya.
Noa menoleh.
“Roh yang dikontrak?”
Eliza menggeleng pelan.
“Bukan. Ini seperti… residu.”
Ferisu menatap kristal itu lebih lama.
“Residu dari apa?”
Eliza membuka mata.
“Dari sesuatu yang belum selesai.”
Hening.
Di sekitar mereka, bisik-bisik warga semakin keras.
“Apakah ini kesalahan kerajaan?”
“Kenapa selalu wilayah kita?”
Ferisu berdiri tegak.
Ekspresinya tidak berubah, namun tatapannya kini lebih dalam.
“Bawa serpihan ini ke istana,” perintahnya. “Segel dengan tiga lapis pembatas.”
Noa mengangguk.
Anor masih menatap reruntuhan.
“Aku pernah merasakan ini sebelumnya.”
Ferisu meliriknya.
“Di hutan?”
Anor terdiam beberapa detik. Lalu mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ruang Strategi — Tengah Malam
Lampu sihir menggantung rendah, menerangi peta wilayah timur yang penuh tanda tinta merah.
Serpihan kristal ungu kini berada di tengah meja, terkurung dalam kubah energi tipis.
Noa memproyeksikan struktur mananya ke udara.
Garis-garis energi berpilin tidak teratur. Beberapa bagian tampak dipaksa menyatu.
“Ini bukan teknik murni,” katanya.
Ferisu berdiri di sisi meja, tangan bertumpu ringan di permukaannya.
“Campuran?”
“Ya.”
Noa menunjuk salah satu simpul energi.
“Kristal standar disuntikkan sesuatu.”
Anor berdiri tak jauh dari sana. Bahunya sedikit menegang.
“Suntikan yang sama ada di hutan.”
Eliza menatapnya.
“Kau ingat sesuatu?”
Anor memegang pelipisnya. Gambaran kabur melintas. Pohon tinggi. Tanah lembap. Lingkaran cahaya di bawah tubuhnya.
“Ada lingkaran,” katanya pelan.
Noa dan Ferisu saling pandang.
“Lingkaran sihir?” tanya Noa.
Anor mengangguk ragu.
“Aku berada di tengahnya.”
Ferisu meluruskan punggungnya.
“Dan kau selamat.”
Anor menatapnya.
“Itu… aneh?”
Eliza menjawab pelan.
“Ritual dimensi biasanya tidak menyisakan pusatnya.”
Sunyi jatuh seperti kain berat.
Ferisu berjalan mengitari meja sekali.
“Jika itu ritual pembukaan…” Ia berhenti. “Maka kau bukan korban acak.”
Anor membeku. “Lalu apa?”
Ferisu menatapnya lurus. “Subjek.”
Kata itu membuat udara terasa lebih dingin.
Noa menghela napas perlahan. “Jadi Duke mungkin hanya memanfaatkan hasilnya.”
Ferisu mengangguk tipis. “Jika Duke menemukanmu di perbatasan dalam kondisi seperti itu, ia akan menggunakanmu.”
Anor menunduk. Tangannya mengepal tanpa sadar. “Aku tidak memilih ini.”
Ferisu tidak menunjukkan simpati berlebihan. “Tidak ada yang memilih bagaimana mereka lahir.”
Anor mengangkat wajahnya perlahan. “Tapi aku bisa memilih sekarang?”
Pertanyaan itu lebih lembut dari sebelumnya.
Ferisu menatapnya dalam. “Ya.”
Hening panjang.
Anor menatap kristal ungu itu lagi.
Lampu sihir di ruang strategi perlahan diredupkan.
Serpihan kristal ungu itu kini terkurung dalam tiga lapis segel. Permukaannya berkilau redup, seperti jantung yang berdetak terlalu pelan untuk disebut hidup.
Noa menutup buku catatannya dengan hati-hati.
“Jika ini memang sisa dari ritual pembukaan dimensi,” katanya pelan, “maka lingkarannya pasti masih ada.”
Ferisu berdiri menghadap peta wilayah timur.
Tanda kecil berbentuk X kini ditambahkan di lokasi hutan tempat Anor ditemukan.
“Kita berangkat besok sebelum fajar,” ucapnya tenang.
Anor yang berdiri di dekat pintu sedikit menegang.
“Kita akan pergi ke sana…?”
Ferisu menoleh.
“Kau tidak wajib ikut.”
Sunyi beberapa detik.
Anor menatap lantai, lalu mengangkat wajahnya.
“Aku ikut.”
Jawabannya sederhana. Tidak dramatis. Tidak penuh tekad besar.
Namun untuk pertama kalinya, itu terdengar seperti pilihan.
Eliza tersenyum tipis.
“Kalau begitu jangan kabur di tengah jalan.”
Anor mengernyit kecil.
“Aku tidak pernah kabur.”
Noa menghela napas ringan.
“Kita lihat saja besok.”
Ruangan perlahan kosong.
Satu per satu mereka pergi.
Hanya tersisa kristal ungu yang terkurung dalam segel.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
Denyutnya berubah. Sangat kecil. Namun berbeda.
Di dalam kristal itu, garis tipis cahaya hitam merambat seperti retakan rambut.
Segel luar tidak bereaksi.
Segel kedua masih stabil.
Namun pada lapisan terdalam—sesuatu bergerak.
Di waktu yang sama—di hutan timur yang sunyi, tepat di titik bekas ritual—tanah yang semula tenang bergetar sangat pelan.
Daun-daun di sekitarnya berjatuhan meski tak ada angin.
Di tengah lingkaran yang hampir terhapus waktu, garis sihir samar mulai menyala kembali.
Bukan terang.
Bukan kuat.
Namun cukup untuk terlihat—jika seseorang sedang mengamatinya.
Dan jauh di antara pepohonan gelap, dua titik cahaya redup terbuka perlahan.
Seolah sesuatu yang tertidur… akhirnya menyadari bahwa subjeknya masih hidup.
Keesokan fajar, Ferisu akan pergi ke hutan itu.