Tiba-tiba menjadi gadis penebus hutang, Aina harus merelakan dirinya dinikahi oleh pria paruh baya, sosok yang lebih pantas menjadi ayahnya.
Namun, siapa sangka, ternyata pria tersebut adalah orang yang terhubung dengan masa lalunya.
Lalu bagaimana Aina keluar dari bayang-bayang itu, sementara masa lalu terus mengejarnya. Bahkan mengikatkan tali tak kasat mata di kakinya.
Salam anu👑
Ig @nitamelia05
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Runtuh
Sudah hampir satu bulan berlalu, tetapi tidak ada perubahan sedikit pun dari sikap Erzan terhadap Aina. Pria paruh baya itu semakin gencar menyiksa istrinya dan membuat luka batin Aina semakin menganga.
Tak hanya main perempuan, Erzan bahkan kerap menyakiti Aina dengan tangannya. Siksaan demi siksaan terus Aina terima. Namun, Aina tidak pernah sekali pun mengadu pada kedua orang tuanya.
Setiap sang ibu menelpon, dia selalu berkata bahwa dia baik-baik saja. Karena tak ingin membuat kedua orang tuanya berpikir secara berlebihan, apalagi sampai membuat penyakit Bagaskara bertambah semakin parah.
Satu yang Aina syukuri, sampai saat ini Erzan tidak pernah mau menyentuhnya.
Dan selama itu pula Gavin tidak pernah menyerah untuk memperjuangkan cintanya. Dia terus melindungi Aina dari kekejaman Erzan, dan membuktikan pada gadis itu, bahwa hanya dialah satu-satunya rumah bagi Aina.
Seperti saat ini Aina baru saja membantu Erzan untuk bersiap-siap pergi ke kantor. Saat dia hendak keluar dengan membawa pakaian kotor, tiba-tiba Erzan mencegah langkahnya dengan sebuah pertanyaan.
"Di mana jam tangan yang biasa aku letakkan di sini?"
Erzan menunjuk meja kerjanya yang ada di dalam kamar. Jam tersebut adalah pemberian Margin, jadi sudah tentu sangat berharga bagi Erzan.
Aina pun mencoba mengingat-ingat, tetapi dia tidak merasa menyimpan benda itu. Jadi dia menggelengkan kepala. "Maaf, Tuan, saya tidak tahu. Karena anda sendiri yang mengatakan, bahwa saya tidak diperbolehkan untuk menyentuh benda-benda pribadi milikmu."
Mendengar itu, Erzan merasa tak suka. Dia memicing tajam, lalu mendekati Aina. "Tapi hanya kamu yang sering bolak-balik ke kamarku. Tidak mungkin kamu tidak tahu!"
Aina menelan ludah, kemarahan Erzan adalah makanannya sehari-hari, jadi dia sudah hampir terbiasa dengan ini semua. "Saya menjawab apa adanya, Tuan. Harus dengan apa supaya anda percaya pada ucapan saya?"
Seketika Erzan mencengkram lengan Aina dengan kuat. Hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Hah, percaya pada ucapanmu? Jangan mimpi! Aku yakin kamu yang mengambilnya, karena gadis miskin sepertimu biasanya memiliki otak kriminal!" balas Erzan, yang membuat perasaan kesal Aina semakin menggunung.
Karena sudah terlalu sering mendapat tuduhan yang tidak-tidak, akhirnya Aina memberanikan diri untuk mengangkat kepala, dia yang biasanya tak bisa menatap Erzan, kini berusaha untuk membalas tatapan manik mata itu.
"Saya memang terlahir dari keluarga miskin, Tuan. Tapi orang tua saya tidak pernah mengajarkan sesuatu yang tidak baik. Saya berani bersumpah, saya tidak mengambil jam tangan anda," ujar Aina dengan wajahnya yang teduh. Dia tidak lagi menangis, karena sudah terlalu banyak air mata yang keluar untuk pernikahan ini.
Namun, bukannya luluh akan tatapan mata Aina. Kemarahan Erzan justru semakin memuncak.
"Oh, sudah berani menjawab kamu sekarang?" sentak Erzan seraya melepas cengkramannya pada tangan Aina, lalu mendorong tubuh gadis itu hingga menabrak lemari pakaian.
Brugh!
Baju yang semula ada di tangan Aina berhamburan di lantai. Sementara gadis itu memegang lengannya yang terasa sakit, "Itu karena Tuan selalu marah-marah tanpa sebab. Padahal apa salahku? Apa yang membuat anda begitu membenci saya? Saya tidak pernah menginginkan pernikahan ini, anda yang menjerat saya!"
Tanpa diduga Aina kembali menjawab dengan sedikit berteriak, dia seolah memiliki keberanian lebih hingga mengutarakan semua kekesalannya selama ini. Namun, tiba-tiba sebuah tamparan melayang di pipi mulusnya.
Plak!
"Dasar jallang! Itu semua karena kamu adalah alat penebus hutang. Di mataku, kamu tidak lebih dari seorang budak!"
Rasa panas langsung menjalar diiringi setitik darah yang keluar dari sudut bibir Aina, tetapi semua itu tak berarti apa-apa karena hati Aina jauh lebih sakit mendengar penghinaan Erzan.
"Masih belum sadar juga kamu?!" sentak Erzan yang melihat Aina tertunduk dengan tubuh gemetar.
Dia ingin kembali menyeret Aina, tetapi tepat pada saat itu pintu kamar Erzan terbuka, menampilkan wajah Gavin. "Dad, cukup!"
Erzan yang masih terlihat terengah-engah langsung mengalihkan pandangan kepada putranya. Saat melihat wajah Gavin, sontak saja dia melepaskan tangan Aina.
"Daddy ada jadwal meeting 'kan? Uncle Alex sudah menunggu di bawah," ujar Gavin, sumpah demi apapun, andai pria yang ada di hadapannya ini bukanlah sang ayah, dia ingin sekali menghajar Erzan sampai titik darah penghabisan.
Erzan menghela nafas panjang, apa yang dikatakan Gavin memang benar. Jadi mau tidak mau akhirnya Erzan meninggalkan kamar itu.
Sebelum benar-benar keluar, Erzan melirik ke arah Aina, dan dia bisa melihat hasil dari perbuatannya. Namun, dia memilih untuk tidak bicara apa-apa.
Setelah kepergian Erzan, Gavin mulai mendekati Aina yang masih menundukkan kepalanya.
Pemuda itu lantas meraih tangan Aina. "Ayo keluar, kita obati lukamu."
Aina hanya bisa pasrah, hingga Gavin membawanya masuk ke dalam kamar. Mereka sama-sama duduk di atas ranjang. Dengan telaten Gavin membersihkan bekas darah yang ada di sudut bibir Aina, lalu mengobatinya.
"Shhh ...." Terdengar sebuah ringisan kecil, dan Gavin langsung memberikan tiupan.
Aina yang semula menghindari tatapan Gavin, kini perlahan membalasnya. Hingga mereka saling tatap dengan intens.
"Kamu lihat, Na. Daddy tidak pantas untukmu," ucap Gavin, berusaha untuk merobohkan benteng pertahanan Aina.
Namun, gadis itu hanya bungkam. Hingga sesaat hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Bahkan detik jam jadi terdengar lebih keras.
"Lalu aku harus bagaimana, Gav? Aku tidak tahu harus berbuat apa, karena ada perjanjian antara kedua orang tuaku dengan Tuan Erzan," ujar Aina tiba-tiba. Mungkin dia sudah terlalu lelah.
Aina terisak-isak, lalu Gavin meraih dagu Aina dan mengusap bulir-bulir bening yang turun dari kedua netra gadis cantik itu.
"Aku yang akan mengurusnya, asal kamu setuju. Maka aku akan melakukan apapun untukmu, Na," jawab Gavin yang membuat isak tangis Aina terhenti seketika.
Dia kembali menatap Gavin yang selalu menampakkan wajah teduh untuknya. Beberapa menit ke depan mereka hanya saling bungkam, hingga tiba-tiba Gavin memangkas jarak untuk mengecup bibir ranum Aina.
Gadis itu terdiam. Membuat Gavin merasa bahwa Aina tidak menolak sentuhannya. Lagi, dia mengecup bibir itu, hingga berujung menyesapnya dengan lembut.
Pada akhirnya dinding pertahanan Aina runtuh juga.
***
Gavin ini bukannya gak mapan ya gaes, dia cuma gak kerja di perusahaan aja dan statusnya masih kuliah. Dan jangan pikir bengkel mobil Gavin itu kecil ya, soalnya dia juga punya beberapa karyawan 🤭🤭
itu akibat tabur tuai Margin, udh mantan suami di srlingkuhin, boroknya du tinggalin di urus mantan msh aja otak jahat suruh anaknya bunuh PP sambung nya. sadis ngk tuh, kena situ padal berlapis habis itu tinggal Terima karma mu😡