NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Cinta Pertama

"Adrian!"

Gambaran masa lalu di benaknya tumpang tindih dengan sosok di hadapannya, membuat Aluna spontan berseru.

Saat ujung jari pria itu berhenti di atas tuts piano, alunan melodi yang merdu seketika lenyap dari ruangan. Pria itu menoleh secara perlahan.

Sebuah sinar matahari dari balik jendela kaca jatuh tepat di wajahnya, menonjolkan fitur wajah yang tegas dan tampan. Ada kilat keterkejutan yang tertangkap jelas di sepasang matanya yang teduh.

"Aluna."

Suara pria itu terdengar sangat familiar; bukan tipe suara yang berat dan mengintimidasi, melainkan nada bicara yang terasa lembut dan menenangkan.

Tatapan mereka terkunci di udara selama beberapa saat, membuat atmosfer di sekitar mereka mendadak terasa kaku.

Nama pria itu adalah Adrian. Dia dan Aluna merupakan cinta pertama saat mereka masih duduk di bangku SMA. Namun, semua kisah manis itu kini telah menjadi bagian dari masa lalu yang terkubur.

"Anda pasti Nona Aluna?"

Sebuah suara pria asing dari arah belakang memutus kontak mata mereka. Aluna segera membalikkan tubuhnya.

Pria itu adalah Pak Lukman, seorang pria paruh baya berusia awal empat puluh tahunan yang menjabat sebagai kepala Pusat Pelatihan Seni Cendekia. Ia mengenakan kacamata, berpakaian sangat rapi, dan memancarkan wibawa yang terlihat ramah dan tenang.

"Benar, Pak Lukman."

"Ah, iya. Adrian."

Setelah saling menyapa singkat dengan Adrian, Pak Lukman menatap Aluna dengan ramah lalu mengulurkan tangannya. "Nona Aluna, benar kan?"

"Iya, Pak."

"Anda terlihat masih sangat muda. Bagaimana kalau saya panggil Mbak Aluna saja untuk panggilan sehari-hari?"

Melihat tatapan Pak Lukman yang hangat, rasa cemas di hati Aluna sedikit berkurang. Ia tersenyum lalu mengangguk. "Tentu saja, Pak. Silakan."

"Aluna, tadi saya lihat Anda dan Adrian berdiri di sini seperti sedang melihat satu sama lain. Apa kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya?" Pak Lukman membetulkan letak kacamatanya sambil bertanya dengan penasaran.

"Tidak kenal, Pak."

"Kami tidak saling kenal."

Keduanya menjawab secara bersamaan dengan kalimat yang hampir serupa, menunjukkan sebuah respons spontan yang terlalu kompak.

Siapa pun yang jeli pasti menyadari ada sesuatu yang tidak biasa dari sikap mereka.

Baru saja Pak Lukman hendak menanggapi, Adrian langsung memotong pembicaraan untuk mengalihkan topik. "Pak Lukman, apakah Nona Aluna ini instruktur baru di sini?"

"Oh, iya, benar. Ini Aluna, guru piano tingkat menengah yang baru mulai aktif bekerja hari ini." Pak Lukman kemudian beralih menatap Aluna. "Aluna, ini Adrian, guru piano tingkat lanjut di sini. Dia sudah mengajar dua tahun lebih dulu dibanding Anda. Kalau nanti ada sistem pengajaran yang kurang Anda pahami, Anda bisa bertanya langsung kepadanya."

Aluna sempat tertegun sejenak. Cinta pertamanya kini resmi menjadi rekan kerjanya di tempat ini. Ia tidak tahu apakah pertemuan ini adalah sebuah keberuntungan atau justru awal dari masalah baru.

Namun, ia segera menguasai diri. Aluna menyunggingkan senyum formal lalu mengulurkan tangannya ke depan. "Mohon bimbingannya, Pak Adrian."

Mata Adrian berkedip sekilas. Setelah sempat ragu selama dua detik, ia akhirnya menyambut uluran tangan Aluna.

"Sama-sama, Bu Aluna."

Pukul lima sore, seluruh kelas di pusat pelatihan seni tersebut telah berakhir. Adrian segera melangkah menuju ruang kerja Pak Lukman.

Begitu Adrian masuk, Pak Lukman sama sekali tidak terkejut. Pria paruh baya itu menatapnya dengan senyum penuh arti.

"Saya sudah menduga kalian berdua pasti punya hubungan di masa lalu."

Adrian berusaha bersikap tenang dan menyahut, "Pak Lukman, Anda mungkin salah paham."

Pak Lukman memutar bola matanya dengan jengkel. "Kamu pikir saya buta? Cara kamu menatap Aluna tadi sangat tidak biasa.

Katakan dengan jujur, kalian berdua sebenarnya saling kenal, kan?"

Adrian sempat terdiam dengan pandangan yang bergerak gelisah, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan tanpa memberikan penjelasan lebih detail.

"Lalu, tujuanmu menemuiku sekarang untuk apa?" tanya Pak Lukman.

Adrian langsung mengutarakan maksudnya, "Saya ingin mendekatinya lagi. Bisakah Anda memberikan nomor ponsel Aluna kepada saya?"

Di tempat lain, sesaat setelah Aluna melangkah keluar dari dalam lift, ponsel di dalam tasnya bergetar. Ia mengambil ponsel tersebut dan mendapati sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal:

“Aluna, apakah kamu ada waktu luang setelah ini? Aku ingin bertemu dan bicara denganmu.”

Pesan singkat itu memang tidak menyertakan nama pengirim, namun Aluna langsung tahu bahwa itu adalah ketikan dari Adrian.

"Bisa..."

Baru saja jari Aluna mengetik huruf pertama untuk membalas, bayangan wajah dingin Gavin mendadak melintas di benaknya. Rasa takut yang seketika mencuat membuat wajah Aluna berubah pias.

"Tidak boleh. Gavin bisa menghabisinya jika dia tahu."

Aluna sangat paham bagaimana tabiat buruk Gavin. Jika pria posesif itu sampai mengendus fakta bahwa Adrian mencoba menemuinya, Adrian pasti berada dalam bahaya besar besok pagi. Bagaimanapun juga, karena adanya hubungan di masa lalu, Aluna masih menyimpan rasa hormat dan tidak ingin menyeret Adrian ke dalam masalah pribadinya.

Tanpa berpikir panjang, Aluna segera menghapus ketikannya, lalu mematikan daya ponselnya secara total.

Saat Aluna berjalan keluar melewati lobi utama gedung, sosok jangkung yang ia takuti ternyata belum terlihat stand-by di sana.

"Baguslah kalau dia belum datang," gumam Aluna dalam hati. Ia tidak bisa menahan senyum leganya karena mengira memiliki waktu beberapa menit untuk bernapas dengan bebas.

Namun, detik berikutnya, sebuah suara berat berbisik tepat di samping wajahnya.

"Bagaimana hari pertamamu bekerja? Jika ada orang di dalam yang berani bersikap tidak sopan kepadamu, katakan padaku. Aku yang akan mengurusnya."

Hembusan napas hangat pria itu seketika menyapu kulit telinganya. Kalimat yang penuh dengan otoritas itu diucapkan dengan nada yang terdengar biasa, namun penuh penekanan.

Berhadapan langsung dengan wajah tampan Gavin dalam jarak yang sedekat ini secara tiba-tiba, senyuman di wajah Aluna langsung lenyap seketika. Tubuhnya kembali menegang dengan kaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!