NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Runtuhnya Dunia Arumi

Pendar cahaya dari layar laptop yang berkedip-kedip menembus keheningan kamar yang remang-remang. Arumi menghela napas berat, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut kaku. Di depannya, draf tugas akhir kuliah yang sudah berbulan-bulan tertunda masih menyala, menampilkan tumpukan kalimat yang rasanya tidak sanggup lagi ia cerna malam ini.

Namun, fokusnya sama sekali bukan pada kelulusannya yang kian abu-abu. Pandangan Arumi justru terpaku pada tiga lembar surat di samping laptopnya. Surat dengan kop resmi berwarna merah menyala dan logo emas yang tercetak megah di bagian atas: Wijaya Group.

"Tiga puluh miliar rupiah..." bisik Arumi. Suaranya tercekat di tenggorokan, begitu parau hingga nyaris tak terdengar di dalam kesunyian kamar.

Setiap deretan angka nol di lembaran itu terasa seperti rantai kasat mata yang perlahan melilit lehernya hingga sesak. Ayahnya, pria yang selama ini menjadi sosok pelindung tunggal dalam hidupnya, ternyata menyimpan rahasia yang mengerikan. Spekulasi bisnis yang gagal total, tumpukan utang macet, dan penipuan dana investasi telah menyeret nama keluarga mereka ke jurang kehancuran terdalam. Dan yang paling menyakitkan, dua hari lalu, sang ayah pergi begitu saja tanpa pamit. Melarikan diri dari tanggung jawab, meninggalkan Arumi sendirian menghadapi badai yang siap menghancurkan sisa hidupnya. Ibunya yang kini terbaring lemah di rumah sakit pun tidak tahu apa-apa tentang malapetaka ini.

Tok! Tok! Tok!

Suara hantaman keras pada pintu depan seketika memecah kesunyian malam. Arumi tersentak dari lamunannya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa nyeri di dadanya. Selama beberapa hari terakhir, ketukan pintu selalu menjadi mimpi buruk yang nyata. Ia mengira para penagih utang berwajah garang dengan pakaian serba hitam akan kembali datang, berteriak-teriak melontarkan ancaman kasar sambil menggedor kaca jendela rumahnya.

Dengan langkah yang terasa berat seperti terseret batu besar, Arumi memaksakan kakinya berjalan menuju koridor depan. Jemarinya yang dingin menggenggam gagang pintu, menahan napas sejenak untuk mengumpulkan sisa keberaniannya sebelum akhirnya membuka pintu itu perlahan.

Namun, pemandangan di depannya malam ini sangat berbeda. Tidak ada pria-pria kekar berjaket kulit yang biasa bertindak kasar. Di ambang pintu berdiri seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi dan potongan rambut klimis, didampingi oleh dua pengawal bertubuh tegap di kanan dan kirinya. Aura yang dipancarkan pria itu begitu formal, namun justru terasa jauh lebih mengintimidasi daripada para penagih utang sebelumnya.

"Nona Arumi Andini?" tanya pria berjas itu. Suaranya bariton, datar, dan sama sekali tidak memiliki emosi.

"I-iya, saya sendiri. Ada keperluan apa, ya?" Arumi berusaha sekuat tenaga menyembunyikan getaran dalam suaranya, meski jemarinya meremas ujung kardigan rajutnya dengan sangat erat.

Pria berjas itu tidak segera menjawab. Ia mengeluarkan sebuah dokumen tebal bersampul kulit mewah dari dalam tas jinjingnya, lalu menyerahkannya ke hadapan Arumi.

"Saya adalah pengacara utama dari keluarga besar Wijaya," ucap pria itu, memperkenalkan diri dengan ketenangan yang menyiksa. "Kedatangan kami ke sini adalah untuk menyampaikan ultimatum terakhir terkait seluruh aset dan utang luar biasa yang ditinggalkan oleh ayah Anda, Tuan Baskoro. Jika dalam waktu dua puluh empat jam dari sekarang utang sebesar tiga puluh miliar tersebut tidak dilunasi, seluruh aset tersisa—termasuk rumah yang sedang Anda tempati ini—akan disita secara paksa, dan kasus ini akan langsung dialihkan ke jalur hukum pidana."

Mendengar kalimat itu, seluruh pasokan udara di sekitar Arumi seolah lenyap seketika. Kepalanya berputar hebat, dan lututnya mendadak lemas hingga ia harus berpegangan kuat pada daun pintu agar tidak jatuh tersungkur di atas lantai yang dingin.

"Tolong... tolong berikan kami sedikit waktu lagi," mohon Arumi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ibu saya sedang sakit keras di rumah sakit. Kami tidak punya tempat tinggal lain jika rumah ini disita. Saya berjanji akan mencari cara untuk mencicilnya. Saya bisa bekerja apa saja, banting tulang siang dan malam, asalkan jangan sita rumah ini..."

Mendengar permohonan itu, sang pengacara hanya menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman dingin yang sarat akan rasa merendahkan.

"Mencicil tiga puluh miliar rupiah dengan status Anda yang bahkan belum lulus kuliah dan tidak memiliki pekerjaan tetap?" Pria itu menggelengkan kepala perlahan. "Nona Arumi, Tuan Muda kami bukanlah orang yang memiliki banyak waktu untuk menunggu hal yang tidak pasti. Beliau adalah pria yang sangat rasional. Namun, beliau masih berbaik hati memberikan satu jalur alternatif bagi Anda."

Arumi mengernyitkan dahi. Di tengah keputusasaannya, secercah harapan palsu mendadak muncul, dibarengi dengan firasat buruk yang tajam yang langsung menusuk dadanya. "Jalur alternatif? Apa maksud Anda?"

Pengacara itu membuka halaman tengah dokumen kulit tersebut, membalik beberapa lembar berkas hingga memperlihatkan sebuah klausul kontrak bertuliskan tinta emas yang tampak sangat kontras dengan kemalangan hidup Arumi saat ini. Ia menunjuk sebaris kalimat di sana dengan jarinya yang terawat bersih.

"Menikahlah dengan Tuan Muda kami, Renard Wijaya, selama satu tahun penuh. Jadilah istrinya secara sah di mata hukum, dan seluruh utang keluarga Anda akan dianggap lunas seketika tanpa sisa."

Dunia Arumi seketika runtuh total. Ia terpaku di tempatnya berdiri, matanya terbelalak menatap lembaran kertas itu tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Menikah dengan Renard Wijaya? Pria berdarah dingin yang rumor tentang keangkuhan, kekejaman, dan kendali mutlaknya di dunia bisnis sudah menjadi legenda yang menakutkan? Mengapa seorang miliarder agung yang berada di puncak dunia tiba-tiba menginginkan wanita yang sedang hancur dan terpuruk seperti dirinya untuk menjadi seorang istri?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!