Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.
Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Ekploitasi Anak
Keesokan paginya, tepat sesuai janji, Eric datang menjemput Yu Anqi. Ia membawa Anqi menuju ke kantor pusat Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak. Begitu mobil tiba dan mereka turun memasuki kantor, semua orang yang berada di sana segera menyambutnya dengan hormat. Para karyawan membungkuk dan memberi salam kepada Eric yang merupakan ketua lembaga tersebut. Namun, tatapan mereka segera beralih ke arah Anqi. Banyak dari mereka yang berbisik-bisik, bertanya-tanya dalam hati siapakah gadis muda yang masih belia ini, sehingga bisa berjalan berdampingan dengan Pak Eric.
Sesampainya di ruang pertemuan utama, Eric meminta seluruh staf dan anggotanya untuk berkumpul. Ia berdiri di depan, diikuti oleh Anqi di sisinya. Eric pun mulai memperkenalkan gadis itu kepada semua orang.
“Selamat pagi semuanya. Saya memanggil kalian ke sini untuk memperkenalkan rekan baru kita. Namanya Yu Anqi, mulai hari ini dia akan menjadi asisten pribadi saya. Ia akan mendampingi dan membantu saya turun langsung ke lapangan, khususnya dalam menangani kasus-kasus eksploitasi yang sedang terjadi saat ini.”
Suasana ruangan seketika menjadi hening. Banyak mata yang menatap Anqi dengan penuh keraguan. Wajah Anqi yang masih muda dan tubuhnya yang terlihat kurus serta lemah membuat sebagian orang meremehkannya. Apakah gadis kecil ini benar-benar mampu menangani kasus yang berbahaya dan berat seperti itu? gumam sebagian orang dalam hati.
Melihat keraguan yang tergambar jelas di wajah para anggotanya, Eric segera angkat bicara dengan nada tegas dan berwibawa untuk menegaskan posisi Anqi.
“Saya tahu apa yang ada di pikiran kalian. Kalian pasti berpikir dia masih terlalu muda dan terlihat tidak mampu. Tapi dengar baik-baik, Saya sendiri yang telah melihat kemampuannya, dan saya menjamin kualitasnya. Jadi, saya harap tidak ada lagi yang mempertanyakan keputusan saya atau meragukan kemampuannya ini. Dia ada di sini berdasarkan keahlian yang dimilikinya, bukan karena keberuntungan semata.”
Mendengar penegasan langsung dari atasan mereka, suasana menjadi hening seketika, dan rasa ragu perlahan berubah menjadi rasa hormat.
Anqi pun melangkah maju sedikit, membungkuk sopan, lalu memperkenalkan dirinya dengan suara tenang dan datar. “Halo semuanya, nama saya Yu Anqi. Untuk kedepannya, Mohon bantuan dan kerja samanya.”
Satu per satu anggota tim pun memperkenalkan diri sebagai balasan, menyambut kehadiran anggota baru mereka.
Tanpa membuang waktu lagi, Eric langsung membuka rapat inti. “Baik, kita langsung masuk ke pembahasan utama. Kasus apa yang paling mendesak untuk segera kita tangani saat ini?”
Seorang wanita muda bernama Mira, asisten Eric yang lain, segera maju ke depan sambil membawa berkas dan menampilkan beberapa foto di layar proyektor. Gambar-gambar itu memperlihatkan kondisi yang memilukan, anak-anak dengan tubuh kurus kering, beberapa memiliki luka bekas siksaan, bahkan ada yang bagian tubuhnya sengaja dibuat cacat.
“Ini data terbaru yang kami kumpulkan, Pak,” jelas Mira. “Anak-anak ini dipaksa bekerja mengemis di jalanan, lampu merah, terminal bus, hingga pasar-pasar besar. Mereka dieksploitasi secara brutal. Banyak dari mereka berasal dari keluarga miskin, dijual oleh kerabat sendiri, atau diculik. Karena kondisi ekonomi yang sulit dan kurangnya perlindungan, mereka mudah menjadi sasaran bagi para pelaku kejahatan ini.”
Mira menunjuk sebuah foto anak kecil yang sedang tidur di emperan toko dengan pakaian compang-camping. “Kondisi mereka sangat memprihatinkan, Pak. Mereka tidak hanya diperas tenaganya, tapi juga sering disiksa jika target uang harian tidak terpenuhi. Kita harus segera bertindak dan membongkar jaringan kejahatan ini sampai ke akarnya.”
Eric mengangguk mantap, wajahnya tampak serius dan penuh tekad. “Benar. Kita tidak bisa membiarkan ini terus terjadi. Ada pendapat lain?”
“Kami setuju, Pak. Kasus ini sudah mendesak,” jawab anggota tim lainnya serentak.
“Baik,” ucap Eric sambil menatap sekeliling ruangan, akhirnya berhenti menatap Anqi. “Saya memutuskan, hari ini juga kita mulai penyelidikan. Saya dan Anqi akan turun langsung ke lapangan. Titik awal penyelidikan kita adalah Terminal Bus Utama. Berdasarkan laporan, di sanalah pusat aktivitas pengemis anak paling ramai dan kelihatan jelas. Tujuan utama kita bukan hanya menyelamatkan korban, tapi mencari tahu siapa otak di balik semua ini, di mana markas mereka, dan siapa saja jaringannya.”
Anqi yang mendengar itu hanya mengangguk tenang, sama sekali tidak terlihat takut atau ragu, justru matanya memancarkan semangat siap bertarung demi membongkar kejahatan tersebut.
Terminal Bus
Anqi dan Eric bergegas menuju terminal bus. Agar tidak mencurigakan, mereka berpakaian santai. Eric mengenakan kaos putih lengan panjang yang digulung hingga siku, dipadukan celana jeans biru. Sementara itu, Anqi tampil sederhana namun rapi dengan kemeja luar berbahan denim, kaos hitam di dalamnya, dan celana jeans panjang.
Sesampainya di lokasi, mereka tidak langsung bertindak. Mereka mulai mengamati keadaan sekitar, berbaur dengan keramaian penumpang seolah-olah hanya orang yang sedang menunggu bus. Setelah cukup memahami situasi, mereka pun berpencar untuk memperluas jangkauan pengamatan, mencari tanda-tanda keberadaan anak-anak yang menjadi korban eksploitasi.
Anqi berjalan perlahan menuju ujung terminal yang agak sepi dan jarang dilewati orang. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Di balik tumpukan kardus bekas, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Seorang anak kecil kurus kering terjatuh ke tanah setelah dipukul dengan keras oleh seorang pria berwajah bengis, yang jelas adalah pengawas dari para pengemis itu. Anak itu tampak kesakitan, namun tidak berani menangis keras.
Tanpa membuang waktu, Anqi segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Eric.
“Halo, Eric. Segera ke ujung barat terminal, di area gudang kosong. Aku menemukan mereka”. Ucap Anqi pelan namun tegas.
“Aku segera ke sana. Jangan bertindak sendiri dulu, amati saja dari jauh,” jawab Eric dari seberang telepon.
Tak lama kemudian, Eric tiba di tempat Anqi bersembunyi. Keduanya kini berdiri di balik dinding tembok, mengintai kejadian di depan mereka dengan tatapan tajam.
“Itu dia pelakunya. Lihat bagaimana kasarnya dia memperlakukan anak-anak itu,” gumam Eric dengan suara rendah, matanya tak lepas dari pria bengis itu.
Anqi hanya mengangguk, tangannya mengepal menahan amarah. “Kita ikuti mereka. Sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi.”
Benar saja. Tak lama setelah memukul anak itu, pria tersebut memberi kode tangan kepada anak-anak lain yang sedang mengemis di berbagai sudut. Sekitar lima orang anak yang masih kecil-kecil segera berkumpul dengan wajah ketakutan. Pria itu lalu menggiring mereka menuju sebuah mobil van tua yang terparkir agak tersembunyi.
“Mereka mau pergi!” bisik Anqi.
“Tetap awasi arah mereka, jangan sampai hilang,” perintah Eric.
Pria itu menyuruh semua anak masuk ke dalam mobil, lalu ia pun naik ke kursi pengemudi dan melaju perlahan meninggalkan terminal, berusaha tampil wajar agar tidak dicurigai.
“Aku ke mobil sekarang! Kau terus pantau arah mereka!” seru Eric sambil berlari menuju tempat parkir kendaraan mereka.
Anqi tetap berdiri di tempat, matanya tak berkedip mengawasi pergerakan mobil van itu hingga Eric datang dengan mobilnya. Anqi segera melompat masuk ke kursi penumpang.
“Mereka ambil jalur ke kanan, jalan keluar utama!” lapor Anqi cepat.
“Siap! Kita ikuti dari jauh, jangan sampai mereka sadar,” jawab Eric sambil memutar setir pelan, menjaga jarak aman di belakang mobil van tersebut, mulai mengikuti jejak penjahat itu menuju markas mereka.