NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8 : Masalah selesai

Beberapa hari kemudian...

Dara mulai terbiasa dengan ritme kerja yang luar biasa padat. Setiap pagi ia datang paling awal. Menyiapkan jadwal Alexander, mengecek email penting, mencetak dokumen rapat, hingga memastikan semua agenda berjalan sesuai waktu.

Meski masih sering gugup saat berhadapan dengan CEO itu, setidaknya kini ia sudah tidak menjatuhkan pulpen setiap lima menit.

Namun ternyata, masalah sebenarnya baru dimulai. Pukul sebelas siang. Dara sedang sibuk menyusun jadwal kunjungan klien ketika pintu ruangannya terbuka.

Brak!

Aldi masuk dengan wajah tegang. "Mana Bos?"

Dara langsung mengangkat kepala. "Di ruangannya."

Aldi menghela napas panjang.

Dara mengernyit. "Ada apa?"

"Masalah."

Jantung Dara langsung ikut tegang. "Masalah apa?"

Aldi meletakkan sebuah map tebal di meja Dara. "Proyek kerja sama dengan perusahaan luar negeri."

Dara membuka map itu, matanya langsung membesar. Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.

"Astaga..."

"Kliennya datang satu jam lagi."

"Terus?"

Aldi mengusap wajahnya.."Tim legal menemukan ada kesalahan dalam draft kontrak."

Dara ikut pucat. "Kesalahan?"

"Kalau kontrak itu ditandatangani sekarang, perusahaan bisa rugi puluhan miliar."

Dara langsung menelan ludah, dan saat itulah. Pintu ruang CEO terbuka. Alexander keluar, langkahnya tenang seperti biasa. Namun ekspresi wajah seluruh staf langsung berubah tegang. Dara bahkan bisa merasakan suasana koridor menjadi dingin.

Alexander berhenti di depan Aldi. "Sudah ketemu sumber masalahnya?"

"Belum."

"Kapan klien datang?"

"Satu jam lagi."

Alexander menatap jam tangannya. "Terlambat."

Aldi terdiam, semua orang terdiam. Alexander kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Dara. Dan entah kenapa, tatapan itu membuat Dara langsung duduk lebih tegak.

"Kau."

Dara membeku. "Saya?"

"Bawa semua dokumen proyek ke ruang rapat kecil."

"Hah?"

Alexander mengangkat sebelah alis.

Dara langsung berdiri. "Baik, Tuan!"

Dua puluh menit kemudian...

Dara duduk bersama Aldi dan beberapa manajer senior. Tumpukan dokumen memenuhi meja, semua orang sibuk mencari kesalahan yang dimaksud.

Sementara Alexander berdiri di depan jendela. Tidak duduk, tdak berbicara. Namun kehadirannya membuat semua orang bekerja dua kali lebih cepat.

Tiga puluh menit berlalu. Belum ada hasil. Empat puluh menit. Masih belum ketemu.

Seorang manajer mulai berkeringat. "Maaf, Tuan..."

Alexander menoleh. "Belum?"

Pria itu langsung pucat. "Be-belum."

Suasana semakin mencekam.

Dara yang sejak tadi membaca lembar demi lembar kontrak mulai merasa ada sesuatu yang aneh. Ia membuka halaman terakhir, lalu halaman sebelumnya. Kemudian kembali ke halaman awal, dahinya berkerut.

"Tunggu..."

Aldi menoleh. "Hm?"

Dara membaca sekali lagi, lalu matanya membesar. "Saya menemukannya."

Semua kepala langsung menoleh ke arahnya. Bahkan Alexander ikut berbalik, jantung Dara langsung berdebar. Tapi ia tetap memberanikan diri.

"Di pasal dua belas."

Aldi segera mengambil dokumen itu. "Kenapa?"

Dara menunjuk salah satu kalimat. "Angka kompensasi tertulis dalam dolar."

"Iya."

"Tapi di lampiran tambahan tertulis euro."

Ruangan mendadak hening.

Aldi membaca cepat, lalu membaca lagi. Matanya membesar. "Astaga..."

Salah satu manajer langsung mengambil dokumen yang sama. Wajahnya ikut pucat. "Benar."

Alexander berjalan mendekat. Dara refleks menahan napas. CEO itu mengambil dokumen dari tangan Aldi. Membacanya selama beberapa detik. Lalu menutup map tersebut.

"Ternyata ini."

Ruangan kembali sunyi.

Karena kesalahan itu sangat kecil. Sangat mudah terlewat, namun dampaknya bisa mencapai puluhan miliar rupiah. Alexander mengangkat pandangannya, menatap Dara lurus.

"Kau yang menemukannya?"

"Iya... Tuan."

"Kau yakin?"

Dara mengangguk.

Alexander tidak berkata apa-apa. Hanya memandangnya selama beberapa detik. Dan justru itu membuat Dara semakin gugup.

Kemudian...

Sudut bibir CEO itu bergerak sangat tipis, hampir tidak terlihat. "Bagus."

Semua orang membeku, termasuk Aldi. Karena di perusahaan ini, mendapatkan pujian langsung dari Alexander W. Dirgantara lebih langka daripada mendapat bonus tahunan.

Dara sendiri tidak sadar betapa luar biasanya satu kata itu. Namun Aldi tahu, dan ketika Alexander keluar dari ruang rapat beberapa saat kemudian. Aldi langsung menatap Dara seperti melihat sesuatu yang aneh.

"Kenapa?" tanya Dara bingung.

Aldi masih menatapnya. "Luar biasa."

"Apa?"

"Baru seminggu kerja."

Dara berkedip.

Aldi lalu tertawa pelan. "Dan Bos baru saja memuji kamu."

Dara membelalak. "Hah?"

Sementara itu...

Di lantai paling atas, di dalam ruang kerjanya. Alexander berdiri di depan jendela besar sambil memandang kota. Tangannya memegang laporan proyek yang tadi. Namun pikirannya justru teringat pada seorang wanita yang beberapa hari lalu berkata "hah?" saat pertama kali diajak rapat.

Wanita yang selalu gugup, sering salah tingkah. Tetapi mampu menemukan kesalahan yang luput dari perhatian seluruh tim senior. Kini Alexander mulai merasa bahwa memilih Dara mungkin bukan keputusan yang salah. Dan tanpa ia sadari, ketertarikannya pada sekretaris barunya itu perlahan mulai tumbuh.

Sore itu...

Setelah masalah kontrak berhasil diperbaiki dan pertemuan dengan klien berjalan lancar, suasana di PT Dirgantara Group akhirnya kembali normal.

Kerja sama bernilai ratusan miliar rupiah berhasil diselamatkan. Para manajer yang sejak siang tegang kini bisa bernapas lega. Bahkan beberapa di antaranya masih membicarakan bagaimana Dara berhasil menemukan kesalahan yang nyaris lolos dari pemeriksaan seluruh tim.

Di lantai paling atas...

Ruangan CEO kembali sepi. Alexander duduk di belakang meja kerjanya sambil membaca beberapa dokumen yang baru saja dikirim tim legal.

Tok... Tok...

"Masuk."

Pintu terbuka.

Aldi masuk sambil membawa dua cangkir kopi.

"Bos, kopi."

Alexander bahkan tidak mengangkat kepala. "Taruh aja."

Aldi mendengkus. "Dasar. Udah perusahaan selamat masih aja muka kayak habis kehilangan warisan."

Alexander akhirnya meletakkan dokumen, tatapannya datar. "Lo datang cuma mau ganggu?"

"Keliatannya." Aldi langsung duduk di sofa.

Sudah bertahun-tahun mereka berteman, bahkan sebelum PT Dirgantara Group berkembang sebesar sekarang. Mereka sudah saling mengenal sejak masa kuliah. Saat itu Alexander dikenal sebagai mahasiswa paling ambisius di kampus.

Sedangkan Aldi, mahasiswa paling santai. Entah bagaimana dua orang yang sangat berbeda itu justru menjadi sahabat dekat. Dan ketika ayah Alexander mulai menyerahkan perusahaan kepada putranya, beliau sendiri yang meminta Aldi ikut membantu. Sejak saat itulah mereka mulai bekerja bersama.

"By the way." Aldi menyeruput kopinya.

"Hm?"

"Kenapa beberapa hari ini lo susah dihubungin?"

Alexander kembali membuka dokumen. "Sibuk."

Aldi mengangkat alis. "Sibuk apa?"

Alexander terdiam beberapa saat. Lalu menjawab pendek. "Mengurus perceraian."

Aldi hampir menyemburkan kopi. "Uhuk! Uhuk!

Alexander menatapnya datar.

Aldi langsung membelalak. "Tunggu." Aldi meletakkan kopinya. "Perceraian?"

"Iya."

"Sama Sabrina?"

"Iya... menurut lo sama siapa lagi."

Aldi benar-benar tidak percaya. Sabrina, model terkenal yang wajahnya hampir setiap minggu muncul di majalah dan iklan televisi. Pernikahan mereka dulu bahkan sempat menjadi berita besar. Semua orang menganggap mereka pasangan sempurna.

"Tunggu dulu." Aldi mengusap wajahnya. "Kalian serius mau cerai?"

Alexander menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Gue udah ngajuin gugatan."

Aldi masih terlihat syok. "Sejak kapan?"

"Beberapa minggu lalu."

"Dan lo baru bilang sekarang?"

Alexander menatapnya. "Emangnya ada waktu buat kita ngobrol, kaya sekarang."

Aldi langsung mendengus. "Iya juga sih. Tapi lo serius, Lex?."

"Iya serius."

Keheningan sejenak memenuhi ruangan. Baru kali ini Alexander terlihat sedikit lelah. Namun Aldi mengenalnya terlalu lama untuk tidak menyadarinya.

"Apa karena orang ketiga?"

"Iya begitulah."

Alexander menatap jendela besar di belakang ruangannya. Langit sore mulai berubah jingga. "Dia selingkuh sama fotografernya."

Aldi terdiam. "Astaga!"

1
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍
It's me Sky: siap ka
total 1 replies
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!