NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:488
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

02. Pelukan Hangat yang Dinanti

Sementara di area penjemputan bandara, Armanto Setiawan dan Ranti sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.

Mereka adalah ayah kandung dan ibu tiri Alden.

Mereka telah mengetahui kabar buruk mengenai kondisi Alden sejak putra mereka itu masih berada di Perth.

Dan sejak saat itu pula, keduanya hidup dalam kecemasan yang nyaris tak pernah benar-benar hilang.

​Mendengar kabar yang begitu menghancurkan itu, Pak Armanto dan Ranti tidak tinggal diam.

Mereka bersikeras meminta Alden pulang ke Indonesia, bertekad agar sisa waktu yang dimiliki putra mereka bisa dijalani di tengah keluarga, dengan perawatan dan kenyamanan terbaik yang mampu mereka berikan.

​Segala sesuatunya telah dipersiapkan dengan sangat matang.

Dokter-dokter spesialis terbaik sudah dihubungi jauh hari sebelumnya.

Rumah sakit dengan fasilitas paling lengkap dan nyaman pun telah dipilih secara khusus untuk menangani kondisi Alden.

Bahkan persediaan obat-obatan penunjang dan kebutuhan medis lainnya sudah tersedia penuh di rumah, seolah mereka ingin memastikan tidak ada satu pun hal yang kurang dalam perjuangan Alden nanti.

​Bagi Pak Armanto dan Ranti, mereka mungkin tidak mampu melawan takdir.

Namun setidaknya, mereka ingin melakukan segala hal yang masih bisa dilakukan demi mempertahankan harapan sekecil apa pun.

​Sepasang suami istri itu berdiri menunggu dengan tatapan penuh kerinduan yang tak mampu mereka sembunyikan.

Begitu sosok Alden terlihat jelas di antara keramaian penumpang, Ranti langsung melambaikan tangan.

Jemarinya tampak sedikit gemetar saat buru-buru menyeka air mata yang sudah telanjur mengalir di sudut matanya. Rasa haru, lega, dan sedih bercampur menjadi satu hingga sulit disembunyikan.

​“Mas Alden… akhirnya kamu sampai juga,” sapa Ranti lembut.

Suara wanita itu terdengar bergetar halus, seolah ia sedang menahan begitu banyak emosi di dalam dadanya.

​Ia melangkah maju perlahan. Tangannya sempat terulur lalu terhenti sesaat di udara, seolah ragu pada batas tak kasat mata yang selama ini selalu ada di antara mereka.

Namun akhirnya, ia tetap memeluk anak tirinya itu dengan hati-hati.

Pelukan itu terasa hangat, lembut, dan penuh ketulusan, meski belum sepenuhnya serapat pelukan seorang ibu kandung kepada anaknya sendiri.

Masih ada jarak sopan yang belum mampu ia hilangkan. Padahal di dalam hati kecilnya, ia ingin memeluk Alden lebih erat, seolah takut kehilangan untuk kedua kalinya.

​Alden membalas pelukan itu dengan lembut.

Suaranya terdengar sedikit serak saat ia menjawab,

"Maaf ya, bikin kalian menunggu lama. Perjalanannya lumayan melelahkan, tapi Alden baik-baik aja kok."

​"...Ibu dan Papamu memang sudah menunggu dari tadi. Rasanya waktu berjalan sangat lambat sekali," ujar Ranti pelan, lalu segera melepaskan pelukan itu dengan sopan.

"Syukurlah, Mas Alden sudah ada di sini sekarang..."

​Ia menundukkan wajah sedikit, menyeka sudut matanya yang basah dengan punggung tangan.

Kebiasaan memanggil “Mas Alden” memang tak pernah benar-benar hilang dari lidahnya. Sejak dulu, saat ia masih bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Armanto, panggilan itu sudah terlanjur melekat begitu kuat.

Karena itulah, meski kini kedudukannya telah berubah menjadi istri Pak Armanto sekaligus ibu tiri bagi Alden, sapaan itu tetap terasa paling alami saat keluar dari bibirnya.

​Pak Armanto yang berdiri di samping mereka ikut tersenyum.

Setelah itu, ia bergantian memeluk putra semata wayangnya sambil menepuk pelan punggung Alden. Senyum di wajah pria itu menyiratkan kelegaan yang begitu besar.

​“Selamat datang kembali di rumah, Nak,” ujar Pak Armanto lembut.

“Rasanya seperti mimpi, ya. Tiba-tiba saja sudah sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali kita bertemu.”

​Alden perlahan melepaskan pelukan itu, lalu menatap wajah ayahnya lekat-lekat.

Pria berusia enam pukul tahun itu tampak jauh lebih tua dibanding terakhir kali ia lihat lewat layar ponsel. Garis-garis halus kini terlihat jelas di sudut matanya, sementara rambutnya pun semakin banyak dipenuhi warna putih.

​“Iya, Pa. Rasanya baru kemarin Alden berangkat, tapi ternyata waktu berjalan begitu cepat,” sahut Alden pelan.

“Jakarta memang banyak berubah… tapi anehnya, rasanya tetap ada di sini.”

Ia menunjuk dadanya sendiri sambil tersenyum tipis.

​Ranti memegang lengan Alden dengan hati-hati, seolah takut sentuhan sekecil apa pun bisa membuat tubuh pria itu merasa tidak nyaman.

​“Kamu jangan banyak bicara dulu kalau capek, ya,” ucap Ranti penuh perhatian.

“Perjalanan jauh pasti menguras tenaga.”

Ia tersenyum lembut sebelum melanjutkan,

“Di rumah, Ibu sudah masak semua makanan kesukaanmu. Kamar kamu juga sudah Ibu bersihkan dan ditata ulang, persis seperti terakhir kamu tempati dulu."

​Alden tersenyum tipis. Perlahan, rasa hangat mulai menjalar di dalam hatinya.

“Makasih ya, Bu, Pa,” ucapnya tulus.

​Namun sesaat kemudian, ia menundukkan wajah sedikit. Suaranya berubah lebih berat, seolah ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.

“Maafin Alden… baru bisa pulang sekarang. Dan malah pulang membawa keadaan seperti ini.”

​Pak Armanto langsung menggeleng tegas. Ia kembali menepuk bahu putranya, kali ini sedikit lebih kuat, seakan ingin menyalurkan semangat dan kekuatan.

​“Jangan bicara begitu, Nak,” potongnya lembut namun penuh penegasan.

“Kamu bukan beban. Kamu itu segalanya buat Papa dan Ibu.”

Tatapan mata pria itu tampak berkaca-kaca, tetapi ia tetap berusaha tersenyum tenang.

“Kepulanganmu ke sini justru keputusan terbaik. Di sini ada keluarga yang akan menemani kamu. Ada dokter-dokter terbaik yang siap membantu kamu berjuang. Semuanya sudah Papa siapkan dengan matang.”

​Pak Armanto mengusap pelan pundak Alden.

“Kamu sekarang nggak perlu memikirkan apa-apa lagi. Fokus istirahat, jaga kesehatan, dan ikuti semua arahan dokter. Itu saja dulu.”

​“Benar kata Papamu,” tambah Ranti cepat sambil menatap lekat wajah anak tirinya itu.

“Dokter-dokter terbaik di Jakarta sudah kami hubungi. Rumah sakitnya juga sudah kami pilih yang fasilitasnya paling lengkap dan nyaman buat kamu.”

​Tangannya mengusap pelan lengan Alden dengan penuh kehati-hatian.

“Obat-obatan yang kamu butuhkan juga sudah tersedia. Bahkan cadangannya pun sudah kami siapkan, jadi kamu nggak perlu khawatir soal apa pun lagi.”

Ranti tersenyum lembut, meski sorot matanya menyimpan kesedihan yang berusaha ia tutupi.

“Tugas kamu sekarang cuma satu… istirahat yang cukup, nikmati waktumu di sini, dan berjuang semampumu. Selebihnya, biar Papa dan Ibu yang memikirkan.”

​“Baik, Pa, Bu,” jawab Alden pelan.

Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia berusaha keras menahannya.

“Alden janji akan berusaha sekuat tenaga. Alden senang akhirnya bisa pulang… bisa ketemu dan kumpul lagi sama Papa dan Ibu. Makasih untuk semuanya.”

​“Nah, begitu dong,” sahut Pak Armanto sambil tersenyum lebar.

“Jangan menangis dulu, nanti malah bikin kondisi kamu drop lagi.”

​Pria itu kemudian mengambil salah satu tas berat dari tangan Alden sebelum menepuk pundaknya pelan.

“Ayo kita pulang. Mobil sudah menunggu di depan.”

​Mereka pun berjalan beriringan menuju pintu keluar bandara.

Di bawah langit malam Jakarta yang dipenuhi cahaya lampu kota, langkah Alden terasa sedikit lebih ringan dibanding sebelumnya.

Meski ia sadar waktu yang dimilikinya tidak banyak lagi, setidaknya kini ia tahu satu hal: sisa hidupnya akan dijalani di dekat orang-orang yang paling ia cintai.

bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!