NovelToon NovelToon
Gagal Jadi Istri Gus, Dinikahi Kakaknya

Gagal Jadi Istri Gus, Dinikahi Kakaknya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.

Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.

Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAH!

BRAKK!!

Pintu ruang tamu Kiai Hakim terbuka lebar saat seseorang mendorong dari luar. Mengejutkan Kiai Hakim dan Hafidz yang belum kelar berdebatnya sedari tadi.

Zefano masuk dengan Alisa di gandengannya, menatap serius ke arah Kiai Hakim. Nafasnya memburu, rahangnya mengetat, tangannya mengepal kuat di samping tubuh.

"Nikahkan kami sekarang, Abah." Tegas Zefano tanpa fikir panjang.

Terkejutlah Kiai Hakim dan juga Hafidz. Terlebih Hafidz. Pria itu sontak berdiri. Melotot ke arah kakanya yang bisa-bisanya, mengucapkan hal yang tidak bisa diputuskan secara sepihak.

"Kakak apa-apaan tiba-tiba nyimpulin sendiri kaya gitu?!" Pekik Hafidz, melotot tajam.

Sementara Alisa terus berusaha melepas pegangan tangan Zefano. Namun semakin ia berusaha melepas, semakin ia tak bisa terlepas dari jeratan Zefano.

Hafidz yang melihat Alisa meringis kesakitan spontan maju, menyentak tangan Zefano dari Alisa. Namun ia pun tak bisa melepaskannya.

"Lepas kak! Kau menyakiti Alisa!"

Zefano yang disentuh tanpa persetujuannya langsung mendorong kuat baru Zefano dari hadapannya. Membuat pria itu terjatuh di sofa.

"Sekali kau maju ku patahkan tanganmu!" Tegas Zefano tajam.

Kiai Hakim semakin bingung sendiri. Ia sudah kewalahan rasanya mengurusi dua putra yang memperebutkan satu wanita.

"Sudah, sudah, SUDAHH!!" seru Kiai Hakim, menghentikan pergerakan mereka.

"Sampai kapan kalian akan terus ribut seperti ini?! Hafidz! Jangan memperburuk suasana!" Seru Kiai Hakim, tak bisa lagi berfikir tenang.

"Cuma karena satu wanita. Kalian hampir membuat Abah sakit jantung! Memangnya apa kelebihan wanita itu?! Hanya gadis yang dicampakan orang tua. Bahkan orang tuanya saja tidak menganggapnya! Tapi kalian meratukannya tanpa melihat martabat kalian sebagai anak Abah!"

Tubuh Alisa membeku. Tatapannya berubah kosong seolah tak ada lagi gairah hidup, menatap intens Kiai Hakim di depannya.

Ia tak mengira, ucapan buruk itu akan keluar dari seorang guru yang begitu ia takdzimi. Seorang guru yang selalu ia pandang mulia, seorang guru yang tak pernah sedikitpun terlintas di fikirannya akan berucap kata kasar apalagi menghina. Namun saat ini, semua statement itu hancur lebur bersama rasa sesak yang semakin menggila.

Sementara Zefano yang mendengar ayahnya berucap buruk pada Alisa langsung menarik Alisa kebelakang punggungnya. Menatap abahnya itu tajam.

"Seperti itu cara berbicara anda, bah?! Bahkan pada santriwati anda sendiri! Lalu apa bedanya Abah dengan saya! Bahkan saya jauh lebih menghargai Alisa meskipun saya terlihat tidak beragama!"

Kiai Hakim tertegun, baru kali ini Zefano marah dengan melontarkan kata-kata panjang. Biasanya hanya dengan lototan tajam, atau membanting barang hingga seluruh keluarga diam.

Namun kali ini, ia seperti melihat dirinya di masa muda.

"Anda tidak berhak menghina calon istri saya! Mau seperti apapun dia, darimanapun asalnya, Alisa tetap Alisa! Jika Abah tidak mau menikahkan kami. Saya akan ke KUA langsung!" Tegas Zefano, beranjak pergi dari sana, dengan membawa Alisa yang selalu setia di genggamannya.

Alisa yang sudah hancur batinnya sudah seperti bulu terbengkalai. Yang mengikuti kemanapun angin berhembus.

Sementara Zefano terus berjalan keluar, menatap tajam ke depan tanpa perduli Kiai Hakim memohon padanya untuk kembali dan meminta maaf. Sementara Hafidz. Pria itu hanya bisa terpaku, menatap kosong ke depan. Terduduk lemas di atas sofa.

"Aku mohon lepaskan aku, kak." Lirih Alisa tercekat, nyaris seperti rintihan.

Mendengar suara parau Alisa dada Zefano langsung sesak. Pria itu sontak berbalik, memegang kedua bahu Alisa di depannya dengan mata yang memerah menahan amarah.

"Apa yang kamu pertahankan disini, Alisa? Bahkan gurumu saja menganggap mu rendah. Untuk apa kau tetap bertahan disini?!" Serunya kesal.

Alisa memejam kuat, tangisnya semakin terdengar memilukan. Membuat Zefano yang sudah berucap kasar itu langsung merasa bersalah.

Zefano mencium tangan Alisa yang gemetar itu lembut, menempelkannya pada pipinya yang mulai menitikkan air mata, "Aku mohon, dengarkan aku. Aku tidak rela membiarkan kamu tetap berada di tempat yang bahkan kehadiranmu tidak dihargai."

Jika kesadaran Alisa masih penuh. Dia pasti akan menolak jika disentuh bahkan hanya sebatas tangan oleh Zefano. Namun sekarang, fikirannya sudah kosong, ia bahkan tidak tau sedang berfikir apa, dan apa yang sedang ia lakukan sekarang.

Rasa syok dan trauma yang bertumpuk di hatinya membuat rasa sakit itu tak berasa, berganti dengan kekosongan hati dan fikiran yang jauh lebih berbahaya.

Kali ini, Alisa seperti bulu yang terombang-ambing dan hanya berpatokan pada angin.

Ia bahkan tak menolak saat Zefano mengajaknya masuk ke dalam mobil. Sementara Abah dan Hafidz terpaku dengan tatapan syok di teras rumah.

Zefano langsung memutari mobil, masuk ke dalam balik kemudi sebelum akhirnya ia melajukan mobilnya keluar dari pelataran rumahnya. Membawa Alisa pergi dari sana untuk setidaknya membuat gadis itu tenang.

Zefano sendiri heran dengan dirinya. Baru kali ini dia sepeduli dan seperhatian itu pada seorang wanita. Padahal sebelumnya dengan sang mantan saja ia kerap acuh. Namun dengan Alisa, apapun akan ia lakukan demi gadis itu merasa tenang.

Malam itu juga, Zefano langsung membawa Alisa menuju KUA. Ia bahkan sampai menghadiri sendiri seorang bapak yang biasa menjadi penghulu di pernikahan.

"Anda yakin ini bukan atas keterpaksaan, Sodara Zefano?"

Wajar, orang mana yang tidak mengira pemaksaan saat melihat calon mempelai wanitanya tampak seperti orang linglung dan tidak punya harapan hidup.

Zefano menatap Alisa intens, gurat cemas semakin tercetak jelas di wajahnya, "Justru jika saya tidak menikahinya sekarang, saya tidak bisa melindunginya nantinya."

Pak penghulu itu akhirnya pasrah, menghela nafas panjang.

"Untuk surat-suratnya akan dilakukan setelah akad, betul mas? Cuma masalahnya, dimana wali nikahnya? Mempelai wanita harus ada wali." Ucap Pak Penghulu lagi.

Zefano terdiam cukup lama. Tangannya mengepal erat di samping pangkuan.

"Dia sedari umur 20 tahun sudah diusir orang tuanya, pak. Mereka tidak akan perduli dan tidak akan Sudi menjadi wali." Jelas Zefano akhirnya.

Akhirnya pak penghulu pun pasrah. "Baiklah, saya yang akan menjadi wali untuk Nak Alisa."

Ijab qobul pun diberlangsungkan dengan dua saksi dari pihak KUA. Akad itu berjalan singkat, sangat singkat. Namun rasa haru dan juga rasa pilu itu menembus hingga ke Arsy.

"Bagaimana para saksi, sah?"

"SAHH!!" Seru Ujang dan Udin, dua orang saksi kepercayaan pak penghulu.

Malam itu, di gedung KUA dengan acara yang begitu sederhana. Ikatan dua hati sudah terjalin. Tanpa pesta, tanpa kemewahan, namun hati yang mereka pertaruhkan begitu dalam hingga menggetarkan arsy-arsy langit.

Zefano, dengan jantan menikahi Alisa tanpa perduli latar belakang gadis itu. Tanpa melihat seperti apa alur hidupnya. Yang jelas, dia Alisa.

Alisa hanya bisa tersenyum getir, menertawakan nasibnya yang begitu lucu.

Ia bahkan sudah tak ada harapan lagi. Dan pasrah tidak perduli siapa yang menjadi suaminya.

Meski begitu, ia tak buta. Ia melihat ketulusan di mata Zefano meski rasanya pernikahan ini diluar nalar.

"Cepatnya, baru kemarin aku ditolak, sekarang sudah menjadi istri kakak dari pria yang menolakku."

1
falea sezi
pergi sejauhnya biar suami. goblok mu klo uda inget pasti kelabakan🤣 sebel liat laki oon gini pengen tak timpuk🤭 lanjut banyak thor q ksih hadiah deh
Dynhz: hihihi masyaallah, makasih banyak sayang🤗🤗
total 1 replies
falea sezi
pergi aja Alisa biar klo dia inget mampus uda telat🤣 laki. goblok gini males bgt bkin Alisa pergi thor biar gk kayak ikan terbang
Dynhz: hhhi siap, aku juga klo jadi Alisa pergi sih😭
total 1 replies
Winny
👍
AsLan 🦁
diawal-awal udah bagus makin kesini makin pret kaya sinetron ikan terbang, basiiii
Dynhz: maaf yah kalo cerita saya kaya ikan terbang😁🙏🏻makasih sudah mampir😁🙏🏻
total 1 replies
AsLan 🦁
preeeetttlaaaghh
falea sezi
yaa kemana si zafano😕 msak hanyut nanti amnesia lagi😕
falea sezi
lanjut donk
Dynhz: uwokeee😍👍
total 1 replies
falea sezi
jahat bgt si hafiz makan aja itu ning nong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!