NovelToon NovelToon
Suami Yang Tak Di Inginkan

Suami Yang Tak Di Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8 : Komplotan

Revan baru saja merapikan berkas-berkasnya dan bersiap meninggalkan ruang belajar ketika Ibu Farah muncul dari ruang makan.

"Nak Revan, sudah selesai?"

"Sudah, Tante," jawab Revan sopan. "Untuk hari ini cukup. Besok kita lanjut lagi."

"Kalau begitu jangan langsung pulang."

Revan sedikit bingung. "Eh?"

"Makan malam dulu bersama kami."

Queen yang sedang sibuk membalas pesan Nathan langsung mengangkat kepala.

"Ma..."

Ibu Farah menoleh.

"Kan Pak Revan mau pulang. Biarin aja dia pulang."

"Husst!"

Queen langsung mengerucutkan bibirnya.

"Kamu nggak boleh begitu."

"Tapi Ma..."

"Pak Revan sudah buang tenaga ngajarin kamu hampir dua jam."

Queen mendengus.

"Pasti dia lapar."

Revan tersenyum kecil. "Tidak perlu repot-repot, Tante."

"Dilarang menolak."

"Iya, Den. Makan dulu baru pulang," sambung Bi Inah yang kebetulan lewat sambil membawa piring.

Queen langsung merasa sendirian.

Semua orang seperti berada di pihak Revan. Akhirnya Revan mengangguk sopan.

"Kalau begitu terima kasih, Tante."

"Nah begitu dong."

Mereka bertiga berjalan menuju ruang makan. Namun saat duduk, Revan berkata. "Oh ya Tante, kalau bisa panggil saya Revan saja jangan Pak."

"Oh begitu, kenapa... takut keliatan tua ya?" ucap Ibu Farah sambil terkekeh.

"Hehehe... bukan begitu tante, karena saya belum menikah."

Queen yang sedang minum langsung tersedak kecil.

Sedangkan Revan tersenyum santai. "Jadi rasanya kurang pantas dipanggil Pak terus."

Ibu Farah langsung tertawa. "Oalah iya juga."

"Kalau di kampus beda cerita."

"Baiklah, Nak Revan."

Queen hanya memutar bola mata. "Apanya yang lucu sih..."

Namun obrolan mereka ternyata belum selesai.

Ibu Farah kembali berkata, "Kalau dipikir-pikir, usia Nak Revan juga tidak jauh beda dari usia Kevin ya."

Revan mengangguk. "Iya, Tante."

"Kevin bagaimana kabarnya sekarang?"

"Baik."

"Kalian masih berhubungan?"

"Masih sesekali."

Queen yang sejak tadi malas mendengarkan tiba-tiba membeku. Tunggu. Kevin? Kak Kevin?

"Hah?" Queen langsung menoleh cepat.

Kedua orang itu ikut menatapnya.

"Kalian kenal?"

Revan terlihat heran. "Tentu."

Queen berkedip beberapa kali. "Kak Kevin?"

"Iya."

Ibu Farah tersenyum. "Memangnya Mama belum bilang?"

"Bilang apa?"

"Kevin dan Revan itu satu kampus dulu."

Queen langsung melotot. "Satu kampus?"

"Iya," jawab Revan tenang. "Bedanya saya lulus lebih dulu."

Queen masih terlihat syok. Karena semalam saat video call, Kevin sama sekali tidak membahas nama Revan. Ternyata mereka saling kenal.

"Sebentar..." Queen mulai menyipitkan mata curiga.

Tatapannya berpindah dari Revan ke Ibu Farah. Lalu kembali ke Revan, kemudian ke Ibu Farah lagi.

"Jangan-jangan..."

Ibu Farah terlihat berusaha menahan senyum.

"Mama..."

"Hm?"

"Jangan-jangan Kak Kevin yang rekomendasiin Pak Revan ke Mama?"

Kali ini Ibu Farah tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi. Wanita itu mengangguk santai.

"Iya."

Deg.

Queen langsung mematung. "Apa!"

"Kevin yang menyarankan Nak Revan untuk menjadi guru privat kamu."

"Mama!"

"Kenapa?"

Queen hampir tidak percaya. Jadi semua ini memang konspirasi? Kakaknya sendiri yang menjebaknya?

Di seberang meja, Revan terlihat berusaha menahan tawa.

Sedangkan Queen sudah melotot kesal. "Awas aja Kak Kevin..."

"Jangan salahkan kakakmu," kata Revan santai sambil mengambil segelas air. "Dia hanya ingin adiknya cepat lulus."

Queen langsung menunjuk Revan. "Tuh kan! Kalian komplotan!"

Ibu Farah malah tertawa. "Kalau komplotan untuk kebaikan kamu, kenapa tidak?"

Queen mengerang frustrasi sambil menjatuhkan kepalanya ke meja. "Astaga..."

Kali ini suara tawa Revan terdengar jelas. Dan entah kenapa, melihat pria yang biasanya selalu serius itu tertawa membuat Queen sedikit terkejut. Karena ternyata dosen menyebalkan itu... bisa tertawa juga.

Queen masih memegangi kepalanya di atas meja makan. "Astaga... jadi selama ini aku dikerjain sama Kak Kevin."

Ibu Farah terkekeh pelan. "Bukan dikerjain. Tapi dibantu."

"Dibantu dari mana?" protes Queen. "Dia bahkan nggak bilang apa-apa waktu video call semalam."

Revan yang duduk di seberangnya hanya menikmati makan malam dengan tenang. "Kalau dia bilang duluan," ucap pria itu santai, "kemungkinan besar kamu langsung kabur."

Queen langsung melotot. "Tuh kan! Tuh kan, Ma! Dia ngaku sendiri."

Ibu Farah justru tertawa semakin keras, kini suasana meja makan terasa hangat.

Selesai makan malam, Revan membantu merapikan beberapa buku yang tadi digunakan untuk bimbingan.

"Tante, kalau begitu saya pamit."

"Oh iya, hati-hati di jalan ya."

"Iya, terima kasih Tante untuk jamuan makan malamnya."

"Iya sama-sama Nak Revan."

Queen yang berdiri di dekat tangga hanya mengangguk seadanya. "Hati-hati, Pak Revan."

Revan mengangkat satu alis.

Queen langsung mendengus. "Eh... Kak Revan."

"Nah, begitu lebih baik."

Mata Queen langsung melotot lagi.

Sedangkan Revan hanya tersenyum tipis. "Sampai besok."

"Besok lagi..." gumam Queen pelan.

"Saya dengar."

"Memang saya sengaja ngomong keras."

Revan kembali menggeleng kecil sebelum akhirnya berjalan menuju pintu depan. Namun sebelum keluar rumah, ponselnya bergetar.

Pria itu melirik layar sekilas. Nama yang muncul membuat sudut bibirnya terangkat... Kevin.

Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat panggilan itu.

"Halo."

"Masih di rumah nyokap gue?"

"Iya."

"Masih hidup kan lo?."

Revan terkekeh pelan. "Lebih tepatnya bertahan hidup."

Di seberang sana Kevin tertawa keras. "Gimana? Pusing kan?"

"Sedikit."

"Masa sih cuma sedikit?"

"Baiklah, cukup banyak."

Keduanya tertawa.

"Skripsi dia gimana?" tanya Kevin.

"Berantakan."

"Nah kan."

"Tapi masih bisa diperbaiki."

Kevin menghela napas lega. "Tolong bantu dia ya, Van."

Tatapan Revan tanpa sadar beralih ke arah ruang tamu melalui pintu kaca. Di sana Queen sedang berdiri sambil bersedekap dan terlihat kesal karena menyadari dirinya sedang diperhatikan.

"Kenapa lihat-lihat?" teriak Queen dari dalam rumah.

Revan hanya menggeleng kecil. "Dia keras kepala."

"Udah dari lahir," jawab Kevin cepat.

"Tapi sebenarnya dia pintar."

Kevin terdiam sesaat. "Oh ya?."

"Hm?"

"Itu yang gue tunggu."

Revan mengernyit. "Queen memang malas. Sering bikin orang emosi. Tapi dia nggak bodoh."

Tatapan Revan kembali mengarah pada gadis itu. Hari ini, selama hampir dua jam mengajar, ia memang menyadari sesuatu. Setelah fokus, Queen ternyata cukup cepat menangkap penjelasan. Masalahnya bukan kemampuan, masalahnya adalah kemauan.

"Dia cuma kehilangan arah sedikit," ujar Revan pelan.

Kevin tertawa kecil. "Kalau sampai Queen dengar lo ngomong begitu, dia pasti besar kepala."

"Tenang."

"Makasih ya, Van."

"Hm."

Panggilan berakhir beberapa menit kemudian.

Di dalam rumah, Queen sedang menaiki tangga menuju kamarnya ketika suara ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Kevin.

Kak Kevin : Jangan nyusahin Revan.

Mata Queen langsung membelalak.

Queen : Jadi bener Kakak yang nyuruh dia?

Kak Kevin : Iya.

Queen : Pengkhianat!

Kak Kevin : Sama-sama.

Queen : Gue blokir Kakak.

Kak Kevin : Besok jam 4 sore jangan telat belajar.

Queen : Imot marah...

Beberapa detik kemudian balasan masuk lagi.

Kak Kevin : Kalau lulus skripsi, gue transfer hadiah.

Queen yang tadinya marah langsung berhenti mengetik.

Queen : Berapa?

Kak Kevin : Tuh kan.

Queen : Berapa dulu.

Di apartemennya yang jauh di Amerika, Kevin langsung tertawa keras melihat perubahan sikap adiknya yang begitu cepat.

Sedangkan di kamarnya, Queen mendengus kesal sambil melempar ponsel ke atas kasur.

"Semuanya nyebelin..."

Namun untuk pertama kalinya setelah dua tahun bergelut dengan skripsi yang tak kunjung selesai. Entah kenapa, Queen mulai merasa bahwa kali ini mungkin semuanya akan benar-benar berubah. Dan perubahan itu dimulai dari dosen menyebalkan bernama Revan yang kini secara resmi masuk ke dalam kehidupannya.

1
Amoera
Queen jangan khianatin pak Revan. kasian dia. lagian mau aja sama sih mokondo🤣
Arditya
cie... akhirnya nikah juga🤭
It's me Sky: hhheeee🤣
total 1 replies
Arditya
sejauh ini keren banget thoor👍
Siska Amelia
good
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 1 replies
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉






Saling support sabi kali ya😉
It's me Sky: wihh makasih kakak/Smile/
total 1 replies
Reichan Muhammad
ya ampun torrr keren bgttt kmu punya 4 novel yg on going semua
It's me Sky: iya kakak, selama lagi ada ide jalan terus🤭
total 1 replies
Arditya
jadi inget inggit dan mas Arya, tapi ini kemasannya beda top lah thoor👍
It's me Sky: wkwkwkwkwk🤭
total 1 replies
Arditya
wajah di baca ini cerita menarik banget, remajanya dapet kisahnya fresh. suka sma Revan dan Queen. sukses thoor/Smile/
It's me Sky: makasih bnyk/Hey/
total 1 replies
Arditya
seru banget thoor😍
It's me Sky: wihhh makasihhh/Tongue/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!