Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Yang Sudah Mati
Rasa sakit itu datang lebih dulu sebelum kesadarannya kembali. Terasa panas dan sesak sekali.
Tulang rusuknya terasa seperti dihantam batu besar, sementara tenggorokannya seperti terbakar setiap kali mencoba bernapas.
Samar-samar terdengar suara seseorang menangis di dekatnya, bercampur suara bunyi hujan yang memukul jendela kaca.
Dunia gelap memenuhi pandangannya, lalu perlahan cahaya muncul.
Langit-langit tinggi berwarna putih gading menyambutnya pertama kali. Ukiran emas memenuhi sudut ruangan yang terlihat mewah sekaligus asing. Aroma bunga mawar bercampur obat-obatan memenuhi udara.
“Nonaku…?” Suara perempuan muda bergetar menahan rasa cemas.
Kelopak matanya berkedip pelan. Kepalanya terasa sangat pusing dan pandangannya seakan dipenuhi kabut. Dia mencoba bangkit namun gagal. Nyeri tajam langsung menjalar dari leher hingga dada.
“Jangan bergerak dulu nona!” suara perempuan itu panik. “Dokter bilang kondisi Nona belum stabil!”
"Dokter? Nona?" batinnya. Otaknya berdenyut hebat tangannya memegangi kepalanya.
Ingatan terakhir yang ia miliki hanyalah lampu kendaraan yang menyilaukan dan suara rem dan klakson yang memekakkan telinga. Setelah itu…
Brukkk!!!
Suara itu masih terdengar sangat nyata.
Perlahan ia memalingkan wajah tepat didepannya ada Seorang gadis berpakaian pelayan berdiri di samping tempat tidur sambil memegang kain basah. Matanya sembab seperti habis menangis semalaman.
Ruangan ini jelas bukan rumah sakit. Matanya menyapu seluruh ruangan, matanya melihat Tempat tidur yang besar bertiang ukiran perak. Tirai beludru berwarna merah tua. Lampu seperti lilin kristal yang menggantung di langit-langit. Bahkan pakaian yang menutupi tubuhnya tampak seperti gaun tidur bangsawan dari film sejarah.
Jantungnya mulai berdetak tidak teratur, keringat dingin memenuhi kulit ditubuhnya.
Deg..deg..deg.. Telinganya mendengar suara detakan jantungnya sendiri.
“Aku…” suaranya serak. “Di mana?”
Pelayan itu terkejut. “Nona…?”
“Ini tempat apa?” tanyanya sekali lagi.
Wajah pelayan gadis tersebut langsung berubah pucat mendengar pertanyaan nona besarnya. “Ini kediaman Duke Vareinne…” suaranya sambil bergetar menahan tangis.
Deg...!
Dunia seolah berhenti beberapa detik. Nama itu terasa asing di telinganya kemudian entah mengapa kepalanya mendadak nyeri luar biasa.
Potongan-potongan gambar ingatan muncul secara tiba-tiba.
Seorang gadis sedang menahan tangis tengah berlutut disebuah lorong panjang kemudian,
Plakk..!!
Suara tamparan menggema di seluruh lorong. Kemudian dipaksa meminum cairan pahit yang beracun, lalu lehernya dicekik.
Napasnya tercekat kemudian refleks menyentuh leher. Bekas memar samar terasa di kulitnya.
“Apa…” Tubuhnya gemetar, ini bukan ingatannya.
Bayangan lain menyerbu tanpa ampun.
Seorang wanita paruh baya memiliki wajah cantik yang sedang tersenyum lembut sambil menuangkan teh.
Seorang pria dewasa yang memalingkan wajah dengan dingin terhadapnya.
Tawa seorang gadis muda yang terdengar manis namun sebenarnya menusuk.
Lalu rasa sakit hati, kecewa dan keputusasaan.
Semua emosi itu menghantamnya sekaligus hingga membuat dadanya sesak. “Agh…!”
“Nona! Ada apa? Apakah ada yang sakit?" Pelayan itu berusaha menopangnya dengan wajah yang sangat panik.
Tepat saat itulah suara asing terdengar di kepalanya.
[Sinkronisasi jiwa selesai.]
Tubuhnya bergetar saat mendengar seperti suara sistem yang ada disebuah novel yang pernah dia baca dikehidupannya.
[Tubuh kompatibel berhasil ditemukan.]
Matanya tambah melebar, dia benar-benar mendengar suara sistem.
[Revenge Ascension System berhasil diaktifkan.]
Tulisan transparan berwarna biru muncul di depan matanya. Dia menatap dengan wajah keterkejutan di udara.
Namun sepertinya Pelayan di depannya tampak tidak melihat apa pun.
[Selamat datang, pewaris baru.]
[Target utama: Bertahan hidup.]
[Misi utama: Ungkap kematian Arcelia Vareinne.]
Arcelia…?
Nama itu terasa familiar sekarang. Bukan karena pernah mendengarnya atau pernah membaca novel. Melainkan karena tubuh ini mengenalnya.
Tiba-tiba rasa dingin menjalar hingga ujung jari karena masih seperti mimpi. Dia perlahan turun dari tempat tidur meski lututnya masih lemah.
"dimana cermin?" tanya Arcelia.
“Nona, Anda belum boleh—” belum sempat pelayan itu menyelesaikan ucapannya.
“Ada cermin?” dia mengulang pertanyaannya kembali
Pelayan itu tampak sedikit bingung mengapa dirinya mencari sebuah cermin. Namun akhirnya menunjuk ke sisi ruangan.
Dengan langkah goyah, ia mendekati cermin tinggi berbingkai emas. Dan dunia kembali terasa berhenti.
Perempuan di dalam pantulan itu bukan dirinya.
Rambut panjang bergelombang berwarna hitam kecokelatan jatuh hingga pinggang. Kulit pucat bagai porselen. Mata merah anggur yang indah namun terlihat layu.
Cantik.
Terlalu cantik hingga terasa tidak nyata.
Namun yang paling membuatnya terkejut adalah luka lebam kebiruan di leher wanita itu.
Bekas cekikan seseorang yang membuat dirinya sangat terkejut dan refleks menyentuh lehernya.
Ingatan asing kembali muncul.
Di Suatu malam yang gelap terdengar suara hujan lebat, tubuhnya yang lemah penuh luka dan duduk bersimpuh.
Lalu suara perempuan lain berbisik lembut: “Kakak seharusnya mati saja.”
Tubuhnya menegang seketika, ingatan itu bukan seperti mimpi ataupun halusinasi.
Gadis bernama Arcelia benar-benar telah dibunuh oleh ibu dan saudari tirinya.
Dan sekarang dirinya berada di tubuh wanita itu. “Astaga…” Tangannya bergetar hebat. Dia seharusnya takut, panik dan menangis.
Namun anehnya, emosi paling kuat yang memenuhi dada justru kemarahan. Kemarahan pemilik tubuh aslinya.
Kesedihan yang terlalu lama dipendam. Dan rasa sakit karena selalu diabaikan oleh ayah kandungnya sendiri.
Kerinduan terhadap ayah yang perlahan menjauhi Arcelia dan rasa sakit atas pengkhianatan dari keluarga sendiri.
Air matanya jatuh tanpa dia sadari.
Pelayan tadi terlihat semakin khawatir. “Nona, apakah saya perlu memanggil dokter lagi?”
Arcelia menggelengkan kepalanya pelan. “Namamu siapa?” tanyanya.
“Lilian, Nona.” jawab pelayan itu.
"Lilian." gumamnya pelan.
Nama itu terasa familiar dari ingatan tubuh ini. Satu-satunya pelayan yang masih setia pada Arcelia sampai akhir.
“Sudah berapa lama aku tidak sadar?” tanya Arcelia dengan datar.
“Tiga hari nona." suara pelayan itu terdengar hampir menangis.
Tiga hari setelah kematian Arcelia. Dia menarik napas perlahan sambil menenangkan pikirannya.
Dia harus mengenali situasinya terlebih dahulu baru mencari solusinya.
“Ceritakan semuanya.” kata Arcelia.
Lilian terlihat sedikit ragu-ragu. “Nona pingsan setelah meminum teh malam itu…”
"Teh." batinnya.
Kemudian Ingatan tubuh ini langsung bereaksi.
Arcelia diminta untuk meminum sebuah teh yang rasanya sangat pahit tidak seperti teh pada umumnya. Kemudian setelah meminum teh itu dadanya terasa panas dan sesak napas, kemudian pandangannya gelap dan......
“Siapa yang memberikannya?” sorot matanya sangat tajam dan tangannya mengepal sangat keras.
Pelayan itu langsung pucat. “Aku… aku tidak tahu…” pelayan itu berbohong.
Entah mengapa Arcelia merasa Lilian sedang berbohong, namun dirinya tidak memiliki bukti dan tepat saat pikiran itu muncul—
[Skill aktif: Kebohongan dideteksi Lv.1]
Tulisan berwarna biru transparan kembali muncul didepannya.
[Target menyembunyikan informasi.]
Jantungnya berdetak lebih cepat. Sistem ini ternyata nyata bukan halusinasinya.
Kemudian dia menatap Lilian dalam diam cukup lama hingga gadis tersebut menunduk gugup karena ditatap oleh sang majikannya seperti sudah ketahuan mencuri.
“Aku tidak akan menghukum mu,” ucapnya tenang. “Tapi aku perlu tahu.” kata Arcelia.
Lilian menggigit bibir bawahnya. “Pelayan dapur mengatakan teh itu dikirim dari ruang Marquise…”
Marquise adalah Ibu tiri Arcelia. Kemudian potongan memori lain langsung muncul.
Seorang wanita yang berpenampilan sangat elegan memiliki suara yang lembut namun penuh kepalsuan.
Arcelia sekarang mulai mengerti orang-orang seperti itu jauh lebih berbahaya dibanding musuh yang terang-terangan menunjukkan taringnya.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu memotong suasana. tubuh Lilian langsung bergetar menahan ketakutannya.
Pintu kamar terbuka secara perlahan.
Seorang wanita cantik paruh baya memasuki ruangan dengan gaun ungu gelap dan perhiasan mahal menghiasi lehernya. Wajahnya anggun seprti sebuah lukisan.
Namun mata Arcelia langsung menajam. Naluri tubuh ini membencinya.
“Arcelia…” wanita itu mendekat dengan ekspresi lega. “Syukurlah kau sudah sadar.” Suara yang sangat lembut dan penuh perhatian terdengar sempurna.
Jika bukan karena memori tubuh ini, mungkin dia akan percaya bahwa wanita itu tulus.
Di belakangnya berdiri seorang gadis muda berambut pirang terang. Wajahnya cantik dan tersenyum yang terlihat sangat polos.
Namun dalam ingatan terakhir Arcelia asli, gadis inilah yang berkata:
“Kakak seharusnya mati saja.” masih menggema diingatannya.
“Tubuh Kakak membuat kami sangat khawatir,” ucap gadis itu lirih.
Dia adalah Lunaria Vareinne Saudara tiri Arcelia. Penyebab hidup pemilik tubuh ini perlahan hancur.
Arcelia menatap keduanya tanpa bicara. Keheningan di ruangan berubah aneh.
Biasanya Arcelia lama akan langsung gugup di depan mereka. Kepalanya akan tertunduk dan meminta maaf berkali-kali meskipun tidak salah. Dan selalu mencoba mencari perhatian mereka.
Tapi tatapan wanita muda itu sekarang terasa berbeda. Sikapnya sekarang lebih tenang dan sulit untuk dibaca.
Senyum ibu tirinya menjadi sedikit kaku karena merasa canggung. “Kenapa kau diam saja, Arcelia?”
Arcelia akhirnya berbicara. “Aku hanya berpikir.”
“Memikirkan apa?” tanya ibu tirinya.
Bibir Arcelia terangkat tipis. “Siapa yang mencoba membunuhku.”
Tidak ada yang berani menanggapi ucapan Arcelia, bahkan Lilian tidak berani bergerak.
Lilian menahan napas karena terkejut matanya terbelalak.
Lunaria bergetar sepersekian detik sebelum tertawa kecil. Tangannya jelas mengepal sangat keras. “Kakak bercanda, ya?”
“Menurutmu aku sedang bercanda begitu?” Tatapan merah anggur Arcelia menatap lurus ke arah saudara tirinya.
Tidak ada rasa takut bahkan tubuhnya tidak gemetar sedikitpun.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan, Lunaria terlihat gugup.
Sementara itu, sang Marquise tetap tersenyum tenang meski matanya mulai tajam.
“Kau pasti masih lelah,” katanya lembut. “Jangan berpikir aneh-aneh.”
Arcelia hanya menatap ibu tirinya dengan datar kemudian tersenyum.
Senyum kecil yang membuat udara di ruangan terasa sedikit mencekam. “Aku setuju.” Arcelia berjalan perlahan mendekati mereka. Gaun putihnya bergesekan lembut dengan lantai marmer.
“Karena mulai sekarang…” Langkahnya berhenti tepat di depan ibu tirinya. “…aku akan mengingat semuanya dengan sangat baik.”
Tatapan mereka saling bertemu. Dan untuk pertama kalinya, wanita bernama Marquise Elena Vareinne merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dari putri tirinya.
Sementara di dalam kepala Arcelia—
[Misi baru diperbarui.]
[Temukan dalang utama kematian Arcelia Vareinne.]
[Hadiah: Ingatan masa lalu Lv.1]
[Kegagalan berarti kematian permanen.]
Arcelia menurunkan pandangannya perlahan.
Kalau begitu permainan dimulai sekarang.