Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan di Sarang Serigala
Pagi itu, atmosfer di kediaman sederhana Gisel terasa berbeda. Aroma parfum mahal yang dibeli Sisil kemarin menyeruak di antara bau kayu lapis dan sisa hujan semalam. Gisel berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang tampak asing.
Sesuai instruksi Nyonya Widya untuk tampil "menarik", Gisel memilih pakaian yang paling berani yang pernah ia kenakan seumur hidupnya. Kemeja putih berbahan sutra tipis yang sangat pas di tubuh, dipadukan dengan rok span hitam yang ujungnya berakhir lima senti di atas lutut. Mengikuti saran nakal Sisil, Gisel membiarkan dua kancing teratas kemejanya terbuka, memperlihatkan garis lehernya yang jenjang dan sedikit belahan dada yang tersamar namun tetap menggoda setiap kali ia bergerak.
"Gisel... kamu mau kerja atau mau ke mana, Nak?" tanya Ibunya saat Gisel pamit, matanya menatap sang putri dengan heran.
Gisel memaksakan senyum, hatinya mencelos. "Ini seragam baru dari kantor, Bu. Perusahaan besar memang peraturannya beda. Gisel berangkat ya."
Ia berangkat dengan ojek *online*, mencoba menutupi pahanya yang terekspos dengan tas tangan sepanjang jalan. Sesampainya di Gedung Dirgantara, tatapan semua orang seolah tertuju padanya. Ia merasa seperti mangsa yang masuk ke kandang singa, namun ia menegakkan punggungnya. Ingat, Gisel, 100 miliar. Ibumu harus sembuh.
Gisel melangkah menuju lantai 50, lantai eksklusif yang hanya ditempati oleh ruangan CEO dan para asisten senior. Saat pintu lift terbuka, ia disambut oleh keheningan yang mencekam. Hanya ada suara denting sepatu hak tingginya yang menggema di atas lantai marmer hitam.
"Selamat pagi. Saya Gisella, sekretaris baru yang ditunjuk Nyonya Widya," ucap Gisel pada sekretaris senior di meja depan.
Wanita itu menatap Gisel dengan pandangan meremehkan, lalu menunjuk pintu besar berbahan kayu jati gelap di ujung lorong. "Masuklah. Pak Arsel sudah menunggu. Dan saranku... benahi pakaianmu sebelum kau menyesal."
Gisel mengabaikan peringatan itu. Ia membusungkan dada, mengatur napas, lalu mengetuk pintu.
"Masuk," suara berat dan dingin terdengar dari dalam.
Gisel melangkah masuk. Ruangan itu sangat luas, dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan Jakarta dari ketinggian. Di balik meja kerja besar yang rapi, duduklah seorang pria. Arselan Dirgantara.
Wajahnya jauh lebih tampan daripada di foto, namun auranya jauh lebih gelap. Ia tidak mendongak sedikit pun, matanya tetap tertuju pada dokumen di hadapannya.
"Letakkan jadwal hari ini di meja dan buatkan saya kopi hitam tanpa gula," perintahnya ketus.
Gisel tidak segera bergerak. Ia berjalan dengan langkah yang sedikit diatur agar pinggulnya bergoyang, lalu berhenti tepat di depan meja Arsel. Ia sengaja membungkuk sedikit saat meletakkan dokumen, membuat kemejanya yang terbuka dua kancing itu semakin menonjolkan apa yang ada di baliknya.
"Selamat pagi, Pak Arsel. Saya Gisella, sekretaris pribadi Bapak yang baru," ucap Gisel dengan suara yang dibuat sedikit manja, namun tetap ceriwis. "Kopinya akan segera siap, tapi Bapak nggak mau lihat saya dulu? Siapa tahu ada yang perlu dikoreksi dari... jadwalnya."
Arsel akhirnya berhenti menulis. Pena mahalnya terhenti di atas kertas. Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Matanya yang tajam seperti elang memindai Gisel dari bawah ke atas. Ia melihat kaki jenjang Gisel, lekuk tubuh "gitar Spanyol" yang terpampang nyata dalam balutan pakaian ketat, hingga berhenti tepat pada kancing kemeja yang terbuka.
Gisel menahan napas. Ia memberikan senyum termanisnya, berharap ada kilatan ketertarikan di mata pria itu.
Namun, yang ia dapatkan justru sebaliknya. Sorot mata Arsel berubah menjadi sangat dingin, penuh dengan rasa jijik.
Arsel menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya, melipat tangan di depan dada. "Jadi, ini cara Ibu saya memilihkan sekretaris?"
"Maksud Bapak?" Gisel mencoba tetap tenang.
Arsel mendengus sinis. "Saya butuh seseorang yang bisa mengolah data dan mengatur waktu saya, bukan seseorang yang datang untuk menjual diri. Lihat pakaianmu."
Arsel menunjuk Gisel dengan tatapan yang menghina. "Rok yang terlalu pendek, kancing yang sengaja dibuka... Kamu ini mau kerja di perusahaan multinasional atau mau jadi pelacur di klub malam?"
*PLAK.* Rasanya seperti tamparan keras di wajah Gisel. Darahnya berdesir panas ke telinga. Ia sudah terbiasa dihina karena miskin, tapi disebut pelacur adalah hal baru yang sangat menyakitkan.
"Jaga mulut Bapak!" suara Gisel meninggi, sifat ceriwisnya tak lagi bisa dibendung. "Saya di sini untuk bekerja secara profesional!"
"Profesional?" Arsel berdiri, tinggi badannya yang menjulang membuat Gisel terpaksa mendongak. Ia berjalan mendekati Gisel, auranya begitu mengintimidasi. "Wanita profesional tidak membiarkan dadanya tontonan gratis untuk atasannya. Berapa Ibu saya membayarmu untuk berakting murahan seperti ini?"
Gisel membeku. Apakah Arsel tahu soal rencana ibunya? Tidak, itu tidak mungkin.
"S-saya hanya mencoba berpenampilan menarik sesuai standar kantor ini," kilah Gisel, suaranya mulai bergetar.
Arsel berhenti tepat di depan Gisel, baunya yang maskulin dan dingin menyeruak. Ia membungkuk sedikit, berbisik tepat di telinga Gisel dengan suara yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Dengar, Gadis Kecil. Saya tidak tertarik pada daging yang dipajang secara obral. Simpan taktik murahanmu. Sekarang, kancingkan bajumu, keluar dari sini, dan jangan kembali sebelum kamu terlihat seperti manusia yang punya harga diri. Jika dalam sepuluh menit kamu tidak kembali dengan pakaian yang benar, saya sendiri yang akan menyeretmu keluar dari gedung ini."
Arsel kembali ke mejanya, seolah Gisel hanyalah debu yang baru saja ia bersihkan.
Gisel berdiri mematung. Air mata hampir jatuh, namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia segera mengancingkan kemejanya dengan jari yang gemetar hebat. Dengan sisa-sisa keberaniannya, ia menatap punggung Arsel.
"Baik, Pak Arsel. Saya akan kembali. Tapi ingat satu hal... jangan pernah sebut saya pelacur lagi, atau Bapak akan menyesal telah mengenal saya," ucap Gisel tegas meski suaranya serak.
Ia berbalik dan lari keluar dari ruangan itu. Di toilet kantor, Gisel tumpah dalam tangisnya. Dadanya sesak. Ternyata, 100 miliar itu memang memiliki harga yang sangat mahal: yaitu harga dirinya yang diinjak-injak.
"Gue nggak boleh menyerah," bisik Gisel sambil membasuh wajahnya. "Gue bakal bikin lo tarik kembali kata-kata itu, Arselan. Lo pikir lo nggak punya gairah? Kita lihat siapa yang bakal bertekuk lutut duluan."
Gisel merapikan roknya, menariknya sedikit ke bawah agar terlihat lebih sopan, dan bersiap kembali ke medan perang. Hari pertama baru saja dimulai, dan lukanya sudah sedalam ini.
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
makacih udah update 🙏