NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Baru saja Prabu memejamkan matanya, mencoba mencari sedikit kedamaian di tengah badai penyesalan, ia dikejutkan dengan suara teriakan keras yang mengguncang kesunyian rumah.

Suara itu melengking tinggi, penuh tuntutan dan amarah yang sangat ia kenali.

Itu adalah suara Ibu Nia. Wanita itu kembali datang dengan satu tujuan yang sama: memeras Ayah Prabu.

"Keluar kalian! Jangan bersembunyi! Saya tahu kalian ada di dalam!" teriak Ibu Nia dari ruang tamu.

Ibu Nia masih mengira Prabu sedang dalam pengobatan di luar negeri atau terkurung di rumah sakit jiwa.

Dengan kepercayaan diri itu, ia merasa bebas mengintimidasi Ayah Prabu.

Ia berteriak meminta uang kompensasi tambahan, mengatasnamakan kematian putrinya yang kecelakaan sebagai senjata untuk mengeruk kekayaan keluarga itu.

"Mana uangnya?! Putri saya nyawanya hilang karena anak gila itu! Kalian harus bayar mahal untuk sisa hidup saya!"

Ayah Prabu yang mencoba menenangkan hanya dibalas dengan makian.

Mendengar setiap hinaan yang ditujukan pada keluarganya dan sebutan "gila" yang dilontarkan untuk dirinya, darah Prabu mendidih.

Ia tidak lagi lemah. Ia bukan lagi pria yang hancur oleh trauma.

Prabu bangkit dari tempat tidur. Dengan langkah mantap yang berdentum di atas lantai kayu, ia berjalan menuju sumber suara.

Masih mengenakan seragam pilotnya yang memberikan kesan wibawa yang mengancam, ia membuka pintu pembatas ruang tengah dengan sentakan keras.

BRAK!

Sosok tinggi tegap Prabu berdiri di ambang pintu. Tatapannya tajam, sedingin es, menatap lurus ke arah Ibu Nia yang sedang berkacak pinggang.

Ibu Nia seketika mematung. Wajahnya yang semula merah padam karena marah, mendadak pucat pasi seperti kertas.

Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat pria yang ia sangka masih "sakit" kini berdiri dengan gagah dan sorot mata yang sangat waras—namun mematikan.

"Prabu..." desis Ibu Nia dengan suara bergetar. Langkahnya spontan mundur hingga menabrak meja.

"Lanjutkan, Bu Nia," ucap Prabu dengan suara berat yang tenang namun sarat ancaman.

Ia melangkah maju perlahan, membuat wanita itu semakin terpojok ketakutan.

"Tadi Ibu bilang apa? Anak gila? Uang pengganti?"

Prabu berdiri tepat di hadapan wanita itu, menunduk sedikit untuk menatap matanya.

"Kesabaran keluarga saya ada batasnya. Dan hari ini, Ibu baru saja melewati batas itu."

Suasana ruang tamu yang tadinya bising oleh makian Ibu Nia mendadak berubah senyap, hanya menyisakan suara napas wanita itu yang memburu karena ketakutan.

Prabu tidak memberikan ruang untuk negosiasi. Dengan gerakan tenang namun pasti, ia merogoh saku seragamnya, mengambil ponsel, dan mulai menekan nomor darurat kepolisian.

"Prabu! Tunggu! Apa yang kamu lakukan?" teriak Ibu Nia, suaranya kini melengking panik, tidak ada lagi nada sombong seperti tadi.

Prabu tidak menjawab. Ia menempelkan ponsel ke telinga, matanya tetap mengunci sosok Ibu Nia yang kini mulai gemetar hebat.

"Halo, selamat malam. Saya ingin melaporkan tindakan pemerasan dan perbuatan tidak menyenangkan di kediaman saya," ucap Prabu dingin ke arah ponselnya.

Melihat Prabu benar-benar serius, Ibu Nia langsung jatuh terduduk di lantai. Ia mencoba meraih kaki Prabu, memohon dengan air mata yang mulai bercucuran.

"Prabu, tolong! Jangan panggil polisi! Ibu mohon, lepaskan Ibu! Ibu hanya sedang butuh uang, Prabu!"

Prabu mundur selangkah, menghindari sentuhan wanita itu.

Kilatan kemarahan muncul di matanya saat ia mengingat kembali penderitaan yang ia alami selama ini.

"Anak Ibu kecelakaan saat saya sedang terbang menjalankan tugas saya," suara Prabu rendah namun penuh penekanan. "Dan Ibu dengan teganya mengirimkan video kecelakaan itu berkali-kali kepada saya, memanipulasi keadaan seolah-olah sayalah penyebab kematiannya."

Prabu mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Ibu tahu apa akibatnya? Ibu membuat saya mengalami trauma hebat. Ibu menghancurkan karier saya, mental saya, bahkan Ibu membuat hubungan saya dan istri saya hancur karena saya kehilangan akal sehat akibat teror Ibu!"

Ibu Nia menggeleng-gelengkan kepala, mencoba mengelak, namun bukti-bukti itu terlalu nyata.

"Ibu sudah memeras Ayah saya bertahun-tahun dengan rasa bersalah palsu itu. Cukup, Bu. Sekarang biarkan hukum yang berbicara. Saya bukan lagi pria lemah yang bisa Ibu hancurkan dengan video itu," tegas Prabu.

Tak lama kemudian, suara sirine polisi mulai terdengar mendekat ke arah rumah. Ibu Nia lemas seketika, menyadari bahwa mangsa yang selama ini ia injak-injak telah bangkit menjadi sosok yang akan menyeretnya ke balik jeruji besi.

Di tengah kekacauan itu, Prabu hanya teringat satu hal: seandainya Xena ada di sini melihatnya berani melawan kegelapan itu sendiri.

Suara sirine polisi kian nyaring di depan gerbang, namun di dalam ruangan itu, waktu seolah berhenti berputar.

Setelah Ibu Nia dibawa pergi oleh petugas dengan isak tangis yang tak lagi mempan, kesunyian yang berbeda menyelimuti ruang tamu—bukan kesunyian yang mencekam, melainkan kesunyian yang penuh kelegaan.

Ayah Prabu, yang sejak tadi berdiri terpaku di sudut ruangan, perlahan melangkah mendekat.

Matanya berkaca-kaca menatap putra tunggalnya yang berdiri tegak dengan seragam pilot kebanggaannya.

Ia melihat sosok Prabu yang dulu; sosok yang kuat, berani, dan penuh harga diri.

Tanpa sepatah kata pun, Ayah Prabu maju dan langsung mendekap tubuh putranya dengan erat.

"Terima kasih, Nak. Terima kasih karena sudah kembali," bisik sang Ayah dengan suara serak menahan haru.

Ia memeluk tubuh Prabu yang kokoh, menyalurkan segala rasa syukur yang selama ini terpendam.

Bertahun-tahun ia melihat putranya hancur, terpuruk dalam kegelapan trauma, dan menjadi sasaran empuk pemerasan. Namun malam ini, ia menyaksikan sendiri bagaimana Prabu memutus rantai penderitaan itu dengan tangannya sendiri.

Prabu terdiam sejenak, merasakan hangatnya pelukan sang ayah yang sudah sangat lama tidak ia rasakan sedekat ini.

Perlahan, ia membalas pelukan itu, menyandarkan wajahnya di bahu pria yang selama ini selalu sabar menjaganya meski ia sering mengamuk dan kehilangan kendali.

"Maafkan Prabu, Yah. Maaf sudah membuat Ayah menderita selama ini karena kondisiku," ucap Prabu lirih.

"Tidak, Prabu. Ayah bangga padamu. Kamu bukan hanya kembali ke langit, tapi kamu sudah kembali ke dirimu yang sebenarnya," jawab Ayah Prabu sambil menepuk-nepuk punggung putranya.

Di bawah lampu ruang tamu yang temaram, pelukan itu menjadi simbol berakhirnya satu babak kelam dalam hidup mereka.

Prabu menyadari, meski satu masalah besar telah selesai, perjuangannya untuk mendapatkan kembali kepercayaan dan hati Xena masih membentang luas di depan sana. Namun kini, ia punya kekuatan baru—ia bukan lagi pria yang lari dari kenyataan.

Setelah kehangatan pelukan sang ayah sedikit meredakan ketegangan di dadanya, Prabu melangkah kembali ke dalam kamar.

Suasana di sana masih sama, sunyi dan beraroma parfum Xena yang masih tertinggal tipis di udara, namun malam ini perasaan Prabu terasa sedikit lebih ringan.

Ia duduk di tepi tempat tidur, lalu meraih sebuah bingkai foto yang diletakkan di atas nakas.

Di dalam foto itu, Xena tersenyum manis dengan latar belakang taman bunga—senyum yang tulus, tanpa ada gurat ketakutan atau luka yang ia ciptakan kemudian.

Prabu menatap lekat-lekat wajah istrinya, jemarinya perlahan mengusap permukaan kaca tepat di bagian pipi Xena.

"Aku sudah menyelesaikannya, Xen," gumam Prabu lirih.

"Wanita yang selama ini menghantui pikiranku dengan video itu sudah pergi. Aku sudah berani melawannya."

Ia menarik napas panjang, merasakan sesak yang mulai merayap kembali saat menyadari bahwa meski satu beban besar telah hilang, orang yang paling ia inginkan untuk berbagi kabar ini justru sedang berada jauh di Bali, mencoba menghindar darinya.

"Kamu benar, aku harus memberimu waktu. Aku tidak akan memaksamu melihatku sebagai pahlawan hanya karena kejadian malam ini," lanjutnya sambil mendekap foto itu di dadanya.

Prabu menatap langit-langit kamar dengan tekad yang semakin bulat.

Ia menyadari bahwa memulihkan harga dirinya di depan Ibu Nia jauh lebih mudah daripada memulihkan rasa aman di hati Xena. Namun, malam ini ia berjanji pada dirinya sendiri: ia akan menjadi pria yang pantas untuk dimaafkan, bukan karena ia meminta, tapi karena ia telah benar-benar berubah menjadi lelaki yang bisa diandalkan.

Sambil memeluk foto Xena, Prabu akhirnya memejamkan mata, membiarkan lelah membawanya ke alam mimpi dengan satu harapan sederhana—bahwa besok, luka Xena sedikit lebih memudar dibandingkan hari ini.

1
Dew666
💜💜💜💜
Anonim
Xena tanggung resiko dari keputusanmu itu
Orang tua Prabu egois mengorbankan orang lsin untuk kesembuhan ansknya ysng kejam
Anonim
kalau melihat penolakan Prabu dimasa lalu
gak usahlah Zena kamu bukan idola dia
ntar kegidupanmu akan sengsara
Anonim: Makasih Thor🙏
total 1 replies
Alex
murahan bgts air mataku, baca gini aja sdah kayak air terjun, kmu tanggung jawab Thor, dg cara semngat menulisnya🥰
my name is pho: 🤭🙏 terima kasih kak
total 1 replies
Alex
kebahagiaan yg belum sepenuhnya datang sdah di hadapkan dg ketakutan dan kegelisahan,😭
Dew666
🍭🍭🍭🍭
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
👍👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
pembaca juga memnnti kalian bahagia Xena prabu🥳🥳
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Alex
oh so sweet 🥰🥰
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
Nur Asiah
autor MPnya kok senyap ya,gak greget gitu
Alex
ketawa ngakak bacanya,sambil bener* guling🤣
Alex
akhirnya tangis bahagia🥳🥳
my name is pho: iya kak🥰🥰
total 1 replies
Alex
pengen ketawa tapi sedih 😭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Feni Putrie
sedih...😭
my name is pho: Terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
☀️☀️☀️☀️
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
💄💄💄
Dew666
💄💄💄💄
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Nur Asiah
manis sekali prabu ini,membuat hati Xena makin meleleh
Nur Asiah
semua novel genre romantis pasti ujungnya ya balikan
my name is pho: enaknya balikan apa nggak nih
🤭
total 1 replies
Nur Asiah
makan xena yg banyak,biar sehat setelah itu berikanlah kesempatan untuk prabu sekali lagi💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!