NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Berdoa Bisa Kapan Saja

Malam yang ditunggu tiba. Tepat setelah Isya berlalu. Shafiya sudah selesai menyiapkan semuanya. Mukena. Ruang yang lebih tenang. Dan dirinya sendiri.

Ia menunggu. Awalnya dengan tenang.

Lalu perlahan mulai gelisah.

Karena waktu berjalan. Jam bergeser.

Tapi Sagara belum datang.

Sudah lewat dari titik sembilan.

Ia terus menunggu. Dan di titik sepuluh lewat sekian, akhirnya terdengar suara mobil masuk ke halaman.

Shafiya berdiri.

Langkahnya cepat menuju pintu yang terbuka.

Sagara masuk. Ia datang bersama Agam.

wajahnya terlihat lelah. Meski langkahnya tetap tegap. Namun kali ini lebih berat.

Tatapannya bertemu Shafiya.

“Mas…”

Shafiya mendekat. "Saya menunggu dari tadi. Bisa sekarang kan?"

"Apa?" Sagara masih bertanya. Mungkin sudah lupa.

“Malam ini… empat bulan.”

“Iya. Saya lupa."

safiya tentu kecewa mendengarnya. Tapi ia tak ingin lagi menunda.

“Bisa sekarang, Mas?"

Sagara menghembuskan napas lebih berat

“Sekarang?”

Nadanya berubah. Seperti menahan sesuatu.

“Saya baru sampai, Elara."

“Tidak lama, Mas. Sebentar saja." waktu masuk usia kehamilan empat bulan itu hanya sekali, kalau tidak sekarang, kapan lagi.

Sagara menggeleng tipis.

“Saya capek."

“Hanya berdoa, Mas.”

Safiya benar-benar berharap.

“Untuk anak kita.”

l

Sagara menarik napas panjang. Ia paham. Tapi kesabarannya tipis sekarang.

“Tidak harus sekarang, Elara."

Shafiya terhenyak.

"Berdoa bisa kapan saja. Hal seperti itu tidak tergantung jam."

Shafiya langsung diam.

Hanya tatapannya yang berbicara.

Agam yang sejak tadi diam--akhirnya bergerak.

“Sagara."

Ia mengingatkan dengan suara rendah.

Namun Sagara tidak menoleh. Tatapannya masih pada Shafiya.

“Kalau kamu mau sekarang, lakukan saja.

“Saya tidak menghalangi.”

Dan bagi Safiya, kata itu lebih menyakitkan daripada penolakan.

Setelah itu Sagara pergi. Berlalu dengan langkah berat, namun pasti.

Shafiya menunduk.

Mengatur napasnya sendiri.

Agam melangkah mendekat sedikit.

“Nona…” sapanya dengan nada lebih hangat.

“Mungkin Sagara benar… bisa dilakukan tanpa harus menunggu.”

Ia mencoba menenangkan.

Tidak membela dan menyalahkan siapapun.

Shafiya mengangguk.

"Benar. Tapi ini bukan hanya anak saya."

Ada kesedihan di balik ucapan itu.

"Usia kandungan empat bulan itu penting, Mas Agam. Itu penentuan."

Agam mengangguk.

"Saya paham. Saya juga pernah mendengar. Akan lebih utama jika kedua orang tua bayi mendoakan takdir yang terbaik."

Shafiya menatap Agam. Ia lega ada yang paham apa yang ia inginkan. Sepasang matanya berkaca-kaca. Dan itu membuat Agam tidak tega.

"Atau saya bantu berdoa? Saya juga bisa mengaji sedikit." Agam menawarkan. Tidak ada niat lebih, hanya ingin menghibur hati Shafiya.

Shafiya tak langsung mengiyakan.

"Anggap saja, doa saya adalah permintaan seorang paman untuk keponakannya," kata Agam.

Shafiya akhirnya mengangguk.

"Saya sudah siapkan tempatnya."

"Baik. Saya wudhu dulu, Nona."

Dan malam itu--yang seharusnya dilakukan berdua--tetap berlangsung.

Dengan cara yang tidak direncanakan.

Dan dengan orang yang berbeda.

Dan tentu saja dengan meninggalkan makna yang juga berbeda.

..

...

Dan usai doa bersama itu, Safiya tak langsung kembali ke kamar. Ia masih duduk sejenak, mengatur napas yang tiba-tiba terasa berat. Tak hanya itu, rasa pusing juga menyerang.

Safiya sadar itu pasti karena belakangan ini jadwal istirahatnya tidak teratur. Waktu makan juga sering terlambat. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamar.

Namun langkahnya goyah, dan Safiya hampir kehilangan keseimbangan.

Agam yang saat itu belum benar-benar menjauh--langsung bergerak.

Tangannya menopang pundak Shafiya. Namun dengan tetap menjaga posisi tubuh

tidak terlalu dekat.

“Nona…”

Ucapannya terdengar khawatir, sekaligus

waspada.

Shafiya memejamkan mata sejenak.

“Hanya… pusing sedikit," ucapnya.

Bahkan napasnya terdengar lebih berat saat berkata demikian. Namun ia memaksa agar terdengar ringan.

Tapi nyatanya, tubuhnya tidak sepenuhnya mendukung.

Sadar dengan kondisi Shafiya yang seperti itu, Agam tidak langsung melepaskan tangannya. Tetap menopang.

Menunggu sampai benar-benar stabil.

"Apa memang sering pusing?"

"Iya. Belakangan ini."

"Sudah periksa ke dokter?"

Shafiya mengangguk pelan.

“Sudah. Tadi siang."

"Ada yang perlu ditangani serius?"

"Tidak. Ini karena saya kurang makan teratur belakangan ini. Dokter bilang… kalau terasa lagi, besok diminta datang."

Agam mengangguk. Memperhatikan raut wajah itu seksama. Pucat.

“Sekarang masih terasa pusing?"

Shafiya tidak langsung menjawab.

Namun diamnya cukup jelas.

Agam menarik napas.

“Duduk dulu, Nona."

Shafiya menurut.

Perlahan ia duduk kembali.

Tangannya masih memegang sisi sofa.

Seolah memastikan dirinya tetap di tempat.

Agam mengangkat pandangan. Ia melihat Ratri berdiri di sisi ruangan. Memperhatikan.

"Bisa ambilkan air hangat untuk nona Shafiya?"

Ratri mengangguk tipis dan berlalu.

"Sudah kasih tau hal ini ke Sagara?"

Nada tanya Agam dengan suara lebih pelan.

“Tadinya saya mau menyampaikan. Tapi belum sempat."

“Nanti saya beritahu dia."

Shafiya menggeleng. "Tidak perlu, Mas Agam. Saya bisa sendiri."

"Baiklah." Agam tidak memaksa.

Winda datang membawa gelas air hangat. Langkahnya tergesa. Wajahnya khawatir.

"Nona kenapa?"

Shafiya menggeleng singkat. Ia menerima gelas air itu dan meminumnya sampai tersisa separuh.

"Saya khawatir. Sedang ada masalah dengan kandungan nona," kata Winda cemas.

"Masalah apa?" tanya Agam cepat.

Bahkan Ratri juga ikut mendekat.

"Belakangan ini nona sering pusing tiba-tiba. Kata dokter, nona harus banyak istirahat. Tidak boleh banyak pikiran, dan harus makan teratur." Winda menyampaikan dengan rinci.

"Saya telepon Raka untuk memeriksa."

Agam sudah mengeluarkan ponsel hampir menekan nomor Raka.

"Tidak perlu, Mas Agam." Shafiya mencegahnya dengan cepat. "Saya hanya butuh istirahat. Besok, saya akan ke dokter."

Agam diam sebentar. Dan perlahan mengangguk. Lalu menoleh ke winda. "Bawa nona Shafiya ke kamar."

Agam tak langsung pulang. Ia menuju ruang kerja Sagara untuk meletakkan tablet di sana. Ternyata si empunya ruang sedang duduk di meja kerjanya. Wajahnya kembali segar seperti baru mandi. Matanya terpejam.

"Bukannya kamu capek?"

"Iya."

"kenapa tidak istirahat?"

"Ada yang belum selesai."

"Apa?" Agam duduk di depannya. "Peristiwa barusan, kamu pasti sudah lihat." Tak ada area di rumah itu yang luput dari kamera pengawas.

"Aku menemani dia berdoa. Menggantikan tempatmu sementara."

"Mengganti?" Sagara merasa tidak nyaman dengan kata itu.

Agam tersenyum. "Mewakili," ralatnya.

1
Ayuwidia
Baru sadar kalau kamu suaminya? Kalau mengaku suami, harusnya paham dong tanggung jawab dan kewajibannya apa...
Nofi Kahza
masih bertanya? teman kok suka suudzhon..
Nofi Kahza
Cetaasss! bagus. Satriya itu bibirnya lembut tp diwaktu tertentu tajamnya setajam silet😆
Nofi Kahza
Anjani yang di sini dengan Anjani yang di sana beda ya🤭
Nofi Kahza
Anjani mah, yg dipikirin cuma penerus keturunannya aja. itu Shafiya anak orang loh, rela kasih penerus. ih😒
Nofi Kahza
Yes! harusnya dr kemarin2 kayak gitu, Gar....
Nofi Kahza
Eaaakk .. mulai berkembang nih si Sagara. Suka suka..🥰
Nofi Kahza
tetaplah berpijak di batas wajar aja ya, Gam. Aku tahu, Sagara kakunya nyebelin, tapi aku tetep pinginnya Shafiya itu sama Sagraa🤭
Nofi Kahza
woah. centilnya centil banget🤭
Nofi Kahza
aku suka jika Sagara terusik. kalau bisa buat dia kelimpungan dg gengsinya Kak Othor🤣
Nofi Kahza
Lagi menghibur diri ya, Gar?
Nofi Kahza
Sagara lama2 kalah waktu dan momen dengan Shafiya lho. Meski dia lebih menang di status🤭 kan sedih..
Ayuwidia
Wkkkk, bagus, Shafiya. Pasti Sagara kefanasan 😄
zee
sukaaaa
zee
keren
iqha_24
sipo, sudah mulai ada kemajuan sagara
zee
🤭🤭🤭🤭
Rafa Afrelusi
ayooo es batu nya cepet mencari
made suarti
lanjut
Nurilbasyaroh
aku senang kulkas 2 pintu y mulsi cair
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!