NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ibu dari Pria yang Tak Bisa Ditolak

📖 BAB 4: Ibu dari Pria yang Tak Bisa Ditolak

Lin Qingyan menatap pintu yang baru saja tertutup.

Beberapa detik lalu ia masih duduk tenang di kantor mewah, menikmati kemenangan kecil setelah mempermalukan Shen Ruoxi. Sekarang satu kalimat Gu Beichen menghancurkan semuanya.

“Kau belum melihat ibuku.”

Qingyan memegang dahinya.

“Kenapa pria kaya selalu punya ibu menyeramkan?”

Han, yang masih berdiri di sudut ruangan seperti patung mahal, menjawab dengan sopan.

“Karena mereka kaya cukup lama untuk menjadi menyeramkan, Nyonya.”

Qingyan menoleh.

“Han.”

“Ya, Nyonya?”

“Apakah kau selalu menjawab jujur?”

“Jika memungkinkan.”

“Apakah ibu Beichen benar-benar seburuk itu?”

Han terdiam dua detik terlalu lama.

“Itu bukan jawaban,” kata Qingyan.

Han menunduk sedikit.

“Saya sedang memilih kata yang aman.”

Qingyan merasa firasat buruknya naik tiga tingkat.

---

Sore itu, Qingyan dibawa pulang lebih awal ke mansion. Beichen belum kembali karena rapat tambahan. Namun lima penata busana, dua penata rambut, dan satu ahli perhiasan sudah menunggu di ruang tamu.

Qingyan berhenti di ambang pintu.

“Aku mau ke medan perang atau makan malam?”

Pelayan tersenyum canggung.

“Perintah Tuan Gu, Nyonya harus dipersiapkan.”

Qingyan menghela napas panjang.

Satu jam kemudian, ia mengenakan gaun hitam elegan dengan potongan sederhana namun anggun. Rambutnya disanggul rapi. Riasan tipis menonjolkan wajahnya tanpa berlebihan.

Ia menatap cermin.

Masih dirinya.

Hanya versi yang tampak mampu menolak tagihan kartu kredit orang lain.

Beichen masuk tepat saat ia selesai.

Ia mengenakan setelan hitam tanpa dasi, tampak santai namun tetap terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa.

Matanya berhenti sesaat pada Qingyan.

Lalu ia berkata singkat.

“Lumayan.”

Qingyan menyilangkan tangan.

“Kau hanya punya satu kata pujian?”

“Tidak.”

“Coba yang lain.”

Beichen berjalan mendekat.

“Kau membuat gaun itu beruntung.”

Qingyan terdiam.

Han di belakang hampir tersedak untuk kedua kalinya minggu ini.

Beichen menoleh kepadanya.

“Mobil.”

Han langsung pergi dengan langkah sangat cepat.

---

Perjalanan menuju kediaman keluarga Gu berlangsung empat puluh menit.

Mobil keluar dari pusat kota menuju kawasan perbukitan privat yang dijaga ketat. Semakin jauh mereka masuk, semakin sedikit rumah terlihat. Hingga akhirnya hanya tersisa satu kompleks besar di puncak bukit.

Gerbang utama terbuka perlahan.

Patung batu, taman luas, dan bangunan bergaya klasik berdiri megah diterangi lampu emas.

Qingyan menatap ke luar jendela.

“Ini rumah?”

“Rumah ibuku,” jawab Beichen.

“Rumahmu?”

“Aku punya rumah lain.”

“Tentu saja.”

Ia menoleh padanya.

“Masih bisa kabur.”

Qingyan menatap tajam.

“Dan memberi kepuasan pada ibumu? Tidak mungkin.”

Sudut bibir Beichen naik tipis.

“Bagus.”

---

Begitu turun dari mobil, udara malam terasa dingin.

Pelayan rumah utama berdiri berjajar di tangga marmer.

Namun tidak ada sambutan hangat.

Tatapan mereka tertuju pada Qingyan dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan.

Ia bisa membaca pikiran mereka dengan mudah.

Jadi ini wanita yang dibawa Tuan Muda.

Biasa saja.

Tidak secantik Nona Shen.

Berapa lama dia bertahan?

Qingyan sudah terlalu sering dihakimi untuk peduli.

Ia justru tersenyum kecil.

Kalau mereka berharap dirinya gemetar, mereka akan kecewa.

---

Ruang makan utama keluarga Gu begitu luas hingga suaranya memantul.

Di meja panjang sudah duduk tiga orang.

Seorang wanita paruh baya bergaun hijau tua di kursi kepala meja. Wajah cantiknya masih jelas meski usia berjalan. Matanya tajam seperti pisau yang terbiasa memilih korban.

Di sisi kanan duduk pria berusia tiga puluhan berwajah tampan namun licik. Di sampingnya, seorang wanita muda berpenampilan glamor dengan senyum tipis penuh penghinaan.

Begitu Beichen masuk, wanita di kursi utama mengangkat kepala.

“Lama.”

“Macet,” jawab Beichen datar.

“Helikoptermu?”

“Aku bosan terbang.”

Wanita itu tak menanggapi. Matanya berpindah ke Qingyan.

Ruangan mendadak lebih dingin.

“Jadi ini perempuan yang membuatmu mempermalukan keluarga Shen?”

Qingyan belum sempat membuka mulut ketika Beichen menarik kursi di sampingnya.

“Namanya Lin Qingyan.”

Wanita itu tak memedulikan pengenalan.

“Aku bertanya padanya.”

Qingyan duduk perlahan.

“Dan saya mendengar pertanyaannya.”

Pria tiga puluhan di kanan tertawa kecil.

“Menarik. Kakak membawa yang berani kali ini.”

Beichen menatapnya sekilas.

“Diam, Beiming.”

Pria itu langsung menyesap anggur.

Jadi ini adiknya.

Gu Beiming.

Wajah mirip sedikit, aura berlawanan total.

Wanita glamor di samping Beiming menyeringai.

“Aku Yuna, iparmu sementara.”

Qingyan tersenyum tipis.

“Senang tahu statusmu fleksibel.”

Yuna tersedak minumannya.

---

Wanita di kursi utama meletakkan garpu.

“Aku Gu Madam. Kau bisa memanggilku Bibi Gu.”

Beichen langsung menyela.

“Dia akan memanggilmu Ibu.”

Madam Gu menatap putranya tajam.

“Kau terlalu cepat.”

“Kau terlalu lambat menerima kenyataan.”

Qingyan mulai paham kenapa pria ini jarang pulang.

Madam Gu mengalihkan perhatian padanya.

“Baiklah. Kalau begitu, jawab tiga pertanyaan.”

“Silakan,” kata Qingyan tenang.

“Latar belakang keluargamu buruk. Pendidikanmu biasa. Kekayaanmu tidak ada. Apa yang membuatmu berpikir layak duduk di meja ini?”

Yuna tersenyum puas.

Beiming menonton seperti sedang menyalakan televisi favorit.

Qingyan mengambil gelas air, minum seteguk, lalu menaruhnya kembali dengan tenang.

“Saya tidak pernah meminta duduk di meja ini.”

Madam Gu menyipitkan mata.

Qingyan melanjutkan.

“Putra Anda yang menjemput saya, membawa saya ke sini, dan menarikkan kursi ini. Jadi jika ada yang perlu ditanya soal kelayakan... mungkin tanyakan padanya.”

Hening.

Beiming menunduk menahan tawa.

Yuna membelalak.

Madam Gu perlahan menoleh pada Beichen.

“Kau memilih yang mulutnya tajam.”

Beichen memotong steak.

“Aku alergi kebosanan.”

---

Makan malam dimulai.

Namun itu lebih terasa seperti sidang.

Setiap lima menit ada pertanyaan.

“Bisa memasak?”

“Bisa.”

“Masakan Prancis?”

“Tidak.”

“Bisa bermain piano?”

“Tidak.”

“Bisa berkuda?”

“Tidak.”

“Bisa mengelola perusahaan?”

“Bisa belajar.”

Madam Gu mendecak.

“Yang bisa apa?”

Qingyan tersenyum manis.

“Bisa membuat putra Anda memilih saya.”

Beiming akhirnya tertawa keras sampai batuk.

Beichen tetap tenang, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit.

Madam Gu menatap putranya.

“Kau menikahi masalah.”

“Tidak,” jawab Beichen santai. “Aku membawa pulang hiburan.”

Qingyan menendang sepatunya di bawah meja.

Beichen tak bereaksi.

Sangat menyebalkan.

---

Saat hidangan penutup datang, seorang pelayan tergesa masuk.

“Nyonya Besar... keluarga Shen datang.”

Yuna hampir bertepuk tangan.

Madam Gu menghela napas.

“Masukkan.”

Beichen bahkan tidak mengangkat kepala.

Beberapa detik kemudian, Shen Ruoxi masuk bersama seorang pria tua berwibawa—ayahnya, Shen Donghai.

Tatapan pria itu tajam dan penuh harga diri.

Begitu melihat Qingyan duduk di samping Beichen, wajah Ruoxi menegang.

“Tuan Gu,” kata Shen Donghai dingin. “Saya datang menuntut penjelasan.”

Beichen memotong kue.

“Datang terlalu jauh untuk kecewa.”

“Kau membatalkan perjanjian dua keluarga demi wanita tak dikenal?”

“Benar.”

“Dia tak setara dengan putriku!”

Qingyan hendak bicara, tapi Beichen lebih cepat.

“Banyak hal tak setara dengan putri Anda.”

Ruoxi melangkah maju.

“Beichen, kau dipermainkan perempuan ini!”

“Kalau iya,” jawabnya tenang, “berarti dia lebih pintar darimu.”

Ruoxi hampir menangis marah.

Madam Gu memijat pelipis.

“Beichen, cukup.”

“Belum.”

Ia akhirnya meletakkan garpu dan berdiri.

Seluruh ruangan otomatis tegang.

Beichen menatap keluarga Shen satu per satu.

“Dengar baik-baik. Aku menolak perjodohan itu bukan karena Qingyan.”

Ruoxi menahan napas.

Untuk sesaat ia tampak berharap.

Lalu Beichen melanjutkan.

“Aku menolaknya karena sejak awal aku tidak pernah tertarik padamu.”

Ruoxi pucat total.

Shen Donghai membanting tongkatnya.

“Kau menyesal nanti!”

Beichen menoleh ke Han yang baru masuk.

“Catat.”

Han mengangguk.

“Catat apa, Tuan?”

“Perusahaan Shen minta dihancurkan lebih dulu.”

Shen Donghai gemetar.

“Kau berani?!”

Beichen menatap datar.

“Aku jarang mengulang ancaman.”

---

Keluarga Shen pergi dalam kekacauan.

Ruangan kembali sunyi.

Madam Gu menatap putranya lama.

Lalu menoleh pada Qingyan.

“Kau.”

“Ya, Ibu?” jawab Qingyan tenang.

Madam Gu sedikit terkejut mendengar panggilan itu.

“Besok pagi ikut aku minum teh.”

Yuna berbisik panik pada Beiming.

“Itu ujian keluarga.”

Beiming tersenyum.

“Atau eksekusi.”

Qingyan mendengar semuanya.

Ia menatap cangkir kosong di meja.

Hari ini ia menghadapi mantan calon tunangan.

Malam ini ia bertahan dari makan malam keluarga Gu.

Besok pagi... ujian dari ibu Gu Beichen menunggu.

Ia mulai rindu masa ketika masalah terbesarnya hanya tagihan listrik.

Beichen berdiri di sampingnya.

“Ayo pulang.”

Qingyan menatapnya.

“Kau sengaja menjebakku?”

“Sedikit.”

“Aku ingin cerai.”

“Kita belum menikah resmi.”

“Lebih baik.”

Ia berjalan duluan.

Beichen mengikuti dengan langkah santai.

Saat mereka keluar dari ruang makan, Madam Gu memandangi punggung Qingyan dan berkata pelan pada dirinya sendiri,

“Perempuan itu... mungkin satu-satunya yang bisa menahan anakku.”

Namun di koridor luar, Han menerima pesan darurat di ponselnya. Wajahnya langsung berubah.

Ia menatap Beichen.

“Tuan... ada masalah.”

“Apa?”

Han menelan ludah.

“Keluarga Lin datang ke mansion. Mereka membawa media.”

Qingyan berhenti berjalan.

Jantungnya turun.

Dan ia tahu... malam ini belum selesai.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!