Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Lapangan Dan Lima Ratus Ribu.
Rumah ini makin lama makin sesak.
Bukan karena sempit. Tapi karena setiap sudutnya sekarang punya kenangan yang tidak enak. Dapur tempat aku menguleni adonan sambil kepala berdarah kena piring Bimo. Ruang tengah tempat uang dilempar ke meja dan ke mukaku. Pintu kamar yang ditendang sampai engselnya berbunyi.
Sesak bukan karena ukurannya. Tapi karena udaranya.
Pagi itu aku baru beresin lapak, baru mau naik motor, waktu ada yang menepuk bahuku dari belakang.
"Bang."
Aku berbalik.
Remaja. Tujuh belas tahun kira-kira, badannya kurus tinggi, rambut agak gondrong yang disisir ke samping dengan cara yang sepertinya sudah dipikirkan agak lama tapi tetap kelihatan asal. Muka yang polos dengan senyum yang tidak ada bebannya sama sekali.
Boby. Pelanggan tetap sejak dua bulan lalu. Selalu beli dua tusuk, selalu minta sausnya banyak, selalu bayar pas tidak pernah lebih tidak pernah kurang.
"Eh, Bob. Kenapa?"
"Bang hari ini gak jualan kan? Mau main bola gak? Di lapangan kecamatan."
Aku menatapnya.
Main bola.
Kapan terakhir aku main bola. SMP mungkin. Sebelum Bapak sakit. Sebelum semua yang terjadi sesudah Bapak sakit.
"Ayo Bang, serius. Sepi ini temen-temen gue masih pada sekolah. Gue bolos." Dia nyengir tidak malu-malu.
Aku tidak langsung bilang iya. Tapi juga tidak langsung bilang tidak.
Yang ada di pikiranku adalah rumah. Ruang tengah yang sesak itu. Nirmala yang mungkin sudah siap dengan kalimat baru hari ini. Bimo yang mungkin ada atau tidak ada, sama-sama tidak menyenangkan kemungkinannya.
"Boleh."
Boby langsung angkat tangan ke udara. "Yesss. Ayo Bang, jalan kaki aja deket."
Lapangan kecamatan itu tidak besar. Rumputnya sudah agak gundul di beberapa bagian, garis lapangannya sudah hampir tidak kelihatan, dan gawangnya satu tiangnya sedikit miring ke kiri. Tapi ada angin di sana. Dan ada ruang. Dan tidak ada dinding yang terlalu dekat.
Kami main dua lawan dua karena cuma ada empat orang. Boby yang paling semangat, larinya paling cepat tapi tendangannya sering melenceng jauh dan dia sendiri yang paling keras ketawa waktu bolanya nyasar ke semak-semak.
"Bangbang awas!" teriaknya waktu bola meluncur ke arahku.
Aku menghentikan bola dengan dada, satu gerakan yang ternyata masih ingat caranya meskipun sudah belasan tahun tidak dilakukan. Membawa bola beberapa langkah. Menendang.
Gol.
Boby protes keras dengan cara anak tujuh belas tahun protes, berlebihan dan tidak ada gunanya tapi tetap dilakukan sepenuh hati.
Aku tertawa.
Bukan senyum kecil. Bukan tawa yang ditahan. Tapi tawa yang keluar sendiri dari tempat yang sudah lama tidak menghasilkan suara seperti itu.
Setengah jam main, kami duduk di pinggir lapangan. Boby minum air botol sambil cerita soal gurunya yang katanya galak padahal tidak galak menurut aku waktu dia ceritakan perbuatannya sendiri. Aku mendengarkan sambil menarik napas dalam.
Udara lapangan. Rumput. Langit yang tidak ada atapnya.
"Bangbang bisa main bola ya ternyata."
"Dulu sering."
"Kenapa berhenti?"
Aku tidak langsung menjawab. "Hidup."
Boby mengangguk dengan wajah yang sepertinya tidak sepenuhnya mengerti tapi memilih untuk tidak bertanya lebih dalam. Kadang anak tujuh belas tahun lebih tahu kapan harus diam dari orang dewasa.
Di situlah seseorang mendekat.
Laki-laki paruh baya. Kaos olahraga, celana training, peluit di leher. Cara jalannya seperti orang yang terbiasa di lapangan. Dia mendekat ke arahku langsung, bukan ke Boby.
"Dari tadi saya perhatikan kamu main."
Aku berdiri sedikit lebih tegak. "Iya, Pak?"
"Nama saya Pak Rudi. Staf desa, tapi saya juga pelatih tim sepak bola desa." Dia mengulurkan tangan. Aku jabat. "Kamu pernah latihan serius?"
"Dulu main kampung. Tidak pernah formal."
Pak Rudi mengangguk pelan, seperti dia sedang menimbang sesuatu. "Bulan depan ada kompetisi antar kecamatan. Tim saya butuh satu pemain lagi di posisi tengah. Saya lihat cara kamu bawa bola tadi, cara kamu baca permainan, itu tidak bisa dipelajari dalam seminggu."
Aku menatapnya.
"Sistemnya kontrak satu musim kompetisi. Latihan dua kali seminggu, pertandingan akhir pekan. Dan ada uang pembinaan." Pak Rudi berhenti sebentar. "Lima ratus ribu. Dibayar di awal setelah tanda tangan."
Lima ratus ribu.
Dari bermain bola.
Dari sesuatu yang terakhir kali kulakukan waktu duniaku masih lebih sederhana dan Bapak masih ada dan beban di pundak belum seberat ini.
"Kapan keputusannya harus ada, Pak?"
"Minggu ini kalau bisa. Pendaftaran tim tutup Jumat."
Aku bilang akan pikir dulu. Pak Rudi memberikan nomornya, menepuk bahuku sekali, dan pergi.
Boby langsung menyikut lenganku begitu Pak Rudi agak jauh. "Bangbang direkrut. Gilee."
"Diam kamu."
"Ambil Bang, serius. Lima ratus ribu buat main bola, kapan lagi."
Pulang ke rumah, Nirmala ada di dapur.
Aku ceritakan. Bukan meminta izin, lebih ke memberitahu karena itu yang seharusnya dilakukan suami ke istri.
Nirmala mendengarkan sambil tetap mengaduk sesuatu di panci. Tidak menoleh.
Selesai aku cerita, dia tidak bilang apa-apa.
Aku tunggu.
Masih diam.
"Jadi bagaimana?" tanyaku.
"Terserah." Satu kata. Datar. Seperti ditanyai soal cuaca di kota lain.
Bukan ngelarang. Bukan nyuruh. Bukan khawatir. Bukan semangat. Cuma terserah, dengan cara yang bilang dia tidak cukup peduli untuk punya pendapat.
Aku berdiri di ambang dapur itu beberapa detik.
Lalu masuk kamar.
Ambil ponsel. Ketik pesan ke nomor Pak Rudi.
"Pak Rudi, saya Satria. Saya setuju."
Aku kirim.
Lalu taruh ponsel di kasur dan berbaring sebentar sambil menatap langit-langit.
Lima ratus ribu dari bermain bola.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada sesuatu di dalam dadaku yang tidak berhubungan dengan adonan cilok atau lemparan uang atau pipi yang biru atau jembatan malam yang gelap.
Ada sesuatu yang kecil dan ringan.
Seperti ruang napas yang baru saja ditemukan di tempat yang tidak terduga.
Dari lapangan gundul dengan gawang yang tiangnya miring ke kiri dan anak tujuh belas tahun yang memanggilku Bangbang.
Dari sana.
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain