Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 Makan Siang untuk Suami
Wajah Nandini berkeringat. Tubuhnya bergoyang. Raut berseri-seri karena puas tercetak, puas sekali. Ia mengusap keringat di dahinya. Ia mengembuskan napas lega.
Jika ada yang mengira Nandini sedang tidak-tidak bersama Santaka, itu salah besar. Sang istri Gus Chef sedang berada di dapur Ndalem. Baru saja mengulek bumbu, untuk memasak sesuatu yang istimewa—nasi goreng.
Bagi yang hendak menertawakan, coba direm mulutnya. Walau cuma nasi goreng, untuk seorang Nandini, ini adalah prestasi besar. Jarang-jarang ia masak. Dan pada dasarnya tak begitu bisa masak.
Asap mengepul di penggorengan, Nandini sok-sok beraliran chinese food, menggunakan api besar. Terlalu besar. Surti—abdi ndalem yang menjadi asisten Nandini—panik. Lap di dekat kompor tersambar api.
“Mbak Dini, astagfirullah, kaget simbok! Kalau ndak ditemenin, kebakaran ini bisa-bisa.” Wanita tua itu terkekeh. Nandini meringis. Pembawaan Nandini yang tak kaku membuat sang abdi ndalem tak sungkan berbicara santai padanya.
Masih setia beraliran chinese food, Nandini memasak sambil mengetuk-ngetuk penggorengan dengan sutil. Berisik sekali.
Surti mencebik. Gayanya sok sekali istri gus ini. Curiga hasilnya zonk.
“Yey... jadi... Ayo simbok, cicip.” Nandini mengangsurkan sesendok nasi goreng berkecap itu. Surti memandangi nasi goreng itu. Jika tak ingat Nandini adalah majikannya, ia tak selera mencoba.
Bukannya apa, selain skill Nandini masih diragukan, dapur juga seperti kapal pecah dibuatnya. Segala perbawangan dan percabean bergelimpangan.
Kulit bekas bawang, sudah dimasukkan ke plastik tapi malah tumpah. Tempat garam, micin, terbuka, belum sempat ditutup. Botol kecap dan saus-sausan terguling. Definisi masak sedikit, berantakan selangit. Benar-benar menambah beban kerjanya.
Surti akhirnya membuka mulut. Ternyata, lumayan enak. Bumbunya terasa. Tertolong micin juga. Hidup micin! Penolong kaum tak handal memasak seperti Nandini.
Kali ini Nandini memasak untuk ia bawakan sebagai makan siang bagi sang suami. Ceritanya agar seperti drama romantis. Istri datang ke kantor, membawa makan siang suaminya. Manis sekali.
Berhubung Santaka bukan budak corporate, jadi sang nasi goreng dibawa ke toko kue suaminya itu. Bagus malah, Nandini bisa dilihat oleh pelanggan.
Oh, istri Gus Taka... ayu tenan, cantik sekali... nasgornya keliatan enak tenan. Mereka senyum bahagia. Mas Taka makin sayang aku deh.
Batin Nandini bermonolog tak jelas. Harap maklum, sedang jatuh cinta. Ia bermonolog di depan kaca rias di kamarnya, sambil bergoyang manja. Kebanyakan jadi adonan hidup, jadi mudah goyang.
Setelah berdandan cantik yang tetap sesuai syariat dan standar Sarah—polisi Ndalem sekaligus fashion police Nandini, istri Santaka itu berangkat menuju SS.
Suamiku, istrimu dataaang....
*
*
Bagaikan ukhti alias wanita muslimah berkuda perang, Nandini menunggangi motor putih Santaka. Motor yang acap kali menganggur karena si empunya lebih sering mengemudikan mobil.
Adrenalin Nandini terpacu. Sudah dua bulan ia tak mengendarai motor. Dalam kurun waktu itu, jika bepergian, ia benar-benar menjadi penumpang di mobil Santaka atau Ndalem.
Nandini rindu terpaan angin di wajahnya dan kontrol yang berada di tangannya. Mengebut dan menyalip. Suaminya belum mengetahui hobi Nandini itu.
Entahlah kalau Santaka tahu. Nandini mungkin akan dihukum, menghafal satu juz Al Qur’an. Repot. Apalagi Sarah dan Abyasa. Bola mata mereka akan keluar kalau melihat Nandini cosplay sebagai Valentina, eh, Valentino Rossi.
Tujuan awal tak lansung ke SS. Nandini berbelok menuju Mulyo Jaya, bengkel ayahnya. Kangen juga pada situasi bengkel. Bukan hanya tempat kerja tapi juga rumah kedua, dulu.
“Assalammu’alaikum....”
“Wa’alaikumsalam.” Para pekerja di bengkel Surbakti kompak menjawab salam dari Nandini.
“Wess, Ning Dini!”
“Din, kita perlu salim ndak sama kamu?”
“Din, kamu sekarang sakti ya, punya karomah dong, tolong pegang motor aku, biar cicilannya lunas.”
Berbagai godaan datang dari para bawahan Nandini tapi rasa teman itu. Dasar pada kurang akhlak, menggodanya menjurus menyebalkan. Tak melihat statusnya kini sebagai bagian dari keluarga terpandang di Solo.
“Insyaflah kalian wahai kaum jahiliyah, jauh dari agama. Kiamat sudah dekat. Apa lagi kamu, Hendro! Stop ke lokalisasi!”
Tawa berderai di bengkel itu. Hendro yang menjadi bahan rujak Nandini, mengomel. “Enak saja, fitnah! Aku maenannya tempat karoke.” Para montir kembali terbahak.
Surbakti menggeleng melihat kelakuan anak buahnya, dan tentunya putri semata wayangnya. Tak mungkin memang dalam dua bulan Nandini berubah drastis menjadi kalem dan lemah lembut.
Perubahan yang sudah ada sekarang saja sungguh luar biasa. Niat kuat Nandini dan kelembutan Santaka benar-benar menjadi pondasi perubahan Nandini saat ini.
“Bapak....” Nandini mencium tangan Surbakti dan memeluknya. Rindu. Padahal baru ditengok seminggu yang lalu ke Ndalem. Montir manja. Nandini memang manja pada ayahnya. Efek sebagai anak piatu juga.
Kini, sasaran kemanjaan Nandini bertambah, sang suami. Tapi, belum terang-terangan sekali, masih samar, malu-malu kucing. Kucing oranye, malu-malu barbar.
Fiona, sang sahabat, turun lewat tangga. Ia menggantikan Nandini untuk mengurus administrasi. Surbakti merasa matanya sudah terlalu tua untuk menjadi petugas harian administratif.
“Ow ow, aura pengantin barunya kuat banget. Auranya, ngaura banget.” Bagai influencer, Fiona mengulas sahabatnya itu.
“Daripada kamu, auranya surem banget. Suremnya, nyurem banget. Jomblo ngenes!” Nandini mencibir.
“Maaf, saya single. Kesendirian adalah pilihan, hahaha....” Mereka tergelak.
Surbakti dan para montir melanjutkan pekerjaannya. Nandini dan Fiona mengobrol di ruang kantor. Sambil memakan cakwe. Nandini yang membeli—buah tangan.
“Udah luluh nih ceritanya, Din, sama Gus Taka? Bulan pertama, ngeluuh terus. Sampe bosen aku dengernya. Ndak terima nikah paksa. Ehh, ganti bulan kenapa kayak kecintaan. Cape deh."
Bola mata Fiona memutar. Nandini senyum-senyum tak jelas. Fiona jadi mencebikkan bibir melihat rona bahagia di wajah Nandini.
"Jadi udah fix nih ya, terima dinikahin paksa sama Gus Taka? Cepet juga. Alex sudah tergantikan nih??”
“Sstt, jangan berisik, Fi! Nanti Bapakku denger.” Nandini menoleh ke arah pintu. Fiona kembali mencebik.
“Alex ke laut aja lah... Laki-laki brengsek, kenapa harus diinget-inget. Setaun aku disia-siain. Ndak diaku, ndak dianggap bener-bener ada. Cuma diperes saja.
Itu kali ya, kenapa akhirnya aku cepet luluh sama Mas Taka. Dia bikin aku ngerasa berharga. Dia akuin aku, selalu pasang badan buat aku. Selalu mastiin kenyamanan aku, kesukaan aku. Pokoknya, aku nomor satu buat dia.”
Nandini tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar. Benar-benar terlihat bahagia. Jatuh cinta.
“Ya, namanya penganten baru sih, Din,” cetus Fiona.
“Iya sih... Cuma, aku yakin dengan ilmu yang dia punya, dia bakal seterusnya kayak gitu. Abinya kayak gitu juga soalnya.” Nandini tersenyum sendiri. Fiona menatap malas pada sahabatnya. Benar-benar mabuk. Mabuk cintanya Gus.
“Kamu... ndak takut dia poligami? Itu kan biasa ya buat orang-orang kayak mereka? Apa lagi, siapa coba yang ndak mau jadi istrinya? Kamu saja yang aneh kemaren-kemaren.” Fiona mencocol cakwe ke sambal. Wajahnya begitu santai.
Wajah Nandini kontan mengeras mendengar ucapan sahabatnya. “Bener-bener penghancur suasana ya kamu, Fi!” Nandini bersedekap. Ia jadi kepikiran karena pertanyaan sahabatnya.
Fiona meringis. “Hehehe... maaf ya. Eh tapi, Yai Mansur kan bukan termasuk penganut poligami ya? Cukup Nyai Lastri. Semoga suamimu, ngikuti jejak abinya.”
“Aamiin....” tutur Nandini. Ia jadi ingin cepat-cepat bertemu Santaka.
“Din, Alex ndak pernah hubungin kamu lagi?” Fiona mengalihkan pembicaraan.
...****************...
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭